My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 102



Setibanya Charles di star royal, mereka di sambut oleh orang disana. Asisten rumah tangga serta para penjaga villa sungguh prihatin melihat kondisi tuan rumahnya tersebut. Charles menggendong tubuh Sharon untuk menuju kamar, dan Key membawa seluruh barang yang tersimpan di dalam bagasi mobil.


“Tuan, apa anda membutuhkan sesuatu?” Sahut salah seorang asisten rumah tangga.


"Untuk saat ini tidak." Ungkap Charles.


"Jika membutuhkan sesuatu, tuan bisa langsung katakan saja pada kami." Ucap kepala asisten.


"Terima kasih."


Mereka pun pergi meninggalkan kamar Sharon. Kemudian, salah seorang dari mereka berbisik, orang tersebut tampak terkesima ketika melihat Charles untuk pertama kali. Namun, yang lainnya mengingatkan orang tersebut untuk tidak bertindak bodoh, karena bagaimana pun, Charles merupakan tuan mereka.


Key yang masih berada dalam kamar tersebut pun membantu Charles untuk membereskan segalanya. Keberadaannya membuat Charles sangat terbantu, dirinya merasa beruntung karena memiliki asisten sepertinya.


"Jika sudah selesai, kau bisa kembali ke kantor! Aku akan kembali besok lusa."


"Baik tuan. Kebetulan besok lusa perwakilan dari perusahaan S.Every ingin berkunjung menuju Austin Group."


"S.Every? Bukankah itu perusahaan dari Jerman? Apakah tuan James Raven juga akan datang?"


"Benar. Dia akan datang."


"Baiklah. Kau bisa kembali sekarang, Key. Terima kasih." Seru Charles, dan Key segera meninggalkan tempat itu.


Setelah Key meninggalkan villa tersebut, Charles kembali menata beberapa barang yang belum terselesaikan. Sesekali ia seraya berbincang dengan Sharon kala itu, meski ia tahu jika wanita itu tidak akan meresponnya sedikti pun.


•••


Hari terus berlalu, dan hari itu hari dimana Charles mengharuskan dirinya untuk kembali pada dunianya. Ia tengah bersiap, dan setelah selesai, ia berjalan menghampiri wanita tersebut, ia duduk seraya memandanginya dengan lekat. Sesekali ia mengusap lembut dahinya dengan sebuah senyuman hangatnya.


“Aku harus bekerja sekarang! Jika kau sudah merasa puas tertidur, maka segeralah bangun.” Gumam Charles dengan senyuman yang tetap terukir. “Aku pergi sekarang, kau baik-baik disini.” Lanjutnya lagi seraya mencium lembut keningnya.


Kemudian, Charles keluar dari kamarnya seraya membenarkan letak dasinya. Ketika hendak keluar meninggalkan rumah, seseorang berlari menghampirinya dengan nafas yang tersengal, mendengar namanya di panggil, Charles menoleh kebingungan.


“Tuan, anda belum sarapan? Kami sudah menyiapkannya sejak tadi.”


Tanpa berkata-kata lagi, orang itu bergegas berlari untuk memenuhi apa yang di minta oleh tuannya. Tidak lama setelah itu, ia kembali, dan menyerahkan kotak bekal pada Charles, dan Charles segera berangkat setelah menerimanya.


“Lihatlah bibi, tuan Charles begitu baik hati, dia bahkan terus tersenyum padaku. Aaarrggh dia sungguh menawan.”


“Erina, sudah ke peringkatkan kau untuk tidak bersikap berlebihan padanya. Bagaimana pun, tuan Charles adalah suami dari nona Sharon.”


“Memang kenapa? Bukankah nona Sharon masih terbaring koma? Tidak ada kepastian juga mengenai kesadarannya. Seraya menunggu hari itu, maka aku yang akan membantu tuan Charles untuk memenuhi kebutuhannya.”


“Kau mendekatinya seperti itu, bukan berarti ia akan berpaling dari nona Sharon.”


“Rasa suka timbul dari seberapa seringnya kita bersama, dan mungkin itu akan terjadi pada kami.”


“Itu urusanmu, namun jangan sampai melakukan hal yang melewati batas, dan jangan sampai membuat orang lain terluka.” Sahut kepala asisten rumah tangga.


Charles yang telah kembali ke kantornya di sambut dengan hangat oleh seluruh karyawannya. Mereka sangat senang ketika melihat direkturnya kembali. Meski Charlie memimpin dengan baik, tetap saja mereka lebih nyaman ketika bekerja di bawah pimpinan Charles.


Seperti biasa, Charles selalu populer di kalangan karyawan wanitanya, melihat Charles yang terlihat lebih fresh pun langsung di hampiri oleh mereka, dan Key yang menyadari hal tersebut pun hanya berpura-pura tidak melihatnya.


“Baiklah. Aku sudah baik-baik saja, kalian bisa kembali pada pekerjaan kalian. Siang nanti, aku akan datangkan truk makanan untuk kalian semua.” Sahut Charles dengan senyuman yang tak hilang.


“Terima kasih tuan Charles.” Gumam mereka secara bersamaan.


Ketika mereka kembali pada pekerjaannya, Charles segera bergegas menuju ruangannya. Di dalam sana, ia menemukan surat di sebuah lacinya. Mungkinkah itu surat yang dimaksudkan oleh Key beberapa waktu lalu? Begitulah fikirnya kali ini.


Merasa penasaran dengan isi dari dalam amplop tersebut, Charles lekas mengambilnya, dan membukanya secara perlahan. Terdapat beberapa lembar foto disana, foto dirinya bersama dengan Sharon ketika keduanya menjalani kencan 1 hari.


Foto itu membuat senyumnya kembali terukir, ia sungguh merindukan momen itu, dan ia juga teringat satu hal yang sangat berarti untuknya. Kemudian, ia kembali mengingat satu kertas yang belum di buka olehnya. Ia menariknya, dan sesuatu pun terjatuh dari sana.


"Cincin?" Gumam Charles ketika mengambil sesuatu yang teejatuh tadi.


Bersambung...