I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
49. Jadi Selir



"Ayo jalan jalan hari ini hari terakhir kita di Kekaisaran Rong!! Besok kita akan Kekaisaran Liao"kata Liu Wen dengan semangat, ia menarik tangan Meng keluar dari penginapan dan pergi ke pasar.


"Apa anda tak rindu dengan keluarga anda di Kekaisaran Qin?"tanya Meng, kebanyakan baca surat Liu Yichen membuatnya ingin kembali Kekaisaran Qin.


"Ya ada sih tapi ada hal yang membuatku tak bisa kembali kesana sekarang"jawab Liu Wen hal yang dia maksud itu adalah kehamilannya jika ia kembali sekarang mungkin pembunuh bayaran sudah siap membunuhnya kapan saja.


"Nona anda mau kemana?"tanya Kaisar kepada Meng, ia baru saja keluar dari penginapan dan tak sengaja melihat Meng dari belakang


"Siapa badut ini?"tanya Kaisar ia tahu itu adalah Liu Wen tetapi ia ingin membuatnya marah dengan berkata begitu.


"Ba..badut? Aku wanita cantik tahu"kata Liu Wen, ia mengepalkan tangannya ingin memukul Kaisar tetapu pukulannya itu berhasil dihindarinya.


"Aduhh... Nona anda kenapa bisa bersama bibi bibi begini"seru Kaisar, ia menutup mata sambil mengeleng gelengkan kepalanya.


"Kalau terlalu lama bersama bibi bibi anda akan ketularan gemuk lho"ia menghardik Liu Wen agar Liu Wen mengamuk.


"Shi, jangan begitu dia temanku dan lagi dia sedang hamil! Jangan menganggunya"kata Meng, ia tertawa melihat reaksi Liu Wen yang siap mengigit Kaisar.


"Hamil?"tanya Kaisar dia menatap lekat Liu Wen ada perasaan yang aneh didalam dadanya mendengar kata 'hamil' itu walau ia tahu ini juga pasti hanya tipuan dalam menyamar.


"Ya, aku hamil! Mau apa hah!! Apa badut sepertiku ini tak pantas hamil? Atau menurutmu tidak mungkin ada yang menyukaiku"teriak Liu Wen, ia kesal entah kenapa ia sangat jengkel padahal ini kan hal yang bagus karena orang tak ada yang sadar kalau dia sedang menyamar.


"Akhh... dia benar benar marah, aku tebak pasti ia tertawa dijalan karena penyamarannya berhasil"gumam Kaisar, ia tersenyum tipis.


"Anda jangan masukkan kedalam hati, Shi memang seperti itu kan orangnya"kata Meng ia tersenyum dan menyemangati Liu Wen.


"Ya! Ya aku tahu"kata Liu Wen wajahnya masih ditekuk masam.


"Hei Nona muda Yu"kata salah seorang pemuda menyapa Meng.


"Ha..ballo"kata Meng dengan gugup, ia tak pernah disapa sebelumnya.


"Kau tak menyapaku?"tanya Liu Wen dengan manja.


"Ihwww.... kau babii besar jelek!! Menjauhlah dariku"kata pemuda itu mengibaskan tangannya.


"Ba....babi? Aku hamil bodoh"kata Liu Wen sambil memukul kepala pemuda itu.


"Memang ada yang mau tidur dengan babi?"kata pemuda itu dengan nada meremehkan.


"Si...sialan"


"Ayo Nona kita bermain kesana"kata pemuda itu ia mengajak teman temannya agar Meng tak bisa menolak.


*Sial aku tak bisa bergerak cepat dengan keadaan seperti ini-batin Liu Wen karena hamil gerakkannya jadi lambat.


"Menjauhlah dari tunanganku"kata Liu Yichen ia merangkul Meng dari belakang.


"Tu...tuan muda"gumam Meng, ia melihat keatas sosok yang ia rindukan selama ini tiba tiba ada dibelakangnya.


"Panggil aku Yichen atau mereka curiga"kata Liu Yichen membisikannya ditelinga Meng.


"Y...yichen..."kata Meng dengan gugup, wajahnya merona karena memanggil langsung nama Liu Yichen.


"A...apa? Dasar wanita murahan! Kau mengodaku ternyata kau sudah punya tunangan! Hei teman dia pasangan yan... ahkkk"Liu Yichen langsung memukul wajah pemuda itu sebelum ia menyelesaikan kata katanya.


"Diam! Aku melihat kau yang menggoda tunanganku. Apa mau kubunuh saja disini"kata Liu Yichen dengan dingin ia menyeringai sambil melemaskan otot ototnya.


"Ka...kau.. kau tak tahu! Aku anak Guru Besar yang mengajari Putra Mahkota Rong sejak kecil!! Yang Mulia Putra Mahkota pasti akan membunuhmu demi ayahku!!"kata Pemuda itu dengan gagap, ia sudah babak belur dan jatuh ke tanah masih saja banyak omong.


"Yi.. yichen hentikan. Kita tak lagi sedang di Kekaisaran Qin, sebaiknya jangan mencari masalah di Kekaisaran lain"kata Meng, ia khawatir akan terjadi masalah jika Liu Yichen memukulnya bagaimana kalau Tuan Muda itu mati.


*Yichen ada disini? sepertinya dia tak menyadari keberadaanku apa lagi make up full ini sudah menutupi wajah asliku-batin Liu Wen awalnya ia hendak kabur karena ada Liu Yichen disini tetapi setelah dipikir pikir lagi sepertinya akan aneh jika tiba tiba ia pergi dari sana.


