
Bunyi gendang dan kecapi mengema diseluruh bangunan, beberapa wanita bercadar menari mengikuti alunan musik.
"Wow!! Kak Anna semangat" Seru Keyzee dari jauh, ia terpana saat melihat kakak kembarnya itu menari.
Menari sudah menjadi hobi bagi Anna walaupun kakinya bisa mati rasa kapan saja, ia tak menyerah untuk latihan menari.
"Wahh siapa dia?"
"Entahlah sudah 10 tahun terakhir wanita ini menari disini"
"Bukankah kedai makan ini milik Tuan Yu?"
"Ahh! Aku baru ingat dia Nyonya baru yang mengurus bisnis Tuan Yu!"
"Sepertinya Putri Tuan Yu yang lain!"
*Ahh... sebenarnya Mami meminta Kak Anna yang menjalankan bisnisnya, jadi wajar saja dia mau menari disini. Demi menarik banyak pelanggan" Batin Keyzee, keluar masuk Istana bagi mereka berdua sangat mudah. Hanya dengan menunjukkan plakat milik ibunya mereka bisa main sepuasnya diluar istana.
"Menyebalkan" Gumam Anna, ia mengerutkan alisnya saat merasa kedutan tiba tiba di kakinya.
Riasan yang sangat natural dengan hanfu berwarna merah membuatnya sukses menarik banyak pelanggan. Para pelanggan tidak akan bingung lagi jika Anna tiba tiba berhenti menari ditengah tengah karena mereka menganggap bahwa tarian ini memang sengaja diberhentikan dan akan dilanjutkan besok.
"Minum obatmu, aku akan memanggil kereta kuda kemari" Kata Keyzee, ia melemparkan kantung kecil berisi beberapa botol obat kepada Anna.
"Terima kasih lain kali sebaiknya kau tidak perlu ikut" Kata Anna, ia mengeluarkan dua pil obat dan menelannya sekaligus.
"Hee! Aku ini cemas padamu kak! Demi kamu aku bisa melakukan apa saja!" Kata Keyzee, ia memukul dadanya sendiri belagak seperti seorang pahlawan.
"Bukankah demi menghindari Guru besar Gu" Kata Anna membuat adiknya itu terbatuk batuk.
"Yaa...."
"Aku ambil kereta kuda dulu" Kata Keyzee dengan cepat dia pergi dari sana.
*Dasar bodoh....- Batin Anna, ia selalu terhibur dengan tingkah Keyzee yang kadang terlihat sangat manis.
*Tetapi tidak dipungkiri rasa iri itu masih ada- Batin Anna, ia selalu melihat kebawah, bukannya merendah tetapi melihat kaki seseorang bukan wajah.
"Apa yang kau lakukan!" Teriak seorang pria membuat Anna tersentak padahal baru saja dia ingin menutup mata sambil bersandar dipohon besar yang ada dibelakangnya.
"Kau mau menjual gandum kita lagi? Bagaimana dengan Dong'er?! Dia belum makan dari kemarin"
"Apa urusannya denganku! Dia kan anakmu! Istri baruku sedang hamil, dia ingin makan mie dingin!" Kata pria itu, ia merebut paksa sekarung gandum dari wanita itu. Kejadian itu ada didepan matanya tepatnya beberapa meter darinya.
*Tidak ada hubungannya denganku. Abaikan saja Anna- Batinnya berkali kali, ia mengatakan hal itu meski mendengar jeritan dan suara pukulan yang keras si pria kepada wanita itu.
"Dong'er juga anakmu! Ini gandum yang aku tanam! Kenapa kau mengambilnya demi wanita lain!" Teriak wanita itu mereka menjadi tontonan orang orang yang lewat tetapi tak ada satu pun dari mereka yang mau menolong sang wanita. Itu karena tubuh besar si pria membuat mereka takut.
"Diam kau! Kau istriku! Semua milikmu adalah milikku!!" Teriak pria itu melihat istrinya yang memegang erat karung gandum itu walaupun sudah dipukulnya berkali kali, membuatnya menjadi geram, ia mengambil kayu yang berada disebelahnya dan memukul kepala istrinya itu agar ia melepaskan karung gandumnya.
"Mati saja sana!!!" Kata si pria, dia hendak memukul sang wanita tetapi tak disangka sang anak menghalangi kayu itu untuk ibunya.
"Dong'er!!" Teriak wanita itu, ia melepaskan karung gandumnya dan memeluk anak laki lakinya.
"Ibu tidak apa kan?!"
"Kenapa kau menghalangi ibu! Lihat ini! Lenganmu berdarah" Lirih sang wanita, ia memeluk anaknya itu sekencang kencangnya.
"Makanya seharusnya dari tadi kau menurut! Jika tadi kau menurut Dong'er tidak akan luka seperti itu" Kata pria itu, saat ingin mengambil karung gandum yang berada dibawahnya, Anna menginjak karung gandum itu terlebih dahulu.
"Kau merasa hebat dengan memukul wanita dan anak anak?" Tanya Anna, ia sedikit menyesal karena bersikap abai tadi. Jika ia menolong wanita ini mungkin sang anak tak akan terluka.
"Kau siapa?! Jalangg!" Teriak pria itu, awalnya dia kesal tetapi saat melihat Anna dari atas sampai ke bawah ia tersenyum miring.
