
Halaman Kediaman Selir
"Ahh!"teriak Meng jarinya dijepit menggunakan dua kayu dengan ditarik menggunakan tali sehingga jari jarinya mengeluarkan darah karena hampir putus.
"Mengakulah. Kenapa kau mencuri kain sutra pemberian Yang Mulia padaku! Apa Permaisuri yang menyuruhmu"kata Selir Bai yang sedang duduk santai beberapa meter dari Meng sambil menikmati teh ditangannya.
"Saya tidak mencuri apapun! Kenapa anda menyuruh saya mengakui hal yang tak pernah saya perbuat"lirih Meng, kepalanya pusing entah bagaimana kejadiannya, tiba tiba seseorang melempar kain dari lantai dua dan jatuh dikepalanya lalu segerombolan pelayan lain menangkapnya dan meneriaki telah mencuri kain sutra itu. Ia bahkan tak tahu apa yang terjadi secara mendadak tiba tiba sudah dituduh sebagai pencuri.
"Lalu kenapa kain itu ada padamu! Disini sudah ada saksi! Kau tak perlu berbohong atau nyawamu itu mau melayang? Dasar pelayan rendahan!"bentak Selir Bai, ia beranjak dari tempat duduknya berjalan kearah Meng dan menamparnya.
"Tapi kalau kau katakan bahwa Permaisuri yang menyuruhmu! Akanku bebaskan kau dan aku jamin keluargamu baik baik saja"bisik Selir Bai, ia menatap Meng dengan serius.
"Maaf saya tidak bisa"lirih Meng, ia tersenyum mendengar hal itu membuat Selir Bai menampar pipinya lagi.
"Mati saja kau! Mau setia? Cihh kalian para pelayan hanya tahu menjilat majikan seperti anjingg"umpat Selir Bai, ia mengertakkan giginya geram karena Meng yang keras kepala.
"Bai Fupei!! Apa yang kau lakukan!"teriak Liu Wen, ia berlari kearah Meng melupakan tata krama seorang Permaisuri dan menghampiri Meng.
"Cari mati ya! "kata Liu Wen dengan satu kali coba, ia melepaskan kedua kayu yang menghimpit jari Meng dan meremukannya.
"Woahh? Yang Mulia Permaisuri!? Salam. Semoga panjang umur sehat selalu! bukannya anda baru sembuh? Kenapa anda berlarian kesini dengan begitu cepat?"tanya Selir Bai sambil tersenyum manis, ia mendongkakan kepalanya keatas menatap Liu Wen dengan ramah.
"Menurutmu?"kata Liu Wen, ia maju kedepan dan membalas senyuman Selir Bai.
Plakkk
"Kau...kauu"Selir Bai memegang pipinya.
"Aku kenapa? Ohh... tadi dipipimu ada lalat, tanganku gatal ingin memukulnya Kan Lalat itu Mahkluk yang Kotor..."kata Liu Wen, ia menepuk pundak Selir Bai Demgan pelan.
"Sialan kau!! Pelayanmu yang kurang ajar mencuri pakaianku! Dan kau malah menamparku! Kau yang menyuruhnya kan!! Mengakulah! Kalau tidak akanku bawa kepengadilan"teriak Selir Bai, sebenarnya iia takut tetapi melihat Liu Wen sengsara membuatnya lupa akan rasa takut itu.
"Hmmm"Liu Wen berlagak berpikir memegang dagunya, ia melirik kearah baju Meng lalu tersenyum.
"Baiklah jika itu maumu! Ayo pergi sekarang"seru Liu Wen, ia memapah Meng yang hampir pingsan.
"Hmphh, jangan salahkan aku karena tak memperingatkanmu!"kata Selir Bai dengan percaya diri, tentu saja rencananya ini sudah matang.
"Yang mulia Permaisuri! Tak perlu memapah hamba, hamba tidak pantas"kata Meng, ia berusaha berjalan sendiri.
"Ayolah santai aja, aku denger lho, kau sangat setia padaku"Liu Wen langsung menggendong Meng.
