
"Aku menikah dengan Ozan tanpa persetujuan dari kedua orang tuanya. Alasan mereka tidak menyetujuinya, karena aku seorang yatim piatu, dan tidak memiliki keluarga yang jelas. Namun, Ozan tetap menikahiku, dan memutuskan untuk meninggalkan semuanya agar dapat hidup bersamaku, hingga akhirnya Sharon lahir. Meski sudah mendengar kelahiran Sharon, hati mereka tetap tidak tergerak sedikit pun."
Hati Charles merasakan rapuh mendengar semua itu. Meski bukan dirinya yang berada di posisi tersebut, tetap saja jika perlakuan orang tua Ozan tidaklah benar, dan sangat keterlaluan. Hingga tidak mau mengakui cucunya sendiri.
"Pada awalnya, putriku memiliki nama belakang ayahnya, Sharon Sworth. Namun, ketika suatu kejadian, ia merasa sakit hati, dan pada akhirnya mengubah nama belakangnya dengan namaku. Aku tidak bisa jelaskan semua hal itu padamu, waktu ku tidak banyak. Kejadian tersebut adalah luka terdalam baginya, namun percayalah, dengan sendirinya, ia akan mengatakan semuanya padamu. To..long ja..ga p..putri..ku, Charles Aus...tin."
Rekaman selesai, dan Charles menggenggam erat recorder itu. Dia pun akan mencari tahu semuanya sendiri, dan akan membuat keluarga Sworth mengakui Sharon sebagai cucunya, bagaimana pun caranya.
•••
"Key buat kerja sama dengan Sworth Company, dan tanamlah saham disana sebesar 6%." Sahut Charles yang sudah berada di ruangannya.
"Sworth Company? Bukankah perusahaan tersebut menduduki 5 perusahaan terbesar yang memiliki pengaruh? Meski pun Austin Industries lah yang berada di posisi satu."
"Kau benar. Dengan begitu, aku yakin jika mereka tidak akan ragu untuk bekerja sama dengan kita. Segera kabari aku mengenai hal tersebut. Aku akan keluar untuk pergi ke rumah sakit."
"Rumah sakit? Apa tuan merasa belum sehat?"
"Bukan aku, Sharon. Aku dapat kabar jika hari ini dia sudah boleh pulang. Baiklah, aku pergi dulu."
Sebelum meninggalkan kantor, tak lupa untuk Charles mengganti pakaiannya. Kali ini, ia hanya menggunakan kaos dengan kombinasi kemeja yang kancing-kancingnya sengaja di biarkan terbuka, dan tak ketinggalan, ia pun mengenakan topinya.
Bersama lamborghini miliknya, ia pun segera bergegas menuju rumah sakit dengan kecepatan tinggi. Kali ini, ia sangat berharap, jika Sharon akan mau berbicara lagi dengannya. Di abaikan olehnya, membuat Charles sungguh merasa frustasi, dan tak tenang untuk melakukan segala sesuatunya.
Setibanya di rumah sakit, ia langsung menuju ruangan dimana Sharon di rawat. Ketika membuka pintu tersebut, tidak ada orang disana, dan hal tersebut membuatnya sangat khawatir. Hingga kemudian, salah seorang perawat memberitahukannya jika pasien berada di ruang adminitrasi.
Belum sampai di sana, ia justru sudah bertemu dengannya. Gadis itu berada di hadapannya kali ini, dan Charles langsung berhambur memeluknya. Awalnya, tidak ada respon dari gadisnya, hingga tak lama kemudian, gadis tersebut membalas pelukannya.
"Maafkan aku." Charles berbisik.
"Kau bisa jelaskan padaku apa yang terjadi saat itu. Sekarang, aku ingin kita pergi dulu dari sini." Sahut Sharon yang kemudian melepaskan pelukannya. "Dan apa-apain ini? Kau sengaja berpenampilan seperti ini ya? Aku rasa kau sangat senang menebar pesonamu pada gadis-gadis diluar sana." Lanjutnya lagi yang langsung memalingkan wajahnya.
"Aku tidak berniat begitu. Niatku berpenampilan seperti ini, justru untuk menebar pesonaku padamu, agar kau tidak marah lagi padaku. Dan lihat! Rencanaku berhasil bukan?" Ungkap Charles seraya mencubit kedua pipi gadis yang berada di hadapannya.
"Sepertinya tingkat percaya dirimu semakin tinggi ya?"
"Tentu saja, karena itu adalah daya tarik milikku. Sudahlah, ayo pergi." Tanpa membuang-buang waktu, Charles langsung menggendong tubuh Sharon begitu saja.