"Apa sudah selesai?"tanya Liu Wen, ia duduk dikursi sambil mengunyah makanannya.


"Hmm? Makananku masih banyak.... membosankan"kata Liu Wen, ia melihat kedalam kantung makanannya, perkelahian telah selesai tetapi makanannya masih banyak membuat Liu Wen kecewa.


"Kasihan sekali mereka"


"Keluarga Guru Besar mendapat perhatian khusus Putra Mahkota"


"Ya siapapun yang menganggu mereka pasti akan sengsara"


"Pendatang baru ini yang dibawa Tuan Yu kan? Itu juga putrinya"


"Hamil?"gumam Liu Yichen memang perut Liu Wen membesar secara tak wajar itu kelihatan karena hanfu yang dipakainya sangat tipis.


"Ada apa ramai sekali disini"kata Rong Tian yang sedang berada ditandu.


"Lapor Yang Mulia Putra Mahkota, jalanan ramai karena anak Guru besar sedang bermasalah dengan orang orang Tuan Yu"kata Pengawal yang memandu jalan dari depan.


"Tuan Yu? Hoo... Putri Pertama. Apa yang dia lakukan"gumam Rong Tian, ia tersenyum licik.


"Aku punya kesempatan balas dendam sekarang, hehehehe"tawa Rong Tian, ia turun dari kereta kuda dan berjalan kedalam kerumunan.


"Ada apa ini ramai sekali!"kata Rong Tian dengan dingin, ia menekuk alisnya dan menaikkan kepalanya dengan angkuh.


"Apa lagi ini? Satu orang bodoh datang, sepertinya bakal seru"gumam Liu Wen, ia mulai memakan makanannya lagi dan mengamati situasi.


"Orang bodoh?"kata Rong Tian, ia tersenyum kikuk telinganya cukup tajam mendengar hinaan Liu Wen.


"Salam Putra Mahkota"kata para rakyat yang berada disana mereka bersujud.


*Hooo.... Putra Mahkota dia-batin Liu Wen, ia tak kaget lagi kalau statusnya lebih dari Pangeran biasa.


"Dia menuduh saya menggoda Nona ini padahal Nona ini yang menggoda saya!"kata pemuda itu bersikeras wajahnya sudah babak belur karena Liu Yichen.


"Tolong kendalikan bawahan anda yang tak bermoral ini"kata Liu Yichen dengan dingin.


*Beda sekali dengan kakaknya-batin Rong Tian ia menatap Liu Wen yang asik makan padahal baru saja dihina ia langsung melupakannya begitu saja.


"Apa buktinya ia tak bermoral, dia adalah anak dari guru besar yang mengajariku"kata Rong Tian dengan tegas.


"Benarkan Putra Mahkota pasti membelanya"


"Sudah kuduga"


"Ya mau bagaimana lagi, dia kan anak dari gurunya"


"Tunanganku tak akan pernah berbohong"kata Liu Yichen memeluk Meng, alasan seseorang yang sedang jatuh cinta memang beda bisik para rakyat.


"Woww, setelah kupikir pikir mereka cocok"gumam Liu Wen sambil terus mengamati Meng dan adiknya.


"Heii temanku juga tak berbohong! Aku saksinya"kata Liu Wen, ia berdiri dan menunjuk pemuda itu.


"Diam saja kau babii"bentak pemuda itu menatap Liu Wen dengan tajam.


"Sudahku bilang berapa kali! Aku sedang hamil"kata Liu Wen, ia menghela nafasnya, malas marah sekarang karena sudah kenyang.


"Siapa yang menghamili babii jelek sepertimu pasti pria jelek dan cacat"kata pemuda itu dengan arogan.


"Oh ya?"kata Rong Tian sambil menyeringai.


"Sayang sekali yang menghamilinya adalah aku"sambung Rong Tian memeluk Liu Wen dengan erat.


"Hahaha, ternyata kau pria jelek dan cacat, apa??!!!"pemuda itu tersentak mendengar kata kata Rong Tian.


"Ya aku pria jelek dan cacat itu, hahaha"tawa Rong Tian dengan menyeramkan.


"Hei kau mau mati, lepaskan aku"kata Liu Wen, ia menatap datar kearah Rong Tian.


"Aku belum selesai buat perhitungan denganmu "kata Rong Tian tersenyum manis.


"Hah? Hei...hei kemarin itu aku hanya bercanda! Bercanda! Lagipula punyamu kan kecil itu sebabnya kubiarkan ia terbuka dan terbang siapa tahu saat kembali dia membesar"kata Liu Wen dengan blak blakkan.


"Tutup mulutmu Putri...."kata Rong Tian yang berusaha bersikap ramah.


"Dia Selirku, aku akan membawanya kembali ke istana"kata Rong Tian, ia merangkul Liu Wen menuju ke kereta kuda.


*Kau milikku-batin Rong Tian, ia tersenyum puas .


"Siapa Selirmu!!"kata Liu Wen dengan kesal.


"Kalau kau melawan! Kau akan dihukum, ini bukan kekaisaran Qin! Disini kau tak bisa seenaknya"bisik Rong Tian membuat Liu Wen kesal dan meremas mulut Rong Tian.


"Hei mantan Gigoloku! Mau di neraka pun aku tak takut"kata Liu Wen, ia menekuk alisnya melepas rangkulan Rong Tian.