"An...andaa tahu dari mana? Eh! Turunkan hambaa Permaisuri!!"Meng tersipu, pertama kali ia digendong oleh seseorang..
"Nanti juga kau tahu, badanmu lemas jadi tak bisa berjalan sudah jangan banyak bicara! Diam disitu"kata Liu Wen. Ia berjalan ke aula istana dengan menggunakan hanfu dasar dan menggendong seorang pelayan dipundaknya, jelas saja sepanjang jalan ia menjadi sorotan.
Aula Istana
Suasana nampak ramai Selir Bai yang pergi duluan telah mengumpulkan orang orang tak termasuk Kaisar dan Ibu suri. Jangan ditanya bagaimana ekspresi Ibu suri, wajahnya sangat bahagia sedangkan Perdana Mentri Liu agak khawatir dengan keadaan anaknya.
"Hei! Permaisuri membuat ulah"
"Baru kemarin menjadi Permaisuri, sudah masuk sidang"
"Apa keluarga Liu suka membuat masalah, hahaha"
Setidaknya itu yang dibicarakan para pejabat yang hampir membuat Liu Whojin memanas dan emosi tetapi ditahan anaknya Liu Yichen.
"Chen'er! Kakakmu membuat masalah lagi, apa kali ini yang dia lakukan"bisik Liu Whojin dengan nada cemas.
"Ayah tenanglah. Kakak tak akan berulah kalau tak ada alasan"balas Liu Yichen, ia kenal sekali kakaknya itu walau hanya sedikit waktu yang mereka habiskan.
"Wah! Wah! Aula Istana sudah ramai saja"kata Liu Wen yang baru saja masuk sambil mengendong Meng.
"Salam Yang Mulia Permaisuri"kata mereka serempak.
"Permaisuri! Kenapa kau hanya memakai dalaman! Ingat statusmu"bentak Ibu suri, ia melotot kearah Liu Wen saat masuk dengan pakaian tak pantas itu.
"Dalaman?? Ini disebut dalaman?"gumam Liu Wen sambil memegang hanfu dasarnya. Entah kenapa orang zaman kuno ini sangat ketat dengan penampilan, yang dipakainya kan baju tebal pula, apa mereka buta.
*Nah kan! Baru tadi sok baik sekarang udah main bentak bentak dasar nenek sihir-batin Liu Wen menatap malas kearah Ibu suri.
"Meng turun sebentar ya"senyum Liu Wen dibalas anggukkan oleh Meng.
"Ini baru daleman"kata Liu Wen sambil membuka sedikit hanfu atasnya membuat semua orang tercenggang akan keberanian Liu Wen.
"Astaga"Liu Whojin menepuk dahinya.
"Cukup!"Kaisar berdiri menghampiri Liu Wen dan memakaikan jubah naga miliknya.
"Jangan berani membukanya lagi"kata Kaisar memeluk Liu Wen.
"Aku hanya mengatakannya saja ,tidak mungkin kubuka beneran kali"gumam Liu Wen pipinya merona.
*Ckk! Mungkin ini sedikit tergesa gesa karena menyerangnya terus tetapi jika dibiarkan akan semakin sulit memisahkan mereka-batin Selir Bai, ia menggigit bibirnya karena kesal melihat Kaisar dan Permaisuri bermersaan.
"Maaf para pejabat karena ketidaksopaanku, aku tergesa gesa saat baru bangun dari tidur lelahku semalam karena bertempur dengan Yang Mulia. Tiba tiba Selir Bai mengajakku ke Aula Istana karena tuduhannya akan pelayanku dan menghukumnya tanpa perintah Yang Mulia, itu sebabnya aku tak sempat berganti baju"kata Liu Wen, ia mempererat pelukannya membuat Kaisar berdehem karena menceritakan kejadian semalam.
"Ekhemm! Jadi apa yang Selir Bai tuduhkan kepada pelayan putriku?"tanya Liu Whojin pemandangan didepan samgat memanaskan mata.
