My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 78



Hari itu, Charles, dan Sharon telah berada di Zurich. Perjalanan yang begitu melelahkan, meski tak membutuhkan waktu lama, tetap saja terasa begitu penat. Saat itu, Charles mengantarnya menuju villa milik keluarga Sworth.


Pelayan serta penjaga disana menyambut kedatangan keduanya, dan Sharon masih tak terbiasa dengan sikap mereka. Hingga akhirnya ia meminta mereka untuk bersikap biasa saja, dan tidak perlu berlaku seformal itu. Bagaimana pun, mereka lah yang seharusnya di hormati.


Melihat perilaku gadis di hadapannya, sungguh membuat Charles semakin bangga padanya, kemudian ia menepuk punggung gadis itu agar segera masuk ke dalam.


"Beristirahatlah, dan aku akan menjemputmu besok untuk bekerja." Tutur Charles seraya mengusap puncak kepala Sharon.


"Kau sungguh tidak ingin masuk lebih dulu?"


"Kenapa? Apa kau masih sangat merindukanku?" Bisiknya.


"Aku masuk, sampai jumpa." Balasnya yang langsung meninggalkan pria itu, dan melihat reaksi darinya membuat Charles terkekeh, kemudian berlalu meninggalkan villa tersebut.


Setibanya di dalam, salah seorang pelayan mengantarkan koper milik Sharon, dan dengan cepat Sharon membawanya. Tak lupa juga ia berterima kasih padanya.


Di waktu yang bersamaan, Charles yang masih berada dalam perjalanan segera meminggirkan mobilnya. Ia memegangi letak hatinya yang terasa begitu menyakitkan, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, dan dengan cepat ia menghubungi seseorang.


Key, dialah yang selalu Charles andalkan. Dalam waktu 20 menit, Key berhasil datang di tempat dimana pria itu berada. Saat itu juga Key membuka pintu mobilnya, dan Charles menguatkan diri untuk bergeser ke kursi penumpang. Sedangkan mobil yang ia gunakan tadi, ia serahkan pada orang kantor yang bersama dengannya.


Dengan kecepatan tinggi, Key melaju ke arah kediaman Austin. Tak lupa juga ia menghubungi dokter Marvin untuk segera datang. Tidak lama Charles tiba, dokter itu datang dengan sedikit rasa panik.


Bagaimana pun, kali ini Charles dalam keadaan tak sadarkan diri, dan itulah yang membuat dokter Marvin merasa takut. Jika Charles sampai kehilangan kesadaran sampai dua hari, maka kondisinya sudah benar-benar gawat.


Dengan cemas Bill, dan Key menunggu di luar kamar. Saat itu juga Key sibuk dengan ponselnya, ia menghubungi beberapa rumah sakit yang sempat ia hubungi sebelumnya, dirinya membutuhkan informasi detail mengenai pendonor yang sudah ia butuhkan sebelumnya.


Mencari pendonor hati memang tidaklah mudah, bahkan keluarga sendiri pun akan sangat sulit menemukan kecocokkan. Saat ada Charlie yang cocok dengannya, Bill maupun Charles tidak mengizinkannya untuk berkorban sejak awal.


"Bagaimana dengan putraku?" Bill menyeru, dan Key segera mematikan panggilannya agar ia bisa mengetahui kondisi atasannya.


"Seperti yang sudah ku katakan sebelumnya, jika Charles mengalami kambuh hingga dua atau tiga kali lagi, maka kondisinya dapat dikatakan memburuk. Kali ini, ia sampai tak sadarkan diri, dan itulah hal yang paling ku takutkan."


"Apa maksud dokter Marvin? Apa yang terjadi pada saudaraku? Kenapa tidak ada yang memberitahuku jika ia kambuh?" Entah sejak kapan Charlie berada di sana, ketika melihat mobil dokter Marvin terparkir di garasi rumahnya, tentu saja ia langsung berlari masuk.


"Jika dalam dua hari ini Charles tidak sadarkan diri, segera hubungi rumah sakit, dan ia harus mendapat perawatan yang intensif hingga ia mendapatkan pendonor. Ketika ia benar-benar tidak sadarkan diri dalam kurun waktu yang ku sebutkan, maka Charles di nyatakan koma."


"Kondisi Charles sudah segenting ini, dan sampai sekarang belum ada pihak rumah sakit yang menghubungi kita dengan membawa kabar baik. Sudah jelas-jelas aku bisa menolongnya, apa ayah akan tetap melarangku untuk menolongnya? Apa ayah senang melihatnya kesakitan seperti itu? Apa ayah..." Belum menyelesaikan ucapannya, Bill melayangkan sebuah tamparan untuk putranya.


"Apa kau fikir ayah menginginkan hal ini terjadi? Kalian adalah putraku, karena kalian juga alasanku untuk tetap hidup sepeninggal ibu kalian. Kalian adalah sumber kekuatanku, jadi mana mungkin aku membiarkan salah satu putraku berkorban untuk putraku yang lain? Ayah tidak ingin kedua putra ayah terluka, dan dengan berbagai cara, biar aku yang memikirkan semuanya."


Setelah mengatakan semua itu, Bill segera meninggalkan mereka, dan menghubungi beberapa dokter rumah sakit dari belahan dunia. Ia mengirimkan sample dna Charles kepada mereka, dan meminta mereka untuk mencatat nama putranya sebagai orang pertama yang sangat membutuhkan pendonor.


Melihat ayahnya berlaku seperti itu kepadanya sungguh membuat Charlie terkejut. Ini adalah pertama kalinya ia mendapat sebuah tamparan dari sang ayah, dan saat itu juga ia sadar jika ayahnya melakukan semua itu semata-mata karena mengkhawatirkan dirinya.


Sembari mengantar dokter Marvin keluar, saat itu juga Key pamit pada Charlie untuk meninggalkan rumah tersebut. Sebelum mereka pergi, tak lupa untuk Charlie mengingatkan kedua orang itu agar selalu mencarikan pendonor untuk saudaranya.


Di waktu yang bersamaan, Sharon yang tengah membereskan pakaiannya, tak sengaja ia menyenggol bingkai foto yang terdapat foto dirinya bersama dengan Charles.


"Aku sungguh ceroboh." Gerutunya seraya menepuk dahinya. Kemudian, ia berjongkok untuk mengambil pecahan beling-beling. Hingga secara tak sengaja tangannya pun tergores pecahan itu, dan tiba-tiba ia merasa khawatir. "Charles." Gumamnya ketika melihat darah yang keluar dari jari telunjuknya menetes di atas wajah Charles yang berada dalam foto itu.


Bersambung ...