I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
99. Bersembuyi Dibalik Telunjuk



"Kak Xuan. Kalau kau rindu padanya kenapa tak menyapanya? Melihatmu mondar mandir begini membuat kepalaku pusing"kata Pangeran Ketujuh, ia memperhatikan kakaknya dengan intel sampai membuat kepalanya pusing.


"We...wen'er marah padaku jika aku menemuinya sekarang dia akan membenciku"kata Kaisar, ia ingin meminta maaf tapi egonya terlalu besar untuk mengatakan kata maaf.


"Salahmu sendiri menuduhnya didepan banyak orang"gumam Pangeran Ketujuh ia menatap malas kakaknya.


"Kak Xi'er dan aku ingin menemui Permaisuri tetapi ia tak ada di kediaman"kata Pangeran Ketujuh, ia ingat beberapa waktu yang lalu mencari Liu Wen tetapi dirinya tak ada dikediaman Phoenix.


"Kemana dia"gumam Kaisar, ia berpikir sejenak.


*Apa sedang bersama We'er?-batin Kaisar.


"Oh ya, bagaimana Wen bisa mengenal dan bersama Jianwe?"tanya Kaisar, ia melupakan Qin Jianwe sesaat karena bahagia bertemu dengan Liu Wen.


"Ahh Permaisuri menyelamatkan Jianwe dari harimau dan membawanya ke kediaman Perdana Mentri Liu dan ya kakak! Siapa yang pertama kali memberitahumu tentang kematian Jianwe?"tanya Pangeran Ketujuh, hal ini patut dicurigai bagaimana ia bisa tahu berita kematian Qin Jianwe secepat itu dimana para pengawal pun tak bisa menemukan petunjuk apapun.


"Selir Chu.... dia sangat syok sampai ingin melompat ke kolam"kata Kaisar mengingat bagaimana sedihnya Selir Chu membuatnya percaya kalau Selir Chu memang menyayangi Qin Jianwe.


*Dia? Apa dia memiliki rencana terselubung? Atau ini hanya perasaanku saja-batin Pangeran Ketujuh.


"Baiklah..."kata Kaisar belum selesai perkataannya kasim Mu menyela.


"Hormat saya Yang Mulia Kaisar, Permaisuri dan Pangeran Keempat mohon izin bertemu"kata Kasim membuat Kaisar tersenyum senang.


"Izinkan mereka masuk"kata Kaisar, ia segera merapikan rambutnya yang panjang itu.


*Sepertinya ini terbalik, seharusnya kakak ipar yang berdandan saat bertemu dengannya-batin Pangeran Ketujuh, ia terkekeh melihat kakaknya yang begitu peduli akan penampilan.


"Qin Xuan.... "seru Liu Wen, ia selalu memanggil nama Kaisar.


"Hmm? Ada perlu apa?"tanya Kaisar, ia membelakangi Liu Wen dan kedua adiknya untuk menutupi ekspresi bahagianya.


"Ada apa dengannya?"tanya Pangeran Keempat, ia binggung kenapa tiba tiba Kaisar membelakangi mereka.


"Entahlah, kakak jadi gila lagi karena kakak ipar"bisik Pangeran Ketujuh membuat Pangeran Keempat mengangguk ia mengerti.


"Biarkan Junxi yang bertanggung jawab untuk kesehatan Jianwe"kata Liu Wen, ia tak suka basa basi .


"Memangnya kenapa? Tabib Wu adalah kepala tabib bukan? Apa pengobatannya kurang baik?"tanya Kaisar, ia masih saja bersikap tegas.


"Itu benar! Bukannya menyembuhkan dia malah ingin membunuh Junxi"kata Liu Wen membuat Kaisar berbalik.


"Kau tahukan kita tak bisa menuduh orang seenaknya"kata Kaisar, ia melupakan cintanya pada Liu Wen untuk sementara waktu karena mendengar hal itu.


"Ya aku tahu! Itu sebabnya ganti dia sekarang!"kata Liu Wen dia melipat tangannya didada.


"Cukup! Kau hanya seorang Permaisuri, kenapa kau selalu bersikap seenaknya begini"bentak Kaisar, bagaimana mungkin Liu Wen mencurigai orang kepercayaannya yang telah lama melayani keluarganya.


"Aku muak mendengar teriakanmu itu! Jika kau punya otak cobalah berpikir"kata Liu Wen ia mendekat dan mengetuk kepala Kaisar berkali kali.


