I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
Extra Part Kematian Si Pecundang



"Beraninya kau menipuku!" teriak Woo Rin, ia berusaha merebut surat yang dipegang Raja Nam Wok ditangannya. Bahkan saat Raja Nam Wok sudah matipun surat itu masih pegang dengan erat.


"Aku yang akan Raja! Jika surat ini hilang aku pasti akan jadi Raja selanjutnya" kata Woo Rin, ia membakar surat itu di perapian dan menyisakan bagian stempel kerajaan.


"Bawa ini diam diam ke kediaman Jendral Hwang letakan ditempat yang sulit dicari!"


"Aku pastikan besok hukuman mati untuk kakakku tercinta akan dilaksanakan" seru Woo Rin, ia memiringkan kepalanya sambil tersenyum membuat Kasim Go ketakutan saat ingin mengambil potongan surat itu dari tangan Woo Rin.


"Jangan salahkan aku bersikap kejam begini! Setidaknya.... aku berterima kasih kepada ayahanda karena memainkan sandiwara itu. Semua orang tak akan mencurigai kalau aku lah yang membunuhmu" kata Woo Rin saat ia ingin datang ke kediaman Raja Nam Wok untuk meminta maaf dan berterima kasih karena sudah memperhatikannya dan akan memberikan tahta itu padanya. Ia tak sengaja mendengar perkataan Raja Nam Wok dengan Yong pengawal pribadi Ri Won.


Beberapa saat yang lalu


"Yang Mulia... Saya sudah berkerja keras mendapatkan semua ini. Sesuai dugaan anda Pangeran Woo Rin telah mengikuti banyak aktivitas ilegal. Ia juga sudah membunuh ribuan rakyat yang menyinggung dan melawan perkataannya. Pensehat Lim dan Ratu Hari juga banyak terlibat didalamnya" kata Yong ia memperlihatkan dokumen serta sketsa gambar orang orang yang terlibat dengan Woo Rin.


"Bagus Yong! Aku tak akan khawatir lagi jika semua ini terkumpul kita bisa menjatuhkan penasehat Lim dan Woo Rin" kata Raja Nam Wok, ia terlihat bahagia membuat Woo Rin terkejut. Ia masih belum begitu paham dengan situasi ini.


"Aku sudah lelah menyayanginya. Anak itu.... sesuai dugaanku dia banyak melakukan tindak kejahatan seperti kakeknya! Bahkan ia ingin membunuh Ri Won" kata Raja Nam Wok, ia menyusun semua berkas yang akan diserahkannya ke pengadilan besok.


"Dengan ini aku bisa membacakan surat keputusanku dengan tenang. Ri Won akan menjadi Putra Mahkota dan Raja selanjutnya..."


"Iya, saya juga mengharapkan hal yang sama. Ini sudah malam sebaiknya anda beristirahat" kata Yong ia pergi dari sana tak berapa lama Woo Rin mendobrak masuk pintu dan mengeluarkan pedangnya.


"Jadi selama ini kau menipuku! Hahh!" kata Woo Rin, ia tertawa. Air matanya keluar entah kenapa rasanya lebih menyakitkan dari pada saat Raja Nam Wok mengabaikannya.


"Lancang! Beraninya kau masuk keruanganku dengan angkuh begitu!" teriak Raja Nam Wok melihat Woo Rin yang seperti orang gila membuatnya takut.


"Selama ini hanya Ri Won kan anakmu? Apa ini? Kau sudah membuat surat keputusan kalau Ri Won yang menjadi penerusmu..." seru Woo Rin, ia mendekati Raja Nam Wok yang memegang erat surat itu.


"Sialann!!" teriak Woo Rin, ia mengayunkan pedangnya dan menebas kepala ayahnya tanpa rasa takut wajahnya penuh dengan darah ruangan itu pun seketika menjadi penuh dengan genangan darah Raja Nam Wok.


"Akhirnya dia mati... Ha...hahahahaha" tawa Woo Rin membuat para Dayang dan Kasim ketakutan. Mereka yang menyaksikan hal itu secara langsung terduduk gemetar. Apa lagi saat mata mereka tak sengaja menatap mata Woo Rin.


"Jika ada dari kalian yang masih ingin hidup lebih baik diam" kata Woo Rin, ia membersihkan pedangnya dan menatap para Dayang itu.


"Katakan saja Jendral Hwang! Jendral Hwang...."


"Jika kalian mengatakan hal itu aku jamin hidup kalian sampai masa yang akan datang" lanjutnya ia pergi dari sana, tak lupa Woo Rin menjatuhkan pedang keluarga Hwang milik Ratu Hyunseo yang dulu pernah diberikan untuknya diruangan itu.


*Tenang saja Ibunda. Setelah masalah ini selesai aku akan menjaga pedang itu lagi karena itu adalah pemberian anda yang paling berharga dihidupku-batin Woo Rin ia berhenti sejenak untuk melihat pedang itu dan pergi dari sana.