"Apa kau mau menjadi istriku? Aku bisa memberimu berkarung karung gandum!" Awalnya pria itu marah tetapi saat Anna berbalik ia terpanah akan kecantikan yang dimiliki Anna.
"Haa....."Anna tak menjawab ia hanya menghela nafasnya.
"Aku baru saja meminum obat entah efeknya akan terlihat atau tidak"kata Anna ia mulai mereggangkan otot lengan dan kakinya. Pria itu hanya tersenyum mesum, ia mengartikan kata kata itu sebagai hal yang negatif.
"Kita coba saja" Lanjut Anna, dia mengambil ancang ancang melebarkan kakinya dan menendang wajah pria itu.
"Begini begini aku pernah ikut wushu saat SMP" Gumam Anna, ia menoleh ke belakang membawa karung gandum itu ke dekat wanita dan anak laki lakinya.
"Ambil kembali" Kata Anna, ia juga mengeluarkan sekantung tael perak.
"Jalangg sialan" Teriak pria itu, ia memegang wajahnya, pipinya mengeluarkan darah lalu mengambil kayunya lagi dan hendak memukul Anna.
"Cepat tapi jika konsentrasi akan terbaca"gumamnya ia mengambil kayunya dan memukul kepala pria besar itu, darah segar keluar dari kepala si pria entah kenapa hati Anna bergetar, ia ingin memukul pria itu lagi. Tanpa sadar tangannya terangkat keatas ia hendak memukul sang pria lagi tetapi tangan besar menahannya dari belakang.
*Darah... kenapa rasanya aku suka melihatnya kesakitan- Batin Anna tatapan kosongnya membuat semua orang yang melihatnya ketakutan.
"Sudah cukup Nona..."
"Anda bisa menjadi pembunuh jika memukulnya lagi" Kata seorang pria yang tiba tiba datang dari arah belakang, ia mengambil kayu yang berada ditangan Anna dan memeluknya.
"Kepala Pengawal di belakang anda!!" Teriak Yong ternyata si pria tak menyerah, ia mengambil kapak yang berada didepan rumahnya dan mengayunkannya ke arah Ri Won .
Jlebb!!
Dari belakang Ri Won menghunuskan pedangnya sampai menembus tubuh sang pria.
"Akhirnya dia juga mati tuh" Kata Anna dengan datar.
"Setidaknya anda tidak perlu menjadi pembunuh. Tangan suci wanita tak boleh dikotori dengan darah" Kata Ri Won sambil tersenyum ramah, ia sama sekali tak berminat melepaskan Anna walaupun Anna melihatnya dengan lekat. Wajah datar Anna sudah menegaskan kalau dia tak suka dipeluk.
"Apa aku harus bilang lepas baru kau melepaskanku?" Tanya Anna kepada Ri Won bahkan saat Yong menutup mulutnya tak percaya dengan tingkah Ri Won yang mengabaikan ekspresi Anna.
"Tergantung bagaimana cara anda memintanya" Jawab Ri Won sambil menghela nafasnya, berbeda dengan dirinya saat muda. Dirinya yang sekarang lebih suka tersenyum dan sangat bebas. Dia tak peduli dengan statusnya sebagai Pangeran Dinasti Joseon atau tawanan perang. Baginya diberi kesempatan untuk menjadi pengawal istana saja sudah membuatnya sangat bersyukur.
"Maaf? Seumur hidupku...."
"Tidak ada kata meminta"kata Anna tatapan kosong itu sangat mengerikan, tatapan yang sama saat Anna hendak membunuh sang pria pikir Ri Won.
"Ahaaaa...."
"Anda sangat berpegang teguh pada prinsip"kata Ri Won tangannya tiba tiba menjauh dari tubuh Anna, ia menjauh beberapa langkah darinya.
"....." Anna tak menjawab, ia berjalan kembali ke pohon besar menunggu adiknya kembali membawa kereta kuda, ia berjalan sangat pelan karena kakinya gemetar setelah memukul pria tadi.
Brukkk
Anna terjatuh membuat Ri Won terkejut. Dia ingin menolong saat Anna mulai kehilangan keseimbangan tadi tetapi mengingat tatapan mengerikan itu membuatnya angkat tangan lagi.
"Aku kira kau bukan pria sejati"kata Anna, ia menenggok ke belakang menatap Ri Won dengan sinis, rambutnya penuh dengan daun kering.
"Saya? Bukankah anda tidak suka disentuh?" Tanya Ri Won dengan polosnya, kenapa sekarang dia merasa seperti bajingann.
"..." Anna berpaling tatapannya berubah menjadi lebih mengerikan seperti singa betina yang siap mengamuk. Berkali kali dia mencoba berdiri, walaupun berhasil ia masih sulit berjalan.
"Seharusnya kalau mau saya rangkul bilang saja! Dengan senang hati saya melakukannya"kata Ri Won, ia mengangkat Anna layaknya anak kucing jelas itu bukan cara yang benar merangkul seseorang.
"Aku merasa seperti anak kucing" gumam Anna.
"Kemana tujuan anda?.... Bla... Bla... Bla..."sepanjang jalan Ri Won terus mengoceh. Anna hanya menunjukan jalannya saja dia tak bisa berbicara banyak karena Ri Won terus berbicara.