"Jianwe adalah bayi prematur! Jika diberi vitamin ia akan cepat sembuh! Kenapa sampai sekarang tubuhnya masih saja lemah?"kata Liu Wen, tak ada ketakutan dimatanya ia hanya menganggap pria didepannya ini hanya seorang pria biasa seperti lainnya.


"Kau baru saja datang kenapa banyak sekali yang kau ketahui? Mengajari seorang Kaisar sepertinya sudah menjadi keahlianmu"kata Kaisar, ia memegang tangan Liu Wen yang mengetuk kepalanya.


"Oh, sayang sekali kau bukan bicara dengan wanita biasa sekarang! Pelayan!"teriak Liu Wen tak berapa lama beberapa pelayan datang kehadapannya.


"Siap menghadap Yang Mulia"kata para pelayan itu.


"Bawa Pangeran Pertama kesini"kata Liu Wen padahal ia tak mau membawa Qin Jianwe setelah kejadian panjang ini terjadi tetapi jika Kaisar tak mempercayainya begini akan sulit menangkap tabib Wu.


"Kenapa kau memanggil Jianwe?"tanya Kaisar ia menaikan satu alisnya binggung.


"Lihat saja nanti"kata Liu Wen, ia duduk diantara kedua adik iparnya sambil menunggu Qin Jianwe datang.


"Salam Ayahanda, mami, paman keempat dan ketujuh. Apa mami memanggilku?"tanya Qin Jianwe ia baru saja masuk ke kamar Kaisar melihat ramainya isi dikamar ayahnya.


"Mami?"tanya mereka dengan serempak.


"Sebutan ibu untukku"jelas Liu Wen, ia menghampiri Qin Jianwe.


"Junxi periksa dia sekarang"kata Liu Wen walaupun binggung Pangeran Keempat tetap melaksanakan perintah kakak iparnya.


"Salam Yang Mulia, anda memanggilku?"tanya tabib Wu yang tiba tiba saja datang.


"Ti..."belum selesai Kaisar berbicara Liu Wen menutup mulutnya.


"Pangeran!! Apa yang anda lakukan! Kesehatan Pangeran pertama adalah tugas hamba"kata Tabib Wu, ia sedikit khawatir karena Pangeran Keempat hendak memeriksa urat nadi Qin Jianwe.


"Hei! Aku menyuruhmu untuk memeriksaku! Apa yang kau lakukan disana! Ingin mengali lubang kuburmu?"kata Liu Wen sambil menyeringai, ia sengaja melakukan hal itu untuk melihat reaksi tabib Wu dan membuktikan apa yang dipikirkannya adalah benar.


"Ha...hamba... baik...baikk! Hamba datang Permaisuri"kata tabib Wu dengan tubuh yang tak lagi muda itu ia berjalan lamban menuju Liu Wen.


*Apa yang coba wanita ini lakukan?-batin Kaisar, ia ingin sekali mengehentikannya tetapi dengan kode mata dari Pangeran Keempat ia pun mengikuti alurnya saja.


"Paman keempat ada apa?"tanya Qin Jianwe yang bingung.


"Tidak apa, hanya pemeriksaan biasa"kata Pangeran Keempat saat memeriksa nadi Qin Jianwe ia menemukan hal yang mengejutkan.


*I...inii!! Kenapa begini!-batin Pangeran Keempat, ia terus memeriksa bagian tubuh Qin Jianwe yang lain dan sama terkejutnya.


"Jianwe buka mulutmu!"perintah Pangeran Keempat jika pemeriksan terakhirnya benar maka apa yang dia perkirakan dari tadi adalah benar.


*Bau ini seperti Gingseng! Kuat sekali..."batin Pangeran keempat.


"Tunggu!! Bau ini?! Tabib Wu! Apa saja obat yang diminum oleh Jianwe!"tanya Pangeran Keempat dengan tegas ia menatap tajam Tabib Wu yang berada didekat Liu Wen.


"Ha..hanya bahan dasar vitamin penguat tubuh! Pangeran juga tahukan?"kata Tabib Wu, ia berkeringat dingin saat mengatakannya apa lagi ditatap Liu Wen dengan tajam.


"Oh! Coba sebutkan"kata Liu Wen dengan lembut.


