
Saat siang menjelang, Charles langsung menuju tempat dimana ia membuat janji dengan adiknya. Setibanya mereka disana, Charles begitu terkejut ketika melihat seorang wanita yang berada di sisinya, bahkan langkah kakinya pun sempat terhenti akibat keterkejutannya.
Gwen yang melihat reaksi Charles pun segera menundukkan kepalanya. Melihat itu tentu membuat Sharon bingung, sedangkan Charlie yang mengerti akan hal tersebut pun langsung menghampiri sang kakak, ia menepuk bahunya, hingga Charles kembali melanjutkan langkahnya.
Tiba-tiba saja Charles mengeratkan genggamannya pada tangan Sharon, merasakan itu lekas membuat Sharon menoleh ke arahnya. Dirinya merasa, jika ada sesuatu yang di rasakan olehnya, namun Sharon tidak tahu mengenai hal apa.
“Dia adalah wanita yang di Jerman, wanita yang...” Charles berbisik pada Sharon, dan Charlie yang mampu mendengarnya pun langsung menatap ke arahnya, hingga membuat Charles bungkam.
“... aku mohon jangan bahas itu sekarang. Dengarkanlah penjelasanku dulu!” Pinta Charlie, dan Charles hanya menghela nafasnya.
Ketika mereka tiba di meja yang sudah di pesan oleh Charlie. Gwen langsung bangun dari duduknya, dan membungkukkan tubuhnya ke arah mereka, Sharon membalasnya, namun tidak dengan Charles. Ia masih merasa shock dengan apa yang di lihat olehnya, namun Sharon memukul pelan lengannya, hingga Charles membalas membungkuk.
Sharon kini mengerti dengan apa yang terjadi. Ternyata wanita itulah yang membuatnya gugup, mengingat apa yang hampir terjadi pada keduanya, tentu saja membuat Charles masih tidak menyangka. Kemudian, tanpa berlama-lama, Charlie menjelaskan segalanya kepada mereka, penjelasan yang sama seperti apa yang ia ucapkan pada ayahnya.
Mendengar itu hanya membuat Charles menghela nafasnya, dia tidak tahu apa ini merupakan salah satu jebakan atau bukan. Ia hanya takut jika semua ini hanya rencana James, selaku ayahnya. Melihat reaksi Charles yang begitu menyebalkan langsung membuat Charlie menginjak kaki saudaranya, hingga hal itu membuat Charles meringis.
“Apa yang terjadi?” Sahut Sharon yang langsung menatapnya.
“Tidak apa-apa.” Charles membalasnya dengan sebuah senyuman. “Aku tidak pernah melarang adikku untuk berhubungan dengan siapa pun. Aku juga tidak pernah memaksa adikku untuk melakukan hal yang di luar keinginannya. Apapun yang membuatnya bahagia, aku akan selalu mendukungnya. Namun, jika orang itu membuatnya kecewa, aku tidak akan tinggal diam.” Lanjutnya lagi.
“Aku mengerti dengan kekhawatiranmu, mengingat apa yang sudah terjadi padamu, dan juga ayahku. Tapi, kau tenang saja! Jika aku memang mengkhianatinya, kau bebas melakukan apapun padaku!” Gwen menyahut.
“Astaga, kenapa suasana begitu tegang seperti ini? Apa tidak sebaiknya kita pesan beberapa makanan?” Sharon mencoba menengahi mereka.
“Kau benar sekali kakak ipar.” Seru Charlie yang langsung memanggil pelayan, dan memesan camilan untuk mereka.
***
Setelah bertemu dengan Charlie, dan Gwen. Seperti janjinya, Charles mengajaknya untuk bertemu dengan Nick, dan juga Alice. Mereka bertemu di salah satu butik, dan saat tiba disana, Alice menunjukkan satu gaun yang akan di gunakannya nanti pada Sharon.
Merasa penasaran dengan gaun yang akan di kenakan oleh Sharon nanti, Alice mendesaknya agar mau memberitahunya. Namun, ia sendiri pun bingung harus bagaimana menjelaskan itu pada sahabatnya. Dirinya bahkan tidak tahu gaun seperti apa yang akan di kenakan olehnya nanti.
“Jika kau menanyakan bagaimana gaun yang akan di kenakan olehnya. Maka kau akan melihatnya nanti di saat hari H.” Charles menyambar saat melihat Sharon tak mampu menjawabnya.
“Baiklah jika begitu. Tapi, setidaknya beritahu pada Sharon. Kau bahkan tidak berniat untuk memberitahunya, apa kau tidak menanyakannya? Soal gaun seperti apa yang ia inginkan?”
“Itu.. aku...”
