
Dengan kesal Charles mengakhirinya, namun tidak lama kemudian, ponselnya kembali berdering. Tanpa melihat nama yang memanggilnya, ia langsung menyahutinya dengan nada ketus, karena ia fikir jika Jamesnya lah yang menghubunginya.
“Nak, aku tahu semuanya.”
“Ayah? Maafkan aku, aku fikir James Raven yang menghubungiku. Apa yang ayah tahu?”
“James menghubungiku beberapa menit yang lalu, dan ia mengatakan semuanya mengenai surat yang kau terima. Sebaiknya kau pergilah menemuinya, beri penjelasan pada putrinya untuk berhenti, dan tegaskan padanya jika dirimu tidak akan mungkin bisa bersama dengannya.”
“Aku tidak ingin melakukan itu, ayah. Aku tidak ingin meninggalkan Sharon.” Serunya kesal.
“Nak, dengarkan ayah! Aku tidak tahu hal itu hanya sebuah ancaman atau bukan. Tapi, jika dia sampai melakukan hal demikian, dan kau datang, maka kau mampu menyelamatkan satu nyawa.”
“Aku tidak peduli soal itu. James telah meremehkan kondisi Sharon kemarin, dan biarkan dia mendapat balasan atas apa yang sudah ia lakukan.”
“Aku tahu kau tidak menyukainya, namun putrinya tidak memiliki hubungan soal ucapan yang di lontarkan ayahnya. Lagi pula, bukankah ayah tidak pernah mengajarkanmu untuk menyimpan dendam pada seseorang? Sekeras apapun orang berbuat jahat padamu, kau tidak boleh membalasnya dengan hal yang sama. Ingat! Jika kau baik, maka kau akan di kelilingi orang yang baik juga.”
“Aku mengerti ayah. Aku akan pergi kesana besok, tapi aku mohon jaga Sharon.”
Panggilan berakhir, dan saat itu juga Charles kembali pada pekerjaannya. Meski begitu, masih terbesit rasa cemas pada diri Key. Ia terus memandangi direkturnya dengan tatapan yang begitu intens.
"Tuan, apa kau yakin akan datang kesana?" Ujar Key dengan segala kecemasannya.
"Aku yakin, dan aku tidak akan pergi dalam waktu yang lama."
"Tapi, bagaimana jika semua ini hanyalah sebuah jebakan yang mereka siapkan untukmu? Bagaimana jika aku ikut bersamamu, tuan?"
"Tidak, kau tetaplah disini! Jaga Austin Industries agar tetap stabil, dan juga awasi terus Sharon untukku."
"Baiklah jika begitu, aku akan siapkan tiketnya sekarang."
Setelah itu, Charles mencoba untuk tenang, ia berharap jika semua akan baik-baik saja. Dirinya berjanji akan melakukan segala hal jika James Raven berani mempermainkannya, dia tidak akan membiarkan S.Every berdiri tegak seperti sekarang.
Sangat mudah bagi Charles untuk merebut atau menghancurkan salah satu perusahaan, meski itu adalah perusahaan terbesar sekali pun, dan meski dirinya tidak begitu terkenal di Jerman, ia tetap memiliki koneksi di sana.
Ketika hari sudah sore, Charles memutuskan untuk segera pulang, dan mempersiapkan semuanya. Dia mengambil tas ranselnya, dan memasukkan beberapa baju miliknya kesana. Setelah selesai, ia kembali mendekat ke arah ranjang seraya menatap lembut wajah istrinya.
Menyadari hal itu lagi membuat Charles tersenyum, namun ia segera menyeka cairan tersebut, lalu mencium kening istrinya dengan begitu lembut. Kemudian, ia segera membersihkan tubuhnya agar bisa beristirahat lebih awal.
Di tempat yang berbeda, Kent masih sibuk dengan segala persiapannya. Hari pernikahannya semakin dekat, dan hanya tersisa satu bulan lagi untuknya menuju hari bahagianya. Namun di sisi lain, ada sesuatu yang mengganggu fikirannya.
"Ada apa? Apa kau memikirkannya?" Gumam Natasha, dan Kent hanya mampu menganggukkan kepalanya. "Kenapa kau tidak menghubunginya saja? Ungkapkan padanya tentang apa yang ingin kau sampaikan."
"Tapi, apakah dia sudah sadar dari komanya?"
"Dari pada kau penasaran, sebaiknya kau hubungi saja Charles! Bukankah kau mengenalnya?"
Setelah mendengar saran dari Natasha, Kent segera mengambil ponselnya, dan menghubunginya untuk menanyakan kabar soal Sharon. Sayangnya, Charles tidak menerima panggilan tersebut, dan itu membuat Kent semakin frustasi.
"Tenanglah! Mungkin dia tengah sibuk, karena itu ia tidak bisa menerima panggilan darimu."
"Kau benar! Lagi pula sudah malam, mungkin juga ia tengah beristirahat, atau dia sedang bermesraan dengan istrinya." Kent sedikit terkekeh ketika mengatakan hal tersebut, dan ia juga melirik ke arah wanita yang berada di sisinya.
"Apa maksud dari tatapanmu itu, Kent?" Ucap Natasha dengan nada tegasnya.
"Memang apa yang salah dari tatapanku?" Kent duduk semakin mendekat ke arahnya.
"Jangan macam-macam! Aku mengantuk, selamat malam." Seru Natasha yang membanting bantal sofanya, dan segera meninggalkan pria itu seorang diri.
"Sharon, bagaimana dengan dirimu sekarang? Aku harap kau bisa menghadiri pernikahanku dengannya. Aku harap kau bisa menjadi saksi di hari bahagiaku itu. Aku berharap bisa mendengar suaramu kembali." Kent membatin seraya menundukkan kepalanya.
Bersambung ...
Note: Maaf ya dear eps kali ini sangat pendek. Karena aku tengah kena musibah, jadi tidak bisa maksimal.
Jangan lupa juga untuk mampir novel 'Storm' yang tidak kalah seru dari MbMc😎
IG: @kyu_shine