
"Shi?"kata Liu Wen, ia mengeser kepalanya karena posisi Feng Li yang berada tepat didepan Liu Wen.
"Li.... kau tetap disini..."bisik Liu Wen kepada temannya itu. Jika Kaisar yang dianggapnya sebagai 'Shi' itu melihatnya tanpa penyamaran akan sangat canggung nantinya karena selama ini dia berpura pura menjadi pria tua.
"Ya.... kau menganggu
pergi sekarang"kata Liu Wen jangan sampai ada orang yang tahu akan identitasnya apa lagi soal kehamilannya.
"Baik!"kata Kaisar, ia menutup pintu geser itu dengan keras.
*Wen'er beraninya kau menyentuh pria lain! Aku suamimu!-batin Kaisar, ia tak bisa apa apa jika tak menurut penyamarannya mungkin akan terbongkar.
****
Beberapa saat yang lalu
"Aku harus berada didekat Wen'er hari ini ada acara lelang, takutnya para pejabat dari kekaisaran Qin mengenalinya"gumam Kaisar, ia segera mencari kamar Liu Wen melihat ramainya acara lelang Liu Wen membuatnya kagum. Istrinya bisa menghasilkan uang begitu banyak dalam beberapa menit saja.
"Silakan masuk ini kamar tunggunya"kata pembawa acara memandu Feng Li.
"Terima kasih"kata Feng Li kepada pembawa acara itu.
"Dia?! Anak Jendral Feng?!! Feng Li... teman Wen'er"gumam Kaisar, ia mengepalkan tangannya menunggu keadaan sepi dan mengintip ke dalam kamar.
"Dia!"Kaisar membulatkan matanya melihat Feng Li berani mencium istrinya walau ia tak tahu apa yang mereka bicarakan dan tak melihat wajah Liu Wen dengan jelas tetapi dari posisi itu dan reaksi Liu Wen mereka memang sedang berciuman.
*****
"Wen'er... kau benar benar membenciku?Kau mau meninggalkanku? Aku mohon jangan tinggalkan aku"kata Kaisar air matanya jatuh, ia menangis membayangkan bagaimana jadinya jika Liu Wen dan Feng Li benar benar bersama.
"Shi? Apa yang kau lakukan disini?"tanya Meng, ia melihat Kaisar duduk ditepi danau.
"Saya baik baik saja, Nona sendiri sedang apa disini "tanya Kaisar padahal saat diistana ia seorang pelayan dan sekarang ia harus memanggilnya Nona, sungguh ironis.
"Sepertinya kau sedang sedih"kata Meng, ia duduk disamping Kaisar dan menghela nafasnya saat ini dia juga merasakan hal yang sama.
"......"Kaisar hanya diam saja dia enggan menjawab karena nanti pasti Meng akan bertanya terus menerus.
"Aku mengerti kau tak suka berbicara kepada orang lain tetapi hal yang dipedam sendiri itu tidak baik! Bagaimana jika kita bertukar pikiran?"usul Meng melepas rasa sedih dengan orang lain sepertinya sedikit menyenangkan.
"Hmm... kekasih saya berduaan dengan pria lain, menurut Nona apa dia sedang bersenang senang dengan pria itu?"kata Kaisar untuk sekian lama akhirnya ia membuka mulut.
"Kurasa tidak begitu!! Mungkin ada urusan yang penting jadi harus dibicarakan berdua"kata Meng pikiran polosnya mulai bekerja.
"Jika mereka berciuman disana, apa masih dibilang ada urusan yang penting?"
"Heii! Kecelakaan bisa saja terjadi, apa kekasihmu itu menolak atau menikmatinya? Jika menolak bearti hanya kecelakaan!! Jika menikmatinya bearti itu keinginannya"tanya Meng dengan antusias.
"Ahhh"Kaisar mengingat hal yang terjadi barusan, ia ingat Liu Wen menolak tadi bahkan mendorong Feng Li.
"Anda benar! Itu kecelakaan"kata Kaisar wajahnya berseri.
"Syukurlah, aku turut senang untukmu"kata Meng ia menepuk tangannya karena ikut bahagia.
"Aku...aku menunggu seseorang tetapi dia tak menyukaiku, dia hanya memerlukanku untuk menghubungi seseorang, menurutmu Shi apa aku harus menyerah atau tetap menyukainya"tanya Meng, ia menekuk lulutnya dan menaruh kepalanya dia atas lulutnya itu.
"Nona! Anda harus semangat mengejarnya! Mungkin memang benar anda hanya dimanfaatkan tetapi ada kemungkinan dari sana anda bisa mendapatkan perhatiannya dan dia akan menyukai anda"kata Kaisar, ia langsung pergi dari sana entah berguna atau tidak seruan semangatnya bagi Meng karena ia tak biasa menyemangati seseorang
****
"Hah!! Pergilah dari sini bisa gila aku"kata Liu Wen memegang kepalanya.
