
*Dia dibenci begitu dalam oleh Woo Rin hanya karena tak bisa memiliki anak? Apa ini karma karena dia sudah membunuh anakku- batin Eunyeon, ia melihat dari kejauhan bagaimana buruknya Selir Sun diperlakukan oleh pelayan dan Lim Hari saat tak ada lagi yang melindunginya.
"Ternyata ini lebih menyenangkan. Balas dendam yang terasa manis" gumam Eunyeon, ia berbalik dan hendak pulang ke kediamannya tetapi tak sengaja berpaspasan dengan Woo Rin dijalan.
"Heh... Aku tahu ka..." Woo Rin tersenyum miring ia melihat Eunyeon yang berjalan kearahnya membuatnya berpikir kalau Eunyeon akan datang padanya.
"...." Eunyeon tak bergeming ia melewati Woo Rin dengan memasang wajah dingin dan tak menegurnya sama sekali.
"Kau!!" teriak Woo Rin, ia diabaikan oleh Eunyeon, membuatnya tersentak. Ia pikir Eunyeon hanya marah untuk sementara waktu padanya tetapi setelah 8 bulan berlalu Eunyeon tak pernah meminta maaf dan meminta Woo Rin kembali bersamanya.
"Ehmm?" Eunyeon berhenti dan berbalik. Ia sangat malas meladeni Woo Rin karena semakin banyak ia berbicara dengan pria itu benteng yang dibendungnya selama 8 bulan bisa bisa hancur seketika.
"Anda bicara dengan saya?" tanya Eunyeon dia memiringkan kepala dan berlagak bodoh
"Tidak! Menjauh dariku!" bentak Woo Rin ia mengibaskan tangannya dan menunjuk Eunyeon
"Ya? Tetapi kita sudah sangat jauh Pangeran" jawab Eunyeon, ia tersentak karena Woo Rin tiba tiba mengatakan hal itu, ia merentangkan tangannya kedepan dan memperlihatkan jarak mereka yang lumayan jauh.
"Pergi sana!" kata Woo Rin kata katanya semakin tak terkendali. Entah kenapa ia marah kepada Eunyeon karena tak mencarinya dan mengabaikannya.
"Saya memang mau pergi tapi anda mengajak saya bicara, kalau begitu saya pergi" kata Eunyeon, ia semakin binggung dengan sikap Woo Rin aneh.
*Apa mungkin dia ada gangguan mental. Kok aku mau ya dengan orang gila- batin Eunyeon sepanjang jalan ia berpikir keras, apa alasan terbesarnya menyukai Woo Rin.
"Ckk!!! Beraninya dia mengabaikanku!" teriak Woo Rin ia memukul pohon karena sangat kesal.
"Pangeran bukankah anda membenci Nona Jang? Kenapa anda marah saat beliau mengabaikan anda? Bukankah seharusnya anda bahagia?" kata Tuan Muda Kim, ia yang mendengar suara aneh dari luar ruangannya langsung keluar karena tahu siapa yang ada disana serta apa alasannya kemari.
"Iya... Ta... tapi... Dia terlalu sombong! Aku akan memenggal kepalanya!" kata Woo Rin, ia mengepalkan tangannya dengan kuat walaupun darah segar mengalir Woo Rin seakan akan tak merasa kesakitan karena terbakar amarah.
"Anda menyukai Nona Jang" kata Tuan Muda Kim seketika wajah Woo Rin memerah.
"Tidak..ti..tidak!! Aku hanya suka Putri Yiwei" teriak Woo Rin layaknya anak kecil ia menyangkalnya dengan tegas tetapi wajahnya tertekuk masam.
"Anda menyukainya!"
"Sekali saja jujurlah pada dirimu sendiri Woo Rin!! Setidaknya dalam percintaanmu saja" kata Tuan Muda Kim ia membentak Woo Rin karena kesal. Woo Rin yang sekarang tak lagi menunjukan perasaannya yang sesungguhnya.
*Padahal dia sayang kakaknya. Padahal dia sayang Raja Nam Wok tetapi karena Penasehat Lim terus meracuni pikirannya dia bersikap begini-batin Tuan Muda Kim saat hendak berjalan masuk ke ruangannya tiba tiba sesuatu menembus tubuhnya.
"Kata siapa bawahan bisa meneriaki seorang Pangeran! Ini hanya sebagai peringatan untukmu!" kata Woo Rin, ia menusuk perut Tuan Muda Kim dengan belatinya tak terlalu dalam tetapi darahnya sudah banyak keluar.
"Kakek benar! Kau berada di pihak kakakku itu sebabnya kau terus membujukku agar tak melawan kakakku sendiri" lanjutnya ia menarik belatinya keluar dari perut Tuan Muda Kim.
