
"Pangeran Keempat...."gumam Liu Wen.
"Dia dari dulu tidak ingin terlibat dalam urusan perebutan tahta karena tertarik dengan ilmu pengobatan oleh sebab itu Selir Lin membuangnya dan mengutuk anaknya sendiri"Liu Wen berpikir sejenak sebelum masuk ke istana dia sudah mempelajari seluruh sejarah yang terjadi disini.
"Ahh.... sayang sekali padahal dia tampan!"kata Liu Wen memajukan bibirnya.
( Entah apa hubungannya? xixixi )
"Apa yang sedang kau lakukan?"tanya Kaisar Qin yang tiba tiba datang dan memeluk Liu Wen dari belakang.
"Menikmati bunga..."sahut Liu Wen, ia menghela nafasnya dan membiarkan saja Kaisar memeluknya.
"Kau sendiri? Apa yang kau lakukan disini?"tanya Liu Wen, karena pelukan Kaisar semakin erat dan membuat perut Liu Wen sakit, ia mencubit tangan Kaisar yang melingkar dipinggangnya.
"Aku mendengar kabar bahwa kau tak bisa mengandung tersebar di istana! Aku khawatir kau akan sedih makanya aku menghampirimu kesini"kata Kaisar membenamkan kepalanya ditengkuk leher Liu Wen.
"Aku baik baik saja.... kau tahu itu! Tak perlu menghiburku"kata Liu Wen dengan dingin.
"Jika saja... jika saja aku tak memberimu hukuman itu. Ini tak akan terjadi"kata Kaisar, ia menatap senduh Liu Wen dari belakang.
"Berhentilah mengenang masa lalu, kau takkan bisa kembali ke masa itu walaupun kau menyesal beribu ribu kali"kata Liu Wen dengan serius, ia membalikkan badannya dan menatap wajah Kaisar.
"Hahhhh.... kau benar?! Yang bisa kulakukan adalah menebus kesalahan itu sekarang"Kaisar menghela nafasnya.
"Oh ya di istana ini ada dua Pangeran lagi kan?"tanya Liu Wen, ia memilih duduk dibawah pohon sakura karena kakinya kram.
"Mmm iya. Adik keempat dan adik ketujuh"kata Kaisar, ia mengangguk dan ikut duduk disamping Liu Wen.
"Kalau dulu ada berapa pangeran?"tanya Liu Wen membuat wajah Kaisar sedikit sedih.
"Ahh.... apa aku salah bicara"Liu Wen memalingkan wajahnya.
"Tidak... dulu aku memiliki 12 adik. Mereka semua sudah meninggal karena sakit, kebanyakan dari mereka meninggal diusia muda yaitu 8 sampai 9 tahun. Aku juga pernah sakit parah waktu usiaku 15 tahun tepat pada saat pengangkatan diriku sebagai Putra Mahkota"kata Kaisar sambil menatap langit.
"Adik keempat dan ketujuh termasuk kandidat pewaris tahta tetapi dihari ulang tahun yang ketujuh belas adik keempat bersumpah tak akan ikut menjadi kandidat pewaris karena ia ingin menjadi seorang tabib tentu saja Selir Lin marah besar sehingga mengutuk anaknya sendiri, sedangkan adik ketujuh yang merupakan Jendral perang. Sepanjang tahun ia ditempatkan diperbatasan dan jarang pulang"sambung Kaisar, itu adalah perintah ibunya menyuruh anak berusia 9 tahun ikut berperang agar Qin Guan Yi mati disana tetapi bagaikan kucing. Nyawa Qin Guan Yi tak pernah terrenggut.
"Hmmm.... hidup di istana tidaklah mudah saat kau hidup disini kau dipaksa memilih antara membunuh dan dibunuh"kata Liu Wen, ka memegang tangan Kaisar sudah berapa lama pria itu menahan semua cobaan sampai bisa naik ke atas tahta ini. Pernah ia membaca dibuku. Demi memperbutkan tahta para Pangeran akan saling membunuh, itu membuatnya sedikit sedih.
