I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
57. Dimana Kau



"Fei Fei? Sedang apa disini?"tanya seorang pria yang sedang menggendong seorang balita.


"Lewis? Kau? Kenapa ada disini?"tanya Liu Wen yang kaget melihat mantan rekannya yang sudah lama tak ada kabar, tiba tiba muncul disini membawa seorang balita.


"Aku? Sedang mengantar putriku untuk melihat sekolah barunya"kata Lewis, ia mengelus kepala putrinya sambil tersenyum.


"Anakmu? Ohhh alasan kau meninggalkan proyek karena ini?"tanya Liu Wen matanya menyipit karena kesal mengingat 8 tahun yang lalu rekannya ini pergi begitu saja ditengah tengah mengerjakan proyek untuk NASA.


"Hehehe... maaf pacarku hamil jadi aku ke negaranya untuk bertanggung jawab"kata Lewis, ia tertawa untuk mencairkan suasana.


"Pacarmu yang di Paris?"tanya Liu Wen melihat rambut putrinya yang pirang, ia yakin kalau anaknya hasil campuran.


"Hmm!"kata Lewis, ia mengangguk dari wajahnya sudah terlihat betapa bangganya dia, jika dilihat dengan seksama wajahnya sedikit mirip dengan Rong Tian.


*Kenapa aku malah mengingat pria busuk itu ughh! Lama lama melihat wajah Lewis membuatku ingin memukulnya-batin Liu Wen, ia jadi membandingkan wajah Rong Tian dan Lewis.


"Kau belum menjawab pertanyaanku, apa yang kau lakukan disini?"tanya Lewis sekali lagi, ia penasaran melihat mantan rekannya yang sangat sibuk dan dikepalanya hanya berisi eksperimen itu berkunjung ketaman kanak kanak begini.


"Aku menunggu anak anakku"kata Liu Wen, ia menunjuk kearah si kembar yang sedang duduk manis didalam kelas.


"Anak? Ohh anak... hah?! Profesor Liu Wen! Nona besar Liu! Anak Presdir Mia ituu! Sudah punya anak? Apa kau sudah tidak waras"tanya Lewis, ia tersentak mendengar perkataan Liu Wen, ia tak percaya kalau mantan rekannya ini sudah memilki anak.


"Iya! Tak perlu kau sebut nama ibuku juga. Memangnya kenapa? Aku kan wanita normal, wajar dong kalau punya anak"kata Liu Wen, ia memicingkan matanya tak suka dengan tutur kata Lewis.


"Bukan...bukan itu maksudku! Pikiranmu selama ini hanya eksperimen saja, walau kau playgirl sih"kata Lewis awalnya ia berpikir Liu Wen akan menjadi perawan tua, itu sebabnya ia sudah mencari pria untuk dikenalkan kepada Liu Wen.


"Heii!! Jangan bahas masa lalu... aku cuma bermain saja dengan mereka"kata Liu Wen, ia menghentakkan kakinya jika anaknya mendengar bagaimana? Ia seorang ibu dan ingin memberi contoh yang baik untuk anak anaknya.


"Matilah aku...aku terlanjur bilang padanya"gumam Lewis membuat Liu Wen curiga.


"Apa?"tanya Liu Wen yang penasaran, ia mencondongkan badannya kedepan mendekati Lewis agar bisa mendengar dengan jelas gumamannya.


"Ti..tidak..tidak! Sudah ya nanti keburu tutup sekolahnya! Aku duluan"seru Lewis, ia ingin menghidar dari Liu Wen jika Liu Wen tahu Lewis menjodohkannya dengan Bule Paris mungkin mukanya tak akan bisa semulus sekarang.


*******


"Kakak! Seharusnya kita membalas wanita itu, aku tak suka kalau mami menangis"kata Jake, ia menekuk alisnya, pipinya yang besar membuatnya terlihat sangat imut dari keempat kembarannya.


"Kau tidak tahu siapa sebenarnya mami"kata Aiden dengan santai, ia sibuk membaca bukunya walaupun begitu, ia masih sesekali memperhatikan keempat adiknya.


"Kak Aiden, kak Jake..."lirih Keyzee, ia menarik baju kedua kakaknya yang berada di meja depan.


"Ada apa Key?"tanya Aiden, ia menaruh bukunya dan menghadap kebelakang menengok adiknya.


"Key lapar"kata Keyzee sambil memegang perutnya.


"Baiklah"kata Aiden, ia tersenyum melihat tingkah mengemaskan adiknya.


"El? Apa makanannya dibawa?"tanya Aiden kepada adik keempatnya yang berada didepannya.


"Ehmm... ini"kata Ellson menyodorkan kotak bekal berisi salad.


"Kakak.... Key tidak suka salad"lirih Keyzee matanya berair dan ingin menangis.


"Key jangan nangis ya..."kata Aiden saat melihat wajah adiknya ia binggung harus melakukan apa.


"Key! Kalau ga nangis nanti kak Jake cariin kamu anak laki laki tampan deh kayak kakak"kata Jake berusaha menghibur Keyzee.


"Dassar bodoh"kata Anna, ia memukul kepala kakaknya.


