My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 94



Sharon telah kembali ke ruangan milik Charles, dan disana juga sudah terlihat Bill, juga Charlie. Melihat kedatangannya, Charlie segera berjalan menghampirinya, dan menanyakan mengenai hasil yang ia dapatkan.


"Hasilnya cocok, dan operasi akan di lakukan besok lusa." Gumam Sharon yang mencoba untuk tersenyum pada mereka.


"Tidak bisa! Kau tidak boleh melakukan itu! Jika Charles tahu soal ini, dia pasti akan sangat marah padaku." Charlie menyahut.


"Lalu, apa kau ingin melihat Charles terus menerus berbaring seperti itu? Apa kau tidak merindukannya? Mungkin memang ini adalah jalannya, mungkin Tuhan memang ingin aku lah yang menjadi pendonor itu. Lagi pula, ketika Charles tahu nanti, bukankah dia sudah kembali pulih?" Balasnya lagi.


"Kenapa kau selalu keras kepala, Sharon? Entah kenapa aku merasa mengkhawatirkanmu."


"Tidak perlu ada yang di khawatirkan, Kent! Semua pasti akan baik-baik saja. Hanya pencakokkan, dan semua akan kembali seperti semula."


"Nak, apa kau yakin akan menyangkokkan hatimu pada putraku? Jika aku melarangmu, apa kau akan mendengarkanku?" Kini Bill pun membuka suaranya, dan Sharon menatapnya lirih. Bagaimana pun, Bill bagaikan ayah untuknya.


"Maafkan aku paman, aku akan tetap dengan pendirianku. Aku ingin Charles kembali kepada kalian." Ungkapnya yang berjalan mendekat ke arah Charles. "Bisakah memberiku waktu berdua dengannya?" Lanjutnya lagi seraya menatap lekat wajah pria di hadapannya.


Baik Bill, Charlie, dan juga Kent sudah keluar meninggalkan ruangan itu. Di saat yang bersamaan, Sharon kembali meneteskan air matanya, ia masih terkejut mendengar penjelasan yang diberikan oleh dokter Marvin kepadanya.


Kemudian, tangannya menggenggam erat tangan Charles. Ia kembali membawa tangan pria itu menuju pipinya, dan Sharon mencoba memejamkan matanya agar mampu merasakan sentuhan pria di hadapannya.


Semua kenangan indah bersamanya terlintas di otaknya. Itu sangat membuatnya tenang, dan ia berharap jika pria itu akan selalu menjadi Charles yang dikenalnya.


"Hey, sebentar lagi kau akan kembali pulih. Setelah itu, kau harus menjalani waktumu dengan baik. Baik itu bersama denganku atau tanpaku sekalipun. Namun, jika aku tidak kembali padamu setelah operasi, apa kau akan melupakanku? Apa kau akan mencari penggantiku?" Gumamnya lirih seraya mengusap pipi pria tersebut.


•••


Matahari pagi kembali menyinari kota Zurich. Kent yang berada di dalam ruang rawat itu menyaksikan kelembaban pada wajah Sharon. Terlihat jelas jika ia pasti habis menangis semalaman. Entah apa yang terjadi, dan apa yang di rasakan olehnya saat ini.


"Bukan hanya kau. Meski dia adalah saudara kandungku sendiri, aku juga akan memberinya pelajaran jika dia berani melakukannya." Sambar Charlie yang entah sejak kapan berada di kamar itu.


Mendengar keributan yang terjadi, membuat Sharon membuka matanya. Ia melihat Charlie, dan Kent berada di kamar tersebut. Kemudian, Charlie memberikan sebuah kotak makanan pada Sharon, dan memintanya untuk segera menghabiskan sarapan yang ia bawakan.


Bukan, kotak makan itu bukan sengaja di siapkan olehnya. Namun, Bill lah yang meminta putranya untuk mengantar sarapan tersebut sebelum pergi ke kantor. Setelah mengantarkan itu, Charlie segera berpamitan untuk pergi menuju kantornya, dan meminta bantuan Kent untuk menjaga keduanya.


Setelah Charlie pergi, Sharon segera membuka kotak makan itu, dan memakan isinya. Tak lupa ia pun berbagi pada Kent, lalu mereka pun makan bersama. Selama makan, Sharon terus menundukkan wajahnya, dan Kent memperhatikan hal itu.


"Kau mencemaskan sesuatu? Apa ada yang kau sembunyikan dariku?" Sahut Kent, dan penuturannya itu sampai membuat Sharon tersedak. Kemudian, dengan cepat Kent memberikan segelas air padanya.


"Operasi akan di lakukan besok, bagaimana aku tidak cemas?"


"Bukan itu yang aku maksud. Kau mencemaskan hal lain, karena setelah kau kembali dari ruangan dokter itu, kau terlihat begitu gelisah. Ada apa sebenarnya?" Tuturnya lagi.


"Salah besar jika aku menyangka akan berhasil menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi, maafkan aku karena tidak bisa memberitahumu." Sharon membatin seraya menyuap makanan itu lagi.


"Kenapa kau diam? Aku pasti benar bukan?"


"Benar soal apa? Sudahlah, itu pasti hanya perasaanmu saja. Dari pada bingung mencemaskanku, dimana Natasha? Kau tidak membawanya kemari?"


"Dia ingin berada disana. Orang tuaku menyukainya, dan setelah yang terjadi disini selesai. Aku ingin melamarnya secara resmi, kemudian aku akan menikahinya, dan kau harus datang ke pernikahanku." Ucapnya penuh dengan semangat.


"Aku berharap jika aku bisa menyaksikan pernikahan kalian, dan juga kebahagiaan kalian." Lagi-lagi Sharon membatin, namun ia masih berusaha menyunggingkan sebuah senyuman pada pria di hadapannya.


Bersambung ...