I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
78. Berpindah Hati



"Kaisar sudah memiliki putra dan Pangeran Keempat mengatakan akan menjadikannya Putra Mahkota... ya itu memang harus terjadi karena Permaisuri tak memiliki kesempatan lagi"gumam Rong Tian, masalah internal Kekaisaran Qin sangat menarik baginya.


"Kenapa dia tak memiliki kesempatan lagi?"tanya Kaisar, ia melihat Rong Tian yang berjalan menuju kearahnya.


"Karena dia mandul"gumam Rong Tian, ia menjawab secara tak sadar.


"Hah? Mana? Siapa?"tanya Rong Tian, ia tersadar dan melihat kanan dan kirinya.


"Oh... salam Yang Mulia"sapa Rong Tian saat melihat Kaisar yang berada didepannya.


"Sampah sepertinya kenapa bisa jadi Permaisuri?"tanya Kaisar raut wajahnya terlihat datar, ia berdecih kesal kenapa bisa menikahi wanita tak berguna, tak bisa hamil dan sekarang kabur dari tanggung jawabnya sebagai istri dan seorang Permaisuri.


"Saat kau ingat apa yang kau katakan mungkin kau akan memotong lidahmu sendiri"kata Rong Tian dengan kesal, ia menyipitkan matanya. Apa apaan orang ini dulunya sangat menggilai Liu Wen sekarang ia malah menghinanya.


"Dari pada itu... aku sudah menyukai seseorang"kata Kaisar pipinya bersemu merah.


"Ha..hah? Se,,serius? Si...siapaa?"tanya Rong Tian yang terkejut, apa akhirnya ia melepaskan Liu Wen dan memilih wanita lain yang dia cintai itu.


"Matanya lebar dan tajam, senyumnya sangat khas dan menarik lalu dia sangat agresif, untuk namanya..."Kata Kaisar, ia mendeskripsikan wanita pujaannya dan berhenti sejenak menatap Rong Tian yang sepertinya tak sabar mendengar kelanjutkan kata katanya.


"Rahasia"sambung Kaisar membuat Rong Tian kesal.


"Bisa...bisanya kau mempermainkanku!"teriak Rong Tian, ia hampir membuat wajah Kaisar penuh dengan liurnya.


"Tetapi dari deskripsinya mirip dengan Putri Pertama"gumam Ring Tian.


"Semoga anakmu tak ada yang sama menyebalkannya denganmu!"teriak Rong Tian, ia melipat tangannya didada dan mendengus kasar.


Disisi lain


"Anda melakukan kesalahan dalam mengambil keputusan memberi bantuan dana permanen kepada Desa Zhodli"kata Aiden sambil menunjuk seorang wakil rakyat yang sedang berpidato didepan umum.


"Ai...!"Liu Wen langsung menutup mulut anaknya itu bisa bisanya Aiden membuat ulah lagi.


"Biarkan dia bicara, putra kita sangatlah pintar"kata Presdir Mike, ia merangkul Liu Wen dengan mesranya.


"Lepaskan tangan kotormu"kata Liu Wen, ia sangat kesal saat melihat wajah Presdir Mike.


"Aku sudah cuci tangan kok"kata Presdir Mike dengan polosnya.


"Mike Su! Jangan membuatku marah"kata Liu Wen dengan penuh penekanan ia tersenyum paksa karena banyak orang disini.


"Sayang apa yang kamu katakan"kata Presdir Mike, ia mempererat rangkulannya.


"Putraku ingin mengungkapkan pendapatnya bagaimana Tuan Qi apa dia boleh berbicara?"tanya Presdir Mike kepada seorang pria yang menjadi wakil rakyat itu.


"Tentu saja"kata Tuan Qi, ia cukup penasaran mengapa bocah berusia enam tahun itu bisa berkata begitu.


"He...hei! Kau...! Jangan memanjakannya.."kata Liu Wen, ia menyenggol dada Presdir Mike menggunakan sikutnya.


"Tidak apa putra kita sangat pintar, apa yang kau takutkan"kata Presdir Mike, ia mengendong Aiden untuk naik ke podium bersama.


"Putra kita apaan! Dia anakku saja"gumam Liu Wen, ia tak suka gaya bicara Presdir Mike yang sok kenal begitu.


"Apa yang saya katakan barusan memiliki poin dasar, yang pertama Desa itu berada di perbatasan dua negara dan secara geografis dan sejarah desa itu milik negara tetangga jadi negara kita tak memiliki tanggung jawab untuk membantu desa itu secara besar besaran"


"Yang kedua, jika ingin memberi bantuan kemanusiaan, lebih baik memberi bahan bahan pokok karena jika memberi bantuan berupa uang, mereka akan sulit menukarkannya disituasi bencana ini"


"Bukankah Desa Zhodli masih milik negara kita bahkan nama desa ini terdaftar di negara kita"kata Tuan Qi, omong kosong apa yang anak ini katakan jika bukan anak Presir Mike, ia enggan mengatakan hal yang menyinggung Keluarga Su dan Liu.


