
Keduanya telah tiba di villa, Sharon tampak terlelap saat itu juga. Charles memandangi wajahnya seraya tersenyum dengan lembut, lalu ia mengusap puncak kepalanya secara perlahan yang kemudian mencium kening gadis itu.
Karena hari memang sudah malam, Charles segera menggendong tubuh Sharon untuk di bawa menuju kamarnya agar gadis itu dapat beristirahat dengan nyaman. Banyak mata yang memandangi mereka, dan tidak sedikit yang merasa iri atas perlakuan Charles kepada gadis yang berada dalam gendongannya.
Setibanya di kamar Sharon, Charles segera membaringkannya di ranjang. Tidak ingin berlama-lama di sana, Charles segera berjalan untuk meninggalkan kamar tersebut. Tidak di sangka gadis itu meneteskan air matanya, dan sedikit meracau. Charles yang mendengar hal itu pun segera berbalik, dan kembali menatapnya
“Aku mohon jangan.” Racaunya, dan Charles segera memegangi tangan gadis itu dengan erat. “Tidak, jangan lakukan itu!” Igaunya lagi, dan ia langsung membuka matanya.
“Hey, ada apa?” Pria itu menyeru seraya mengusap lembut pipi Sharon. Sedangkan Sharon yang menyadari kehadiran Charles, dengan cepat ia memeluknya erat. Air matanya semakin deras, dan tubuhnya juga sedikit bergetar. “Apa kau bermimpi buruk?” Sambungnya lagi yang melepaskan pelukannya, dan menatap kedua matanya.
“Mimpi itu terasa sangat nyata bagiku, aku sungguh takut.”
“Apa yang kau mimpikan itu? Apa begitu menyeramkan?”
“Di mimpi itu, kau pergi meninggalkanku, kau sungguh tidak memperdulikanku disana. Kau bahkan memukulku, itu sungguh menakutkan.” Sharon kembali memeluknya erat, dan Charles sungguh tersentak mendengar hal tersebut. “Apa kau akan melakukan hal itu padaku?” Lanjutnya yang kini menatap kedua mata pria di hadapannya.
“Tidak bertemu denganmu walau semenit saja sungguh membuatku resah, dan tidak memperdulikanmu adalah sebuah kesalahan. Apalagi jika sampai harus memukulmu, itu tidak akan pernah aku lakukan. Dari pada menyakitimu, bukankah lebih baik memberikan kasih sayang yang luar biasa?” Balasnya dengan sebuah senyuman yang begitu hangat.
Kata-kata Charles terdengar begitu lembut, dan juga tulus. Pernyataannya juga membuatnya menjadi lebih tenang, namun sampai saat itu, Sharon masih enggan untuk melepaskan pelukannya tersebut. Ia memejamkan matanya disana, dan Charles mencoba membaringkan tubuhnya.
"Jangan tinggalkan aku." Gumamnya yang menggenggam erat tangan pria itu.
"Aku akan disini. Menemanimu hingga kau kembali membuka matamu." Charles langsung bangun dari duduknya, dan ikut berbaring di sisi Sharon yang masih sedikit khawatir.
Charles menarik selimut itu, dan Sharon langsung tidur dengan mendekap pria di sisinya, hingga keduanya memejamkan matanya.
•••
Hari sudah berlalu. Di tempat yang berbeda, seorang pria terlihat tengah meregangkan tubuhnya di depan balkonnya. Kemudian, ia melihat seorang wanita di samping kamarnya, wanita itu tampak melamun, tatapannya terlihat begitu kosong, dan hal itu membuat pria tersebut tertarik.
Pria itu menyandarkan kepalanya di tangan yang tengah berpegangan pada pagar pembatas, matanya masih memandangi wanita itu, hingga sebuah senyuman terlukis di bibirnya.
Tiba-tiba saja wanita itu terduduk dengan melipat kedua kakinya. Wajahnya ia tanamkan pada kedua lututnya, tubuhnya juga terlihat bergetar, dan membuat pria itu sungguh terkejut.
Ketika tiba di balkon wanita itu, sang pria lekas berlutut, dan memberanikan diri untuk menepuk bahu wanita di hadapannya. Tidak di sangka jika wanita tersebut justru berhambur ke dalam pelukannya, tidak berani membalas pelukan itu, sang pria hanya terdiam terpaku.
"Maaf nona, jika boleh tahu, apa yang sedang terjadi padamu?" Pria itu membuka topik pembicaraan, dan membuat wanita tersebut sadar.
"M-maafkan aku. Maaf karena tiba-tiba saja memelukmu. Tapi, bagaimana bisa kau tiba di balkon ku?" Wanita itu tampak bingung dengan apa yang dilakukan oleh pria di hadapannya.
"Aku tinggal di sebelahmu, melihatmu terlihat gelisah, dan tiba-tiba saja menangis sungguh membuatku penasaran. Maaf karena telah berlaku lancang padamu."
"Tidak, seharusnya akulah yang meminta maaf. Memeluk tanpa izin darimu, hal itu pasti bisa membuat istrimu salah faham, aku akan membantumu untuk berbaikan dengannya."
"A-apa maksudmu? Apa tampangku ini terlihat sudah memiliki seorang istri?"
"Kenapa? Apa aku salah?"
"Tentu saja kau salah! Aku memang hampir menikah, namun acara tersebut batal. Meski begitu, aku sangat senang karena pernikahan itu tidak jadi berlangsung."
"Kau orang aneh, kau akan menikah, namun kau senang saat acara dibatalkan. Aku sungguh tidak seberuntung dirimu, aku sangat ingin menikah dengannya, namun tidak ku sangka jika dia akan mencampakkanku."
"Beruntung? Aku tidak mencintainya, jadi kenapa aku harus sedih ketika acara itu di batalkan? Lagi pula, dia sudah menyakiti seseorang yang sangat berharga untukku. Kau lah yang bisa dikatakan beruntung, jika kau sampai menikah dengan pria itu, bukankah akan sangat menyakitkan jika di campakkan setelah menikah?"
"Kau benar! Ternyata Tuhan sangat baik padaku." Racaunya.
"Mungkin karena kau wanita yang baik, maka dari itu Tuhan juga menginginkan yang terbaik untukmu." Pria itu tersenyum hangat ke arahnya. "Teman?" Sambungnya yang seraya menyodorkan tangannya.
"Teman. Namaku Natasha Aurora." Wanita itu mengusap sisa air matanya, dan meraih tangan pria di hadapannya. "Dan kau?" Imbuhnya lagi.
"Kent. Namaku Kent Edbert."
Bersambung ...