I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
45. Ayo Menikah Wen



"Wen!! Ini benar dirimu?"tanya Feng Li sudah satu bulan lebih kabar Liu Wen pergi kekuil untuk berdoa beredar tetapi Feng Li tidak pernah percaya akan hal itu.


"Emmm.... i...iya iya! Ini wajah yang masih samakan dengan temanmu dari Kediaman Perdana Mentri Liu"kata Liu Wen ia memegang kedua pipinya dan tersenyum lebar.


"Kau tidak kekuil? Apa kau kabur? Aku ingin menemuimu di istana saat ada kabar kau tak bisa mengandung tapi ayah tak memperbolehkanku takutnya ada rumor lain yang bisa menjatuhkanmu!!"kata Feng Li, ia mengguncang tubuh Liu Wen sekuat tenaga membuat kepala Liu Wen pusing.


"L....Lii! Lii! Hentinkan. Jangan mengguncang tubuhku.... aku... pusing"kata Liu Wen bola matanya berputar karena pusing.


"Maaf.... aku benar benar cemas, ehh?"kata Feng Li secara refleks ia melepas tangannya dari bahu Liu Wen. Saat melihat kearah perut Liu Wen yang membesar membuatnya menyingitkan alisnya.


"We...Wenn! perutmu membesar? apa... apa kau hamil?"tanya Feng Li, ia bingung melihat perut Liu Wen yang sangat besar.


"Oh... ini... ti....tidak! Aku terkena busung lapar!"kata Liu Wen dengan blak blakkan keadaan seketika hening, Feng Li menyipitkan matanya.


*Apa ini cukup untuk menipunya-batin Liu Wen ia tersenyum kikuk.


"Kau makan dengan teratur bagaimana mungkin kena busung lapar.... ayolah kau kira aku bocah berusia 5 tahun"kata Feng Li dengan malas.


"Ha. Ha. Ha... baiklah aku hamil"kata Liu Wen sepertinya Feng Li lebih pintar dari dugaanya.


"Hah? Si..siapa? Ayahnya! Ini sudah besar mungkin sudah 6 atau 7 bulan! Apakah...."tanya Feng Li, ia tak ingin apa yang dia pikirkan ini menjadi nyata.


"Ya... ayahnya Qin Xuan"kata Liu Wen, ia menatap sayu kebawah.


"Ternyata begitu kau mengandung Pangeran"gumam Feng Li, ia berharap itu tak terjadi setidaknya jika Liu Wen tak sedang mengandung ia ingin menikahi Liu Wen.


"Bearti berita kau mandul itu palsu?"tanya Feng Li, ia ingat bahwa rumor itu juga masih lekat dihati rakyat sampai sekarang karena tujuan Liu Wen berdoa kekuil adalah mendoakan Kekaisaran dan meminta seorang pewaris untuk Kekaisaran Qin.


"Awalnya aku percaya tapi beberapa bulan yang lalu Qin Junxi memberitahuku kalau aku sedang hamil, jadi aku kabur karena tak ingin dia dalam bahaya dalam perebutan tahta dengan Pangeran lain tapi tak disangka Qin Xuan si brengsekk itu bilang kalau aku pergi kekuli..."nampak tiga guratan di dahi Liu Wen. Ini karena Qin Xuan rencananya untuk kabur jadi berantakan seharusnya ia sudah tak memiliki hubungan apapun dengan istana.


"Kenapa tabib itu berani membohongi Yang Mulia Kaisar.... hmm,"gumam Feng Li, ia berpikir keras. Apa alasannya? Siapa pelakunya.


"Entahlah Qin Junxi juga sedang menyelidiki hal ini tapi aku bersyukur dia mengatakan hal itu!! Mempermudahku untuk kabur"seru Liu Wen ia menghela nafasnya. Ia benar benar bersyukur walau ada kecewanya sedikit.


"Pangeran Keempat? Wen... dia dari dulu tak suka ikut campur urusan orang lain, kenapa dia mau membantumu? Kurasa...."kata katanya terhenti sepertinya Liu Wen tahu apa yang selanjutnya ingin ia katakan.


"Dia punya maksud terselubung? Kurasa tidak Li, dia orang yang baik kok"kata Liu Wen memang mencurigakan tetapi Liu Wen selalu melihat dari sisi pandang berbeda, mungkin saja Pangeran Keempat benar benar ingin menolong keponakannya ini.


"Bukan... mu....mungkin dia menyukaimu..."kata Feng Li, menutup wajahnya dengan tangan. Ia cemburu dengan kedekatan Liu Wen dan Pangeran Keempat.


*Kakak, beradik menyukai Wen!! Aku tak akan membiarkan hal itu-batin Feng Li.


"Hah? Li... apa yang kau katakan dia tak mungkin menyukai kakak iparnya kan"tanya Liu Wen dengan panik.


*Tidak mungkin seperti serial drama yang ditonton ibu kan? Adik, kakak yang berebut satu wanita-batin Liu Wen.


"Mu...mungkin saja! Kau harus berhati hati"kata Feng Li sambil mencengkam bahu Liu Wen dengan kuat.


"Baiklahh.... aku percaya cinta adik iparku terhadap kakaknya lebih besar"gumam Liu Wen.