"Turunkan aku, Charles. Mereka memandangi kita, ini sungguh memalukan." Rontanya.
Tanpa menggubris ucapan gadis yang berada dalam gendongannya, Charles tetap berjalan dengan santai, dan memamerkan hubungan keduanya pada semua orang yang berada di rumah sakit tersebut. Dokter Marvin yang melihat itu dari kejauhan pun hanya mampu tertawa kecil.
Ketika berada di parkiran, Sharon merasa bingung, kenapa Charles harus berjalan menuju parkiran mobil? Tanpa menjelaskan, Charles pun membuka pintu mobilnya, dan membawa Sharon untuk masuk ke dalamnya. Setelah duduk di sampingnya, Charles merasa jika dirinya tengah mendapati tatapan yang begitu tajam.
"Aku menyewanya untuk sehari. Mendengar kau akan keluar dari rumah sakit, aku sangat merasa senang hingga aku menyewanya. Dengan begitu, kita akan berjalan-jalan lebih dulu."
"Demi dirimu, aku tidak ingin memberikan yang biasa-biasa saja."
Di waktu yang bersamaan, Louis terlihat tengah sibuk menyiapkan beberapa dokumen, dan Kent sibuk menandatanganinya. Setelah 5 dokumen berhasil di tanda tangani, Kent pun tersenyum puas.
Bulan depan, Kent akan beralih dari Edbert Group menuju E.KChamp yang berada di Zurich. Ia mendapat persetujuan dari ayahnya untuk memegang kendali perusahaan tersebut, dengan begitu akan lebih mudah untuk dirinya bertemu dengan Sharon, gadis yang ia cintai.
•••
Zurichhorn. Tempat dimana Sahron, dan Charles bertemu untuk kedua kalinya, dan tempat dimana Sharon bekerja paruh waktu. Keduanya duduk di bawah pohon besar yang ada disana, dengan beralaskan rerumputan hijau. Sembari memandangi air sungai, Charles memberikan penjelasan pada Sharon. Jika saat itu dirinya terjatuh dari toilet, hingga membuatnya pingsan selama dua hari.
"Dan ketika aku tiba di pemakaman, kau sudah pergi dari sana." Karangnya.
Mendengar penjelasan darinya, tidak membuat Sharon merasa curiga sedikit pun, ia mempercayainya dengan sangat penuh. Hingga kemudian, ia pun menangis histeris, dan hal itu mengundang rasa kekhawatiran Charles.
"Ada apa? Kenapa tiba-tiba menangis?" Imbuh Charles yang langsung menyeka air matanya.
"Tabunganku terpakai untuk membayar tagihan rumah sakit." Isaknya, dan hal tersebut justru mengundang tawa Charles.
"Ha Ha Ha. Jadi, kau menangis karena itu?" Tawanya semakin terdengar keras. Kemudian, tangan Sharon melayangkan sebuah cubitan pada lengan pria itu agar membungkam mulutnya.
"Semua ini karenamu. Jika saja kau tidak membawaku ke rumah sakit, tabunganku tidak akan berkurang." Sharon menyeru seraya mempoutkan bibirnya.
"Memang tabunganmu itu mau digunakan untuk apa?"
"Awalnya untuk membayar biaya rumah sakit ibu. Tapi, ketika aku hendak membayar sebagian, mereka bilang jika semua sudah lunas, dan aku akan cari tahu orang yang sudah melunasinya. Kemudian, aku akan memberikan tabunganku padanya."
"Aku rasa kau tidak perlu melakukan itu."
"Kenapa?"
"Ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, orang tersebut tidak menginginkannya kembali. Jika dia ingin meminta kembali uangnya, orang itu pasti akan menemuimu untuk menggantinya di lain hari, dan membuat perjanjian padamu.
"Lalu kemungkinan yang kedua?" Sharon menyambar.
"Ada seorang pria berusia lanjut yang menyukaimu, ketika melihatmu sedang kesusahan, akhirnya pria tua itu membantumu. Jika kemungkinan kedua yang terjadi, kau harus berhati-hati. Saat pria itu datang, dan kau tidak bisa melunasinya, kau pasti akan dijadikan selirnya." Sahut Charles dengan nada yang menyeramkan.
"Aku tidak ingin hal itu terjadi." Racau Sharon, dan bergidik ngeri setelah mendengarnya. Kemudian, Charles tertawa puas saat melihat reaksi gadis di sisinya.
"Ha Ha Ha. Aku hanya bergurau saja." Ungkapnya lagi dengan sisa-sisa tawa miliknya.
Bersambung ...