I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
74. Kasih Sayang



Sudah hampir 30 menit Presdir Mike menghubungi Liu Wen tetapi tak ada satu pun panggilan yang tersambung.


"Apa kau puas?"tanya Presdir Mike kepada adik tirinya yang terlihat sangat puas.


"Lumayan"kata Dei sambil mengangkat sedikit roknya.


"Mike.... coba lihatlah dengan baik! Aku lebih baik dari pada dia"sambung Dei, ia mengesek bagian bawahnya.


"Aku muak melihatmu"kata Presdir Mike, ia menutup pintu dengan keras karena marah.


******


Shangxi-Tiongkok


"Dasar cabul gila!!"Teriak Liu Wen, ia menghempaskan ponselnya karena kesal.


"Apa semua reinkarnasinya juga cabul!Bisa bisanya pamer ciuman begitu"gerutu Liu Wen, bukannya cemburu ia tersentak disaat anak anaknya berkumpul ingin mendengar suara Presdir Mike, justru yang keluar desahan wanita.


"Mami apa sudah bicara dengan paman?"tanya Jake, ia penasaran kenapa ibunya tiba tiba mengusir mereka keluar kamar.


"Sebentar lagi..."teriak Liu Wen, ia merapikan semua barang yang ia


lempar tadi dan membuka pintu dengan cepat.


"Maaf ya paman bilang ada urusan mendadak jadi mematikan sambungan telfonya"kata Liu Wen sambil mengacak acak rambut Jake.


"Seharusnya mami bilang dari awal. Kami menunggu selama 30 menit lebih untuk mendengar suara paman"gumam Keyzee memasang wajah cemberut.


"Ahahaha.... maaf yaa... bagaimana kalau hari ini kita makan mie luo yang"kata Liu Wen, ia memainkan tangannya layaknya melukis diudara membentuk mangkuk mie.


"Emhh..."kata mereka serempak mengelengkan kepala.


"Plus hamberger"sambung Liu Wen membuat mereka tergiur, selama Liu Zhiwan masih hidup tak akan ada seorang pun yang berada dikediaman Liu yang boleh makan junk food.


"Mau! Mau..."kata mereka dengan serempak.


"Mudah sekali digosok"gumam Liu Wen sambil tertawa ringan.


*Tak akan mami biarkan kalian kesepian, mami akan menjadi ibu sekaligus ayah-batin Liu Wen walau tak dipungkiri ada keinginan untuk kembali, tetapi lagi lagi ia mengubur keinginan itu karena kehidupan istana sangat tak cocok untuk anak anaknya.


*********


Era Kekaisaran


"Jianwe! Apa lagi yang kau lakukan"teriak Selir Chu, ia mendorong Qin Jianwe dengan keras.


"I...ibunda.... aku salah!! Maafkan aku"lirih Jianwe, ia mengosok tangannya meminta ampun atas kesalahanya.


"Hmphh!"seketika Selir Chu tersenyum, ia melihat anak musuhnya itu sangat lemah bahkan memohon kepadanya.


"Lain kali jika bertemu Kaisar kau tak boleh terlihat lemah! Awas saja jika kau pingsan"kata Selir Chu, ia menarik Qin Jianwe agar berdiri.


"I..iya Ibunda... aku janji"kata Qin Jianwe, beberapa bulan yang lalu berita Kaisar yang telah sadar membuat semua orang bersuka ria, mereka merayakannya dengan besar besaran.


"Rahasiakan soal lupa ingatanmu, aku yakin itu hanya sementara"kata Pangeran Keempat mereka baru saja selesai mendiskusikan kata kata yang pas untuk disampaikan nanti.


"Hmm... aku yang lebih tahu soal itu"kata Kaisar, ia memakai jubah naganya dan hendak pergi ke aula untuk menghadir perjamuan yang diadakan khusus untuknya.


"Xuann..."teriak Ibu suri, ia berlari kearah Kaisar dan memeluknya.


"Ibunda?"saat melihat ibunya yang berlarian dan tak mengingat tentang tata krama itu membuatnya terheran.


"Akhirnya sang buddha mendengarkan doaku"ucap Ibu suri sambil memeluk Kaisar.


"Hmm"jawab singkat Kaisar, ia tak pernah menunjukan ekspresi apapun saat bersama ibunya karena sekian banyak penderitaan dan selalu diabaikan membuatnya menjadi pribadi yang sedikit pembangkang.


"Salam Yang mulia..."kata Selir Chu, ia membawa putrinya Qin Meili untuk menyapa Kaisar.


"Hmm..."kata Kaisar, ia mengayunkan tangannya tanda agar Selir Chu berdiri.


"Ini semua berkat keberuntungan yang dimiliki Mei'er sehingga Yang Mulia sadar ditahun ini"kata Selir Chu, ia tersenyum manis dengan baju serba merah dan sulaman phoenix membuat Kaisar mengerutkan dahinya.


"Lain kali jangan pakai baju itu, seorang Selir berdandan layaknya Permaisuri itu sangat tidak pantas"kata Kaisar dengan dingin.


*Sial!! Apa si jalangg Liu itu masih dihati Kaisar! Bahkan setelah hampir 6 tahun ia menghilang-batin Selir Chu dengan geram, ia mencengkam kuat bajunya.


"We'er me...memberi salam kepada Ayahanda"kata Qin Jianwe dengan gugup melihat wajah Kaisar yang sangat menyeramkan membuatnya ketakutan.


"Hmm?"Kaisar melihat kebawah nampak anak laki laki dibelakang Selir Chu dengan wajah yang cemas menyapanya.


"Siapa dia?"tanya Kaisar kepada Ibunya.