"Itu hanya pengakuan secara sepihak. Bukankah pihak Mongol sudah pernah menuntut hal ini dan disetujui oleh PBB? waluapun begitu Tiongkok masih mengajukan banding dan mencari alasan baru untuk mendapatkan desa itu. Apakah ini termasuk pengambilan hati rakyat agar memisahkan diri dengan negara aslinya dan beralih ke negara kita?"tanya Aiden, ini adalah saat klimaksnya yakni disaat pegawai pemerintahan ini mulai emosi atau gugup, ia sangat menyukai ekspresi mereka.


"Nak.... Tiongkok negaramu, kenapa kamu berkata begitu"ucap Tuan Qi, ia sangat tahu tentang hal itu tetapi ini perintah atasannya mengumpulkan uang sebagai dana amal.


"Karena saya lahir negara ini, saya tahu betul bagaimana pola pikir anda dan atasan anda"kata Aiden sambil tersenyum licik ia sukses membuat semua orang terdiam disituasi yang menegangkan.


"Hahahaha, sudah cukup! Maaf jika putraku sedikit kasar kepada anda"kata Liu Wen ia menyuruh Aiden menundukan kepalanya.


"Hahaha, Nyonya beruntung memiliki putra yang berbakat sepertinya! Saya sangat terhormat mendengarkan pendapat Tuan Muda"kata Tuan Qi untuk mencairkan suasana ia harus bersikap ramah, ini juga dilakukan untuk menjaga imejnya.


*Itu hanya alasan atasannya untuk mengumpulkan uang dari rakyat dan memakai uang itu sendiri! Negara kita tidak salah walaupun Tiongkok mengajukan banding tetapi Mentri Zhang sudah mengakui Desa itu milik negara tetangga! Mereka ingin menjatuhkan negara sendiri demi uang! Dasar pejabat korup!-batin Aiden, ia juga tahu tentang masalah desa itu karena menjadi perbincangan hangat beberapa waktu lalu tetapi menurutnya negaranya ini sudah menyerah dan mengakui hak desa itu, hal ini pasti sengaja mereka lakukan karena ingin mengambil dana amal itu untuk dirinya sendiri.


"Mami... aku belu..."belum selesai Aiden mengutarakan pendapatnya Liu Wen mendekap mulut Aiden mengunakan tangannya dan mengajaknya turun dari podium.


"Aiden! Mami sudah katakan,jangan lakukan hal ini lagi..."kata Liu Wen, ia duduk untuk menyetarakan tinggi badannya dengan putranya.


"Aku tak bisa menahan diri"kata Aiden memalingkan wajahnya.


"Jika kau berkata begitu, kau sama saja menghina negara kita, itu tidak baik! Mami tahu bukan itu maksudmu tapi sebagian orang yang tak mengerti maksudmu akan merasa kau sedang menghina negaramu sendiri"kata Liu Wen walaupun sebenarnya orang orang tak terlalu mendengarkan perkataan Aiden, dan justru malah gemas melihat tingkahnya yang seperti orang dewasa itu.


"Fei... jangan marahi dia"Kata Presdir Mike.


"Memangnya kenapa dia putraku!"kata Liu Wen, ia berdiri tegak dan melipat tangannya didada.


"Sangat tidak boleh... dia juga putraku"kata Presdir Mike ia menyentil dahi Liu Wen.


"H..hum... baiklah mami, jangan bertengkar dengan paman Mike, aku tak akan mengulanginya"Aiden mengerucutkan bibirnya padahal ia


suka melihat ekspresi seorang politikus yang kalah dalam berdebat.


"Jika mau nanti paman ajak ke konfresipres pilpres"bisik Presdir Mike kepada Aiden membuat Aiden semangat kembali.


"Ini... cepat beli ice creamnya"kata Presdir Mike ia memberi black cardnya kepada Aiden.


"Tapi aku tak ingin makan ice cream"kata Aiden, ia memiringkan kepalanya, uang dari ibunya juga ada jika ia menginginkan sesuatu ia bisa beli sendiri.


"Ohh kalau begitu tolong belikan paman dan mami"kata Presdir Mike, ia ingin mengusir Aiden sebntar karena ingin berbicara secara pribadi dengan Liu Wen.


"O...oke"Aiden pun pergi mencari kedai ice cream.


"Apa masih marah karena yang kemarin?"tanya Presdir Mike, ia diabaikan seratus persen oleh Liu Wen padahal saat itu ia mengambil penerbangan pertama ke Tiongkok.


"Apa? Aku tak memiliki masalah denganmu"gumam Liu Wen, ia tak mau menatap wajah Presdir Mike.


"Dia adik tiriku Dei, dia suka menggodaku dan mengajakku berhubungan sex dengannya..."kata Presdir Mike begitu saja entah sekecil apapun ada kesalahpahaman diantara mereka, ia ingin meluruskannya.


"Kenapa kau mengatakannya padaku?Aku tak peduli"kata Liu Wen, ia masih tak ingin melihat Presdir Mike.


"Karena calon ibu dari anak anakku harus tahu hal ini, aku setia. Nyonya Su sudah didepan mataku untuk apa aku mencarinya lagi"kata Presdir Mike, ia mengarahkan kepala Liu Wen agar melihat matanya ada keseriusan dimata Predir Mike sesaat mereka terbuai oleh suasana dan hendak berciuman tetapi Aiden kembali lalu mengacaukan semuanya.


"Apa kalian sedang bermain tatap tatapan"tanya Aiden membuat mereka segera menjauh.


*Ada apa sih?-batin Aiden yang binggung.