
Pagi telah kembali, Charles yang merasa sudah pulih pun turun dari ranjangnya, dan membuka tirai jendela yang berada di dalam ruangannya. Charlie yang merasakan sinar matahari menusuk kulitnya pun segera membuka matanya.
Wajah Charles terlihat sumringah kala itu, ia sungguh tak sabar untuk bertemu dengan Sharon. Melihat wajah bahagia itu membuat Charlie merasa gelisah, entah apa yang akan terjadi padanya nanti ketika melihat kondisi Sharon saat ini.
“Charlie, cepatlah bangun! Bukankah kau akan mengantarku untuk menemui orang itu?” Sahut Charles yang menarik saudaranya.
“Tunggu sebentar! Biarkan aku membasuh wajahku lebih dulu.” Balas Charlie yang berlalu untuk menuju toilet yang berada di dalam ruangan tersebut.
Setelah membasuh wajahnya, ia pun berkaca seraya mengusap wajahnya yang basah. Disana ia menarik nafasnya lebih dalam, mencoba menenangkan diri, dan berusaha untuk tetap tenang ketika sebuah pertanyaan muncul kelak.
Saat dirinya sudah meninggalkan toilet, Charles menunggunya tepat di depan pintu toilet dengan wajah girangnya, dan Charlie hanya mendesah melihat tingkah saudaranya. Setelah operasi di lakukan, entah kenapa sikap saudaranya seolah berubah menjadi lebih ke kanak-kanakkan, begitulah yang berada dalam fikirannya kali ini.
Kemudian, mereka pun meninggalkan ruangan itu untuk menuju ruangan dimana pendonor itu di rawat. Merasa sudah bugar, Charles berjalan tanpa menggunakan kursi roda sama sekali. Hingga saat berada dalam perjalanan, seseorang menabrak tubuhnya, dan dengan cepat Charles membungkukkan tubuhnya pada orang tersebut, namun dirinya terkejut ketika melihat orang yang berada di hadapannya.
“Kent? Apa yang kau lakukan disini?” Ungkap Charles.
“Kau sudah sadar? Syukurlah jika kau sudah kembali.”
“Kau.. kau mengetahui soal penyakitku?” Charles menatap Kent, dan Charlie secara bergantian. Kemudian, keduanya pun mengangguk bersamaan. “Selain kau ada siapa lagi yang mengetahuinya? Lalu kenapa kau berada disini? Siapa yang sedang ingin kau jenguk?” Sambungnya lagi.
“Ikutlah denganku! Kau akan mengetahuinya?”
“Tapi, aku harus menemui pendonorku lebih dulu. Setelah itu, aku berjanji akan mendatangimu.”
“Kau ingin menemui pendonor itu, maka dari itu ikutlah denganku! Karena orang itulah alasanku berada disini.” Sahut Kent yang langsung berjalan mendahului mereka, dan keduanya pun hanya mampu mengikuti langkahnya.
Mereka memasuki sebuah lift, dan Kent segera menekan angka 18 yang ada berada pada monitor lift. Setibanya mereka di lantai 18, juga tibanya mereka di salah satu ruang vip, Kent membuka pintu tersebut, dan tiba-tiba saja ada rasa enggan dalam diri Charles untuk memasuki tempat itu.
"Ada apa? Bukankah kau ingin menemui pendonormu?" Tutur Kent, dan dengan nafas yang berat, Charles segera melangkahkan kakinya.
"Sharon lah orang yang telah menjadi pendonormu, Charles. Tanpa ada keraguan, dengan besar hati ia rela memberikan sedikit hatinya agar kau tetap selamat." Sahut Kent.
"Charlie! Dari mana dia mengetahuinya?" Imbuh Charles dengan nada suara yang terdengar dingin.
Tidak ada yang perlu di sembunyikan lagi, Charlie pun menceritakan segalanya, mulai dari awal, sampai bagaimana gadis itu bisa terbaring koma. Charles yang mendengar semua itu pun mengepalkan kedua tangannya.
"Jika dia tahu, apa kalian tidak bisa mencegahnya? Apa kalian tidak tahu sejak awal apa yang akan terjadi? Apa dokter Marvin tidak menjelaskannya pada kalian, hah?" Suara Charles semakin meninggi, tatapannya terlihat begitu tajam.
"Dokter Marvin memberitahu Sharon soal ini, namun Sharon tak memberitahukannya pada kami. Ini adalah kesalahanku, sejak awal aku sudah mencurigainya karena dia terlihat menyembunyikan sesuatu, dan bodohnya lagi, aku tidak mencari tahu akan hal itu." Tutur Kent, dan Charles kembali membalikkan tubuhnya untuk menatap wajah Sharon.
"Keluar! Aku hanya ingin bersama dengannya!" Ulasnya, dan tanpa berfikir panjang, baik Charlie atau Kent, keduanya pun segera keluar untuk memberi ruang pada mereka.
Kini, hanya ada mereka berdua. Charles menggenggam erat tangan gadis itu, dan ia tak mempercayai jika orang yang di cintainya lah yang akan menyelamatkan dirinya.
Tak lama kemudian, dokter Marvin datang untuk mengecek kondisinya. Sampai hari itu, masih belum terlihat perkembangan lain dari Sharon, dan Charles hanya mampu menghela nafasnya.
"Sebelum operasi di lakukan, Sharon menitipkan sebuah pesan untukmu." Sahut dokter Marvin seraya menepuk bahu Charles yang tengah duduk menatapi gadis di hadapannya.
"Pesan? Pesan apa yang dia tinggalkan untukku?" Gumam Charles yang masih dalam posisi seperti sebelumnya.
"Dia memintamu agar tetap hidup, apa pun yang membuatmu bahagia, dia akan selalu mendukungmu. Dia juga tidak ingin kau merasa menyesali atas tindakan yang sudah dilakukan olehnya. Terakhir, ia sangat berterima kasih padamu atas semua yang sudah pernah kau lakukan padanya." Ulas dokter Marvin, dan Charles yang mendengar itu pun langsung diam tak bergeming.
Matanya masih terus menatap Sharon dengan lekat, dan dokter Marvin hanya mampu menghela nafasnya melihat hal yang dilakukan oleh Charles kali ini. Setelah mengatakan apa yang ingin ia sampaikan, dokter Marvin segera meninggalkan ruangan itu, dan tetap meminta Charles untuk tetap kembali hidup.
"Apa pun yang membuatku bahagia, kau akan selalu mendukungku bukan? Baiklah, mari kita lakukan sesuatu yang akan membuatku bahagia, Sharon." Ucap Charles yang langsung keluar meninggalkan ruangan.
Bersambung ....