“... tidak apa-apa. Apapun yang di pilihkan olehnya, aku pasti menyukainya.” Sharon tersenyum ke arah sahabatnya.
“Tetap saja tidak bisa begitu. Kau harus...”
“... Alice, kak Nick. Maafkan aku, aku harus pergi sekarang! Aku, dan Charles masih memiliki acara lain. Jadi, aku pamit dulu! Kalian bersenang-senanglah!” Sharon menyela ucapan Alice. Menurutnya, ucapan Alice terasa sangat memojokkan Charles. “Sampai jumpa!” Tuturnya lagi, dan Sharon lekas menarik lengan Charles agar segera meninggalkan tempat tersebut.
“Mari ke makam orang tuaku!” Imbuhnya yang tak menatap Charles sedikit pun.
Seperti permintaannya, Charles mengantarnya untuk menuju makam orang tua Sharon. Saat perjalanan tak lupa untuk mereka membeli 2 bukat bunga, dan setibanya disana, Sharon langsung meletakkan bunga itu di masing-masing makam ayah, dan ibunya.
Di banding dengan ibunya, Sharon begitu dekat dengan ayahnya. Apapun selalu diberikan oleh ayahnya ketika ibunya tidak bisa memberikan apa yang di inginkan olehnya. Meski hidup mereka berkecukupan, Ozan Sworth tidak pernah sedikit pun membuat putrinya merasa kecewa. Karena itulah, Sharon begitu terpukul ketika harus di tinggal oleh ayahnya.
Merasa sudah begitu lama disana, Sharon lekas meninggalkan tempat tersebut, dan kembali ke dalam mobil. Sejak tadi, ucapan Alice terus berputar di benak Charles. Menurutnya, semua yang di katakan oleh Alice memang benar. Dirinya hanya mengedepankan perasaannya, dan benar-benar tak memperdulikan perasaan Sharon.
Ini bukanlah pernikahannya seorang, dan bukan hanya kebahagiannya seorang diri. Bagaimana bisa dia bisa se egois itu, begitulah pikirnya saat ini.
“Sharon, kau belum menjawab pertanyaanku! Kenapa kau...”
“... aku ingin pergi ke Zurich Lake sekarang!” Pungkasnya, dan Charles hanya menghela nafasnya ketika mendengar permintaannya.
Kembali menuruti permintaannya, Charles lekas mengemudi ke arah yang di inginkan oleh wanita di sisinya. Jarak yang tidak begitu jauh, hingga merekatelah tiba disana. Melihat ada bangku disana, Sharon langsung menempatinya seraya memandang air danau yang begitu tenang.
Sedangkan Charles, sesekali ia menatapnya, dan menatap ke arah danau secara bergantian. Sebenarnya ada apa dengannya? Dirinya bahkan belum mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang ia ajukan sejak tadi.
“Sharon. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau tidak menjawab ucapanku? Apa kau tengah menyembunyikan sesuatu?”
“Menyembunyikan sesuatu? Apa yang harus ku sembunyikan darimu?” Sharon menjawabnya dengan sebuah senyuman hangatnya.
“Jika begitu jawab pertanyaanku! Kenapa kau berbohong pada mereka? Bukankah.."
“... aku ingin...”
“... aku mohon jangan mengalihkan pembicaraanku! Jawab pertanyaanku sekarang juga! Kenapa kau berbohong?” Kini, nada suara Charles pun terdengar meninggi, dan ia juga tampak mencengkram kedua bahu wanita di hadapannya agar ia bisa menatapnya.
Mendengar bentakkannya membuat Sharon begitu terkejut. Ia sama sekali tidak pernah mendengar Charles bicara dengan nada yang tinggi, kemudian ia menepis tangan Charles dari bahunya secara perlahan.
“Karena aku merasa jika kau begitu tertekan dengan ucapan yang di lontarkan oleh Alice. Hanya itu saja.” Tutur Sharon yang kembali menatap ke arah Danau.
“Aku sungguh tidak merasa tertekan dengan ucapannya. Justru ucapannya mampu menyadarkanku, menyadarkanku dari keegoisanku. Yang dikatakannya memang benar, seharusnya aku meminta pendapatmu dalam hal ini. Jika kau mau, kita bisa memesannya ulang.”
“Kau tidak perlu cemas akan hal itu. Seperti yang sudah ku ucapkan, apapun pilihanmu, aku pasti menyukainya. Anggap saja ini adalah salah satu kejutan yang kau siapkan untukku.” Timpalnya dengan nada yang terdengar begitu tenang.
“Maafkan aku!” Rutuk Charles, dan mendengarnya membuat Sharon tersenyum, yang kemudian langsung berhambur ke dalam pelukannya.
Bersambung ...