"Hmphh...! Jadi ini hasil didikan Penasehat Lim. Kau sudah jadi sampah ya Woo Rin" kata Tuan Muda Kim walaupun sudah ditusuk sekali oleh Woo Rin ia masih saja berkata tak sopan.
"Maaf jika aku mengatakan hal ini. Untuk sementara waktu sebaiknya kita menjaga jarak. Kalau bisa mengulangi waktu aku ingin tetap di sisimu saat itu agar dirimu masih Woo Rin yang kukenal" Tuan Muda Kim menghela nafasnya dan berjalan keluar istana darah membuntutinya dari belakang menyisakan garis merah di tanah yang dilewati Tuan Muda Kim.
*Apa ini yang kuharapkan-batin Woo Rin bisikan kecil itu ada dipikirannya sepintas tetapi ia menepisnya jauh jauh saat memikirkan jalan menuju tahta semakin dekat.
"Setidaknya aku harus berterima kasih kepada Ayahanda kan. Walaupun dia tak menyukaiku tetapi ia masih memberikan tahta itu!"
"Karena aku lah yang pantas mendapatkannya"kata Woo Rin ia lupa kalau harus memberikan salam kepada ayahnya malam ini.
******
Kediaman Pangeran Pertama
"Sedang apa?" tanya Ri Won kepada Anna ia melihat Anna dari tadi membawa guci kecil ditangannya bolak balik ke dapur dan kamar.
"Ahh... Sedang menyeduh teh" kata Anna ia lupa kalau Ri Won terus memperhatikannya.
"Kenapa tak suruh pelayan saja? Kau jadi bolak balik begitu apa tidak lelah?" tanya Ri Won ia memegang tangan Anna agar ia tak keluar kamar lagi.
"Tidak..." jawab Anna dengan singkat, ia menepis tangan Ri Won dan hendak pergi karena rasa mualnya tiba tiba datang tetapi Ri Won malah memeluknya.
"Aku menyukaimu Yiwei" lirih Ri Won, ia membenamkan wajahnya di bahu Anna.
"Jangan khawatir walaupun aku menyukaimu tetapi pernikahan kita pasti akan berakhir lusa sesuai kontraknya" lanjutnya menaruh perasaan kepada Anna dari awal sudah salah ia tak mengharapkan balasan dari Anna.
*Aku juga menyukaimu-batin Anna, ia terkejut karena Ri Won mengakui perasaannya secara terang terangan begini padanya. Ia sangat senang akhirnya Ri Won bisa melihat jelas perasaannya itu dan usaha Anna selama ini tak akan sia sia. Apa lagi Anna sedang mengandung tentu saja ini akan menjadi akhir yang bahagia kan.
"...." ia melepas kasar pelukan Ri Won karena tak bisa menahan lagi rasa mualnya. Wajahnya sudah membiru dan mulutnya pun sudah seperti katak. Anna berlari dan pergi kedapur ia memuntahkan air dan makanan yang ia makan tadi malam.
"Ckk! Jika aku memuntahkan makanan terus apa yang akan bayi ini makan? Hei... Apa kau mau mati kelaparan disana? Kenapa kau sangat pemilih?" kata Anna entah kenapa ia jadi melampiaskan kemarahannya kepada bayi yang ada didalam perutnya.
"Apa aku dulu merepotkan mami seperti ini ya"
"Aku lupa membalas kata katanya. Bagaimana kalau Ri Won benar benar mengakhiri pernikahan kami"
"Aku kan juga menyukainya!" tegas Anna dengan bersungguh sungguh ia mengatakan hal itu kepada dirinya karena takut Ri Won salah paham ia segera kembali ke kamar.
Dug dug dug
"Tiga kali bunyi gong bearti ada yang meninggal" gumam Anna, ia melihat beberapa Dayang teriak histeris saat mendengar Dayang lainnya mengatakan berita itu.
"Katanya Raja Nam Wok dibunuh!" seru dayang itu yang tak sengaja didengar Anna.
"Dan yang lebih parahnya! Jendral Hwang yang membunuhnya dengan memenggal kepala Yang Mulia karena beliau melihat titah Raja yang menyatakan kalau Pangeran Woo Rin yang akan jadi Putra Mahkota besok!"
*Apa? Itu tidak mungkin! Jendral Hwang tidak mungkin melakukannya! Jika rumor ini terus menyebar maka Ri Won! Ri Won juga akan ikut dipenggal karena ia memiliki hubungan darah dengan Jendral Hwang!-batin Anna, ia berlari cepat ke kamar berharap Ri Won masih ada disana dan menyambutnya dengan senyuman seperti biasanya.