
“Coba saja jika kau ingin gajimu di potong!” Larissa berlari melaluinya seraya mengejeknya, dan Key sungguh kesal mendengarnya, karena apa yang di katakannya memanglah benar.
Sedangkan, Charles segera mengajak Sharon menuju ke ruangannya. Baru memasuki lobby, wanita itu menghentikan langkah kakinya, dan berjalan ke arah yang lain, dan hal itu tentu saja membuat Charles bingung serta berpikir.
Wanita itu tidak mungkin melupakan ruangan milikku, bukan?
Pikiran itu terus berputar di benak Charles saat melihat langkah wanita itu semakin menjauh darinya. Charles langsung berjalan menyusulnya, dan memintanya untuk berbalik. Saat hampir tiba di salah satu tempat pada gedung tersebut, barulah Charles mengerti dengan apa yang tengah di lakukan oleh pujaan hatinya.
Pantry, Sharon menuju kesana, dan Charles yang sudah paham dengan pikiran wanita di hadapannya menyunggingkan sebuah senyuman khas miliknya. Bagaimana pun, tempat ini adalah miliknya, lebih tepatnya, ia bekerja di bagian tersebut, namun siapa sangka jika semuanya berubah sampai 180°.
Sharon sendiri benar-benar masih tidak menyangka jika dirinya akan menikah dengan pemilik perusahaan tempat ia bekerja. Ketika mengingat perkenalan keduanya, itu sungguh menggelikan, bahkan Sharon sedikit tertawa kecil saat kenangan itu melintas di pikirannya.
“Ada apa denganmu?” Charles sangat terkejut saat mendengar Sharon tertawa secara tiba-tiba tanpa ada sebab. “K-kau baik-baik saja ‘kan?” Tuturnya lagi yang langsung meraih bahu wanita itu agar menghadap ke arahnya.
“Aku baik-baik saja.” Melihatnya tersenyum membuat Charles sedikit merasa lega, lalu ia pun segera mengajaknya pergi dari tempat itu untuk langsung ke ruangannya.
Dalam perjalanan menuju ruangannya, lebih tepatnya ketika berada di dalam lift, tidak di sangka jika mereka akan bertemu dengan Key. Key yang melihat atasannya itu pun segera memalingkan wajahnya, dan enggan untuk menatapnya. Ia bahkan menyilangkan kedua tangannya pada saat itu.
Tingkah Key sungguh membuat Charles kebingungan, sebenarnya ada apa dengan asistennya satu ini? Apa dia tengah tidak sehat sampai berlaku seperti itu? Bahkan ia berani memalingkan wajahnya tanpa memberi hormat saat menyadari kehadirannya.
“Apa yang terjadi padamu?” Charles menyerukan suaranya yang sedikit melirik ke arahnya.
“Jangan bicara pada saya! Saya enggan untuk bicara dengan anda, tuan Charles yang terhormat!” Balasnya tanpa memandang Charles sedikit pun, dan jawaban Key mengundang tawa untuk Sharon. “Nona Sharon, apa yang anda tertawakan? Saya sedang tidak melawak!” Sambungnya lagi, dan Charles langsung bertolak pinggang di hadapan asistennya.
“Hey! Apa kau tengah berada di tahap putus cinta sehingga moodmu hancur seperti ini? Kau bahkan berani memarahi istriku, hah?”
“Itu bukan urusan anda!” Ketika pintu lift terbuka, Key kembali mengabaikannya, dan lekas meninggalkan lift. Charles hendak mengejarnya, namun dengan cepat Sharon menahan lengannya.
Kini, mereka telah tiba di lantai dimana ruangan Charles berada. Setibanya di depan pintu, Sharon kembali menghentikan langkahnya, ia teringat satu hal, ia menemukan orang yang berbeda saat memasuki ruangan tersebut.
Yah, saat ini ia tengah mengingat kejadian saat Charlie tengah menyamar menjadi saudaranya. Dengan spontan Sharon meremas ujung blouse yang tengah ia kenakan, pandangannya pun tertunduk, hingga suara Charles pun menyadarkannya.
“Apa yang kau pikirkan kali ini?” Serunya yang menggenggam salah satu tangan Sharon, dan sentuhan itu membuat kekhawatirannya hilang dalam sekejap. Saat itu juga ia yakin, jika pria yang berada di sisinya adalah benar Charles, bukan Charlie atau pria lainnya yang mirip dengannya. Itu sungguh melegakan untuknya.
“Tidak ada. Sebaiknya kita masuk! Aku sudah membawa makan siang ini untukmu, kau pasti lapar bukan?” Senyuman itu sungguh membuat Charles luluh sekaligus lemah.
Ketika berada di dalam, Sharon membuka beberapa tumpuk kotak yang di genggamnya sejak tadi. Ia menyiapkan banyak makanan di sana, dan Charles yang sudah merasa sangat lapar itu pun menjadi tidak sabaran untuk segera menyantapnya.
Sebelum pria itu menyentuh makanan yang ada di meja itu, dengan cepat Sharon menyuruhnya untuk membersihkan kedua tangannya terlebih dulu. Demi bisa menikmati makanan lezat yang sudah tersajikan di meja, Charles melesat cepat menuju toilet yang berada dalam ruangannya, dan kembali dengan cepat juga.
“Selamat makan.” Ungkapnya yang langsung menyantap segala makanan yang telah tertata rapih. “Mmmhh ini benar-benar lezat.” Pujinya dengan mulut yang dipenuhi oleh makanan, dan Sharon hanya tersenyum kecil menanggapi hal tersebut.
“Lusa adalah hari pernikahan kita, apa kau sungguh-sungguh akan memperlihatkan gaun itu padaku saat hari pelaksanaan?” Gumamnya dengan nada suara yang pelan, namun suaranya masih sampai di telinga Charles. Mendengar hal itu, membuat Charles meletakkan sendok yang berada dalam genggamannya, lalu menenggak segelas air yang ada di hadapannya.
“Apa hal itu yang membuatmu melamun sejak tadi?” Serunya yang tengah mengelap sudut bibirnya menggunakan napkin yang di sediakan oleh Sharon, dan pernyataan Charles membuatnya menatapnya.
Mana mungkin dirinya melamunkan hal itu? Pikiran itu bahkan baru melintas begitu saja dalam benaknya.
Itulah yang berada di pikiran Sharon kali ini, maka dari itu ia segera menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan Charles kepadanya. Kemudian, tatapan Charles semakin menajam ketika wanita di hadapannya tidak mengakui hal tersebut.
Bersambung ...