"Pelayan rendahan itu mencuri mas kawin kain sutra pemberian Yang Mulia! Saya mohon hukum pelayan Permaisuri dengan pantas!!"kata Selir Bai dengan tenang.
"Kau tau kan Selir Agung memfitnah Permaisuri akan sangat berat hukumannya"kata Kaisar sambil mengerutkan alisnya walaupun terkesan seperti mendukung Liu Wen, Kaisar juga yakin kalau Liu Wen tak bersalah.
"Saya yakin Yang Mulia! Bukti dan saksi pun sudah saya ada!"kata Selir Bai dengan percaya diri, ia memainkan kontak mata dengan Jendral muda Song.
"Hamba Jendral Song menghadap Yang Mulia! Hambaa melihat sendiri pelayan Permaisuri mencuri kain sutra itu dikediaman Selir, dia juga membawa surat yang ditulis Permaisuri tentang ciri ciri kain itu"kata Jendral Song, ia menunduk dan melirik sedikit kearah Selir Bai.
"Oh ya?? Kau melihat Meng disana? Lalu apa yang kau lakukan dikediaman seorang Selir Agung?? Jen...dral"kata Liu Wen dengan senyum liciknya.
"A...ah..ham..."Jendral Song mulai panik, ia berkali kali melirik Selir Bai lalu Selir Bai memberinya tanda.
"Eh? Kalian sedang kasih isyarat apa?"tanya Liu Wen dengan lugu, ia melihat Selir Bai dan Jendral Song berkali kali tatapan mata dan gerak tubuh lainnya membuatnya sengaja mengatakannya dengan lantang.
"Apa yang anda katakan Permaisuri! Kami tidak bermain mata! Saya ke kediaman Selir karena ingin menyampaikan surat penting dari Mentri Bai"kata Jendral Song tatapan orang pun beralih ke Mentri Bai.
"Ya, apa yang dikatakan Jendral Song memang benar. Saya mengirim surat untuk putri saya dan menitipkannya kepada Jendral Song"kata Mentri Bai yang hampir tak bisa membuka mata lagi itu.
"Dan ya anda bisa melihat surat yang ditulis Permaisuri secara langsung! Jika Yang Mulia ingin melihat isinya"kata Jendral Song dengan penuh keyakinan menyerahkan surat tersebut.
"Hmmm..."Kaisar mengangguk ingin melihat surat itu, Liu Wen yang penasaran pun mengintip isi surat itu.
"Pfttt... ini bukan tulisanku oke! Tulisan ilmuan itu seperti cacing kepanasan dan tanda tanganku menggunakan abjad bahasa inggris"Liu Wen tertawa melihatnya, apa mereka bodoh?! tidakk menyelidiki terlebih dahulu sebelum meniru atau jangan jangan surat Yichen yang berada dikamar Liu Wen itu yang dianggapnya sebagai surat tulis tangannya.
"Bolehkah saya melihatnya Yang Mulia?"tanya Liu Yichen dibalas anggukan oleh Kaisar.
(Secara adik ipar yang minta)
"Iya ini bukan tulisan Permaisuri. Saya membawa beberapa tulisan Permaisuri yang ditinggalkannya dirumah, saya selalu membawanya"
"Karena kata kakak ini kalimat keberuntungan"jelas Liu Yichen mengeluarkan kertas lusuh sebelah tertulis 'anak yang berbakti akan selalu mengenang jasa orang tua, adik yang berbakti akan selalu dikenang kakaknya dengan sebutan 'I am crazy', awalnya Liu Wen menulis itu hanya bercanda tidak disangka adiknya menyimpan kertas itu sungguhan sampai sekarang.
"Astaga! Beneran disimpan"gumam Liu Wen, ia terkekeh kenapa adiknya mudah sekali ditipu.
"Mmm... ini memang tidak mirip"kata para pejabat lainnya mereka ikut melihat dan membandingkan. Sejak Selir Bai dan Jendral Song saling memberi isyarat dan dipergoki oleh Liu Wen para pejabat mulai mencurigai kedua orang ini.
