
Saat malam tiba, Charles berbaring seraya memeluk tubuh istrinya dari belakang. Kedua matanya sudah terpejam, dan rasa kantuknya itu pun tak dapat ia tahan. Berbeda dengan Sharon, ia masih tetap terjaga hingga tengah malam menjelang.
Pikirannya tampak kacau, dan wajahnya pun terlihat begitu gelisah. Tanpa di sadari air matanya pun menetes dari kedua pelupuk matanya. Charles yang merasa terganggu akan suara tersebut pun kembali membuka kedua matanya
“Hey, kau belum tertidur?” Gumam Charles yang masih mengosokkan matanya menggunakan kedua tangannya. “Astaga, ada apa? Kenapa kau menangis? Apa kau merasakan sakit?” Imbuhnya lagi ketika menyadari wajah sembab wanita di sisinya.
“Aku baik-baik saja, begitu pun dengan si kembar.” Sahutnya dengan sisa isakkan yang masih terdengar.
“Lalu, apa yang terjadi? Tidurlah! Hari sudah begitu larut.” Tutur Charles, dan Sharon memiringkan tubuhnya ke arah Charles, kemudian ia memeluknya dengan begitu erat. “Tidurlah! Aku akan tetap disini sampai kau terbangun nanti.” Lanjutnya yang kemudian di balas dengan gelengan kepala dari Sharon.
“Aku takut, sangat takut, Charles! Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku.”
“Apa itu? Katakan padaku!”
“Bagaimana jika aku tiada setelah melahirkan mereka? Aku sungguh takut itu terjadi padaku, dengan begitu aku tidak bisa berada di sisimu untuk melihat mereka tumbuh besar, dan juga...”
“... ssst! Apa yang kau bicarakan? Tidak akan terjadi sesuatu padamu nanti, kau akan baik-baik saja! Aku tidak mengizinkanmu untuk pergi meninggalkanku, dan kau tidak perlu khawatir, karena kau akan bersamaku untuk membesarkan mereka.”
“Kau tidak bisa menjamin hal itu, Charles. Apapun bisa terjadi saat proses persalinan, seperti halnya ibumu. Bukankah dia pergi karena...”
"... tidak! Aku tidak akan hal itu terjadi padamu! Percayalah padaku jika kau akan baik-baik saja, kau mau ‘kan?” Charles pun tampak frustasi mendengar semua penuturan Sharon. Namun, saat wanita itu menganggukkan kepalanya, secara bersamaan, Charles sedikit merasa lega.
Setelah mengatakan semua hal itu, Charles kembali mendekapnya, dan keduanya pun terlelap bersama. Saat Sharon sudah benar-benar tertidur, justru kini Charles yang tidak bisa kembali tidur. Ucapan wanita di sisinya terus berputar di otaknya, dia pun merasa resah akan semua itu.
Hingga, Charles pun perlahan melepaskan pelukannya, dan duduk menghadap ke arah Sharon seraya mengelus kepalanya dengan satu tangannya lagi menggenggam erat tangan wanita tersebut.
"Karena kata-katamu, aku menjadi khawatir. Tapi, aku yakin jika tidak akan terjadi apapun padamu! Bahkan Yarry pun tidak menemukan segala sesuatu yang akan menghambat persalinanmu. Entah apa yang akan aku lakukan jika sampai terjadi sesuatu padamu."
•••
Di tempat yang berbeda Charlie tengah sibuk menata segala persiapannya yang terbilang hampir sempurna. Setelah menikah, dia memutuskan untuk tetap tinggal dirumahnya bersama dengan ayahnya, karena tidak mungkin untuknya meninggalkan rumah tersebut, lebih tepatnya meninggalkan sang ayah.
Saat Charles mengharuskan diri keluar dari rumah, maka dirinyalah yang harus menggantikan perannya untuk menjaga sang ayah. Ketika melihat semuanya sudah tertata dengan rapih di ruang penyimpanan, ia merangkul Gwen, dan sesekali mencium puncak kepalanya.
"Aku sungguh tidak sabar menanti hari itu tiba." Kini, Gwen membuka suaranya seraya tersenyum manis.
"Kau menanti hari itu tiba karena ingin cepat-cepat satu kamar denganku bukan?" Mendengar kalimat itu membuat Gwen mengernyitkan dahinya. "Mengaku saja! Aku tahu jika pesonaku memang luar biasa." Timpalnya lagi.
"Kenapa kau begitu percaya diri sekali tuan muda Austin? Bukankah kau yang tidak bisa berpaling dari pesonaku?"
"Siapa bilang aku tidak bisa berpaling darimu? Aku bisa, kau ingin melihatnya?"
"Sungguh? Apa kau berani melakukannya?" Gwen memundurkan langkahnya, dan langsung menyilangkan kedua tangannya. Matanya menatap lekat wajah Charlie, dan Charlie tertawa kecil menanggapinya.
"Tidak berani. Karena, itu akan melukai hatimu. Aku tidak ingin, dan tidak akan melukai wanita yang ku cintai."
"Jika begitu jangan macam-macam!" Imbuh Gwen seraya mencubit kedua pipi pria yang berada di hadapannya.
Berbeda dengan Kent yang tengah bahagia. Kini, kondisi Natasha pun sudah terlihat baik. Walaupun putra mereka masih berada dalam keadaan yang begitu rentan, walaupun mereka belum bisa untuk memeluknya begitu lama, namun mereka tetap bahagia melihat putra mereka telah lahir.
Vero Edbert, itulah nama yang akan di berikan untuk anak pertama mereka. Kent mendelik dari luar inkubator, dan ingin rasanya ia memeluk anaknya serta membawanya pulang secepat mungkin.
Berbeda dengan Kent atau pun Charlie yang tengah berbahagia. Nick tampak frustasi dengan pekerjaannya. Begitu banyak pertemuan yang harus di hadirinya pada hari tersebut, dan sangat sulit untuknya menghubungi Alice.
Mengerti akan kesibukkan suaminya, Alice berinisiatif untuk mendatangi Sworth Company. Ia membawakan kotak bekal makan siang untuk suaminya yang begitu sibuk. Kedatangan Alice sungguh menjadi penghilang penat baginya, saat melihat kehadirannya pun benar-benar membuatnya bahagia.
"Hey, apa kabar putraku? Apa kau tahu aku sungguh merindukanmu?" Celetuk Nick seraya mengusap perut Alice yang masih belum membesar.
"Putra? Usia kandunganku bahkan belum mencapai 4 bulan, dan kau sudah mengatakan jika anak kita adalah seorang laki-laki?"
"Anak kita adalah seorang laki-laki, lihat saja nanti!"
"Kenapa kau begitu yakin?" Alice menyilangkan kedua tangannya tepat di depan dadanya. Sedangkan matanya menatap lekat ke wajah suaminya.
Bersambung ...