
"Ada apa denganmu Yiwei?" tanya Qin Xuan, ia memegang pipi putrinya itu, tak ada tanda tanda guna guna dimatanya.
"Saya baik baik saja... ini demi reputasi anda" kata Anna, ia melirik kearah Ri Won, wajahnya terlihat lega itu.
"Haaa...! Yiwei!! Bercanda? Papi tidak akan pernah mendengarkan kata kata orang lain! biarkan mereka bergosip!" kata Qin Xuan, ia duduk kembali ditempat duduknya dan meneguk teh lagi.
"Anda membuat saya takut" kata Ri Won sambil menyeka keringat yang berada didahinya.
"Kapan saya bisa menemui kandidat calon suami saya?" tanya Anna kepada ayahnya itu semua orang binggung akan keputusannya yang sangat tiba tiba ingin menikah itu.
"Papi pikir kau tidak mau menikah? Sebaiknya bersama papi saja selamanya di istana" wajah Qin Xuan berseri seri menunggu kata 'iya' dari putrinya.
"Tidak mungkin!" seru Liu Wen yang tiba tiba saja datang, ia memukul kepala suaminya yang bicara asal itu.
"Ughh! Aku kan hanya bercanda" gumam Qin Xuan, ia menepi ke pojok gazebo karena Liu Wen mengusirnya.
"Salam hormat Ibu Suri..."
"Tuan Putri Yifei" kata Ri Won, ia hendak pergi dari sana tetapi Liu Wen menariknya kembali agar duduk ditempatnya.
"Apa kalian berteman?" tanya Liu Wen penuh dengan selidik tadi ayahnya sekarang ibunya yang mengintrogasi Ri Won. Selanjutnya siapa? Kakaknya kah? Pikirnya.
"Tidak" jawab Anna dengan singkat wajah datarnya itu membuat Liu Wen percaya.
"Saya suka menemani Putri Yiwei saat sedang senggang" kata Ri Won sambil tersenyum.
"Saya kira kami dekat tetapi Putri tidak menganggap saya teman" lanjut Ri Won dia melirik Anna wajahnya tak berubah sedikit pun yang menandakan memang Anna berkata yang sesungguhnya.
"Hmm.... begitu..." Liu Wen mengangguk, ia mengerti situasinya.
"Bagaimana papi? Bagaimana jika berikan saja saya gulungan berisi lukisan dan biodata para pemuda itu? Saya akan memilih" Anna berkata dengan serius dia bahkan menatap mata ayahnya tanpa melirik kemana mana.
"Haa... baiklah! Papi akan mencari pemuda yang baik lalu dalam waktu sebulan semua lukisan pemuda itu akan papi berikan kepadamu! Kalian bisa bertemu jika kau sudah setuju" kata Qin Xuan, Liu Wen mengangguk setuju, ia bisa merasa tenang sekarang, putrinya akan menikah setelah Anna giliran Keyzee tentu saja.
"...." tanpa menjawab apa pun Anna pergi dari sana, dia melirik Ri Won sekilas dan langsung pergi dari sana.
*Jika bukan karena nama baik papi yang tercoreng aku sungguh tak mau menikah. Siapa pun orangnya nanti kami akan melakukan pernikahan sementara dan dalam waktu tertentu akan aku akhiri- batin Anna dia tak tahan lagi mendengar rumor mengenai ayahnya, padahal ini salahnya yang tak mau menikah kenapa ayahnya yang kena sasaran gosip para pejabat.
**********
"Kepala Pengawal!! Apa yang anda bicarakan dengan Yang Mulia? Saya harap tim kita tak mendapat kesulitan lagi" seru Yong, ia lelah. Baru sehari datang ke istana para senior selalu menyuruh mereka melakukan pekerjaan yang seharusnya bukan bagian mereka.
"Aku tak merasa kesulitan tuh?" kata Ri Won, tentu saja dia kan Kepala Pengawal siapa yang berani menyuruhnya.
"Pokoknya! Apakah Yang Mulia memberi kita masalah?" tanya Yong, ia menatap sinis Ri Won karena kesal akan jabatan yang dimilikinya.
"Tidak. Kami hanya bersenda gurau" kata Ri Won memang benar sebagian pertemuan itu hanya berisi candaan tetapi sebagian dia diinterogasi sebagai tersangka utama pria yang mencoba mendekati Anna.
"Baguslah jika begitu! Anda masih memiliki kumpulan dokumen dimeja hari ini harus selesai!" kata Yong. Ia tersenyum miring sambil menunjuk tumpukan kertas yang ada diatas meja atasannya itu.
*Kenapa Yiwei mau menikah secara mendadak begini?-batinnya dia penasaran akan hal itu sampai dadanya terasa tak nyaman.
*********
Joseon
"Hormat kepada Yang Mulia Raja" kata Penasehat Lim, ia membawa beberapa kotak ditangannya.
"Ada apa Penasehat Lim?" tanya Raja Nam Wok, matanya merah karena kurang tidur, sudah yang kesekian kali pembunuh masuk kedalam kediamannya hal itu membuatnya ketakutan untuk memejamkan mata.
