My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 55



"Charles, ada apa?" Charlie yang mengikutinya keluar pun langsung menyentuh bahu saudaranya itu.


"Aku sempat mengambil gambar mobil yang membawanya, aku akan mengirimnya kepadamu." Sahut Alice yang kemudian mengakhiri panggilan tersebut.


"Aku tidak bisa mengikuti pesta tender malam nanti. Aku harus segera kembali." Sahut Charles dengan wajah khawatirnya. "Key! Pesankan tiket pulang sekarang juga. Aku ingin dapat jadwal penerbangan secepatnya." Lanjutnya lagi yang bergegas meninggalkan tempat tender itu berlangsung.


"Charles! Kau bahkan belum menjawab pertanyaanku. Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa yang menelfonmu?" Kini Charlie sungguh kesal karena di abaikan oleh kakaknya.


"Sharon di culik. Aku harus kembali, Charlie. Key, dia akan tetap disini mewakili Austin Industries untuk mengikuti pesta tender."


"Tuan, aku sudah mendapatkan tiketnya. Pesawat akan berangkat satu jam dari sekarang."


Kemudian, Charles meminta Key untuk mengantarnya menuju hotel. Ia akan mengambil barang-barangnya terlebih dulu sebelum pergi ke bandara. Selain itu, Charles juga memberitahu Key untuk tetap tinggal sampai acara benar-benar selesai. Bagaimana pun, itu salah satu rasa hormatnya pada penyelenggara acara.


Charlie yang melihat kecemasan dari wajah saudaranya pun mengikuti langkahnya, ia juga meminta asistennya untuk memesan tiket di jam yang sama dengan Charles. Mengingat kondisi pria itu kurang baik, Charlie tidak bisa berdiam diri untuk menontonnya.


Setibanya di bandara, Charles segera memasuki pesawat, ia begitu terkejut ketika mendapati saudaranya disana. Kemudian, Charlie menjelaskan, ia akan membantu mencari keberadaan Sharon sesampainya nanti.


•••


Keduanya telah tiba, dan keduanya langsung menghubungi orang-orang mereka untuk mencari keberadaan Sharon. Foto telah di terima oleh Charles, ia pun membagikan foto tersebut pada saudaranya.


"Bagaimana jika kau hubungi Nick Sworth? Bukankah keluarga Sworth memiliki koneksi yang lebih luas? Mengingat adanya hubungan darah pada mereka, aku yakin jika dia akan membantu kita untuk menemukannya." Sahut Charlie, dan mendengar saran tersebut, Charles langsung menghubungi pria itu.


"Dengan siapa aku bicara?" Seru pria di seberang sana dengan sebuah dokumen yang berada di tangannya.


"Charles Austin. Tuan Nick, aku tidak ada waktu untuk berbasa-basi, jadi aku akan langsung mengatakannya. Sharon di culik, dan bisakah kau membantuku untuk menemukan keberadaannya?"


"Apa kau bilang? Bagaimana itu bisa terjadi?"


"Penjelasannya nanti saja. Apa kau bisa bantu menemukannya."


"Tentu. Beritahu aku posisi terakhir kau melihatnya."


Di tempat yang berbeda, Sharon membuka matanya secara perlahan. Sorotan lampu menyilaukan matanya, dan ia pun menggelengkan kepalanya saat itu juga. Sadar dengan posisi yang tak nyaman, ia terkejut ketika mengetahui bibirnya terbungkam, dan tangannya terikat.


Ruangan itu hanya terdapat satu lampu yang cahayanya tidak terlalu terang. Kondisinya begitu hening, lalu ia mencoba untuk bangun dari baringannya, dan menyandar pada dinding yang berada di dekatnya. Sudah di pastikan, jika ia berada dalam gudang yang sudah tak terpakai.


Mendengar decitan suara pintu, membuat Sharon merasa khawatir. Tiga orang pria masuk ke dalam mengecek kondisinya, mengetahui dirinya telah sadar, salah satu dari pria disana merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya.


"Nyonya, wanita ini sudah sadar.


"...."


"Baiklah. Akan ku kirimkan lokasinya."


Entah dengan siapa pria itu bicara, yang jelas ia tengah bicara dengan seorang wanita. Mencoba memberontak pun percuma, tubuhnya seakan kehilangan tenaga, dan kepalanya masih terasa begitu berat akibat biusan yang mereka berikan kepadanya. Lalu, matanya kembali terpejam.


Beberapa menit kemudian, mendengar suara keributan, membuat Sharon membuka matanya lagi, dan pintu itu kembali terbuka. Sudah di pastikan jika orang tersebut tengah melangkah ke arahnya. Gelap, ia masih belum tahu siapa orang tersebut, siapa orang yang sudah melakukan ini kepadanya?


Langkah kakinya terdengar semakin dekat, dan dekat lagi. Melihat sepatu heels yang di kenakan, tidak lain jika dia seorang wanita. Masih tidak ada tenaga, Sharon masih sulit untuk menengadahkan kepalanya. Hingga orang tersebut pun berjongkok di hadapannya seraya mencengkram rahangnya agar ia mampu melihat siapa yang sudah datang.


"Sharon Hwang. Lihat aku." Orang itu menyahut, dan Sharon begitu tercengang ketika melihat orang yang berada di hadapannya. "Dengan begini aku sudah membuktikan padamu, setiap kata-kata yang ku lontarkan itu, bukanlah hanya sebuah omong kosong yang dapat di abaikan dengan mudah." Sahutnya yang menghempaskan wajah gadis itu.


Bersambung ...


Hallo readers MBMC. Terima kasih atas ❤️ dan 👍🏻 yang sudah kalian berikan. Agar tambah semangat lagi, jangan lupa untuk rate dengan memberikan bintang 5 juga ya😆


Mampir juga menuju dua novelku dengan judul Dont Give Me Hope!, dan Love Me, Please!


IG: @kyu_shine


💙Thank You💙