"Yahh itulah kenyataannya. Aku sangat sedih kehilangan mereka"
"Walau mereka mau membunuhmu?"tanya Liu Wen menatap tajam kearah Liu Wen.
"Ya walau bagimanapun mereka adikku"kata Kaisar dengan senyum tercetak diwajahnya.
"Huhhh..."
Liu Wen memalingkan wajahnya, air matanya jatuh. Dia terharu mendengarnya, entah terlalu bodoh atau karena hatinya yang rapuh membuat Kaisar mencintai musuh musuhnya itu.
"Walau begitu membunuh seseorang juga tak dibenarkan. Jika... jika.... Ibu suri yang membunuh adikmu itu bagaimana?"tanya Liu Wen dengan ragu, ia takut Kaisar marah mendengar hal ini. Liu Wen menilai dari wajah Ibu suri dan sifatnya, ia pasti seorang pembunuh.
"Tidak mungkinn... Ibunda memang kejam tetapi ia orang yang baik, tak mungkin berani membunuh orang"
"Kau tak mengerti. Seorang ibu bisa melakukan apa saja demi anaknya"gumam Liu Wen walaupun sampai mengorbankan nyawa seorang ibu mampu melakukannya.
*Awalnya dia ingin menyelamatkan anaknya dari kematian, lama lama dia merasa bahwa hanya anaknya saja yang pantas menjadi Kaisar karena terlahir dari rahim Permaisuri sehingga menciptakan ego dan akhirnya melenyapkan penghalang bagi anaknya itu, apa aku benar? Atau karena kebanyakan ikut nonton sinetron sama ibu jadi aku memikirkan hal ini?-batin Liu Wen banyak yang dia pikirkan mengenai misteri ini.
"Aiyaaa.... kepalaku pusing"kata Liu Wen kepalanya berdeyut tiba tiba ia memegang kepalanya.
"Kau kenapa?"tanya Kaisar memegang pundak Liu Wen.
"Aku sedikit pusing. Aku mau kembali ke kediaman"kata Liu We, ia berdiri dan hendak pergi kediamannya.
"Kupanggilkan tabib ya?"tanya Kaisar dari belakang.
"Tidak perlu adik iparku sudah memberi obat yang sesuai denganku"jawab Liu Wen, ia menepuk bungkusan kecil berisi obatnya sambil tersenyum.
"Kapan kau bertemu adik keempat?"tanya Kaisar lagi, adiknya itu jarang sekali keluar kenapa mereka bisa bertemu secara kebetulan.
"Beberapa saat yang lalu tapi dia sangat dingin! Hanya memberiku ini dan langsung pergi"kata Liu Wen melanjutkan perjalanannya.
"Wen'er...."panggil Kaisar, ia terkejut mendengar panggilan akrab Liu Wen untuk adiknya itu.
"Apa lagi?"kata Liu Wen, ia berbalik dan menatap malas Kaisar kalau begini ia tak akan sampai sampai lagi kekediamannya.
"Bagimu aku ini siapa?"tanya Kaisar dengan serius.
"Teman tidur!! Prffff... tidak tidak... teman! Temanku!"kata Liu Wen kali ini dia tak akan berbalik lagi meski namanya dipanggil.
"Tunggu saja! Aku akan membuat kisah teman jadi cinta"gumam Kaisar tersenyum dan melambaikan tangannya.
******
Kediaman Phoenix
"Yang Mulia Permaisuri... hamba sudah siapkan supnya silakan makan"kata Meng menyambut Liu Wen yang baru saja masuk.
"Baik! Kau seduh ini dulu aku mau meminumnya"Liu Wen memberikan kantung berisi madu dan bunga krisan.
*Mmmm.... ini bunga krisan kering dan madu bukankah ini teh aromaterapi untuk ibu hamil agar tak mual?! Apa Yang Mulia benar benar hamil? Atau seperti rumor yang beredar-batin Meng, ia ingin bertanya tetapi dua rumor yang beradu antara Liu Wen mandul dan hamil, ia mengurungkan niatnya itu karena takut Liu Wen akan sedih.
