
Ketika sup sudah selesai di buat, Sharon menghidangkannya di atas meja makan. Kemudian, ia memanggil Charlie, dan juga Bill. Mereka telah berada di ruang makan, namun tidak dengan Charles.
Pria itu tampaknya masih terlelap di kamarnya, dan Bill meminta Sharon untuk menunggunya seraya mengantarkan makan malam untuknya. Lalu, Sharon pun menyiapkan satu porsi sup serta segelas air.
Setibanya di kamar Charles, Sharon segera menyimpan baki tersebut di atas nakas. Setelah itu ia pun duduk di sisi ranjang seraya menatap lekat wajah Charles yang terlihat begitu damai.
"Aku tahu jika aku ini sangat mempesona. Tapi, jika kau terus memandangiku seperti itu, maka aku akan merasa tidak enak." Celetuk Charles yang masih memejamkan matanya.
"Sepertinya sia-sia saja aku mengkhawatirkanmu. Melihat tingkat kepercayaan dirimu sudah kembali, aku rasa kau sudah baikkan, dan aku bisa kembali ke rumahku sekarang." Sharon lekas berdiri dari sana, dan hendak berjalan meninggalkan kamar tersebut.
"Aku masih belum merasa baikkan, dan aku merasa lapar sekarang. Bantu aku untuk makan, ya?" Tangan Charles menahan pergelangan Sharon saat itu juga, dan menatapnya dengan pandangan memelasnya.
Merasa kalah, Sharon mengikuti apa yang di minta oleh pria itu. Kemudian, ia kembali duduk, dan mulai menyuapinya. Hingga ponselnya berdering, Sharon menghentikan aktifitasnya, dan segera menerima panggilan tersebut.
"Sharon, apa golongan darahmu?" Sahut orang di seberang sana.
"Golongan darahku? Tapi, kenapa?" Balas Sharon kebingungan dengan pertanyaan yang ia dengar.
"Ibuku kecelakaan, rumah sakit sudah mengeluarkan stok yang ada. Namun, ibu masih membutuhkan beberapa lagi." Orang itu semakin panik, dan suaranya pun terdengar gelisah.
"Apa golongan darahnya?"
"B+. Bagaimana denganmu, Sharon?"
"Golongan darahku sama dengan bibi. Katakan padaku dimana rumah sakitnya, aku akan datang sekarang juga, dan aku bersedia menyumbangkan darahku padanya kak Nick."
"Sebaiknya aku saja yang menjemputmu, kau dimana?"
"Tidak apa-apa, katakan saja dimana rumah sakitnya."
Dengan cepat Sharon memutuskan panggilan tersebut. Ketika mendapat pesan, ia segera bergegas untuk meninggalkan rumah tersebut. Charles yang merasa bingung pun langsung mengajukan pertanyaan beruntun pada gadis di hadapannya.
Mendengar jawabannya benar-benar membuatnya terkejut. Bagaimana bisa Sharon bisa dengan senang hati menyumbangkan darahnya dengan orang yang selalu mencari masalah kepada dirinya, dan kebaikan hatinya itu lah yang membuat Charles semakin mencintainya.
"Pergilah dengan Charlie, itu akan lebih aman." Tutur Charles, dan menatapnya penuh dengan kekhawatiran.
"Kau sudah berjanji. Jadi, jangan sampai kau mengingkarinya." Bisiknya yang kemudian mencium keningnya dengan lembut, dan Sharon segera menganggukkan kepalanya.
Kondisi di rumah seketika menjadi hening, ingin izin pun dia tidak tahu keberadaan Bill maupun Charlie, hingga ia pun segera pergi dari rumah tersebut.
Tanpa membuang waktu, Sharon langsung menghentikkan taksi yang berlalu lalang di hadapannya, dan meminta supir tersebut untuk mengantarnya menuju alamat yang sudah ia katakan.
Setibanya disana dengan cepat Sharon berlari ke arah UGD. Langkahnya ia perkecil ketika melihat Nick, dan neneknya tengah menunggu dengan cemas. Ada sedikit rasa takut dalam dirinya ketika berjalan menghampiri mereka, namun Nick menyadari kehadirannya, dan langsung berjalan ke arahnya.
"Aku fikir, kau hanya bergurau. Aku fikir kau tidak akan datang untuk membalas dendam. Aku fikir kau..."
"... kak Nick tidak perlu berfikir yang macam-macam. Ayah, dan ibuku tidak mengajariku untuk menyimpan dendam pada orang lain. Jadi, dimana aku bisa memeriksakan darahku, dan mendonorkannya?"
Lalu, Nick membawa Sharon menuju laboraturium perawat, dan mengatakan pada mereka disana jika ada pendonor yang bersedia menyumbangkan darahnya untuk ibunya.
Setelah itu, Sharon segera di periksa, apakah dia bisa mendonorkan darahnya atau tidak. Ketika di izinkan, dengan segera perawat itu mengambil darahnya.
"Kak, bisakah kau kirimi pesan pada Charles? Aku sudah berjanji padanya jika aku akan menghubunginya ketika aku tiba, namun aku tidak sempat mengecek ponselku." Gumam Sharon, dan dengan cepat Nick melakukan apa yang di minta oleh sepupunya itu.
Setelah selesai melakukan transfusi darah. Tiba-tiba saja Sharon pingsan ketika hendak turun dari ranjang pasien, kemudian Nick kembali membaringkan tubuh Sharon di atas ranjang tersebut, dan salah seorang perawat disana mencoba mengecek kondisinya
"Tampaknya dia kelelahan, aku lupa cek kondisi tubuhnya ketika hendak mengambil darahnya tadi."
"Tapi tidak akan terjadi sesuatu padanya 'kan?" Sahut Nick dengan kegelisahan.
"Anda tenang saja tuan, nona ini akan baik-baik saja. Biarkan dia di rawat selama dua hari untuk menerima nutrisi, setelah itu dia akan kembali membaik."
"Baiklah jika begitu, rawat adikku dengan baik."
"Kami akan mengurusnya, sebaiknya anda mengurus administrasi untuknya." Sahut perawat tersebut, dan Nick segera menuju ruang pendaftaran serta mengurus segalanya untuk Sharon.
Bersambung ...