I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
13. Pesta Perayaan



"kakak.... Sebenarnya kita mau kemana?"tanya Liu Yichen kepada Liu Wen yang dari taman menariknya sampai keluar kediaman.


"Pulang kegunung! Itu laboratorium daruratku! Ayo buat lampu disana bahan bahannya yang sebelumnya masih ada!"jawab Liu Wen dia berhenti dikandang kuda mengambil salah satu kuda disana dan hendak menaikinya.


"Ohh.... Yichen! Pinjamkan aku pakaianmu, memakai gaun seperti ini membuatku sulit"belum disetujui adiknya Liu Wen langsung kekamar Liu Yichen dan menganti pakaiannya, sekarang mereka sangat mirip hanya saja Liu Wen sedikit lebih pendek dan ramping.


"Bagaimana penampilanku"kata Liu Wen sambil mengibaskan kipasnya.


"Kakak jadi mirip waria, hahahaha"tawa Liu Yichen melihat penampilan baru Liu Wen.


"WARIA!"tampak tiga guratan didahinya.


"Akhh?! Tidak tidak! Kakak sangat tampan"Liu Yichen terkekeh pelan, mereka menaiki kuda masing masing dan pergi kegunung.


"Berapa jam kita akan sampai?"tanya Liu Wen yang sedang memacu kuda dengan sangat cepat.


"Emm...."Liu Yichen menghitung sejenak.


"Kita melewati dua desa dari Ibukota untuk sampai kegunung, jadi"Liu Wen melihat wajah adiknya.


"Dua jam"kata mereka serempak.


"Hm, untuk membuat lampu hias sekitar sepuluh meter membutuhkan waktu sekitar dua jam! Lampu disco tiga jam, kalau seorang amatir membantu mungkin akan selesai dua sampai tiga jam! Oke tidaklah sulit hanya lampu dan Yichen cepat nalar"gumam Liu Wen dia memperkirakan semuanya.


"Kakak.... cahaya itu akan dimasukan kemana lagi?"tanya Liu Yichen, ia mengira Liu Wen menangkap cahaya dan memasukannya didalam benda anehnya.


"Lampu, nama benda yang menghasilkan cahaya itu lampu! Aku tidak memasukannya tapi menciptakan cahaya! Ingatlah tidak sulit aku akan mengajarimu cara membuatnya"kata Liu Wen memacu kudanya terlebih dahulu.


Gunung


"Aiyaa! Pinggangku sakit"Liu Wen menggosok pinggangnya yang kram dua jam perjalanan tanpa henti membuatnya sakit pinggang.


"Kakak terlalu bersemangat. Lihat akibatnya"kata Liu Yichen yang baru saja sampai, ia mengambil beberapa obat kering dan menempelkannya dipunggung Liu Wen.


"Hehehehe..... Terima kasih adikku sayang"Liu Wen mengelus pucuk kepala Liu Yichen.


"Ayo kita selesaikan proyeknyaa!"Liu Wen mengangkat tangannya dengan semangat.


*Apa lagi itu proyek? Ah sudahlah jika bertanya nanti kakak marah"batin Liu Yichen mengedikkan bahunya.


"Oh ya Yichen! Nanti bantu aku hancurkan benda benda itu"kata Liu Wen menunjuk benda benda yang pernah dibuatnya dulu. Liu Wen tak mau benda benda itu ditemukan orang lain bukan takut rugi tapi ia takut mereka terluka karena tak mengerti cara menggunakan.


"Hm? Alat yang mengeluarkan udara hangat, alat untuk menghancurkan bahan makanan... Apa kakak tidak sayang dengan benda benda ini?"tanya Liu Yichen mengambil pemanas ruangan dan blender.


"Tak masalah Yichen! Kakak bisa membuatnya lagi.... Kalau ada yang menemukannya dan terluka karena alat alat ini kan bisa gawat"ceroceh Liu Wen dia sedang sibuk memilih kerangka lampunya.


"Baiklah kakak! Apa yang harus aku bantu"tanya Liu Yichen mendekati kakaknya, mereka mulai membuat kerangka dan menyambungkan semua komponen dan kabelnya nanti saat dikediaman dia akan memanfaatkan anak sungai yang mengalir didekat kediaman untuk membuat PLTA.


Note [PLTA : Pembangkit Listrik Tenaga Air]


"Selesai! Bagaimana? Apa mudah membuatnya?"tanya Liu Wen melihat adiknya yang antusias sekali saat membuat lampu bersamanya.


"Tidak terlalu sulit, aku tak menyangka bahan bahan dekat sini bisa digunakan menjadi alat yang menakjubkan!"Liu Yichen mengangguk pelan.


"Mmmm! Kau harus banyak belajar! Kalau membuat kerangka awal dari bahan alam mungkin agak susah tapi jika merakit kau pasti bisa"senyum Liu Wen, mengubah bambu menjadi kincir air atau mencampur zat zat untuk menjadikannya baterai, mungkin itu terlalu sulit untuk adiknya.


"Ayo kita pulang! Bawa barang barangnya ke kuda"perintah Liu Wen mereka memacu kudanya dengan kecepatan penuh.


"Tuann!"tiba tiba segerombolan perempuan muncul didepan kuda mereka.


"Apa kalian mau mati?!"bentak Liu Yichen memarahi segerombolan wanita itu.