"Ohh.. ya... dia Jianwe putramu satu satunya. Kau lupa? Dia anak Selir Kehormatan"kata Ibu suri yah wajar saja Kaisar tak tahu karena selama ini ia tak pernah melihat wajahnya.


"Dimana Selir Kehormatan?"tanya Kaisar, bukannya penasaran. Ia hanya tak mau disebut sebagai suami berdarah dingin.


*Baiklah dia putraku. Aku tahu bagaimana rasanya diabaikan oleh ayah dan ibu, setidaknya dia tak boleh merasa kesepian seperti yang kurasakan-batin Kaisar, ia memang tak menyukai wanita tetapi apapun alasannya sekarang ia memiliki seorang putra dan putri. Ia merasa memiliki tanggung jawab memberikan kasih sayang yang merata kepada mereka.


"We'er... kemari"kata Kaisar, ia jongkok untuk menyetarakan tinggi badannya dengan Qin Jianwe.


"Tenang saja Ayahanda hanya ingin mengendongmu"kata Kaisar, perlahan Qin Jianwe mendekat dan meraih lengan baju Kaisar.


"A...ayahanda.."gumam Qin Jianwe.


"Ayo kita ke aula"kata Kaisar, ia menggendong Qin Jianwe sepanjang jalan, walaupun keduanya berbicara sedikit karena Kaisar yang dingin dan Qin Jianwe yang pemalu tetapi ada sedikit kehangatan diantara keduanya.


"Ibunda! Mei'er juga mau digendong ayahanda"kata Qin Meili ia menekuk alisnya karena cemburu kepada Qin Jianwe.


"Ckkk!? Dasar anak haram!! Ia merebut tempat putriku"gumam Selir Chu, ia mengeretakkan giginya karena sangat kesal.


"Aku sangat bersyukur Xuan menerima We'er, walaupun ia mengingat wanita itu tetapi ia masih mencintai keluarganya disini"kata Ibu suri, ia sangat takut saat Kaisar bangun anaknya itu akan menggila mencari Liu Wen seperti dulu.


*Tak sia sia aku membunuhnya-batin Ibu suri sambil menyeringai, ia pergi menyusul anak dan cucunya.


"Mei'er.... kamu harus menarik perhatian saat perjamuan nanti! Bacakan puisi yang ibunda ajarkan padamu"


"Iya ibunda!"jawab Qin Meili dengan bersungguh sungguh.


"Salam Yang Mulia"kata para pejabat mereka sedikit heran karena Kaisar mereka mengendong Pangeran didekapannya.


"Hmm... silakan nikmati acaranya"kata Kaisar tak ada kata sambutan atau pidato singkat, Kaisar sudah lupa bagaimana cara menjadi Kaisar yang baik.


"Ahh baik"


"Kaisar sedikit aneh"


"Ia sangat dingin seperti saat menjadi Putra Mahkota dulu"


"Tapi... ia mengendong Pangeran pembawa sial"


"Kau ingat ia lahir saat Kaisar hampir dibunuh"


"Hahaha... mengerikan jika aku Kaisar, aku sudah membunuhnya"


"Selir Agung dan Putri Meili tibaa"Teriak kasim, semua orang terpana melihat kecantikan Selir Chu malam ini.


"Kenapa Selir Agung tak diangkat jadi Permaisuri?"


"Dasar bodoh! Permaisuri masih hidup!Dia mengabdi untuk Kekaisaran ini dikuil"


"Kau lupa dia diceraikan oleh Perdana Mentri Liu? Lihat dia bahkan sangat pendiam semenjak putrinya ke kuil"kata seorang pejabat menunjuk Perdana Mentri Liu, dengan jenggot yang panjang dan ekspresi yang dingin, tatapan kosong yang khas membuat semua orang bertanya tanya akan keadaannya sekarang.


"Walaupun begitu.... Kaisar tak pernah menyetujuinya"


"Bagaimana keadaan Permaisuri sekarang? Apa dia makin cantik?"


"Berbicara tanpa dipikir itu memang keahlian kalian"kata Kaisar, ia mengerutkan dahinya tak suka karena kesal ia memilih pergi dari aula.


"Akhh.... kenapa dia bertindak sesukanya! Apa dia sungguh lupa tata krama seorang Kaisar"baru saja ingin menghentikan kakaknya, kakaknya itu sudah pergi.


******


Taman Istana


"Kekuil? Ckk! Dia hanya mencari perhatian"gumam Kaisar, karena tak tahu apa yang terjadi membuatnya kesal sendiri.


"Tak perlu sungkan kau hanya perlu membayarku satu malam!"


"Hah? Putra Mahkota?!"


"Menjauhlah kau cabul?!"


"Aku tak membencimu"


"Apanya yang menikah?! Mau mati!"


"Mau kulihatkan yang lebih menggoda?"


"Tak masalah! ayo lakukan"


Suara itu terus terngiang dikepalanya membuat kepala Kaisar sangat sakit, bibir kecil merah yang bisa dilihatnya.


"Siapa dia!"gumam Kaisar, ia memegang kepalanya yang terasa sakit, wajahnya wanita itu terlihat samar, bibirnya yang mungil dan senyum khasnya hanya itu yang diingat Kaisar.


"Pergi sana!"teriak Kaisar, ingatan ini sangat menganggu, raganya tak ingin mengingatnya tetapi batinnya seakan akan memaksanya untuk mengingat wanita ini.


"Saya baru saja sampai anda sudah menyuruh saya pergi?"seru seorang dari belakang.


"Kau?"kata Kaisar, ia terkejut melihat seseorang yang berada dibelakangnya itu.