
"Adik? Kukira dia mencintaiku??"gumam Eunyeon, seluruh tubuhnya memerah karena ia mengaruknya dengan kuat.
"Apa reuni dengan mantan suamimu berjalan lancar? Hah?!"tanya Woo Rin ia baru saja ingin memperlakukan Eunyeon dengan baik terpaksa mengurungkan niatnya karena melihat Eunyeon yang mengoda Ri Won membuatnya kesal.
"Woo Rin? Aku hanya menyapa Ri Won saja"kata Eunyeon, ia berbalik melihat suaminya ada perasaan senang dihatinya karena kali ini Woo Rin menyapanya duluan.
"Kau sekarang istriku jangan berbuat hal yang memalukan! Kalau kau dekat dengan kakak apa yang akan orang katakan nanti"kata Woo Rin, ia mengatur nafasnya dan belajar untuk mengendalikan dirinya agar tak kelepasan dan marah.
"Ada apa dengan wajahmu? Ayo kuantar ke balai pengobatan. Kalau tidak luka itu akan membekas diwajahmu"Woo Rin mengenggam tangan Eunyeon dan menariknya pergi ke balai pengobatan.
*Apakah Woo Rin tak marah lagi padaku?!-batin Eunyeon, ia tersenyum bahagia saat melihat perlakuan lembut Woo Rin padanya selama tujuh hari ini hanya hinaan yang didengarnya dan sekarang apa akhirnya ia bisa melihat Woo Rin yang dulu.
*Jalangg ini sangat menyusahkan. Jika yang kugandeng Putri Yiwei... tentu saja itu tak masalah-batin Woo Rin, ia mempererat genggamannya karena teringat akan sosok Anna.
"Akhir akhir ini putrimu sangat aktif kesana kemari mengikuti suaminya"kata Penasehat Lim kepada Mentri Jang mereka tak sengaja melihat Woo Rin dan Eunyeon dari kejauhan.
"Ya... saya turut bahagia untuknya"kata Mentri Jang walaupun ia agak menyesal tak mendukung Ri Won serta mengkhianati Jendral Hwang.
"Mhmm... kebahagiaan putrimu akan bertambah kalau menjadikannya Putri Mahkota lagi"kata Penasehat Lim, ia melirik Mentri Jang sambil tersenyum miring
"Saya mengerti... semua pejabat yang berada dipihak saya pun juga akan berpihak kepada anda"kata Mentri Jang dia mengangguk. Tak ada jalan keluar lagi karena putrinya sudah memilih jalan maka sebagai ayah ia harus memastikan jalan putrinya itu tak terhambat.
****
Kreitttt
Ri Won membuka pelan pintu kamar Anna ia takut membangunkan Anna yang sedang tertidur.
"Apakah Putri sudah bangun?"tanya Ri Won kepada Kepala Dayang Dan dipintu luar sebelum masuk kedalam kamar Anna.
"Be..belum Pangeran... sepertinya Putri kelelahan, beliau masih tidur"kata kepala dayang Dan, ia sedikit gemetar karena pertama kalinya berbohong kepada anggota kerajaan.
*Kenapa Putri menyuruhku berbohong kepada Pangeran? Aku jadi takut dia memotong leherku saat tahu aku berbohong padanya-batin Kepala dayang Dan dia benar benar takut karena berbohong adalah kejahatan yang sangat serius di Joseon.
"Ternyata benar kau masih tidur"gumam Ri Won dengan hati hati ia berjalan sampai menjinjit karena takut mengeluarkan suara langkah kaki.
"Tenang saja aku tidak menyentuhmu tadi malam..."kata Ri Won, ia melihat ke depan Anna yang sedang tertidur sangat cantik dan memanaskan mata.
"Untuk itu tetaplah berada disisiku... walaupun kontraknya habis. Tetaplah jadi istriku Putri"kata Ri Won, ia teringat permintaan Feng Xiu tadi malam, membuatnya selalu takut Anna akan pergi darinya suatu saat nanti entah itu besok, lusa atau tahun depan.
*Jadi itu alasannya dia tak ingin menyentuhku-batin Anna, ia tersenyum tipis ada gunanya ia pura pura tidur jika tidak bagaimana ia tahu apa yang ada dipikiran Ri Won.
"Ehggg..."erang Anna, ia pura pura melemaskan badannya dan mengucek kedua matanya.
"Ahh... kau disini"kata Anna dengan dingin, ia mengambil poisisi duduk agar bisa berbicara dengan nyaman.
"Hnmm... minumlah ini sup untuk meredakan mabukmu"kata Ri Won, ia mengambil nampan berisi sup kaldu ayam dinakas.
"...."Anna tak menjawab dan mengambil sup itu dan langsung meminumnya.
"Pakaian itu sangat cocok untukmu"kata Anna, ia memegang pipi Ri Won. saat sudut bibirnya tanpa sadar terangkat membuatnya tersentak dan mulai menurunkan senyumnya itu.
"Hmm... Ada benarnya juga jika baju kepala pengawal tak akan sesulit ini memakainya..." Anna mendekati Ri Won dan mengikat tali jubah itu karena tali itu harus diikat kebelakang Anna pun memeluknya dulu selama satu menit baru mengikatnya.
