I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
36. Festival Lampion



"Nyonya dari mana saja?"tanya Meng, ia melihat Liu Wen datang kearahnya, saat makan siang bersama tiba tiba Liu Wen menghilang ia mencari Liu Wen dari tadi tapi tak kunjung menemukannya.


"Ada urusan sedikit"kata Liu Wen mengedipkan matanya.


"Anu.... Nona Yu. Tuan ada dimana?"tanya kurir kuda yang heran bukannya tadi Tuan dan Nona mudanya ini keluar bersama kenapa sekarang Nona mudanya bersama seorang wanita.


"Ah... mmm... ayah tadi pergi ke suatu tempat dulu! Katanya besok saja kita pergi Kekaisaraan Rong dan dia temanku dari desa panggil saja Nyonya Wen"jawab Meng dengan sedikit ragu. Mengarang cerita secepat ini bukan hal yang mudah.


"Ka..kalau begitu Nona mau pulang sekarang?"tanya kurir itu, ia sedikit malu berbicara dengan Meng karena umur mereka yang terlihat tak jauh beda.


"Tidak! Kami akan kembali nanti malam! Hari ini ada festival lampion!! Kata paman Yu, kalian dikediaman Giok boleh mengambil uang 300 perak dan pulang lebih awal"kata Liu Wen ia tersenyum, mengedipkan satu matanya dan memegang lengan Meng sambil mengangguk pelan.


"Apakah benar?"tanya Kurir itu dengan ragu, ia menatap kearah Meng.


"Iya!! Iya ayah bilang begitu cepatlah ambil! Kalian sudah seperti keluarga bagiku dan ayah"timpal Meng, ia melirik Liu Wen takut salah kata lalu dibalas anggukan beserta senyuman dari Liu Wen.


"Te..terima kasih Nona Yu semoga Tuan dan Nona selalu panjang umur dan sehat selalu"kata Kurir itu membungkuk dan langsung pergi.


"Huhh... Yang Mu..lia hehehe Nyonya maksudnya! Apa benar kita akan menikmati festival lampion!!"kata Meng, ia seumur hidup tak pernah melihat festival lampion yang diselenggarakan di Pasar Bangsawan itu.


"Tentu... ini juga yang pertama kali untukku"kata Liu Wen sambil tersenyum itu memang benar karena tahun lalu, ia tak berada di ibu kota dan tahun sebelumnya lagi ia belum datang ke era ini.


"Nyonya baru pertama kali? Bukannya Nyonya bangsawan, apa dari kecil tak pernah sekali pun punya kesempatan kemari?"tanya Meng, ia memiringkan kepalanya.


*Aduhh... aku lupa! Mulut nih ga bisa banget di rem-batin Liu Wen ia tersentak.


"Ahh... aku kan dulu hanya belajar saja dan jarang keluar rumah"kata Liu Wen memutar bola matanya, karena takut ketahuan bohong.


"Ohhhh"kata Meng mulutnya terbuka lebar.


"Kaisar biasanya juga datang..."kata Meng, ia memegang tangan Liu Wen.


"Enmm... begitu.... ayo kita jalan. Ini sudah sore! Makin sore makin ramai! Nanti kita tak bisa lewat"kata Liu Wen, ia menarik Meng masuk kedalam Pasar dan menikmati opera terlebih dahulu sambil menunggu malam hari tiba.


******


Kediaman Ibu suri


"Anda masih saja terlihat cantik"kata pelayan sekaligus teman Ibu suri yang melayaninya semenjak umur empat tahun.


"Hmm? Kau bisa saja Ji... ini pertama kalinya aku menghadiri festival sebagai Ibu suri"kata Ibu suri sambil mengambil beberapa perhiasannya.


"Warna biru sangat cantik dibawah rembulan malam dan cahaya lampion"Ji mengambil kalung dan memakaikannya dileher Ibu suri.


"Mm.. sepertinya begitu! Menurutmu Selir mana yang akan hamil duluan?"tanya Ibu suri kepada Ji.


"Saya tidak tahu tetapi dari jadwal yang anda buat Selir Chu yang paling banyak mendapat giliran. Saya rasa dia yang akan hamil duluan"kata Ji yang masih merapikan pakaian Ibu suri.


"Aku ingin dia cepat hamil tetapi Selir Bai, Hui dan Selir Tang juga mendapat giliran yang banyak kuharap mereka juga cepat memberikan keturunan untuk Dinasti ini"seru Ibu suri, ia menghela nafasnya sudah ada satu kemajuan yaitu anaknya mau menyentuh wanita wanita yang merupakan Selir Selirnya itu.


"Bagaimana dengan Permaisuri? Siapa tahu beliau sudah mengandung"kata Ji sambil tersenyum.