"Ini adalah obat penenang untuk anda..."
"Saya mohon minumlah agar anda bisa beristirahat, besok akan ada rapat penting" kata Penasehat Lim, ia menunduk hormat dan hendak pergi dari sana.
"Ti..tidak... A...aku tidak bisa tidur... Ba.. bagaimana jika mereka membunuhku saat aku tidur! Penasehat Lim! Biarkan kau dan Ratu Hari lagi besok yang mengadakan rapat! A..aku... Ti..tidak sehat lagi" kata Raja Nam Wok sudah sebulan ini dia tak mengikuti rapat istana. Itu sebabnya Lim Hari - Ratu Joseon menyarankan dirinya untuk memimpin jalannya rapat bersama ayahnya.
Raja Nam Wok naik tahta saat berusia 14 tahun saat itu dia bukan kandidat pewaris tahta. Dia adalah Pangeran bodoh dan lemah tetapi karena kekurangannya itu banyak pejabat mendukungnya dari belakang. Membantunya membunuh para Pangeran lain agar dirinya menjadi Raja. Alasan para pejabat itu memilihnya bukan karena ingin menjadikannya sebagai Raja tetapi sebagai boneka mereka. Apa lagi Penasehat Lim, dia adalah orang yang mengasuh Raja Nam Wok dari kecil itu sebabnya Raja Nam Wok selalu mengikuti kata kata Penasehat Lim.
"Baiklah Yang Mulia. Anda harus terus menjaga kesehatan anda"kata Penasehat Lim dia ingin mengundurkan diri tetapi tiba tiba pelayan mengetuk pintu Raja membuatnya berhenti sejenak.
"Yang Mulia ada surat dari Putra Mahkota"kata pelayan itu wajah Raja Nam Wok berubah, dia tersenyum bahagia, putra sulungnya mengirim surat lagi untuknya.
"Masuk! Berikan kepadaku!"seru Raja Nam Wok dia berlari menemui pelayan itu dan mengambil surat itu dari tangannya.
'Salam kepada Yang Mulia, Kekuatan Militer Dinasti Qin masih stabil beberapa dari prajurit khusus mempelajari gerak perang timur kuno, sekian surat saya'
"Lagi lagi hanya itu yang dia tulis..." gumam Raja Nam Wok, ia mengelus surat itu dengan hati hati melipatnya kembali dan memeluknya.
"Yang Mulia.... bukankah tidak pantas lagi Yang Mulia Pangeran Ri Won mendapatkan gelar Putra Mahkota!" kata Penasehat Lim, ia menatap mata Raja dengan percaya diri.
"Apa maksudmu! Pangeran Ri Won adalah Pangeran sulung! Dia juga anak dari Permaisuri Hyunseo!" kata Raja Nam Wok, ia menekuk alisnya dan menunjuk wajah penasehat Lim. Wajahnya terlihat sangat marah.
"Maafkan saya atas perkataan saya ini, sampai sekarang Pangeran Woo Rin lah yang membantu anda menjalankan tugas tugas negara! Pangeran Ri Won sudah lama meninggalkan Joseon entah dia bisa kembali atau tidak? Lagi pula Pangeran Woo Rin juga anak dari Ratu Hari. Ratu Hyunseo sudah meninggalkan kita 7 tahun yang lalu saya mohon jangan bersikap emosional dan pikirkan rakyat anda"kata Penasehat Lim, ia memberi hormat dan pergi dari sana saat berjalan di koridoor wajahnya tersenyum puas, mengendalikan pikiran Raja tak sulit baginya.
"Usaha takkan pernah mengkhianati hasil. Hari sudah menjadi Ratu, sekarang tinggal Woo Rin! Akan kubuat dia menjadi Putra Mahkota dan Raja selanjutnya" gumam Penasehat Lim rencananya beresikonya ini tak membuatnya menyesal! Ratu dan Putra Mahkota bisa dia singkirkan dengan mudah.
"Kakek?" seru pemuda dibelakangnya penasehat Lim membalikkan tubuhnya melihat Pemuda dengan baju berwarna hitam bercorak naga.
"Salam Hormat Pangeran" kata Penasehat Lim dia menunduk memberi hormat kepada pemuda itu.
"Panggil aku Woo Rin, apa kakek baru saja bertemu ayahanda?" tanya pemuda itu yang tak lain Pangeran Woo Rin, ia mendekati pria paruh baya itu.
"Hmm... kunjungilah ayahmu! dia sedikit lelah"kata Penasehat Lim, ia tersenyum dan memegang pipi cucunya itu.
"Woo Rin...."
"Kau tak perlu khawatir! Kakek akan membuatmu menjadi Raja selanjutnya..." kata Penasehat Lim, awalnya dia hanya seorang pengerajin batu, lalu Ibu Raja Nam Wok, Selir Cho mengangkatnya sebagai kusir kuda saat Selir Cho meninggal. Dia dipercaya untuk mengurus Raja Nam Wok sampai akhirnya Raja Nam Wok berhasil menjadi Raja dan dirinya diangkat menjadi penasehat negara. Semua pejabat tak bergeming karena penasehat Lim adalah orang yang mengendalikan Raja.