I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
88. Hah? Kaisar?!



Esok Hari


"Baik! Dia akan segera sampai disana"kata Anna, ia menutup telfonnya, sejak Jake jadi Aktor Anna lah yang menjadi manajernya, mengatur segala jadwal Jake.


"Shhss... kakiku"lirih Anna, ia memegang kakinya yang terasa nyeri beruntung pamannya sudah menyediakan obat untuk kakinya.


"Kakak minum obatnya"kata Ellson, ia menyodorkan dua buah obat yang berbeda warna.


"Terima kasih El"kata Anna, ia mengulas sedikit senyum diwajahnya.


"Key sudah dibawa semua?"tanya Liu Wen, ia menyiapkan beberapa kotak bekal yang lumayan besar.


"Aiden.... mie instan bawa juga"bisik Keyzee kepada Aiden, ia takut Ellson dan Liu Wen akan tahu makanya ia berbisik.


"Key... jika mami... ta..."Keyzee langsung menutup mulut Aiden.


"Makanya aku titip ditasmu! Mami sangat percaya padamu"timpal Keyzee wajahnya terlalu dekat membuat Aiden terkejut.


"Oke! Masukkan saja"kata Aiden dengan malas, wajah Keyzee berseri seri, ia langsung memasukkan lima cup mie instan dengan rasa yang berbeda.


"Key... ini terlalu banyak kita cuma mau lihat lihat kan"protes Aiden, tasnya jadi sangat besar bahkan bukunya saja tak muat lagi.


"Setelah latihan aku lelah, kumohon"lirih Keyzee, ia memperlihatkan luka memar akibat latihan bela dirinya.


"Kau sekarang mau ikut?"tanya Aiden, padahal dulu adiknya ini sangat tak mau ikut hal hal seperti ini.


"Ya! Jika tidak aku akan menjadi remahan roti ditangan wanita gila"kata Keyzee membuat Aiden merasa bersalah.


"Baiklah... akan aku jaga mie instanmu dengan baik"kata Aiden, ia mengelus kepala Keyzee.


"Thank you"kata Keyzee tak lupa kecupan dipipi Aiden.


"Astaga?! Kita cuma mau piknik setelah aku syuting kenapa bawa banyak sekali"kata Jake saat melihat ibu dan adiknya sedang sibuk menyiapkan makanan dan keperluan lainnya.


"Hei! Sudah dicari Sutradara Cheng, ayo berangkat"kata Anna saat melihat Jake keluar dari kamar, dia yang paling lama dandan.


"Woww!! Aktor kita sudah siap"kata Liu Wen melihat wajah anaknya yang dipoles bedak dan make up lainnya serta memakai hoodie hitam menambah daya kharismanya.


"Mami jangan peluk aku"kata Jake melihat maminya yang merentangkan lebar tanganya membuat Jake mengatakan hal itu.


"Owh! Ayolah... "kata Liu Wen mengerucutkan bibirnya.


"Mami terlalu cantik hari ini bahkan tak seperti seorang ibu dari lima anak"puji Jake ia mencium tangan Liu Wen.


"Dasar anak ini! Ayo kita pergi"kata Liu Wen, ia menjitak kepala Jake dan pergi keluar menuju mobilnya.


"Anna dan Key ikut mami, Jake, Aiden dan El kalian bawa mobil sendiri digarasi ada empat mobil lagi pilih saja yang kalian mau"seru Liu Wen, hari ini bajunya sangat kasual, ia hanya memakai kemeja bergaris putih biru dan celana pendek selutut tak lupa topi untuk menghindari panas.


**********


Lokasi Syuting


"Lisa Jo, tolong siap siaplah memakai bajunya"kata salah satu kru, melihat aktris utama mereka belum bersiap siap sama sekali membuatnya sedikit cemas akan hancurnya jadwal yang telah direncanakan dengan matang oleh para kru dan sutradara.


"Nanti saja! Aku mau menunggu Jeje"kata Lisa Jo, ia masih duduk santai dikursinya sambil membaca majalah.


"Nona Jo kita sudah mendapatkan kesempatan besar! Jika Tuan Jo tak memberikan uang kepada Wakil Direktur Cho sangat tidak mungkin Nona bisa bermain drama dengan Jake Liu"kata Asisten Lisa Jo membuat remaja itu menyiram wajah asistennya.


"Heh? Jadi kau kira aku tak memiliki kemampuan apapun? Jeje.... jeje itu hanya cocok mendapat lawan main sepertiku!"kata Lisa Jo, pengemar setia Jake ini rela membayar mahal demi bisa bermain drama dengan Jake.


"Jeje! Kau datang... syukurlah kita bisa mulai syutingnya. Apa kau sudah hapal naskahnya?"tanya salah seorang kru wanita.


"Tenang saja kak Mizu mulai saja persiapannya"kata Jake sambil tersenyum sepanjang jalan, ia menghapal naskahnya.


