
"Paman.... aku mau mendiskusikan sesuatu"kata Aiden kepada Pangeran Keempat yang sedang menyantap makanannya, hal itu membuatnya menghentikan suapan sendok ke mulutnya dan mendekati keponakanya itu.
"Siapa orang yang paling membenci Kaisar?"tanya Aiden, pertama ia harus mencari tahu siapa saja musuh ayahnya didalam istana ini.
"Seorang Kaisar pasti memiliki banyak musuh. Aku tidak tahu siapa musuhnya karena rata rata musuhnya selalu membencinya dari belakang, sangat sedikit yang berani menunjukan kebencinannya didepan Kaisar"kata Pangeran Keempat memang seperti itulah seorang Kaisar sedikit yang suka dan banyak yang benci.
"Tapi paman pertama pernah membencinya dulu. Hanya dia yang berani mengatakannya secara langsung"kata Pangeran Keempat, ia mengingat masa lalu dimana Qin Yuanqu menghina terang terangan Kaisar dan Ibu suri.
"Lalu siapa musuh mami?"tanya Aiden mungkin saja musuh mereka ada kaitannya dengan ibunya.
"Dulu Selir Chu dan sekarang tidak ada"kata Pangeran Keempat, ia sempat memejamkan matanya berpikir sejenak dan kembali menatap Aiden.
"Ibu suri juga membenci kakak ipar tapi dia tak akan melakukan sesuatu lagi sekarang"kata Pangeran Keempat melihat wajah Aiden yang sangat serius berpikir membuatnya tersenyum.
"Serahkan ini padaku jangan membebani pikiranmu dengan masalah ini"kata Pangeran Keempat membuat Aiden mengangguk.
*Seperti Zhan'er sangat peka dengan semua yang terjadi, anak Permaisuri Qin memang sangat hebat-batin Pangeran Keempat.
"Dia mungkin khawatir kakak tertua akan menghabisi kakak Xuan. Kalau begitu aku akan menyuruh kakak Xuan malam ini tidur dikamar Zhan'er"kata Pangeran Keempat, dia jadi ikut khawatir karena kakak tertuanya itu memang sangat mencurigakan.
"Yang Mulia..."seru Chen, ia memanggil Kaisar yang sedang asik bercanda dengan si kembar, Chen datang menghampirinya.
"Tabib Wu baru saja keluar dari kediaman Ibu suri dan sekarang sedang menuju dapur istana"bisik Chen ditelinga Kaisar, mendengar hal itu Kaisar menyingitkan alisnya, kenapa tabib Wu datang ketempat ibunya dan pergi kedapur.
"Selidiki terus pergerakan tabib Wu, jika ada yang salah langsung tangkap dan bawa dia kepadaku"kata Kaisar kepada Chen.
"Kakak Xuan, kau malam ini tidur di Kediaman Zhan'er kerena ada sedikit masalah di kediaman Naga"seru Pangeran Keempat, ia menatap Aiden dan dibalas anggukkan oleh Aiden.
"Benar. Papi bisa tidur di Kediamanku"kata Aiden membuat mata Kaisar berbinar karena putranya itu mengajaknya tidur bersama.
"Tentunya papi bisa tidur dikamarku. Aku bisa tidur dengan Yibo"kata Aiden menatap adiknya itu.
"Tidak masalah! Tidur dengan Putra Mahkota membuatku deg degan"kata Jake dengan wajah menggoda layaknya para pelayan yang menatap kakaknya dengan genit.
"Ahh... aku berubah pikiran sepertinya aku ikut Yiwu saja"kata Aiden, wajah Jake membuatnya muak.
"Tidak masalah"kata Ellson, ia mengangguk dan mengancungkan jempolnya tanda setuju.
"Kukira kita bisa tidur bersama"gumam Kaisar, ia pikir anaknya itu akan setuju tidur bersamanya namun nyatanya tidak, Aiden malah menolaknya mungkin karena masih marah karena kejadian Anna waktu itu.
"Saya permisi"kata Chen, disini ia
hanya akan menjadi orang luar.
"Terima kasih atas kerja kerasmu Chen... akan kucarikan istri untukmu"kata Kaisar membuat wajah Chen memerah.
"Tak perlu sungkan"balas Chen dengan singkat sebelum akhirnya ia pergi dari sana.
********
Kediaman Ibu suri
"Anda memanggil kami?"tanya pemimpin pembunuh bayaran Helu.
"Bunuh Putra Mahkota malam ini"kata Ibu suri, ia memainkan kantung uang berisi tael emas.