"Selesaikan sisanya" kata Woo Rin kepada Pejabat Pengadilan yang menjaga didepan kediaman Raja.


"Baik Yang Mulia! Penasehat Lim sudah mengatakan bahwa saya harus mengikuti perintah anda!" jawab Pejabat Pengadilan Kang. Malam ini ia sendiri yang membantu para pengawal menjaga Kediaman Raja. Para prajurit tak akan buka suara karena seluruh prajurit yang ada disana adalah orang suruhan Penasehat Lim.


"I...ib....ibliss.... Ha...haahhh"


"Da...darah!!"


"Kepala......!"


"Tolong Yang Mulia diserang!!" teriak Dayang Istana tak berapa lama pejabat pengadilan yang berjaga didepan datang.


"Siapa yang berani melakukan hal keji ini!"teriak Pejabat pengadilan Kang. Ia mengambil kepala Raja Nam Wok dan menaruhnya diatas tempat tidur bersama tubuhnya.


"Pedang keluarga Hwang! Jendral Hwang!" teriak Pejabat pengadilan itu.


Dayang yang menjaga pintu pun mengatakan hal itu berulang kali juga ia menyebut nama Jendral Hwang karena masih syok.


"Apa Jendral Hwang yang melakukannya?"


"Apakah itu benar?"


Dayang yang baru datang pun berlari keluar Istana Raja dan mulai menyebarkan berita itu tak lama gong dibunyikan tiga kali tanda berita duka.


"Tangkap Jendral Hwang atas tuduhan pemberontakkan! Seluruh keluarganya juga akan dihukum penggal besok!" kata Pejabat Pengadilan Kang. Dengan cepat bawahannya berlari ke kediaman Hwang untuk menangkap seluruh keluarga Hwang tak terkecuali Ri Won.


*Pangeran Ri Won akan tamat sekarang-batin Pejabat Pengadilan itu ia tak suka dengan Ri Won yang menurutnya tak pantas menyandang gelar Pangeran Joseon.


********


Kediaman Ratu


"Woo Rin??? A...apa yang terjadi?!" tanya Lim Hari ia melihat putranya berlumuran darah ditengah malam membuatnya takut.


"Woo Rin! Kakek dengar kau sudah membunuh Yang Mulia!" bentak penasehat Lim, ia baru saja datang ke Istana dengan tergesa gesa setelah mendengar berita kematian Raja Nam Wok.


"Apa?" gumam Lim Hari ia tak percaya Woo Rin sanggup membunuh ayahnya sendiri.


"Jelaskan kepada Kakek! Apa alasannya!" tanya Penasehat Lim, ia memang akan membunuh Raja tetapi bukan sekarang nanti saat Woo Rin diangkat menjadi Putra Mahkota besok ia baru akan dibunuh karena tak berguna lagi.


"Dia melakukan sandiwara selama ini. Dia tak menyayangiku. Selama ini dia berpura pura mendukungku agar kakek dan aku tak curiga dengannya yang sedang mencari bukti kesalahan kakek dan juga aku" jelas Woo Rin, ia menampilkan ekspresi dinginnya saat membunuh ayahnya tadi. Hatinya terasa mati. Ia tak tahu bagaimana besok akan bersandiwara ramah didepan orang orang.


"A..apa?! sialann! Raja bodoh itu mengelabuiku" kata Penasehat Lim, ia membaca kertas yang dipegang oleh Woo Rin. Semua kejahatannya ditulis secara rinci disana membuatnya gigit jari karena tak percaya.


"Aku sudah melakukan sesuai rencana. Kakek tenang saja! Jendral Hwang dan keluarganya akan mati! Ri Won juga akan mati" kata Woo Rin, ia mengepalkan tangannya dengan kuat, membayangkan Ri Won mati membuatnya sangat senang.


"Tidak! Pangeran Ri Won tidak boleh mati" seru penasehat Lim membuat Woo Rin tersentak.


"Kenapa! Dia penghalang terbesarku!" kata Woo Rin, ia menarik baju penasehat Lim karena marah akan perkataannya.


"Dia harus hidup menderita dengan menyandang nama pemberontak! Rakyat akan membencinya! Dan dia akan menjadi Pangeran buangan untuk kedua kalinya.... Woo Rin! Saat kau sudah jadi Raja kau bisa melakukan apa saja dan bisa merebut apapun yang menjadi milik Ri Won" kata Penasehat Lim, ia merangkul cucunya agar ia sedikit tenang.


*Aku mau dia mati! Dia harus mati-batin Woo Rin, ia tak bisa membiarkan kakaknya itu hidup karena alasan penderitaannya selama ini adalah Ri Won. Dia merebut semua yang seharusnya menjadi miliknya