
"Prfff.... saya hanya bercanda Jendral... "lirih Anna, ia menahan tawanya melihat ekspresi tak terduga dari Jendral Hwang.
"Apa? Humph!"Jendral Hwang membuang muka layaknya anak kecil yang sedang marah kepada ibunya.
"Ternyata Jendral Hwang juga bisa bersikap seperti ini"kata Anna, ia tersenyum melihat tingkah Jendral Hwang yang mirip ayahnya.
"Aku juga baru tahu Putri bisa tersenyum"kata Jendral Hwang, ia menepuk pelan kepala Anna.
"Jaga Ri Won... walaupun ini permintaan yang aneh untuk seorang wanita"kata Jendral Hwang, ia menghela nafasnya dan melihat Ri Won yang sedang melihatnya dengan tatapan tajam.
"Ini sangat memalukan... aku seorang pria tentu saja aku yang akan menjaganya"kata Ri Won, ia berbicara santai karena suasana yang mulai membuatnya nyaman. Kakeknya itu tak sedingin wajahnya, dia pria tua yang lucu menurut Ri Won dan Anna.
"Ohoo... seorang pria? Kau saja tak bisa mengamankan posisi Putra Mahkotamu"kata Jendral Hwang mengetahui informasi terkini tak sulit baginya. Para Pejabat Istana masih banyak dipihaknya walaupun sekarang mereka sudah mengubah haluannya untuk berpihak kepada Woo Rin.
"Ahh... benar juga posisi itu sudah diambil dariku, tapi tidak mustahilkan untuk mendapatkannya kembali? Itu hanya gelar Putra Mahkota"kata Ri Won dengan polos sepertinya dia tak pernah tahu kalau Woo Rin mengincar posisi itu juga.
"Kau ini memang polos"kata Anna dan Jendral Hwang secara serempak.
"Adikmu itu mengincar posisi itu"kata Anna.
"Kakek dan Ibunya juga membantunya"timpal Jendral Hwang.
"Hanya seorang Penasehat dan Selir kenapa aku harus takut? Adikku tidak mungkin sampai membunuhku kan? Lagi pula dia pasti akan mengatakannya padaku jika dia mau posisi itu"kata Ri Won dengan polosnya. Dia terlalu baik untuk melihat keburuknya Woo Rin.
"Lim Hari bukanlah Selir sekarang"kata Jendral Hwang wajahnya berubah menjadi suram.
"Ohh... Apa dia jadi gundik sekarang?! Hmphh! Bagus kalau begitu, walaupun dia ibu dari Woo Rin aku tak akan memaafkannya! Dia sudah melukai ibunda dengan menggoda ayahanda"kata Ri Won, saat kecil ia sering melihat wajah datar Ibunya saat tak sengaja berpaspasan dengan Lim Hari dan Raja Nam Wok yang sedang asik bermersaan. Ia yakin ibunya itu sakit hati melihat suaminya bersama wanita lain. Apa lagi wanita itu bagaikan ular berbisa yang kapan saja bisa mengigit ibunya.
"Dia sekarang sudah menjadi seorang Ratu"kata Jendral Hwang membuat Ri Won terkejut.
"Bagaimana bisa! Bagaimana dengan Ibunda?! Sial! Raja itu pasti mengurung ibuku di Istana Daejon! (Istana para Selir yang dibuang)"baru saja ia ingin pergi melihat ibunya Jendral Hwang mengatakan sesuatu yang membuatnya sangat marah.
*****
"Yang Mulia.... Jangan marah lagi pada Woo Rin... Dia tak sengaja mengatakan hal itu"kata Lim Hari, ia memeluk Raja Nam Wok dari samping, raut wajah memelas dipasangnya agar Raja Nam Wok memaafkan Woo Rin yang bertanya hal yang tak pantas kepada Ri Won.
"Ajari anakmu itu dengan benar! Beraninya dia menginginkan istri kakaknya! Kemarin dia menginginkan Jang Eunyeon! Sekarang Tuan Putri Qin!"kata Raja Nam Wok, ia melepaskan tangan Lim Hari dengan kasar.