"Membuat obat, Fufang Ejiao Jiang perlu bahan Corii Asini Colla 11 mL, Codonopsis Pilosulae Radix 2 mL,


Crataegus Pinnatifida 1 mL,


Rehmanniae Glutinosa Radix 1.6 mL,


Panax Ginseng Radix 4.4 mL"kata tabib Wu wajahnya pucat ia tak menatap wajah Liu Wen.


"Lalu kenapa aku menemukan bau bunga opium kering disana! Kau tahu kan jika bunga opium dicampur kedalam obat Fufang Ejiao Jiang maka akan sangat beracun! Perlahan akan membuat si pengguna lemah dan akhirnya mati mengering seprti mumi!"mendengar hal itu Kaisar langsung bangkit wajahnya sangat marah dan langsung mengambil pedangnya.


"Ampuni ha..hamba Yang Mulia!"kata tabib Wu ia bersujud dibawah kaki Kaisar sambil menggosok gosok tangannya.


"Aku benci orang sepertimu"kata Kaisar ia mengayunkan pedangnya ingin menebas kepala Tabib Wu.


"Tunggu! Jangan lakukan hal itu!"kata Liu Wen ia memegang pedang Kaisar dengan tangannya.


"Setidaknya kita harus tahu siapa dalang dibalik semua ini"kata Liu Wen tak menghiraukan tangannya yang bercucuran darah ia hanya ingin Kaisar tahu apa yang dilakukan Selirnya itu.


"Siapa yang menyuruhmu?"tanya Kaisar, ia menjatuhkan pedangnya kelantai didepan wajah tabib Wu.


*Jika kuberitahu, Selir Chu akan membunuhku-batin Tabib Wu.


"Tenang saja hal ini takkan bocor sampai keluar jika kau beritahu aku janji hal ini tak akan diungkit dan kau tak akan dihukum"kata Liu Wen membuat tabib Wu bernafas lega.


"Apa yang kau katakan.... Wen!"kata Kaisar, ia tak mungkin membiarkan pembunuh putranya kabur dan hidup dengan tenang.


"Ingin menangkap pembunuh yang sebenarnya kita harus bersabar lagi pula jika tidak sekarang tabib Wu pasti akan dihukum dengam kejahatan yang lain"bisik Liu Wen.


"Selir Chu! Dia wanita jahat yang memaksaku meracuni Pangeran! Selir Chu juga sering memukul Pangeran jika tak percaya Yang Mulia bisa memeriksa tubuh Pangeran"kata tabib Wu.


*Wow!! Sangat tak setia kawan dia langsung melemparkan semuanya kepada Selir Chu-batin Liu Wen, ia menatap malas Tabib Wu.


"Apa itu benar Jianwe?"tanya Kaisar, ia melihat wajah Qin Jianwe yang murung lalu ia membuka bajunya nampak banyak sekali bekas luka dan memar ditubuhnya, membuat Kaisar makin memanas.


"Apa maunya wanita itu! Sialan!"kata Kaisar, ia hendak kekediaman Selir Chu dan langsung menjebloskannya kepenjara.


"Tunggu Kakak Xuan! Kau sudah boleh pergi!"kata Pangeran Ketujuh kepada Kaisar dan Tabin Wu.


"Akan lebih menarik jika kau menghukumnya secara resmi di aula agar semua orang tahu dan tak akan mempertanyakan keputusanmu lagi"kata Pangeran Ketujuh, itu memang benar walaupun Kaisar berada dikekuasaan yang tertinggi tetapi jika ia menghukum orang secara sembarangan meski pun ia adalah orang yang bersalah. Rakyat akan menganggapnya Kaisar yang tidak adil.


"Wow! Kita sepemikiran"kata Liu Wen, ia bertepuk tangan bersama Pangeran Ketujuh.


"Tidak! Lebih' baik dia yang menunjukkannya kepada semua orang"kata Pangeran Keempat itu lebih baik dari apapun mereka tak perlu lagi menghukumnya.


"Apa maksudmu?"tanya Kaisar, perkataan adiknya membuatnya binggung.


"Saat ia mulai iri dengan kakak ipar wajah aslinya pasti akan terlihat, lebih baik menonton pertunjukan itu dari pada kita membuatnya masuk penjara"kata Pangeran Keempat, jika sesuai yang ia perkirakan Selir Chu sebentar lagi pasti akan melakukan sesuatu.