"Yang Mulia teh anda"kata Meng menyerahkan cangkir teh kecil berisi penuh teh bunga krisan.
"Wahh! Aku benar benar tidak mual lagi! Pangeran keempat bukan tabib kaleng kaleng ternyata"Liu Wen terkejut karena setelah meminumnya beberapa kali rasa mualnya hilang. Ia tersenyum senang karena ia bisa makan tanpa rasa mual dan tidur teratur.
"Syukurlah Yang Mulia..."kata Meng, ia memegang dadanya dan menghela nafas bersyukur karena obat kali ini cocok dengan Liu Wen.
"Ehh? Pangeran Keempat kata anda?"tanya Meng baru sadar Liu Wen menyebut nama Pangeran Keempat.
"Iya tadi tiba tiba dia memberiku ini nanti kalau sudah habis tolong beli lagi ya!! Atau minta saja dengan Pangeran Keempat"kata Liu Wen dengan cengegesan.
"Yang Mulia...."Meng tertawa ringan.
"Hatchuiii! Udara makin dingin sebaiknya aku kirimkan beberapa obat pereda nyeri rasa manis untuk kakak ipar"kata Qin Junxi- Pangeran Keempat Kekaisaran Qin.
"Qin Junxi! Sampai kapan kau membangkang Ibunda!"teriak wanita dari luar pintu kediaman Pangeran keempat.
"Pangeran... Selir Lin datang lagi dan kali ini berteriak sepanjang malam"kata Pengawal pribadi Pengeran keempat.
"Biarkan saja. Aku tak mau bertemu dengannya"kata Qin Junxi dengan dingin, ia melihat beberapa dokumen yang berserakan dilantai dan tersenyum tipis saat melihat gambaran lusuh dibawah tumpukan rempah obat.
"Kakak Xuan selamanya. Aku takkan pernah bisa menyakitimu"kata Qin Junxi dengan senyuman hangat diwajahnya.
****
Beberapa tahun yang lalu
"Xi'er!! Lanjutkan menulismu!! Ini kitab yang akan kau salin hari ini!! Hari ini harus selesai jika tidak kau tidak boleh makan!"kata selir Lin kepada Qin Junxi Pengeran Keempat yang masih berusia lima tahun.
"Baik Ibunda"serunya tangan kecilnya mengayunkan kuas kesana kemari menyalin kitab yang setebal (kamus bahasa inggris yang ada di era modrn). Sejak umurnya tiga tahun ia sudah diwajibkan untuk belajar agar menjadi Pangeran yang pintar dan disayang Kaisar. Setiap hari hanya belajar dan belajar saat menginjak usia delapan tahun ia diwajibkan belajar bela diri entah sudah berapa luka dibadannya itu tak memuaskan Selir Lin.
"Xi'er!! Kau harus lebih berusaha lagi.... Pangeran pertama tahun depan akan diangkat menjadi Putra Mahkota!! Kau harus merebut posisi itu untuk Ibunda. Kau harus lebih hebat darinya!"kata Selir Lin dengan tatapan mengerikan.
"Tapi... Ibunda. Kakak Xuan memang pantas jadi Putra Mahkota.... aku.. juga tidak tertarik. Aku lebih suka meracik obat"kata Qin Junxi ia menahan sakit dibahunya karena luka sayatan pedang.
Plakkk
"Tidak! Tidak bolehh! Kau harus jadi Putra Mahkota! Haruss!!"teriak Selir Lin, ia menampar Qin Junxi akan ucapannya.
"Tidak boleh menjadi apapun selain Kaisar! Tidak... tidak bolehh!!"Selir Lin membakar buku pengobatan dan tanaman obat yang dikumpulkan Qin Junxi.
"Ibundaa"lirih Qin Junxi dengan wajah senduh.
"Hahahaha.... belajar yang benar anakku sayang dapatkan posisi Putra Mahkota itu untukku"Selir Lin tertawa senang pergi dari kediaman Pangeran.