"Ahh! Jeje yang terbaik"kata Kru itu wanita berkebangsaan Jepang itu tertawa karena Jake bukan tipe aktor yang lupa diri dan sombong.


"Jeje... senang melihatmu"kata Sutradara Cheng.


"Ohh... ini sutradaranya, saya ibunya Jake, hari ini kami akan berjalan jalan sebentar, terima kasih sudah mengizinkan kami"kata Liu Wen dengan ramah, ia memakai masker karena takut ada yang mengenalinya.


"Tentu saja saya diberitahu Jeje kalau anda akan kemari tak perlu sungkan. Saat saya mendapat proyek bersama Jeje, dia tak pernah menyusahkan saya bahkan para kru juga berpikir hal yang sama "kata Sutradara Cheng, ia menepuk bahu Jake sambil tertawa.


"Jeje!"teriak Lisa Jo, ia langsung pergi kearah Jake Liu.


"Siapa kau?"tanya Jake, ia sama sekali tak kenal Lisa Jo.


"Lawan mainmu Lisa Jo, sekelas dengan kita juga"kata Anna, ia pernah melihat wajah perempuan gila pecinta kakaknya ini.


"Owhh... hai"kata Jake menyodorkan tanganya mengajak Lisa Jo berjabat tangan.


"Ha... hai Jeje! Aku akan menjadi Putri Yan. Aku sangat menantikannya"kata Lisa Jo, ia langsung menempel dilengan Jake.


"He..hei..."kata Jake, ia sangat risih ditempeli seperti ini.


"Mohon jaga batasanmu, jangan sentuh dia"kata Anna tanpa ekspresi hanya dalam hitungan detik saja Lisa Jo melepaskan pelukannya tatapan mata itu membuatnya takut.


"Kau lagi! Dasar manajer saja sudah berlagak seperti pacarnya!"kata Lisa Jo ia sedikit berteriak didepan wajah Anna.


"Dan kau! Siapa lagi! Mau jadi sainganku"kata Lisa Jo ia menunjuk Liu Wen.


"Apa?"tanya Liu Wen, dia menunjuk dirinya dan melihat anaknya itu.


"Dasar kalian rubah! Pasti kalian kakak adik muka kalian mirip! Pergi sana"kata Lisa Jo, ia mendorong Anna sebenarnya Lisa tak mendorongnya dengan kuat tetapi karena kakinya sedang sakit, Anna terjatuh.


"Anaa"Liu Wen menahan badan Anna agar tak jatuh.


"Nak... aku ibunya dan ibunya"kata Liu Wen menunjuk Anna dan Jake.


"Heh? Kau mau membodohiku..."kata Lisa Jo ia melipat tangannya dengan angkuh.


"Dia memang ibuku! Liu Wen, Putri keluarga Liu, mantan Wakil Presdir Liu dan mantan Profesor berbakat 20 tahun yang lalu"kata Jake dengan penuh penekanan.


"Bahkan sebelum jadi aktor! Ibuku sudah terkenal, kau tak mengetahuinya? Apa dirumahmu tak ada televisi?"tanya Jake ia mendorong keras Lisa Jo menjauh darinya, berani beraninya ia bersikap kasar kepada Ibu dan adiknya.


"Aku jadi berubah pikiran! Jangan harap kalau ayahmu bisa bekerja sama dengan perusahaanku lagi"kata Liu Wen, ia membawa Anna pergi dari sana.


"I...ibuu mertua! Aku salah! Orang sepertimu aku tak mengenalinya..."teriak Lisa Jo, ia mengejar Liu Wen tetapi tak digubrisnya.


"Mami ada apa?"tanya Aiden membuat Lisa Jo terdiam.


**T*ampan-batinnya seketika wajahnya memerah melihat Aiden yang sangat maskulin.


"Ada serangga kecil yang membuat adikmu susah, ayo siapkan tempat pikniknya"kata Liu Wen ia menyuruh anak anaknya yang lain untuk pergi ke sisi timur istana.


"Oh my.... semua kembaran Jeje sama tampannya"gumam Lisa Jo tak terasa hidungnya mengeluarkan darah segar.


******


*Istana ini tak ada yang berubah sedikitpun perbedaannya hanya kayu dan bangunannya yang sudah termakan zaman. Melihat ini membuatku teringat padanya lagi-batin Liu Wen, ia sangat ingat setiap jengkal istana ini walau sudah ditinggal beribu tahun karena masa kejayaannya yang sangat singkat, para Kekaisaran selanjutnya tak pernah menghancurkan istana ini dengan alasan agar para generasi selanjutnya mengingat kekalahan Kekaisaran Qin.


"Mami... mau membawa kami kemana?"tanya Anna mereka berjalan sangat jauh dan banyak sekali belokan, ibunya ini seakan akan sangat hapal dengan seluk beluk istana ini.


"Ahh maaf! Disebelah sini ada taman sakura"kata Liu Wen, ia mengajak anak anaknya menuju Istana Phoenix dibelakangnya memang ada taman bunga sakura yang sangat lebat ini karena sudah masuk bulan april.


