I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
96. Didikan untukmu



"Putramu masih hidup? Apa yang kamu katakan!?"tanya Kaisar, ia menyingitkan alisnya, Liu Wen berdecih saja, apa pria yang didepannya ini seorang Kaisar atau orang bodoh.


"Pe...pertengkaran suami istri in...ini apa kita layak melihat hal ini..."kata para pejabat dan bangsawan mereka tak percaya dengan kata kata dan tatapan Liu Wen untuk Kaisar.


"Ya dia putraku! Apa kau harus bingung seperti itu? Anakmu juga anakku"kata Liu Wen, ia menuruni anak tangga menuju gerbang dan menyambut Qin Jianwe. Ada yang berbeda darinya yaitu percaya diri yang lebih.


"Maaf sudah membuatmu khawatir Ayahanda"kata Qin Jianwe, ia berdiri disamping Liu Wen dan menundukkan kepalanya dihadapan Kaisar lalu menatap mata ayahnya itu.


"Jianwe?!"Kaisar segera menuruni anak tangga dan memeluk Qin Jianwe.


"Pelajaran untuk kalian para prajurit dan pejabat militer! Sebelum melapor kepada Kaisar kalian harus mencari kebenarannya!"kata Liu Wen, ia melihat pada pejabat itu dengan tajam.


"Ohh..... atau ini sudah direncanakan sebelumnya? Jika benar ada yang ingin membunuh Pangeran itu akan lebih baik karena aku sudah lama tak menguliti manusia hidup"sambung Liu Wen, ia tersenyum dan tertawa mengerikan.


"Mo....mohon ampun Permaisuri kami telah lalai menjalankan tugas!"kata para pejabat yang bertanggung jawab.


*Jangan sampai jalangg Liu itu tahu kalau aku yang ingin membunuh bajinggan kecil Qin Jianwe itu! Wanita gila itu pasti akan memotong tangan atau kakiku-batin Selir Chu, ia sudah sangat takut segala keberaniannya hilang saat melihat wajah Liu Wen yang mengerikan.


"Ingat ini! Walaupun aku hanya Permaisuri tetapi aku masih memiliki hak untuk berbicara! Jangan memandang rendah diriku hanya karena tak bisa mengambil keputusan besar... "sebenarnya ia sangat benci jika keputusannya hanya sebagai saran disini.


"Dan juga intropeksi dirilah bagi seorang pemimpin yang tak bisa meredam amarah lalu memarahi orang seenaknya! Akan jadi apa negara ini jika memiliki pemimpin sepertimu!"kata Liu Wen dengan ketus ia menyindir Kaisar, baru saja kembali inginnya bermanja manja malah Kaisar membuatnya marah besar.


"Li..lihat! Per... "belum selesai kalimatnya Pangeran Keempat mengawasi Ibu suri, janji diantara mereka masih berlaku. Liu Wen telah kembali yang artinya Ibu suri harus mendukung Liu Wen dan menyambutnya kembali.


*Ckkk! Dia seharusnya mati! Apa dia bukan manusia!? Berani beraninya menghina Xuan!-batin Ibu suri, ia menahan amarahnya dan mulai mengatur ekspresinya.


"Se...selamat datang sayangku..."


"Pasti kau lelah telah melakukan perjalanan jauh ini"kata Ibu suri dengan lembut ia memeluk Liu Wen


"Tidak juga Ibu suri...."


"Terima kasih sambutannya"kata Liu Wen ia tahu ini hanya sandiwara.


"Kalian kembalilah"perintah Kaisar para pejabat dan keluarga bangsawan pun berhamburan pergi dari Istana, menyisakan keluarga kerajaan saja.


"Salam Permaisuri"kata Pangeran Keempat, ia menundukkan sedikit kepalanya.


"Angkat kepalamu adik iparku... "kata Liu Wen, ia memegang bahu Pangeran Keempat dan memeluknya.


"He...hei...!"seperti yang tadi kali ini Pangeran Ketujuh menatap tajam kearah Ibu suri.


"Terima kasih untuk bantuanmu selama aku diluar istana Xi'er..."bisik Liu Wen sebenarnya hal ini tak diperbolehkan karena Liu Wen istri kakaknya, berpegangan tangan saja tidak boleh apa lagi berpelukan.


"Wen!"kata Kaisar memperingati Istrinya itu.


"Tidak masalah kakak ipar..."


"Asalkan dia selamat. Apakah sekarang kau bisa melepaskanku?"kata Pangeran Keempat, kakaknya sudah bagaikan singa yang siap mengamuk kapan saja.


"Oke...."