"Yang Mulia! Woo Rin juga anakmu! Kenapa anda sangat tak suka padanya"bentak Lim Hari dia tersenyum pasti kali ini Raja Nam Wok meminta maaf padanya.
*Ke...kenapa dia berani padaku... A....aku. Ck!! Sepertinya dia tak bisa kukendalikan lagi!-batin Lim Hari, ia menjauhi karena takut melihat raut wajah Nam Wok yang sedang marah padanya untuk pertama kalinya.
"Yang Mulia!"teriak Ri Won, ia berjalan ketengah perayaan di matanya ada amarah yang membara.
"Dimana Ratu Hyunseo!!"teriak Ri Won semua orang terdiam karena ada yang membahas Ratu Hyunseo lagi hampir 7 tahun terakhir nama Ratu Hyunseo tak pernah disebut.
"Ri..Ri Won.. De..dengarkan Ayahanda..."kata Raja Nam Wok, itu hal yang wajar bagi Ri Won yang tak mengetahui kabar sebenarnya tentang ibunya karena Raja Nam Wok sendiri yang menyuruh Lim Hari tetap menulis untuk Ri Won atas nama Ratu Hyunseo.
"Dimana Ibundaku!"teriak Ri Won saat dia mendongkakan kepalanya tak terasa air matanya mengalir kata kata Jendral Hwang ternyata benar.
*Ibundamu sudah meninggal 7 tahun yang lalu-kata kata yang menusuk itu membuatnya tak percaya.
"Pa..Pangeran... Ratu Hyunseo bu..bunuh diri 7 tahun yang lalu"kata Lim Hari, ia juga takut melihat wajah Ri Won yang sedang marah itu apa lagi badanya yang tinggi dan berotot itu membuatnya berpikir kalau Ri Won bisa membunuhnya kapan saja.
"Ahn Seo sangat depresi jadi bunuh diri. Itu adalah salahnya"kata Raja Nam Wok membuat Ri Won ingin menarik pedang dan membunuh ayahnya itu.
"Yang Mulia!!! Jaga kata kata anda!! Putriku bukan seorang pecundang!!! Dia seorang prajurit yang siap mati di medan perang tidak mungkin mati dengan cara tak terpuji begitu"kata Jendral Hwang, ia menarik pedangnya dan mengarahkannya ke depan Raja Nam Wok para pejabat pun berdiri. Prajurit pun menaruh pedang mereka dileher Jendral Hwang.
"Jendral Hwang sangat lancang!"
"Dia ingin memberontak!"
"jangan katakan hal itu!"
"kurang ajar! Jendral adalah orang yang berjasa bagi Joseon!"
"Turunkan pedangmu!"teriak Kepala Pengawal sorot mata Jendral Hwang tak menurun, ia menatap tajam mata Raja Nam Wok tanpa rasa takut.
"Kali ini aku ampuni! Jika lain kali Jendral Hwang melakukan hal ini! Aku akan menghukumnya"kata Raja Nam Wok, jika dia mengistimewakan Jendral Hwang. Lim Hari dan penasehat Lim pasti akan menargetkan Ri Won itu sebabnya dia bersikap seolah olah tak peduli dengan Ratu Hyunseo.
"Cih! Aku tidak butuh belas kasihmu"kata Jendral Hwang dia pergi dari sana karena kesal ada yang menghina putrinya itu. Ratu Hyunseo adalah anak tunggal dari Keluarga Hwang, meskipun ia tak akrab dengan putrinya itu tetapi jauh didalam lubuk hatinya ia sangat menyayanginya.
"Jangan tunjukan sikap kurang ajar itu lagi atau kau bisa menjadi sasaran orang orang itu"bisik Jendral Hwang, ia tak ingin Ri Won mengalami hal yang sama seperti Ibunya.
"Aku tak takut dengannya! Biarpun aku mati disini tidak masalah! Yang penting dendam ibunda terbalaskan"kata Ri Won dia hendak menarik pedangnya tetapi Jendral Hwang mendorong pedang itu masuk kembali kesarungnya.
"Ya jika kau sendiri... tetapi seseorang akan sedih jika kau mati sekarang"kata Jendral Hwang, ia melirik Anna yang berada dibawah pohon melihat semua kejadian didepan matanya dari sana.