"Apa mami pernah datang kesini?"tanya Aiden yang penasaran.


"Hmm, dulu sangat lama..."gumam Liu Wen, ia menjadi murung saat mengingatnya.


*Kehidupan singkat selama hampir tiga tahun disana membuatku sangat merindukannya, ibu, ayah, Yichen dan Qin Xuan. Kalian membuatku sangat sedih-batin Liu Wen, ia melihat keatas langit, mengingat saat saat dimana dirinya yang sedang hamil dan dihibur oleh Kaisar.


"Aku juga merasa kalau pernah kesini"gumam Aiden rasa akrab yang membuatnya bahkan seperti tinggal disini selama bertahun tahun.


"Yahh sama sih"kata Keyzee, ia bahkan binggung perasaan macam apa ini yang sedang ia rasakan.


"Mami... kalian! Ayo kemari pakai baju ini untuk mengambil foto agar kita bisa menyimpanya sebagai kenang kenangan"teriak Jake, ia sudah membawa banyak hanfu ditangannya sampai wajahnya pun tak kelihatan.


"Jake?"


Liu Wen terpanah melihat putranya dengan pakaian Pangeran dan rambut palsu panjang yang ia kenakan.


"Woww.... hanfu! Aku akan pakai duluan"kata Keyzee, ia langsung pergi kekamar istana.


"Key! Tunggu aku!"kata Aiden, ia pun mengikuti adik bungsunya, diikuti Ellson dan Anna.


"Hanfu? Sudah lama aku tak memakainya"gumam Liu Wen, ia tersenyum dan memakai hanfu itu.


"Lihat apa aku cantik?"tanya Keyzee, ia memakai hanfu berwarna pink dengan campuran warna kuning dibawah.


"Sangat"kata Ellson ia juga sudah mengganti bajunya layaknya seorang Pangeran.


"Sangat nyaman"kata Aiden disaat ia memakai baju berlapis satu yang tertutup sampai keleher pada bagian luarnya.


"Tidak buruk"kata Anna hanfu yang ia kenakan adalah warna biru muda.


"Benarkan kita sangat cocok memakainya"kata Jake, ia yang mengenakan pakaian lengkap Pangeran dan aksesoris lainnya membuatnya sangat bercahaya.


"Apa kamu salah ambil baju Jake? Ini baju rem...aja"?tanya Liu Wen saat keluar dari kamar sorot mata anaknya membuatnya heran.


"Ada.... ap..apa? Mami aneh ya?"tanya Liu Wen, ia merasa sangat tak nyaman.


"Mami cantik sekali!"kata mereka dengan serempak.


"Mami tolong buat rambutku seperti itu"kata Keyzee ia menunjuk rambut Liu Wen yang dikepang dan dibentuk bulat.


"Hahaha... baiklah"kata Liu Wen hanfu hijau muda ini membuat kulitnya semakin terang walau ada sedikit kerutan diwajahnya tak menutupi wajah cantiknya.


"Siap!! Ayo ayo kita cari tempat untuk foto"kata Liu Wen, ia mulai menyusuri istana dan berfoto dibeberapa tempat yang menurutnya oke, sampai akhirnya mereka menginjakkan kaku ke pemakaman istana.


"Jadi ini pemakaman anggota kerajaan"gumam Aiden perasaannya jadi kacau saat masuk kemari.


"Tolong kesini"kata para kru yang sibuk menyiapkan properti.


"Sepertinya ini akan menjadi lokasi selanjutnya"kata Jake mereka pun masuk ke dalam dan melihat beberapa makam disana.


"Makam Kaisar Qin Xuan"gumam Anna, ia berhenti tepat dimakam Kaisar bodoh yang ia kenal lewat buku cerita itu.


"Mami akan beritahu satu hal"kata Liu Wen membuat mereka melihat kearahnya.


"Ini lah papi kalian"kata Liu Wen walau hatinya ragu, ia akhirnya mengatakannya tanpa sadar.


"Hah? Papi kami seorang tukang gali kubur?"tanya Jake, ia terdiam sebentar untuk mencerna perkataan ibunya.


"Tidak disangka mami suka tukang gali"gumam Keyzee, ia terlihat sangat murung.


"Lebih baik paman Mike!"kata Ellson, ia mengerutkan bibirnya.


"Bukan!"teriak Liu Wen tak terima.


"Papi seorang.... Arkeolog?"tanya Aiden dengan ragu.


"Hmm"Liu Wen mengelengkan kepalanya.


"Papi? Seorang Presiden?"tanya Jake, masih sama Liu Wen mengelengkan kepalanya.


"Pendeta?"


"Perampok makam?"


"Penipu?"


"Papi kalian Kaisar!"kata Liu Wen kesabarannya habis karena kesal tak ada yang bisa menebaknya.


"Hah?"mereka menyipitkan mata karena binggung.


"Kaisar?!"