My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 127



Ketika bulan telah menggantikan matahari, keduanya tengah berada dalam perjalanan, namun sayang sekali jika Sharon sudah tertidur saat itu. Bagaimana pun, Charles tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Setibanya mereka di salah satu tempat, Charles segera turun dari mobilnya, dan membuka kembali salah satu pintunya. Ia menggendong Sharon, dan berjalan menuju tempat yang akan membuatnya takjub. Meski tengah berada dalam gendongannya, Sharon masih enggan untuk membuka matanya.


“Astaga, lihat pria itu! Dia sungguh tampan.” Tutur salah seorang yang berada di tempat itu.


“Hey, bukankah itu tuan muda Austin? Yang berada dalam gendongannya itu pasti istrinya bukan? Apa istrinya sudah sadar dari tidur panjangnya?” Timpalnya lagi.


“Ah ya kau benar, itu tuan Charles. Beruntung sekali wanita itu, dapat di cintai olehnya. Tuan Charles bahkan tidak sungkan untuk menggendongnya di tengah keramaian seperti ini. Aku sungguh iri pada wanita tersebut.”


Bisikkan-bisikkan itu terdengar di telinga Charles. Dia memang terdengar risih mendengar semuanya, meski begitu ia tetap fokus pada wanita yang tengah terlelap dalam gendongannya. Sesekali ia memandangnya, dan tersenyum lembut walaupun wanita itu tidak melihatnya.


Satu persatu ia menaiki anak tangga hingga ia pun tiba di puncaknya. Keringatnya tampak bercucuran saat itu juga, tentu saja tidaklah mudah untuknya menaiki anak tangga seraya menggendong seseorang, terlebih saat orang itu tengah terlelap.


Perlahan ia memanggil Sharon dengan suara yang begitu lembut. Mendengar namanya di panggil secara berulang, tentu membuat sang punya nama membuka matanya secara perlahan. Dirinya begitu terkejut ketika melihat langit sudah gelap, dan yang lebih mengejutkan lagi dengan keramaian yang terjadi di tempat itu.


“Charles, apa yang kau lakukan? Dimana ini?” Nada suaranya begitu panik ketika banyak mata yang memandangnya iri. Seingat dirinya, ia tengah berada dalam perjalanan pulang, tapi kenapa justru mereka tidak sampai di rumah?. “Kenapa kau diam saja? Turunkan aku sekarang juga! Orang-orang itu memperhatikan kita.” Sharon semakin khawatir akan hal itu.


“Tidak perlu memikirkan orang-orang itu. Sekarang menolehlah ke sisi kirimu, dan lihatlah itu!” Pinta Charles, dan Sharon mengikuti perintahnya.


Matanya memandang takjub ketika melihat pemandangan kota yang begitu indah saat di lihat dari tempat tersebut. Uetliberg, yah mereka berada di tempat itu. Secara perlahan Charles menurunkan Sharon dari gendongannya, dan Sharon memegang pagar pembatas untuk menikmati pemandangan indah tersebut.


Sesekali ia memandangi Charles, dan lampu-lampu kota itu secara bergantian. Kemudian, Sharon lekas memeluknya, melihat keringat yang masih bercucuran pada wajahnya, membuat Sharon segera mengambil selampai yang berada di saku Charles, lalu ia segera menyeka keringat tersebut.


“Kenapa tidak memberitahuku jika kita akan mendatangi tempat ini? Atau setidaknya kau bisa membangunkanku, dengan begitu kita bisa berjalan bersama.” Tuturnya yang masih mengusap sisa-sisa keringat yang masih mengalir.


“Karena aku ingin membuat kejutan kecil untukmu, sekaligus membayar hutang janjiku padamu. Di tempat yang baru ini, di tempat yang sudah ku janjikan untuk membawamu datang di malam hari ini, ada satu hal yang ingin ku katakan padamu Sharon Hwang.” Charles berlutut di hadapannya, dan penuturannya itu membuat orang di sekitarnya menatap mereka dengan serius.


“Di hadapanmu, dan aku harap pengunjung disini dapat menjadi saksi dari kata-kata yang akan ku ucapkan kali ini. Sharon, aku tahu jika kita sudah menikah, dan tidak banyak orang yang tahu akan hal tersebut. Selain itu, pernikahan itu terjadi begitu mendadak tanpa adanya lamaran resmi untukmu, karena itulah aku membawamu kemari, dan untuk menyatakan sesuatu...”


“... Charles, aku mohon bangunlah! Orang-orang itu semakin memperhatikan kita!” Sharon sungguh tak bisa menjadi pusat perhatian seperti saat ini. Namun, lagi-lagi Charles hanya membalasnya dengan sebuah senyuman.


“Aku mohon dengarkan pernyataanku baik-baik, Sharon! Karena aku tidak akan mengulang untuk kedua kalinya. Aku Charles Austin, membawamu datang kemari, datang ke tempat yang begitu indah ini untuk mengatakan sesuatu, maukah kau menjadi teman hidupku? Maukah kau menemaniku di kala ku tengah berada dalam keadaan suka, maupun duka? Sehat atau pun sakit? Dan membina keluarga kecil bersamaku?” Tatapan Charles terlihat semakin mantap, dan air mata mengalir dari kedua pelupuk Sharon.


“Sikap tuan Charles begitu manis. Aku sungguh tersentuh, beruntungnya dia karena dapat di cintai oleh tuan Charles.” Tutur salah seorang pengunjung disana.


Para pengunjung pun bersorak untuk membela Charles, dan meminta Sharon untuk menerima lamarannya. Hal itu sangat lucu untuknya, bagaimana tidak? Keduanya telah menikah, namun baru melakukan lamaran seperti itu. Meski begitu, hal tersebut mampu membuat Sharon terharu, dan akhirnya menganggukkan kepalanya.


Mendapat jawaban darinya, membuat Charles berdiri, dan langsung menariknya ke dalam pelukannya. Lalu, ia mencium Sharon dengan begitu lembut, ia sungguh tidak memperdulikan keberadaan orang-orang yang berada disana. Kemudian, Charles mengumumkan pernikahan ulangnya di tempat itu, dan mengundang seluruh pengunjung disana untuk datang ke acara pernikahannya nanti.


Sudah berhasil menyelesaikan misinya, Charles mengadukan dahinya dengan dahi wanita di hadapannya. Keduanya tersenyum bersama, dan Sharon kembali berhambur ke dalam pelukannya. Dirinya sungguh tidak menyangka akan di perlakukan seperti itu olehnya.


“Bawa aku pergi dari sini sekarang, Charles!” Bisik Sharon, dan Charles menggelengkan kepalanya.


“Ada apa? Apa kau malu? Lebih baik abaikan mereka, dan nikmatilah pemandangan indah ini!” Timpal Charles yang memaksa Sharon untuk memandang ke arah depan. “Kita akan kembali beberapa menit lagi, bagaimana?” Sambungnya lagi, dan Sharon menganggukkan kepalanya.


Lampu-lampu kota memang indah jika di lihat dari tempat yang lebih tinggi. Sharon menikmati itu bersama dengan suaminya, janji yang telah di buat olehnya sudah di penuhi bersamaan dengan kejutan yang sangat tak di duga-duga olehnya. Kemudian, Sharon menyandarkan kepalanya pada tubuh Charles, dan Charles merangkul pinggang istrinya seraya menyandarkan kepalanya di atas kepala Sharon.


“Aku janji padamu, apapun yang terjadi, aku akan selalu berada di sampingmu, Sharon. Sampai kapan pun itu.” Batin Charles yang kemudian mencium puncak kepala wanita di sisinya.


Bersambung ...