"Bagaimana itu bisa menjadi bukti yang akurat?"kata Jendral Song, ia mengertakkan giginya ia tak mau misinya gagal.
"Lalu apa kau kira aku yang berbohong?! Mungkin kau sendiri yang sekarang sedang mengarang cerita disini"kata Yichen dengan tatapan tajam menusuk.
"Ckk! Aku Jendral Song Yuyue bersumpah atas langit dan bumi kalau yang kukatakan adalah fakta jika terbukti berbohong! Aku bersedia memotong kaki dan tanganku"teriak Jendral Song membuat semua orang heboh.
"Sepertinya Jendral sedang jujur"
"Ya ya, jika tidak dia tak kan berani bersumpah atas kaki dan tangannya"
"Jika berbohongkan tak ada yang ia memiliki lagi dan dia akan dikeluarkan dari pejabat militer"
Bisik pejabat. Liu Wen tersenyum puas mendengar ucapan Jendral Song.
"Kau benar! Jika hanya tulisan dan kata kata orang itu... tak cukup bukti"ia berceloteh didepan para aula.
"Apa Permaisuri gila?"
"Apa dia baru saja mengaku?"
"Kenapa dia berkata begitu"
"Tidak...tidak! Aku tidak gila dan tidak mengakui apapun, oh ya kalian ingatkan sewatktu pesta perayaan di Kediaman Perdana Mentri? Aku membuat alat yang mengeluarkan cahaya? Kali ini aku akan perlihatkan alat yang bisa mengeluarkan suara dan gambar"seru Liu Wen dengan antusias, ia mengambil selembar kain putih dan menyiapkan ponselnya.
"Kenapa dia membahas alat aneh itu sekarang"
"Oh tidak! Mungkin karena kelewat takut"
"Jeng jeng! lihatlah"kata Liu Wen tampak wajah Selir Bai dan dengan wajah meremehkan itu berbicara.
"Wahhh"
"Bi..bisa...! Ada bayangan! Bukan pantulan cermin bersuara"
"Alat sihir lagi"
"Tidak! Itu bukan alat sihir tapi...ahh! Alat sa..sains"
"Permaisuri yang mengenalkannya saat pesta perayaan"
"kau tak diundang ya? Sampai tak tahu alat apa itu hahahaha"semua pejabat sudah mulai terbiasa mereka mengetahui alat itu pasti alat aneh yang sama seperti lampu yang diperkenalkan Liu Wen saat pesta perayaannya.
"Kalau kau katakan Permaisuri yang menyuruhmu akanku bebaskan dirimu dan keluargamu"terdengar sangat jelas dan gambar yang juga jelas terpampang didepan mereka, semua orang menghujat Selir Bai yang berbohong dan memfitnah Permaisuri.
*Untung saja aku melekatkan kamera tersembunyi di baju Meng. Walaupun awalnya aku meletakan kamera itu karena tak percaya pada Meng sama sekali sih, Yahh.... akhirnya kamera itu membuktikan bahwa Meng adalah orang yang pantas dipercaya-batin Liu Wen, sebelum masuk istana ia mencoba membuat kamera sederhana dan melekatkannya setiap hari dibaju Meng dan melepaskannya saat malam harinya ia tak percaya dengan pelayannya itu makanya ia melakukan hal itu.
"Sesuai katamu Jendral"senyum Liu Wen, dia mengambil pedang milik prajurit yang berada didekatnya.
"...."Jendral Song terdiam, ia berlulut dan memajukan tangannya.
"Mungkin akan sedikit sakit, tahan ya"senyum Liu Wen, ia langsung menebas tangan Jendral Song wajahnya penuh dengan percikan darah, ia menyuruh Jendral Song berdiri dan langsung menebas kedua kaki Jendral Song sekaligus.
*Mau menyakiti orang sekitarku?Sepertinya keadaan sudah berbalik, aku yang menyakiti kekasihmu tersayang-batin Liu Wen tersenyum puas, para pelayan teriak ketakutan sedangan Selir Bai pingsan ditempat.