My Boyfriend, My CEO

My Boyfriend, My CEO
My Boyfriend, My Ce'o Bagian 143



"Lalu, apa kau mau menceritakan tentangnya? Tentang Yarry." Charles kembali menyahut, karena ia pun penasaran dengan kisah mereka. Tidak di duga jika istrinya memiliki banyak kenalan yang berparas tampan.


"Dengan senang hati. Tapi, apa kau tidak kembali ke kantor? Kau tidak mungkin merepotkan Key terus menerus bukan?"


"Jika sudah bersamamu, rasanya berat sekali untuk pergi." Tuturnya dengan nada memelas, ia juga meletakkan dahinya pada wanita di hadapannya. Lalu, Sharon mengusap kepala suaminya seraya tersenyum, dan memintanya untuk kembali berdiri.


Keduanya duduk di tepi ranjang, dan Charles masih menggenggam erat tangan wanita di sisinya, genggamannya itu mengartikan seolah jika wanita tersebut tak di bolehkan pergi sebelum ia meminta izinnya lebih dulu. Bola mata Sharon berputar, ia sendiri merasa bingung harus memulai dari mana.


"Baiklah. Saat itu, sedang musim dingin ...."


Di musim dingin yang melanda Swiss, Sharon beserta keluarganya baru saja tiba di salah satu kota terbesar di Swiss, yaitu Zurich. Mereka memulai hidup baru di kota itu, meski serba berkecukupan, semua perasaan sedih Sharon selalu hilang dalam sekejap jika tengah bersama dengan orang tuanya, terlebih ketika bersama sang ayah.


Hingga satu minggu berada di Zurich, Sharon membawakan ayahnya sekotak makanan lezat yang sengaja di siapkan olehnya. Saat hendak berjalan menuju lantai ayahnya bekerja, dengan tidak sengaja ia menabrak tubuh seseorang, sehingga membuat yang berada dalam genggamannya jatuh berantakan.


"Ah maafkan aku, aku sungguh tidak sengaja." Tutur orang itu seraya membungkukkan tubuhnya.


"Tuan muda, anda baik-baik saja?" Seru seorang bodyguardnya, dan orang itu tampak menganggukkan kepalanya.


"Nona, apa ini untuk seseorang? Aku sudah membuatnya berantakan, aku akan menggantikannya untukmu."


"Tidak, tidak perlu. Aku masih menyimpan satu rosti di tasku, dan aku akan memberikannya pada ayah." Sharon tersenyum hangat pada pria itu. "Aku permisi." Dengan cepat Sharon meninggalkan pria itu, dan segera pergi menemui ayahnya.


Kesan pertama yang begitu menyenangkan untuk pria itu. Kemudian, pria itu mengikuti langkah kaki Sharon, dia merasa tertarik dengannya. Saat melihat kedekatannya dengan ayahnya, tanpa sadar membuat pria itu mengukir senyumannya.


Ozan, meski seorang pebisnis besar saat dulu. Namun, kondisinya menjadi memprihatinkan karena memilih untuk meninggalkan semuanya demi orang yang di cintainya. Meski begitu ia tidak pernah menyesal atau mengeluh sedikit pun mengenai kehidupannya. Bahkan, di saat dirinya hanya bisa bekerja sebagai office boy di rumah sakit, dan beberapa pekerjaan lainnya, dia sungguh tak merasa malu sedikit pun.


Hari terus berlalu, dan pria itu selalu mengikuti kemana pun Sharon pergi tanpa di ketahui olehnya. Hingga tak lama kemudian, semuanya diketahui oleh Sharon. Sungguh, tidak ada rasa curiga sedikit pun dari gadis itu, sehingga membuat pria itu semakin menyukai gadis di hadapannya.


"Aku Yarry Gates. Menikahlah denganku!" Begitulah ucapan yang ia lontarkan saat kembalinya pertemuan keduanya dengan bertatap muka. 


Mendengar cerita itu membuat Charles menganga, tidak di sangka jika Yarry sudah berlaku sembarangan. Sedangkan Sharon, ia menatap wajah Charles yang penuh dengan tanda tanya, lalu ia pun mencubit salah satu pipinya, dan tertawa kecil.


"Dia bahkan langsung mengajakmu menikah!? Benar-benar pria yang luar biasa." Charles memujinya, dan Sharon kembali tertawa mendengar pujian yang di lontarkan suaminya. Karena, sangat jarang dirinya mendengar Charles memuji orang lain. "Lalu, apa kau menerimanya?" Sambarnya yang tak sabaran.


