
Keduanya tampak terdiam ketika melihat reaksi Sharon yang seperti sekarang. Evelyn bahkan bingung harus berkata apa ketika pria di sisinya mengungkapkan segalanya. Entahlah apa yang harus ia katakan kepada Charlie nanti, dan entah apa reaksinya ketika mendengar kabar jika Sharon tahu segala penyamarannya.
“Katakan padaku! Kenapa kalian diam saja? Apa hubungan kalian dengan Charlie?”
“Kami adalah teman kuliah Charlie, dan kami juga mengenal baik dengan Charles meski kami berbeda kampus.” Sahut Edward yang menurutnya sudah tidak perlu lagi menyembunyikan segala sesuatunya.
“Lalu, katakan padaku! Kalian membicarakan soal seseorang yang di rawat, siapa dia? Apa dia Charles? Dan kenapa saat itu kau menerima lamaran dari seorang pria ketika kau sendiri sudah memiliki tunangan?”
Kini, pandangan Sharon mulai tertunduk. Ia bukan hanya sudah di bohongi, namun dirinya benar-benar di permainkan oleh mereka yang mengetahui rencana tersebut. Evelyn tampak menghela nafasnya ketika mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir Sharon.
Sebagai sesama seorang wanita, Evelyn tampak mengerti dengan apa yang tengah di rasakan oleh Sharon kali ini. Jika hal itu terjadi padanya, ia juga pasti akan sangat tertekan, dan juga kebingungan. Hingga akhirnya, Evelyn pun mengatakan yang sebenarnya pada Sharon.
“Maafkan aku. Tapi, Charlie melakukan ini atas permintaan Charles. Sejak awal dia memang tidak ingin memberitahumu mengenai penyakitnya, karena dia takut jika kau menjauhinya karena hal itu. Maka dari itu, dia membuat rencana ini, dan ia lebih memilih agar kau membencinya.” Gumam Evelyn.
“Dia melakukan ini, karena dia mengambil sisi buruk yang akan terjadi. Ketika tidak mendapatkan pendonor itu, dan ketika dia tidak berada di dunia lagi, dia berharap jika kau tidak sedih akan kepergiannya. Begitulah yang sebenarnya.” Edward menambahkan.
Mendengar semua penuturan mereka membuat air mata Sharon menetes begitu saja. Ia merasa kesal dengan apa yang di lakukan Charles kepadanya. Bagaimana bisa dia berfikir sependek itu? Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk meninggalkan cafe, dan lekas menuju Austin Industries.
Setibanya disana, ia berpapasan dengan Key. Namun, Sharon tampak mengabaikannya, wajahnya terlihat begitu sembab, dan Key sendiri kebingungan ketika menyaksikannya. Ia hendak mengejarnya, namun Sharon sudah masuk ke dalam lift lebih dulu. Hingga akhirnya, ia langsung merogoh sakunya, dan mengambil ponselnya.
“Tuan Charlie, tampaknya Sharon tengah menuju ruangan tuan Charles. Sebaiknya anda bersiap.”
“Apa? Baiklah, terima kasih.” Sahutnya yang terdengar mendesah.
“Huft, untunglah tuang Charlie belum meninggalkan kantor. Tapi, apa yang terjadi pada nona Hwang?” Batin Key yang karena rasa penasarannya pun langsung membuat langkahnya menuju ruangan milik Charles.
Ketika berada di depan ruangan direktur, Sharon tampak mengatur nafasnya, ia mengusap air matanya, dan langsung membuka pintu ruangan itu tanpa permisi sedikit pun. Ia melihat seorang pria berdiri menyandar pada meja kerjanya seraya menyilangkan kedua tangannya.
Sekuat apa pun ia menahan air matanya, tetap saja itu mengalir keluar, dan langkahnya terus membawa dirinya untuk mendekat ke arah pria di hadapannya. Ketika berada tepat di depannya. Sharon menggenggam salah satu tangan pria itu, ia menatap matanya, dan melepaskan kacamata yang tengah di kenakan olehnya.
“Apa maksudmu?” Sahutnya, dan langsung merebut kacamata dari tangan Sharon.
“Aku tidak mungkin salah. Charles memiliki tahi lalat di bawah matanya, dan kau tidak memilikinya. Aku sudah salah menanggapi, kau bukan Charles. Katakan padaku, dimana Charles? Dimana Charles di rawat?” Kini suaranya terdengar semakin terisak, dan Key yang baru saja tiba pun terkejut saat tahu jika Sharon telah mengetahui segalanya.
“Nona Hwang, apa maksud anda?” Tutur Key.
“Seharusnya aku yang mengatakan hal itu pada kalian. Apa maksud kalian membodohiku? Kalian menyembunyikan kebenaran mengenai penyakitnya, dan bekerja sama untuk mempermainkanku. Apa kalian fikir perasaanku kepadanya hanya ketika ia sedang sehat saja?”
“Apa Evelyn yang telah mengatakannya? Tidak, ini pasti akibat kecerobohan Edward, karena hanya dia yang paling tidak bisa menjaga rahasia.” Charlie berdecak dalam batinnya.
“Nona Hwang, sebaiknya...”
“... hentikan Key. Sharon berhak tahu segalanya.” Charlie menyelanya. “Aku minta maaf karena telah membodohimu. Sekarang ikutlah bersamaku!" Kini, Charlie meletakkan kacamata milik saudaranya, dan berjalan keluar ruangan tersebut.
"Tuan, tapi bagaimana dengan..."
"... tidak ada yang perlu di sembunyikan lagi darinya. Aku juga tidak bisa terus menerus bersandiwara, dan aku rasa Edward serta Evelyn pun telah menceritakan segalanya."
Key pun terdiam ketika mendengar apa yang di katakan oleh Charlie. Yah, memang benar katanya, Sharon berhak tahu atas segala kondisi yang tengah terjadi pada Charles kali ini. Hingga kemudian, mereka pun berjalan menuju parkiran.
"Kemana kita akan pergi?" Sharon menyahut.
"Bukankah kau ingin bertemu dengannya? Maka, akan ku antar kau menemuinya." Timpal Charlie yang langsung menginjak pedal gasnya. Kemudian, baik Charlie, Sharon, dan Key pun pergi menuju tempat dimana Charles berada.
Bersambung ...