"Kenapa anda ingin membunuh cucu anda sendiri?"tanya Pemimpin pembunuh bayaran itu, jangan salah pemimpin mereka bukanlah pria tampan dan kekar melainkan seorang wanita paruh baya.
"Cucu? Hah! Dia anak pungut, jangan sebut dia cucuku..."
"Cucuku adalah We'er saja putra Selir Tang dan Xuan"kata Ibu suri, matanya melotot tajam kearah pemimpin pembunuh bayaran itu.
"Oke...oke! Apa anda mau melakukannya bersamaku dan para bawahanku? Percayalah membunuh orang yang paling dibenci itu sangat menyenangkan"katanya sambil menuangkan teh dicangkir Ibu suri.
"Aku lebih pengalaman darimu"kata Ibu suri, dia meminum teh itu, memang benar dia sudah beberapa kali membunuh para Selir suaminya dulu menggunakan tangannya sendiri.
"Baik kalau begitu! Anak remaja itu takkan bisa kabur dari cengkamanmu"kata pemimpin bayaran itu dia meraba kantung berisi tael emas didepannya.
*********
Kediaman Putra Mahkota
"Aiyaa.... bahkan Wen pun tak menerima ku di Kediaman Phoenix"kata Kaisar
dengan sedihnya dia berjalan gontai ke kediaman Putra Mahkota tempatnya dulu.
"Aku sudah lama tak kesini"gumam Kaisar, ia memasuki kediaman Putra Mahkota berjalan dengan lambat menikmati pemandangan indah disana. Sejak umur 15 tahun ia tinggal disini banyak kenangan yang tak terlupakan tentunya.
"Bahkan ranjangnya pun masih saja miring seperti waktu itu"kata Kaisar saat masuk ke kamar inti tempatnya dulu, ia tersenyum karena ranjang yang miring akibat Pangeran Keempat yang tiba tiba saja marah dan membalikkan ranjangnya.
"Haaahhh....! "
"Aku mau tidur besok ingin bermain dengan Zhan'er, Bo'er, Wei'er, Wu'er, Fei'er"kata Kaisar, ia mematikan lilin yang menyinari kamar itu dan mengambil selimut, menutup matanya tak lupa berdoa agar anak anaknya sedikit lunak padanya besok.
"Ohh, aku lupa dengan Jianwe! Siapa ayahnya? Apa lebih baik menanyakannya langsung dengan tabib Wu? Tidak! Dia pasti akan berbohong, lebih baik mencari tahu diam diam...."kata Kaisar, matanya sudah mulai tertutup, suasana malam dengan sedikit angin dan wewangian bunga sedap malam membuatnya mengantuk.
"Sudah tidur, ayo bergerak"kata Ibu suri, ia berada diatas atap dengan beberapa pembunuh bayaran lainnya, dia turun perlahan dari atas atap membuka genteng satu persatu mencari pijakkan tiang dan melompat kebawah mendekati ranjang dan siap menikam orang yang sedang tidur diranjang.
"Salahkan dirimu harus menjadi anak pungut Liu Wen! Semoga kau masuk neraka"kata Ibu suri, dia mengeluarkan belati dari sarungnya dan dengan cepat menikam orang yang ada diranjang.
"Hahaha...."
"Mati! akhirnya mati juga!"tawa Ibu suri sangat mudah membunuh Aiden batinnya.
"Ibunda.... apa kau sangat ingin membunuh putramu sendiri?"tanya Kaisar, dia mengambil liontin cahayanya dan mengarahkannya kewajahnya.
"Xu...xuan?!"kata Ibu suri, ia mundur kebelakang tak percaya, kenapa bisa putranya yang tidur disini. Kaisar menghidupkan semua lilin yang ada dikamar itu sampai terlihat jelas wajah ibunnya yang mengunakan cadar. Pikirannya ternyata benar dia kira suara yang didengarnya itu hanya mirip ibunya, ternyata memang ibunya.
"Kenapa kau ingin membunuh putraku Ibunda"kata Kaisar dengan serius, perutnya tertusuk cukup dalam, bahkan bantal tebal penuh dengan darah karena menjadi bahan serapan bagi darahnya.
"Qin Xuan! Kau mengambil dal...!"saat Liu Wen masuk dia melihat Ibu suri yang memakai pakaian serba hitam memegang belati berada didepan suaminya yang berlumuran darah.
"Apa yang terjadi disini!"kata Liu Wen, ia menyuruh kasim untuk memanggil Pangeran Keempat segera.