"Tentu saja kau harus melanjutkannya. Aku ingin mendengar bagaimana kau menolaknya." Balas Charles yang di sertai tawa kecil.


Saat mendengar pengakuan dari pria di hadapannya, tentu saja membuat Sharon bertanya-tanya akan maksud orang tersebut. Bagaimana mungkin dia mengajaknya menikah? Sedangkan keduanya belum mengenal sama sekali? Namun, Sharon tersenyum kecil menanggapi hal tersebut.


"Melihatmu berjalan bersama dengan seorang pengawal beberapa waktu lalu, aku rasa kau seseorang yang berada? Lalu, kenapa tiba-tiba mendatangiku, dan mengatakan hal tersebut padaku?"


"Sudah jelas karena aku menyukaimu. Pertama kalinya aku merasakan sesuatu yang aneh pada jantungku, dan itu terjadi pada saat pertama kali kita bertemu. Kau adalah cinta pertamaku, siapa namamu?"


"Kau sungguh lucu, dengan cepat menyimpulkanku sebagai cinta pertamamu? Aku sungguh tidak mempercayainya." Sharon tampak terkekeh mendengar hal tersebut. "Namaku Sharon, Sharon Sworth." Ungkapnya lagi, dan langsung berjalan meninggalkannya. Namun, dengan cepat pria itu menahannya.


"Akhir tahun ini, aku akan pergi ke luar negeri untuk belajar, aku akan masuk fakultas kedokteran. Sebelum aku berangkat, bisakah kita berteman lebih dulu? Setelah itu, kau bisa memberikan jawabannya padaku!" Yarry tampak tak menyerah dengan tekadnya, lalu Sharon menatap lekat kedua mata pria di hadapannya.


"Jika hanya berteman, aku rasa tidak masalah." Melihat senyuman gadis itu membuat Yarry begitu tenang.


Waktu terus bergulir, dan keduanya semakin dekat, sangat dekat. Sehingga perasaan Yarry pada Sharon semakin kuat. Namun, entahlah apa yang di rasakan oleh Sharon pada dirinya saat itu. Apakah gadis itu memiliki perasaan yang sama terhadapnya? Pikiran itu terus berputar di otaknya berulang kali.


Hingga waktu yang di tentukan telah datang, hari dimana Yarry harus berangkat menuju tempat belajar barunya. Di bandara ia menunggu kehadiran seseorang. Seorang gadis yang ia cintai, gadis tersebut mengetahui soal jadwal keberangkatannya. Tapi, kenapa dia tak kunjung tiba?


"YARRY!" Suara itu terdengar sangat tak asing, hingga menyadari teriakkan itu membuat Yarry berbalik, dan menghampirinya. "Maafkan aku, di jalan begitu macet, untunglah masih ada waktu." Gadis itu tampak mengatur napasnya berulang kali.


"Aku pikir kau tidak akan datang. Jadi, apa kau sudah memiliki jawabannya? Jawaban atas tawaranku saat itu?" Tak memiliki waktu yang banyak, Yarry langsung mengatakannya secara terang-terangan pada gadis di hadapannya.


"Maafkan aku Yarry. Aku menghargai perasaanmu, namun untuk saat ini, aku masih belum bisa menerima seseorang untuk memasuki hatiku. Hatiku masih begitu terluka, dan aku masih membutuhkan waktu untuk itu. Meski begitu, aku berharap jika kelak kau akan menemukan kebahagiaanmu sendiri." 


"Apa semua ini masih berhubungan dengan pria itu? Siapa namanya? Kent, 'kan?" Yarry tampak kecewa mendengar jawaban yang di terima olehnya.


"Tidak. Ini tidak ada hubungan dengannya. Yang berlalu biarlah berlalu! Kau pria yang baik, aku yakin jika kau akan bertemu dengan wanita yang lebih baik dariku. Belajarlah dengan giat, dan aku harap bisa bertemu denganmu lagi! Jangan lupa untuk selalu memberi kabar terbaru tentangmu, ya!" Gadis tersebut tersenyum ke arah pria yang berada di hadapannya,, dan dengan berat hati Yarry harus menerima keputusan yang di buat oleh Sharon..


"Izinkan aku untuk memelukmu untuk yang terakhir kalinya, Sharon!" Yarry mendekatkan langkahnya, dan memeluk gadis di hadapannya dengan begitu erat. "Bagiku, kau akan tetap menjadi cinta pertamaku, Sharon." Tuturnya lagi, dan Sharon hanya mengangguk pelan dalam dekapannya.


Bersambung ...