"Hah?! Dia...tidak mungkin!"kata Ibu suri dengan nada yang meremehkan.


"Dia seorang wanita kenapa tidak mungkin?"kata Ji, dia mungkin seorang pelayan tetapi Ibu suri tidak memperlakukannya seperti pelayan melainkan temannya sendiri.


"Hmm.... dia dan Xuan selalu bertengkar tidak mungkin melakukannya"kata Ibu suri tidak ada yang tahu rahasianya memberi Liu Wen obat mandul itu.


****


Kediaman Naga


"Baiklah!! Rakyatku sekalian hari ini kita akan nengadakan kembali Festival Lampion untuk menyambut pergantian musim dan atas bukti kemakmuran Kekaisaran ini!! Silakan kalian nikmati dengan sepenuh hati"Kaisar berdiri dan mengatakan beberapa kata pembuka, tentu saja rakyat bersuka cita karena bukan hanya para bangsawan saja yang bisa menikmatinya tetapi tahun ini rakyat jelata juga diizinkan untuk mengikuti Festival Lampion.


"Woahh! Cantik sekali"


"Ehh.... Permaisuri mana?"


"Hei belum dengar ya, Permaisuri melakukan ritual wajib istana dan dia memutuskan ingin berdoa dikuil untuk mendapatkan anak"


"Ahh begitu sayang sekali, beberapa kali desa kami dilanda kelaparan dan prajurit atas nama Permaisuri memberi kami bahan makanan yang banyak, kami sangat terbantu"


"Ahh begitu, desaku juga pernah ditolong tetapi oleh seorang pedagang kaya raya namanya Tuan Yu"


"Kasian sekali, kita bersenang senang disini beliau malah berdoa sendiri dikuil yang dingin"


"Ya kau benar kasian sekali"


"Kaisar pun juga sedih lihat saja wajahnya yang terlihat murung"


Bisik rakyat jelata, mereka menyayangkan Liu Wen yang tak berada disini.


"Sepertinya banyak yang merindukan anda"kata Meng tersenyum memandang kearah Liu Wen.


"Aku kan terkenal mau bagaimana lagi"kata Liu Wen mengedikkan bahunya.


"Aku pulang dulu, silakan nikmati acaranya"kata Kaisar ia pergi meninggalkan acara dan penyamar agar mudah mencari Liu Wen.


"Chen kita berpencar saja, aku sudah menyamar dan disini sangat ramai, kurasa tak akan ada yang tahu kalau diriku seorang Kaisar"kata Kaisar, ia langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari Chen.


"Anda sangat mencintai Permaisuri"kata Chen tatapan matanya sayu melihat perjuangan Kaisar, ia langsung pergi sesuai instruksi Kaisar.


"Dimana kamu Wen'er"kata Kaisar, ia menelusuri setiap Pasar Bangsawan, karena yakin Liu Wen ada disini. Sudah hampir tengah malam dan orang orang makin lama makin berkurang tetapi masih saja ia tak menemukan Liu Wen.


"Wen'er.... apa kau memang sudah pergi jauh"lirih Kaisar, ia terduduk dan bersender ditembok memegang kepalanya yang ingin pecah karena mencari Liu Wen kemana mana.


"Hei!! Ini uang untuk membeli pakaian, sisanya pakai untuk membuka usaha sendiri"kata seorang wanita yang iba kepada Kaisar, ia menepuk bahu Kaisar dan melempar satu kantung tael perak didepannya.


[Disangka Pengemis]


"Aku ta..."kata Kaisar dengan sedikit menekan kata katanya, ia membuang sembarang kantung berisi tael perak itu.


"Ishh... ya udah sih anjir kalo ga mau"kata wanita itu, ia mengambil kasar kantung itu dan langsung pergi.


"Nyonya, seharusnya kasih saja, ia lapar sepertinya"kata teman disampingnya.


"Meng, orang yang tak tahu diri seperti dia tak perlu dikasihani"kata wanita itu sambil membuang mukanya.


"Tunggu"kata Kaisar membuat dua wanita itu menoleh.


"Apa!"kata wanita itu dengan galak.


"Wen'err..."gumam Kaisar, senyumnya mengembang walau ditutup cadar tak akan cukup menutupi wajah yang selama ini ia rindukan itu.


"Apa? Aku sibuk! Katakan apa maumu"kata Liu wen dengan malas.


"Aku..."belum selesai Kaisar berbicara, ia terjatuh pingsan.


*Adegan ini cukup familiar-batin Liu Wen, ia memegang dagunya dan berpikir sejenak.


"Lah lah!? Meng apa aku terlalu kejam memarahinya tadi?"tanya Liu Wen, ia tersenyum kikuk menatap Meng.