"Ini hanya pelukan antar saudara! Sangat bodoh untuk orang yang suka terbakar api kecemburuan"kata Liu Wen, ia tak mau melihat wajah Kaisar.


"Ya...yang Mulia..."lirih Selir Chu tangan sebelah kanannya terasa perih.


"Ayahanda! Kenapa kau tak mau mendengarkanku lagi!"teriak Qin Meili, ia memukul kaki Kaisar agar fokus melihatnya.


"Ahh... Mei'er ay... "Liu Wen memotong pembicaraan.


"Kau bukan putri kerajaan lagi. Berani sekali berteriak didepanku dan Kaisar... apa cubitanku kurang?"tanya Liu Wen, kenapa Kaisar sangat lemah berhadapan dengan anaknya.


"Kau! Jalangg berani merebut Ayahanda"teriak Qin Meili, Kaisar tak menyangka putrinya bisa berkata begitu, ia secara tak sadar mengangkat tangannya.


"Jika kau memukulnya kau akan mendapat kebenciannya, lagi pula mendidik anak adalah tugas perempuan"bisik Liu Wen, ia menahan tangan Kaisar dan maju mendekati Qin Meili.


"Dari mana kau pelajari kata kata itu?"tanya Liu Wen dengan lembut.


"Untuk apa aku memberitahumu!"kata Qin Meili dengan angkuh.


"Permaisuri jangan hukum Mei'er... dia masih kecil"kata Selir Chu saat melihat reaksi Kaisar yang hendak memukul Qin Meili. Ia jadi sedikit khawatir.


"Apa yang kau katakan Selir Chu, aku hanya menanyakan pertanyaan sederhana kepadanya"kata Liu Wen, drama ini membuatnya lelah.


"Dari mana?"tanya Liu Wen ia masih berkata dengan lembut.


"Aku tak mau bicara kepadamu!"kata Qin Meili bersikeras.


"Dari mana?!"bentak Liu Wen membuat Qin Meili tersentak dan menangis.


"Jika kau tak mengatakannya, aku akan menghukummu"kata Liu Wen dengan tegas.


"Sa..saya tahu Permaisuri pasti membenci Mei'er karena tak memiliki anak tetapi dia masih kecil biar saya yang tanggung kemarahan anda"kata Selir Chu melihat hal itu Kaisar merasa iba kepada putrinya.


"Ay...ayahandaa, hiksss... hiksss.. aku salahh"isak Qin Meili.


"Diam disana! Untuk masalah seperti ini kau bukanlah seorang Kaisar tetapi seorang ayah"kata Liu Wen, ia menghentikan langkah Kaisar yang hendak menghampiri Qin Meili.


"Jawab aku!"teriak Liu Wen, ia menatap tajam Qin Meili.


"Wahhh gilaa! Mamii marah besar"gumam Jake, ia melihat keadaan dari atap bersama Liu Beiyi.


"Yibo perhatikan sekitar, jangan sampai ketahuan. Seharusnya kita tak berada disini, ini bukan yang direncanakan bibi Permaisuri"kata Liu Beiyi, ia dan Jake menyelinap masuk ke istana untuk melihat pertunjukan yang luar biasa ini.


"Aku tak sabar lagi! Menurut rencana mami kami baru bisa keistana satu bulan lagi... menyebalkan!"gerutu Jake.


"Apa pun yang bibi rencanakan itu untuk kebaikan kalian juga... sebaiknya kita pergi sekarang"kata Liu Beiyi, ia menarik tangan Jake agar ikut turun bersamanya.


"Ak..aku...aku memperlajarinya di akademi kakak kakak disana pernah mengatakannya! Ibunda juga pernah! Jadi aku menirunya!"kata Qin Meili, ia yang sangat takut sampai menagis sesegukkan.


"Huhh..."Liu Wen menghela nafasnya lalu memeluk Qin Meili.


"Tidak sulitkan mengatakannya... apa ada yang sakit? Aku akan menyuruh Paman Keempat untuk memeriksamu"kata Liu Wen, ia mengusap pelan bahu Qin Meili.


"Berhentilah menangis anak baik anak cantik. Lain kali tak boleh lagi mengatakannya... oke"kata Liu Wen sambil tersenyum hangat.


"Maaf... aku salah maafkan aku... huwaa"kata Qin Meili, ia menangis dipelukan Liu Wen.


*Sekali ini saja aku mengalah! Lihat saja nanti Permaisuri jalangg akan kubalas perbuatanmu-batin Qinn Meili sempat berpikir kalau Liu Wen adalah orang yang baik tetapi ia segera menepisnya jauh jauh setelah mengingat Liu Wen meneriakinya.