"Ouchh! Sakit!!"kata Jake ia memajukan bibirnya sambil mengelus kepalanya.


"Key.... kak Anna bawa pudding apa kau mau? Rasa stroberi lho!"kata Anna dengan yang dingin dan kaku, Anna berusaha seramah mungkin agar adiknya tidak takut padanya.


"Hmhhmm"kata Keyzee mengangguk pelan, ia takut melihat wajah Anna saat terpaksa tersenyum begitu.


"Baiklah akan kakak ambil"kata Anna, ia berdiri dari bangkunya dan hendak mengambil tasnya yang tergantung dibelakang kelas.


Brakkk


"Tidak ada batu kok bisa jatuh?"


"Dasar kalian tolol! Dia itu cacat"kata seorang anak perempuan, ia nampak sinis melihat Anna.


"Kamu bicara apa? Dia kan bisa berdiri tadi!"kata seorang anak perempuan lain, ia nampak dengan polosnya.


"Sini biar aku bantu"kata seorang anak laki laki menghampiri Anna.


*Kenapa...kenapa selalu begini! Aku hanya mau normal seperti mereka-batin Anna ia mengeretakkan giginya. Kenapa cuma dia yang cacat disaat kembarannya yang lain sehat sehat saja.


******


2 tahun yang lalu


"Kak Anna, kenapa duduk telus ayo kita main"kata Ellson yang masih berusia 3 tahun.


"Iya!"balas Anna dengan antusias, ia hendak bangkit tetapi kakinya tak mengikuti gerak badannya.


Brukkk


"Kakak! Anna!"teriak para kembaran dan pamannya.


"Paman? Aku kenapa? kenapa tidak bisa jalan?"tanya Anna kepada Liu Zhiwan, kakinya gemetar dan tiba tiba tak bisa digerakan.


"Ehmm.... kakimu baik baik saja"kata Liu Zhiwan sambil tersenyum.


"Paman.... aku memang masih kecil tetapi aku mengerti. Jika kakiku tak mau bergerak bearti ada masalah"kata Anna dengan wajah tertunduk lesu.


"Ahh.... baiklah... apa ini sebuah berkah atau sebaliknya mempunyai keponakan super pintar"gumam Liu Zhiwan, ia menatap Anna dengan lekat.


"Kakimu lemah, bukan lumpuh lho! Hanya sulit berjalan"kata Liu Zhiwan, ia memegang tangan Anna yang tiba tiba merubah ekspresi wajahnya.


"Tenang saja paman bisa membuatmu kembali berjalan walau membutuhkan waktu yang cukup lama"kata Liu Zhiwan, ia berusaha menenangkan keponakannya yang terlihat sangat terguncang.


"Aku mengerti paman. Mami mana?"tanya Anna, ia ingin dipeluk oleh ibunya sekarang.


"Mami? Ma.. mami sedang ada urusan dikantor kalian main sama nenek dan bibi Suyi ya"kata Liu Zhiwan, ia mengelus kepala Anna dan hendak pergi begitu saja tetapi Anna menarik bajunya.


"Bagaimana dengan papi? Dimana papi?"tanya Anna dengan dingin semua kembarannya pun memasang ekspresi yang sama.


"Paman! Key mau papi"kata Keyzee, ia memegang erat tangan Liu Zhiwan.


"Huh!? Kalian kenapa mau plia itu! Aku tak suka dengannya yang tak pelnah datang menjengguk kita"kata Jake, ia mengembungkan pipinya tanda tak suka kepada ayahnya yang tak pernah di lihatnya itu.


"Sudahlah semua sudah jelas sekarang"kata Anna, ia pergi mengunakan kursi rodanya setidaknya dia tahu alasan ia memakai kursi roda, setidaknya dia tahu ibunya yang selalu tak ada disamping mereka itu karena sibuk dan ayahnya. Cuma pria tak bertanggung jawab.


*****


"Tidak perlu"tepis Anna, ia tak mau terhina lagi, dari kecil ia selalu dipandang iba oleh orang dewasa dan dihina teman sebayanya, sudah cukup dia tak bisa menahannya.


"Aku cuma ingin membantumu"kata anak laki laki itu, ia memegang tangannya yang terasa sakit.


"Ak..."wajah Anna memerah menahan amarah yang mengebu didalam dadanya. Dia masih kecil tetapi keadaan membuatnya harus dewasa diusia muda.


"Sudah biar aku yang mengurus adikku"kata Aiden, ia memapah adiknya untuk duduk dikursi.


"Apa aku selalu menyusahkan kalian"kata Anna, ia memalingkan mukanya ada perasaan malu karena ia merasa menjadi orang yang tidak berguna.


"Apa yang kau katakan, kita ini kembar! Rasa sakitmu, kita juga merasakannya"kata Aiden, ia mengambil obat dari tas Anna.


"Hmmmhmm"angguk tiga kembarannya yang lain.


"Jika ada sesuatu berbagilah dengan kami"kata Aiden, ia menyodorkan botol air minum.


"Hmm baiklah"kata Anna dengan senyum diwajahnya, setidaknya senyuman kali ini adalah senyum yang tulus dan paling lebar yang pernah dia buat.