My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 29



Saat jam makan siang tiba, Charles sengaja mendatangi kantin pegawai, dan berharap dapat melihat gadisnya. Pandangannya menyebar, dan ia tidak mampu menemukannya.


Hatinya menggiring dia untuk membawanya menuju atap. Setibanya disana, ia langsung membuka pintunya secara perlahan, dan benar saja jika gadis itu ada di sana.


Sharon terlihat tampak duduk seraya menyandar di salah satu tower disana. Terdengar jika ia tengah bersenandung dengan nada lirihnya.


"Cinta tangis dan kenangan tentangmu. Gelombang demi gelombang mengalir dalam hatiku. Bersama dengan kenangan yang tidak bisa menghapus tangisku. Hari ini hatiku kosong lagi. Terasa hampa"🎶🎶🎶


Mendengar itu, membuat hati Charles teriris. Langkah kakinya menahannya untuk tidak menghampirinya. Ia takut, jika ia datang, Sharon akan semakin sedih. Kemudian, ia memutuskan untuk pergi dari atap.


Merasakan ada kehadiran seseorang, Sharon menoleh ke belakang. Namun, ia tak mampu menemukan siapa pun disana. Sebenarnya, ia begitu berharap jika Charles datang menemuinya.


"Jika saja kau datang, dan memintaku mendengarkan penjelasanmu, mungkin aku akan mendengarkanmu. Tapi, ternyata kau tidak datang." Gumam Sharon membatin. Karena jam makan siang sudah selesai, ia pun segera kembali pada pekerjaannya.


Sebelum kembali sibuk dengan pekerjaannya, Sharon menemui Key, dan meminta bantuannya agar ia bisa bertemu dengan Charles. Tanpa fikir panjang, Key langsung membawanya masuk ke dalam ruangan direktur.


Setelah mengantarnya, Key segera pamit keluar, dan memberikan mereka privasi. Charles yang berada di sana pun terkejut ketika melihat wajah Sharon begitu sembab. Hal tersebut, membuat dirinya bangun, dan langsung menghampirinya.


"Saya menemui anda ke sini hanya untuk menyampaikan sesuatu. Saya ingin anda menormalkan gaji saya seperti sebelumnya, sama seperti office girl yang lain. Bulan ini, anda bisa memotong gaji saya sebesar 20% untuk menggantikan yang kemarin." Sahut Sharon dengan pandangan yang tertunduk.


"Kenapa juga aku harus mengikuti perintahmu? Disini akulah bosnya. Jadi, semua keputusanku adalah mutlak."


Tidak mengatakan apa-apa lagi, Sharon lekas pergi meninggalkan ruangan tersebut, dan Charles hanya menghela nafasnya dengan kasar.


•••


Hari berlalu begitu cepat. Key tampak tengah menunggu seseorang di lobby. Setelah orang tersebut tiba, Key pun langsung membawa orang tersebut menuju ruangan Charles.


"Sepertinya aku harus ke toilet sebentar. Bisa tunjukkan dimana toiletnya?" Orang tersebut menyeru, dan Key pun menunjukkan arahnya. "Louis. Kau pergi saja duluan bersama dengan asisten tuan Austin, aku akan menyusul."


"Tapi anda tidak tahu ruangannya di sebelah mana tuan." Louis membalasnya.


"Ruang tuan Austin ada di lantai 16. Setelah keluar dari lift, anda lurus saja, kemudian belok ke kiri." Balas Key dengan nada yang sopan.


Setelah mengerti, Kent pun langsung masuk ke dalam toilet, sedangkan Key, dan Louis segera bergegas menuju ruangan Charles. Setibanya di ruangan, Key meminta Louis untuk menunggu, karena atasannya masih dalam perjalanan.


Louis mengerti, lagi pula pria seperti Charles tidak akan memiliki banyak waktu luang untuk berdiam diri saja di dalam ruangannya. Begitulah yang ada dalam fikirannya.


Pandangannya semakin ia lekatkan pada orang tersebut, dan langkah kakinya membawanya menuju ke arah orang itu. Merasa tak salah lihat, ia pun tersenyum lega, dan langsung menarik orang tersebut ke dalam pelukannya.


Mendapati pelukan dari orang asing, membuat orang tersebut melepaskan diri, dan langsung menamparnya. Orang-orang disana terkejut ketika mendengar suara tamparan, dan mereka pun memandangi kejadian tersebut.


"Kent?" Orang tersebut tertegun ketika melihat siapa yang sudah berani memeluknya di depan umum. "Maafkan aku, aku sungguh reflek, dan ..."


"... tidak apa-apa. Kau pasti sangat terkejut, dan seharusnya aku lah yang harus meminta maaf padamu." Kent memotong ucapannya. "Melihatmu, aku selalu kesulitan untuk mengontrol diriku. Aku sangat merindukanmu, Sharon."


"Kenapa hidup gadis itu lucky sekali, sih. Bahkan ia juga mengenal pimpinan dari E.KChamp." Bisik salah seorang pegawai wanita.


"Kau benar. Sebenarnya dia itu siapa? Sehingga pria-pria seperti mereka sangat menyukainya." Balas pegawai sebelahnya.


"Sstt. Sebaiknya jangan bicara terlalu keras. Beberapa hari yang lalu, ada pegawai yang di pecat, karena menjelekkannya." Pegawai lainnya menyambar, dan mereka lekas pergi setelah mendengar itu.


Kent, dan Sharon terlihat masih berbincang. Tanpa mereka sadari, seseorang tengah memperhatikannya dari jarak yang tak begitu jauh, ia juga mengepalkan kedua tangannya.


"Kau semakin kurus. Sebaiknya ikut aku, dan kita akan makan sebentar. Aku akan membelikan cheese fondue, dan ice cream vanilla kesukaanmu." Sahut Kent yang langsung menarik lengan Sharon. Kemudian, seseorang menahan serta memegang tangan Kent agar berhenti.


"Tuan Edbert? Apa yang ingin anda lakukan dengan pegawai Austin Industries? Bukankah anda datang untuk menemui saya?" Rahang orang tersebut tampak mengeras, dan Sharon yang melihatnya pun hanya mampu menundukkan kepalanya.


"Tuan Austin? Kenapa anda ada disini? Saya fikir anda bersama dengan asisten saya."


"Saya baru menyelesaikan rapat yang di adakan di luar. Jika tidak keberatan, bisakah kita langsung ke ruangan saya." Ulas Charles.


"Aku akan menemuimu lagi setelah urusanku selesai. Tunggu aku." Gumam Kent dengan senyuman hangatnya.


"Sepertinya itu tidak bisa. Aku fikir, dia masih memiliki begitu banyak pekerjaan. Benar begitu, nona Hwang?" Seru Charles dengan penekanan, dan menatap tajam ke arah Sharon.


"Ah begitu ya? Aku berpesan padamu unyuk tidak bekerja terlalu keras, aku tidak ingin kau jatuh sakit. Aku pergi dulu." Kent tersenyum seraya mengusap puncak kepala Sharon. Sedangkan Charles, ingin sekali rasanya ia mengusir Kent saat itu juga.


"Terima kasih, Kent. Aku juga akan melanjutkan pekerjaanku." Sharon membalasnya. "Tuan Charles, saya permisi." Timpalnya lagi.


"Apa-apaan ini? Dia bicara dengan santai pada Kent, namun bicara formal padaku? Aku semakin penasaran, sebenarnya apa hubungan antara Kent, dan Sharon?" Charles menggerutu dalam batinnya. Kemudian, mereka pun bergegas untuk menuju ruangannya.


Bersambung ...