"Adik kau tak apa?"tanya Qin Xuan, Kaisar memeluk Qin Junxi yang menangis terlungkup dibawah lantai.
"Kakak!!! Tanaman obatnya dibakar Ibunda"tangis Pengeran Keempat pecah melihat tanaman obat yang ia kumpulkan bersama Qin Xuan hancur menjadi abu.
"Tidak apa kakak akan menemanimu mengumpulkannya lagi! Jangan menangis ya"kata Qin Xuan tersenyum simpul dan menghapus air mata adiknya. Hampir setiap hari Qin Xuan bermain dengan Qin Junxi tentunya secara diam diam baik Selir Lin maupun Ibu suri tak ada yang suka jika mereka bersama.
"Siapa disana?"kata Qin Xuan yang mendengar bunyi jendela terbuka.
"Oww? Apakah anda Pangeran Pertama??! Kebetulan sekali bisa membunuh dua burung dengan satu batu"kata seseorang berpakaian hitam, ia masuk lewat jendela.
"Kakak.... aku takut...."kata Qin Junxi memeluk kakaknya dari belakang.
"Tenanglah... kakak ada disini. Pengawal!!"teriak Qin Xuan namun tak ada seorang pun yang muncul.
"Teriak saja kami sudah membunuh semua penjaga istana! Untung hanya kita berdua yang datang. Hanya dua anak kecil saja, apa lagi ada calon Putra Mahkota, Nyonya akan memberi kita banyak emas"kata pembunuh itu kepada temannya.
"Matilah dengan tenang agar kalian tak menderita lagi"kata pembunuh itu, ia mengayunkan pedangnya kearah mereka.
Clangg
"Aku seorang Pangeran hanya melawan sampah seperti kalian ini tidak akan sulit"kata Qin Xuan menangkis pedang pembunuh itu.
"Adik kamu kebelakang ya... Kakak xuan akan bereskan ini"senyum Qin Xuan dan dibalas anggukkan oleh Qin Junxi. Mereka saling beradu pedang, disaat musuh sudah lemah dan ada kesempatan Qin Xuan menyerang, ia melihat pembunuh lainnya hampir membunuh Qin Junxi membuatnya tanpa pikir panjang berlari kearah Qin Junxi.
"Kakak...."mata Qin Junxi membulat melihat darah segar diperut kakaknya dan darah pembunuh disampingnya memercik mengenai wajahnya.
"Heh?! Pangeran Pertama sangat sayang adiknya, walaupun hanya anak Selir rendahan ayahnya! Apa Pangeran tidak takut adik kecil anda membunuh anda suatu hari nanti?"tanya pembunuh satunya yang terlihat lemah dan hampir mati.
"Kakak..."lirih Qin Junxi tak disangka Qin Xuan tulus menyanyanginya.
"Tidak peduli kau lahir dari rahim siapa. Bagiku kau tetap adikku"senyum Qin Xuan memegang pipi Qin Junxi dan menghunuskan pedangnya tepat mengenai pembunuh satunya kebelakang tanpa berbalik.
"Jika aku mati. Berjanji padaku bahwa kau akan menjadi Putra Mahkota. Aku akan mendukungmu dari atas sana"kata Qin Xuan tak lama ia pingsan.
"Aku takkan membiarkanmu mati kak! Seumur hidup aku akan membantumu dikondisi apapun"kata Qin Junxi sejak hari itu, ia selalu bersikap dingin kepada selir Lin sampai ia mengucapkan sumpahnya tidak akan pernah naik tahta diulang tahunnya yang ketujuh belas membuatnya bebas sepenuhnya. Ya karena Kaisar terdahulu menyetujuinya jadi tak ada yang berani melawan termasuk selir Lin, Selir Kesayangan Kaisar saat itu.
*****
"Terima kasih kakak Xuan. Bagiku kau pahlawanku" Pangeran keempat mencium gambar itu dan tersenyum lebar.