
Dua bulan berlalu, hubungan Kent dengan Natasha semakin lama semakin dekat. Keduanya sering kali menghabiskan waktu bersama, dan banyak hal yang mereka lakukan setiap harinya.
Selain Kent, dan Natasha. Nick dengan Alice pun semakin lama semakin lengket. Nick bahkan berencana untuk melangsungkan pertunangan dengannya setelah mendapat persetujuan dari ibu serta neneknya.
Kini, keluarga Sworth tidak seperti sebelumnya. Hal yang terjadi di masa lalu dijadikan pelajaran untuk mereka, terutama untuk ibunya Nick. Maka dari itu, ia tidak akan menghalangi putranya untuk memilih seseorang yang ia cintai.
Sedangkan, Sharon ia juga tengah menikmati matahari terbenam bersama dengan Charles. Ia membaringkan tubuhnya di atas pangkuan pria itu seraya memandangi matahari yang semakin lama semakin menenggelamkan diri.
Tanpa di sadari olehnya, keringat mulai muncul di dahi Charles, dan rasa sakit kembali ia rasakan, sangat sakit dari biasanya. Saat matahari sudah mulai tenggelam sepenuhnya, rasa sesak pun menghinggapi dada Charles.
"A-aku a-ada sedikit urusan. M-maaf tak bisa mengantarmu p-pulang." Sahutnya dengan nafasnya yang begitu tersengal, kemudian ia langsung meninggalkan Sharon tanpa berkata apa-apa lagi.
"Ada apa dengannya? Tidak biasanya ia seperti ini? Apa kau tengah menyembunyikkan sesuatu dariku, Charles?" Gumamnya.
Setelah menjauh beberapa jarak dari arah pantai, Charles segera meminggirkan mobilnya, dan menghubungi saudaranya. Dengan gps yang menyala, Charlie mampu menemukan saudaranya secepat kilat.
Melihat kondisi saudaranya yang sudah begitu memprihatinkan membuat Charlie begitu terkejut. Menyadari kehadiran Charlie, dengan susah payah Charles memindahkan tubuhnya ke arah bangku penumpang, ia menyandar di sana seraya memegangi letak rasa sakitnya.
Dengan kecepatan tinggi Charlie menginjak pedal mobil tersebut ke arah rumah sakit. Kondisinya bukan lagi seperti biasanya, dan ia tidak bisa di bawa ke rumah, dia membutuhkan perawatan yang benar-benar lebih kali ini. Ketika lampu merah, Charlie segera mengirim pesan teks kepada dokter Marvin, ayahnya, dan juga Key.
Hati Charlie semakin gelisah ketika mendengar deru nafas Charles yang semakin berat. Ketika lampu sudah hampir hijau, dan pria itu hendak kembali melajukan mobilnya, Charles meraih lengan saudaranya yang membuat Charlie langsung menoleh.
"A-aku ti-tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. T-tapi, jika sesuatu yang pernah di katakan dokter Marvin benar-benar terjadi sekarang, berikan itu padanya, dan lakukan apa yang pernah ku minta padamu, Charlie." Gumam Charles.
"Tidak akan terjadi apa-apa padamu, Charles." Racau Charlie yang kembali menginjak pedal gas dengan kecepatan yang lebih tinggi lagi.
Setibanya di rumah sakit, Charles segera di pasangkan portable oksigen, dan ia langsung di bawa menuju ruang UGD untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
"Aku mohon lakukanlah seperti yang ku minta padamu." Gumam Charles yang kini mulai tak sadarkan diri.
Dengan gusar Charlie menunggu kepastian mengenai kondisi saudaranya di luar. Tidak lama kemudian, sang ayah datang bersama dengan Key. Bill memberikan banyak pertanyaan pada putranya, dan Charlie sendiri pun masih belum memiliki jawabannya, karena dokter Marvin belum keluar sejak tadi.
"Kondisinya kali ini sudah benar-benar gawat. Kita harus menemukan pendonor itu secepatnya jika ingin menyelamatkannya. Satu lagi yang harus ku katakan pada kalian, Charles mengalami koma."
Mendengar kata 'koma' membuat Bill kehilangan keseimbangan tubuhnya, namun dengan cepat Charlie memeganginya. Kabar yang menakutkan telah terjadi, lalu Charlie membantu sang ayah untuk duduk di ruang tunggu.
Sedangkan Charlie segera meninggalkan tempat itu, ia berjalan tak berdaya ke arah luar rumah sakit. Langkahnya membawa menuju parkiran, ia memasuki mobilnya, dan menyandarkan kepalanya di atas setiran. Merasa frustasi, sesekali ia menghantukkan kepalanya di sana.
"Kenapa ini harus terjadi padamu? Kenapa bukan aku saja yang mengalaminya?" Racaunya.
•••
Dua hari sudah Sharon tidak menerima kabar dari Charles. Bahkan ketika di kantor pun ia sangat sulit untuk bertemu dengan Key. Sudah beberapa kali ia mencoba menghubunginya, namun ponsel milik pria itu tampak tidak bisa di hubungi. Kemudian, ia memutuskan untuk berkunjung ke rumahnya ketika sepulang kerja nanti.
"Jadi begitu? Baiklah, info yang kau berikan sangat membantu. Tetap awasi dia, sisanya serahkan padaku!" Ucap seseorang yang berada di seberang sana.
"Baik tuan." Tutur orang itu seraya mengawasi setiap gerak-gerik Sharon.
Saat jam pulang sudah tiba, Sharon segera menghentikkan taksi untuk menuju kediaman Austin. Setibanya di sana, entah kenapa rumah itu terlihat begitu sepi, dan seakan tidak memiliki kehidupan.
Ketika taksi itu pergi, dengan ragu Sharon melangkahkan kakinya menuju gerbang besar yang berada di rumah tersebut, dan terlihat beberapa penjaga menghampiri dirinya.
"Maaf, nona ingin bertemu dengan siapa?" Sahut salah satu penjaga disana.
"Bisakah aku bertemu dengan Charles Austin?"
"Maaf nona, tuan Charles sedang tidak ada di rumah untuk saat ini."
"Lalu, apa kalian tahu dimana dia?" Kini Sharon menuntut jawaban dari penjaga disana, dengan harapan ia bisa mengetahui keberadaan pria itu.
Bersambung ...