"A..aa...apakah sulit?"tanya Ri Won, ia suka dipeluk oleh Anna tetapi hal itu membuatnya sangat malu.
"Sebentar lagi talinya sangat sulit diikat"kata Anna caranya terbilang licik tetapi ini lebih baik dari pada meminta Ri Won memeluknya.
"Sudah... ya walaupun aku masih kurang"gumam Anna, ia ingin berlama lama dipelukan Ri Won tetapi takut Ri Won menyadarinya membuatnya dengan berat hati menghentikan cara liciknya itu.
"Apa kau ingin jadi Putra Mahkota?"tanya Anna melihat Ri Won yang seperti tak punya ambisi itu membuatnya penasaran.
"Tidak terlalu ingin tetapi karena aku anak sulung jelas aku yang akan jadi Putra Mahkota kan?"tanya Ri Won, ia belum terbiasa dengan perebutan tahta jadi menganggap bahwa Woo Rin adalah adiknya saja bukan musuhnya.
"Apa kau benar benar berpikir seperti itu?"tanya Anna, ia penasaran kenapa Pangeran Joseon bisa sepolos ini.
"Iya memangnya salah...? Ya?"lagi lagi ia memperlihatkan wajah polosnya sepertinya dia benar benar tak tahu bahwa orang bisa saling membunuh karena tahta.
"Kaisar Qin dan Pangeran Yibo serta Pangeran Yiwu tak pernah bertengkar? Memperebutkan tahta? Kurasa aku dan Woo Rin juga sama meski agak canggung karena kami baru bertemu tetapi kami tetap kakak dan adik"
"Jadi kalau adikmu meminta tahta apa kau akan memberikannya?"tanya Anna dengan serius. Jika Ri Won bilang iya maka dia orang terbodoh didunia ini pikir Anna.
"Iya!"jawab Ri Won dengan cepat.
*Ternyata dia memang bodoh-batin Anna dia menghela nafasnya. Suaminya selalu berpikir optimis kepada siapapun dan orang yang terlalu polos.
"Jika dia mau membawa beban berat itu tidak masalah dengan begitu kita bisa kembali ke Qin. Yiwei akan menjadi Putri disana dan aku akan menjadi Kepala Pengawal Ri Won lagi..."
"Kau juga tak perlu melakukan hal bodoh seperti ibuku yang meninggal secara tidak adil disini. Istana Joseon jauh lebih mengerikan dari yang kuduga"
"Ini bukan lagi rumahku, tapi sarang harimau yang kapan saja bisa membunuhku dan kamu Yiwei"
"Untuk itu.... Lebih baik aku korbankan tahta demi kehidupan yang nyaman untuk Istriku"kata Ri Won saat tahu alasan kematian ibunya ia hanya bisa tersenyum. Ibunya mati dengan membanggakan. Ibunya seorang prajurit yang rela berkorban demi anak dan suaminya, bukan pecundang yang dikatakan orang.
*****
*Jika ada kesempatan larilah dari Istana busuk itu! Karena kau sudah menikah dengan Putri Yiwei mereka akan memanfaatkanmu atau bahkan mengancammu dengan nyawa Putri Yiwei. Jika kau tak menurut mereka"kata Jendral Hwang, ia memegang pundak cucunya itu. Dulu ia tak bisa menyelamatkan putrinya yang mati secara mengenaskan didalam Istana ini, walaupun sekeras apapun ia mengajukan pemeriksaan ulang Raja Nam Wok akan menolak dengan keras dan melarang ada orang yang mengungkit kematian Ratu Hyunseo.
"Kenapa Ibunda sangat bodoh? Aku tetap disiksa oleh mereka meski dia mengorbankan nyawanya!"Ri Won tertegun dan hampir tertawa jika ibunya itu masih hidup ia pasti akan meledeknya habis habisan.
"Dia seorang prajurit! Tak kenal takut mati! Jangan sia sia kan pengorbanan ibumu! Kau harus kembali ke Qin dan hidup aman dan nyaman disana"kata Jendral Hwang, ia sedang serius Ri Won malah tertawa membuatnya kesal.
"Aku tahu kakek... mereka akan menggunakan kekuatan sekaligus kelemahanku sebagai alasan untuk mengekakku"kata Ri Won, ia tersenyum dan menaruh bunga dimakam ibunya setelah acara pernikahan selesai Ri Won dan Jendral Hwang untuk pertama kalinya mengunjungi makam Ratu Hyunseo yang terlihat sangat sederhana berada jauh dari makam leluhur lainnya sendiri dibawah pohon prem.
*****
"Pangeran apakah kau meragukan kemampuanku?"
Anna berdiri dan berpura pura terpeleset dengan cepat Ri Won menangkapnya membuat Anna tersenyum puas.
"Jangan lupa aku Putri Qin Yiwei. Apapun yang aku inginkan pasti akan terjadi"kata Anna, ia melihat wajah Ri Won dari bawah sambil menyeringai. Ri Won hanya bisa membulatkan matanya saat mendengar kata kata angkuh itu.