"Siapa dia?"tanya Feng Li, ia jarang melihat pria dengan rambut berwarna putih di dataran Tiong.
"Pengawalku, dia tahunya aku seorang pria tua dan Li! Jangan beritahu keberadaanku kepada siapapun"seru Liu Wen, menatap Feng Li dengan serius.
"Bukannya si Brengsekk itu bilang aku kekuil?"tanya Liu Wen yang binggung bukannya menjawab ia malah bertanya balik.
"Ya untuk orang lain mungkin akan percaya tetapi bagi kami orang terdekatmu kami tak akan mempercayainya"kata Feng Li, ia melipat tangannya didada.
"Kenapa?"tanya Liu Wen ia menaikan satu alisnya penasaran.
"Karena Wen kita sangat pemalas... berdoa? Dari dulu kau tak pernah percaya kepada buddha, apa lagi sekarang! Kau sudah seperti babii yang makan banyak setiap hari"kata Feng Li mengeleng gelengkan kepalanya.
"Sialan"kata Liu Wen memukul kepala Feng Li.
"Hahahaha.... kaburrr"teriak Feng Li, ia berlari keluar sudah lama tak merasakan hal ini. Ini seperti kembali ke masa lalu disaat ia menjahili Liu Wen dan Liu Wen akan mengejarnya sampai kelelahan.
"Kemari kau sialann!!"teriak Liu Wen, ia benar benar marah dan ingin memukul kepala Feng Li sekali lagi.
"Ehh?"Liu Wen merasakan sesuatu menendang perutnya, ia berhenti dan memegang perutnya.
"Heii? Kamu bergerak ya"kata Liu Wen bahagia bukan hanya sekali tetapi berkali kali.
Saat mendengar suara langkah kaki Liu Wen langsung memakai jenggot palsunya dan memakai baju selapis.
"Tuan Yu?"kata Kaisar belum sempat menyelesaikan kata katanya Liu Wen menarik tangannya.
"Shi! Apa kau merasakannya"tanya Liu Wen, ia menaruh tangan Kaisar diperutnya.
"Tidak... saya tak merasakan apa apa"kata Kaisar kenapa tiba tiba ia disuruh merasakan perut Liu Wen.
"Coba kau taruh kepalamu"kata Liu Wen karena terlalu bahagia ia lupa kalau sedang hamil dan ada orang luar didekatnya untung sudah memakai jenggot palsu tadi.
"Ahh... seperti ada yang bergerak"kata Kaisar, ia memang merasakan ada sesuatu yang bergerak diperut Liu Wen.
"Sudah kuduga"kata Liu Wen tersenyum senang.
"Mungkin cacing diperut anda sudah membesar dan sekarang dia minta makan lagi"kata Kaisar, ia asal berkata karena binggung mahkluk apa yang berada didalam perut Liu Wen bagaimana jika berbahaya atau Liu Wen benar benar memelihara cacing diperutnya.
"Sialan"Liu Wen memukul kepala Kaisar bisa bisanya bayinya disamakan dengan cacing.
"Ap...apa saya salah?"tanya Kaisar, ia memegang kepalanya yang terasa sakit.
"Sangat salah aku... kan se..."Liu Wen menghentikan kata katanya hampir lupa kalau ia sedang merahasiakan kehamilannya.
*Huh?! kau menyamakan bayiku dengan cacing-batin Liu Wen matanta berapi api karena marah.
"Se? Apa?"tanya Kaisar, ia menaikan satu alisnya sebenarnya apa yang terjadi.
"Sembelit... ya sembelit! Jadi perutku bunyi sampai seperti bergerak bergerak"kata Liu Wen, ia bohong lagi entah dipercaya atau tidak.
*Alasan yang payah-batin Liu Wen.
"Ohhhh"kata Kaisar membulatkan mulutnya.
[Tidak pernah mempelajari ilmu kedokteran] Qin Xuan.
"Dia percaya? Sungguh bodoh"gumam Liu Wen memaki Kaisar ternyata Kaisar sangat bodoh.
"Pergilah aku mau menganti baju... selesai lelang ini kita akan pergi Kekaisaran Liao"kata Liu Wen, ia mengibaskan tangannya menyuruh Kaisar keluar dari kamarnya.
"Baik"kata Kaisar ia langsung pergi dari kamar Liu Wen.
"Apa yang barusan aku lakukan?"kata Liu Wen dengan tatapan senduh.
"Apa aku membayangkan Qin Xuan merasakan bayi ini menendang"gumam Liu Wen, bayangan itu memang terngiang dikepalanya tadi saat menyuruh Kaisar yang dia ketahui sebagai bawahannya itu.
"Malah menyuruh Shi? Tapi kenapa aku senang saat Shi memeriksanya"kata Liu Wen, ia menutup matanya sejenak sambil mengelus perutnya.