
Charles, dan Sharon sudah berada di depan Austin Indutries. Saat itu, Sharon tampak enggan keluar dari mobil, ia sungguh kesal dengan sifat pria di sisinya yang dengan seenaknya menggendong dirinya di hadapan ayahnya sendiri. Itu sungguh memalukan untuknya.
Ketika Charles membukakan pintu mobil, Sharon memalingkan wajahnya ke sisi lain, dan Charles hanya terkekeh menanggapi hal tersebut. Kemudian, ia pun mengambil high heels milik gadis itu, dan membungkukkan tubuhnya agar gadis tersebut memakaiknya.
"Jangan marah lagi, pagi tadi aku hanya bergurau saja." Charles tersenyum dengan hangat seraya mencium puncak kepala Sharon. "Kenakan blazermu, dan kita masuk sekarang." Sambungnya lagi yang menyerahkan blazer tersebut.
Sikap Charles sungguh mampu meluluhkan hati Sharon. Sikap manisnya itu yang tidak mampu ia hindari, dan ia begitu merasa beruntung karena dapat bersama dengannya.
Keduanya masuk bersama, dengan Sharon berjalan di belakang Charles. Melihat kedatangan keduanya membuat pegawai disana begitu terkejut, bukan terkejut melihat kehadiran Charles, namun mereka terkejut ada seorang gadis yang berjalan mengikuti direkturnya.
"Bukankah wanita itu adalah office girl disini? Kenapa dia bisa berpenampilan seperti itu sekarang?"
"Kau benar. Apa dia menggoda tuan Charles agar bisa mendapatkan hatinya, dan menjadi pendampingnya?"
"Hey kalian berdua apa tidak tahu? Dulu tuan Charles rela menyamar menjadi seorang office boy hanya untuk dekat dengannya. Jadi, aku fikir, tuan Charles lah yang mengejarnya." Seseorang menyela ucapan kedua orang yang tengah berbisik.
Semua bisikkan-bisikkan itu terdengar di telinga Sharon, dan ia mencoba untuk tidak memperdulikannya sama sekali. Hingga Key pun datang menghampiri mereka, dan Charles masih berdiri disana untuk memberi pengumuman pada seluruh pegawainya.
"Aku berdiri di sini hanya ingin memberitahu kalian. Wanita di sisiku ini adalah Sharon Hwang, kalian mungkin familiar dengannya, dia pernah bekerja di sini. Namun, posisi yang di tempati kali ini berbeda, dia akan menjadi sekretarisku mulai sekarang. Aku harap kalian bisa bekerja sama dengan baik, dan mampu menerimanya. Jika ada yang keberatan akan keputusanku ini, silahkan ambil gaji kalian, dan keluarlah dari perusahaan ini."
Semua pegawai yang mendengar pernyataan tersebut langsung menelan air liurnya. Tidak di sangka jika direktur mereka akan membela wanita di sisinya itu. Bukan hanya mereka yang disana, Sharon juga begitu terkejut akan pernyataan yang di ungkapkan oleh Charles.
Setelah mengumumkan keberadaannya, pria itu meminta Key untuk menunjukkan dimana tempat Sharon bekerja. Kemudian, Key berjalan, dan Sharon mengikutinya dari belakang.
Key, dia membawa Sharon menuju ruangan yang begitu familiar untuknya. Bagaimana tidak? Ia akan bekerja dalam satu ruangan dengan Charles, dan ini sebuah kegilaan menurutnya. Meski jarak mejanya tak begitu dekat, tapi kenapa bisa ruangan mereka bersamaan?
"Seingatku, dulu ruangan sekretaris ada depan ruangan ini bukan? Tapi, kenapa aku harus satu ruangan dengannya?" Celetuk Sharon.
"Maaf nona, ini perintah tuan Charles. Jika ada hal yang di rasa janggal, anda bisa bertanya langsung padanya nanti."
"Dimana dia sekarang?"
"Tuan Charles berada di ruang meeting sekarang untuk membahas tentang tender kemarin, dan anda harus mengerjakan berkas-berkas yang ada di meja itu. Aku permisi."
Melihat berkas yang begitu bertumpuk, tentu saja membuat Sharon ternganga. Bisakah ia mengerjakan semua itu? Kemudian, ia berjalan ke arah meja itu, dan mengecek semua dokumen yang ada di mejanya.
Tiga jam berlalu, dan berkas-berkas itu masih belum berkurang. Melihat data tersebut sunggung membuat Sharon mengerjapkan matanya berulang kali, karena Charles masih belum kembali dari rapatnya, dengan segera ia menghubungi Key untuk meminta bantuannya.
"Anda memanggilku, nona?" Tutur Key yang sudah tiba di hadapannya.
"Aku sungguh tidak mengerti bagaimana alur dari dokumen-dokumen ini. Bisakah kau membantuku, dan bagaimana caraku menginput ke dalam file?"
"Tentu saja."
Kemudian, Key berdiri di sisi Sharon, dan memberikan beberapa intruksi kepadanya. Hingga tak lama kemudian, Charles pun masuk ke dalam ruangannya, dan ia begitu terkejut saat melihat asistennya tengah bersama dengan sekretarisnya. Keduanya bahkan terlihat begitu sangat dekat.
Kedatangannya sungguh tidak di sadari oleh mereka. Merasa kesal, Charles pun berlaga batuk, dan mendengar suara yang tak begitu asing, tentu saja membuat Key menelan air liurnya.
"Matilah aku. Tuan Charles kembali, kenapa aku tidak menyadarinya?" Key terus merutuk dalam batinnya.
"Apa yang sedang kau lakukan di ruanganku, Key? Kau tidak berniat untuk mengambil keuntungan bukan?"
"Key mana mungkin berani melakukan hal itu? Key disini karena di panggil nona Hwang, ada hal yang tidak di mengerti olehnya. Jadi, Key datang membantu. Itu saja."
"Begitu ya? Baiklah, karena aku sudah disini, kau boleh melanjutkan pekerjaanmu."
"Tapi tuan, anda tidak akan memotong gaji beserta bonusku, 'kan?"
"Tidak akan."
"Tuan Charles memang yang terbaik. Baiklah, Key permisi." Wajah sumringahnya kembali setelah ia tahu jika Charles tidak akan memotong gajinya.
Setelah memastikan asistennya telah pergi, Charles lekas berjalan ke arah sekretarisnya yang tengah sibuk dengan komputer, dan berkas-berkasnya.
"Apa tidak ada hal yang ingin kau tanyakan padaku? Aku bisa membantumu banyak hal loh?" Godanya seraya tersenyum usil, dan duduk di atas meja agar mampu menatap gadis di hadapannya.
Bersambung ...