"Oh ya apa yang kau lakukan disini?"tanya Liu Wen.


"Aku... mendengar ada lelang barang aneh yang dijual oleh Tuan Yu dan kau yang mengajarkannya Tuan Yu untuk membuatnya itu sebabnya aku mau membelinya"kata Feng Li, ia mengaruk tengkuk lehernya.


"Ti...tidak... aku tak punya kekasih"kata Feng Li dengan gugup.


*Aku membelinya karena itu buatanmu Wen.. -batin Feng Li, ia menatap lekat Liu Wen jika Kaisar Qin tak tertarik dengannya apa dia bisa menjadi suami Liu Wen? Apakah hal itu akan terjadi? Entahlah dari sudut pandang Liu Wen dirinya hanya teman.


"Kusarankan kau untuk segera menikah agar ada yang mengurusmu nantinya"kata Liu Wen mengedikkan bahunya walau sahabatnya ini selalu terlihat tampan tetapi masalah makan, pakaian, dan kebutuhan 'itu' dia masih perlu seorang istri.


"Ya... aku tahu... jika...jika aku ingin kau yang jadi istriku, apa kau mau?"tanya Feng Li, ia menatap serius kearah Liu Wen.


"Pftt.... ayolah candaanmu itu tidak lucu sama sekali! Bagaimana mungkin kau menikahi wanita yang sedang hamil tua begini"tawa Liu Wen apa telinganya bermasalah sabahatnya ini mau menikahinya? Sungguh gila.


"Aku serius Wen"kata Feng Li, ia menjatuhkan kepalanya dibahu Liu Wen.


"Aku siap menerima Pangeran untuk menjadi anakku walau dia tak berstatus Pangeran nanti aku akan memberi segalanya yang aku punya agar dia tak kekurangan apapun"kata Feng Li hatinya lelah. Dia pengecut yang tak bisa menyampaikan perasaannya bahkan disaat Liu Wen sudah menikah pun ia masih mencintainya.


"Bukan itu masalahnya, kau tak perlu menanggung tanggung jawab itu. Dia bukan anakmu"kata Liu Wen, ia sedikit binggung dengan reaksi Feng Li ingin mendorongnya menjauh dari bahunya tetapi tak bisa.


"Tak masalah, aku akan memperlakukannya selayaknya anakku sendiri, laki laki atau perempuan. Dia akan menjadi anakku yang kucintai!! Percayalah padaku Wen"lirih Feng Li, ia memeluk Liu Wen dari belakang.


"Aku tahu kau melakukan ini karena aku sahabatmu tapi ini...."kata Liu Wen dengan lembut.


"Bukan! Bukan karena itu!"teriak Feng Li, ia melepas pelukannya dan hendak mencium Liu Wen.


"Aku mencintaimu"bibirnya dan Liu Wen pun saling bertemu hanya sebentar sebelum akhirnya Liu Wen refleks mendorongnya.


"Apa yang kau lakukan?!"tanya Liu Wen, ia mendorong Feng Li menjauh darinya.


"Aku mencintaimu Wen! Aku berpikir saat kau menikah harapanku untuk mendapatkanmu sudah hilang tetapi tiba tiba kau keluar istana dan Paman Liu menceraikan kalian. Aku punya harapan lagi dan sekarang kau hamil!? Tetapi tidak masalah aku mau menerimamu dan anak ini"kata Feng Li, ia tergesa gesa menjelaskannya kepada Liu Wen.


"Maafkan aku Li... aku tak bisa menerima kebaikanmu selamanya kau tetap sahabatku"kata Liu Wen, ia tersenyum kearah Feng Li dari pada memberinya sebuah harapan lebih baik menolaknya dengan tegas pikir Liu Wen.


Feng Li terdiam sebentar ia mencoba menerima keadaannya "Ahh... aku mengerti... hahh!! Ini salahku yang terlalu pengecut"


"Ya kau memang pecundang tak tahu malu!! Berani menciumku"kata Liu Wen sambil meremas bibir Feng Li.


"Mhmhjjnjhjnnn (Aku minta maaf Wen)"setidaknya itulah yang ingin Feng Li katakan disaat mulutnya diremas oleh Liu Wen.


"Berjanjilah kau takkan nakal lagi"kata Liu Wen mencubit pipi Feng Li.


"Baik Ibu Wen"kata Feng Li memberi hormat.


"Tapi Wen aku serius akan menikahimu mari kita rawat dia bersama, aku janji tak akan melibatkan perasaan"kata Feng Li, ia berjanji setia seorang pria mengepalkan tangannya dan menaruhnya didada.


"Tidak...tidak! Aku lebih suka hidup sendiri! Aku bisa mengurus anakku sendiri tenang saja"kata Liu Wen, ia memandang kearah jendela.


"Huhhh! Baiklah aku akan mengunjungimu untuk beberapa hari ini karena aku masih ada urusan di kekaisaran Rong"kata Feng Li mengacak rambut Liu Wen.


"Maaf Tuan Yu!! Apa saya menganggu?"tanya Kaisar yang dari melihat Liu Wen dan Feng Li bersama.


"Shi?"Liu Wen mengeser kepalanya karena poisi Feng Li yang tepat berada didepannya.