"Ma...maaf! Tuann! Mereka agak sedikit liar"kata seorang pria yang membawa cambuk.


"Jalangg! Kalian beraninya kabur! Cepat kembali atau aku tak akan memberi kalian makan"pria itu mencambuk wanita wanita itu.


"Atas dasar apa kau mencambuk mereka?"Liu Wen turun dari kudanya.


"Mereka milikku! Jadi terserah padaku mau kuapakan mereka!"kata pria itu, ia melotot tajam kearah Liu Wen.


"Kakak! Kita akan terlambat lebih baik tidak usah ikut campur"Liu Yichen menarik Liu Wen kebelakang agar mereka melanjutkan perjalan mereka.


"Tu..tuann... Tolong kami! Hikss"para wanita itu menangis dari pakaiannya sepertinya wanita penghibur.


"Yichenn! Aku seorang wanita bagaimana perasaanmu jika aku dan ibu disakiti dan dijual menjadi wanita penghibur"Liu Yichen tertegun, ia mengangguk mengerti.


"Lepaskan mereka sebagai gantinya kuberi kalian 500 tael perak"kata Liu Wen, pria itu berbalik dan tertawa.


"Jika aku menjual mereka kepada hidung belang. Aku bisa mendapat lebih banyak"kata pria itu sambil menatap rendah Liu Wen.


"Kakak, negosiasi gagal"kata Liu Yichen mengambil pedangnya dan melempar belati kearah kakaknya.


"Rencana B?"Liu Wen maju tampak pria berbadan besar yang seperti pengawal itu menyerbu Liu Wen dan Liu Yichen.


"Serangan dekat dan kau jauh"Liu Yichen mengangguk, Liu Wen terus maju menusuk bagian internal menggunakan belati sedangkan Liu Yichen menebas kepala, kaki dan tangan mereka, tiga puluh orang itu bukan apa apa bagi mereka berdua.


"Jangan! Mendekat!"kata pria itu ketakutan, dia berlari belum sempat Liu Wen mengeluarkan suara.


"Cihh! Main kabur saja!"


"Mm..... Jarak lima meter arah barat lurus"Liu Wen melempar belatinya dan mengenai kaki pria itu.


"Hadiah darikuu"Liu Wen melambaikan tangannya nampak pria itu menghina Liu Wen sambil berlari dengan kaki pincangnya.


"Tuan! Terima kasih atas kebaikanmu"kata salah seorang wanita itu, ia berusaha menutupi tubuhnya yang terlihat karena bajunya yang minim.


"Tidak masalah"kata Liu Wen, ia tersenyum dan melepaskan hanfu luarnya.


*Ekhhh! Baju kesayanganku-batin Liu Yichen, ia ingin mengehentikan kakaknya tetapi melihat bajunya sudah dipakai wanita itu membuatnya pasrah saja.


"Tolong bawalah kami! Tuan"


"Saya bisa menghangatkan ranjang anda"salah satu wanita itu mendekat kearah Liu Wen dengan tatapan genit.


"Ahh... Kalian jangan salah paham"kata Liu Wen dia mundur beberapa langkah, sekarang ia merasa seperti akan dimakan oleh wanita itu.


"Ahh! Tuann yang ini?"wanita itu menghampiri Liu Yichen dan ingin memegang tangan Liu Yichen tetapi tatapan dingin Liu Yichen membuat, ia takut.


"Aku benci disentuh! Jangan dekat dekat denganku! Ayo kakak kita harus pergi"kata Liu Yichen naik keatas kudanya dan pergi duluan.


"Akhh! Adik tidak berbakti! Nona Nona! Maaf aku harus pergi dan tidak bisa membawa kalian"kata Liu Wen, ia menyengir dan menaiki kudanya.


"Ada apa Tuann? Apa kami tidak cukup canitk"


"Tidak....tidakk! Kalian cantik semua! Ambil uang ini dan pulanglah kerumah kalian masing masing, jangan berpikir untuk menjual diri kepada orang lain"Liu Wen langsung memacu kudanya dengan cepat dan pulang kekediaman Perdana Mentri Liu. Nampak Liu Yichen sudah menunggunya didepan pintu kediaman.


"Lama sekali! Ingat pesta sudah mulai dari tadi dan malam akan tiba. Jika taman belum selesai maka lampu yang ingin kakak tunjukan akan gagal!"Liu Yichen menatap datar kakaknya.


"Baiklah baiklah! Kau cerewet sekali. Yichen kasian tahu lihat wanita cantik tadi"Liu Wen mengembungkan pipinya dia kesal.


"Hmphh! Pasang ini! Dan ini...ini juga"Liu Wen langsung masuk dan menyuruh adiknya melakukan pekerjaan itu, mereka menaruh lampu kecil itu atas penganti lampion dan dibawah tanah, disembunyikan direrumputan sepanjang sepuluh meter tak lupa lampu berbentuk bulat dan berwarna putih yang bisa berputar diletakan ditengah kediaman inti.


"Selesai! Para tamu sudah datang! Nanti saat malam tiba mereka akan masuk kekediaman inti untuk perayaan puncak, calon suami kakak juga datang lho"Liu Yichen menyenggol bahu kakaknya.


"Pesetan dengan Kaisar cabul itu!"gumam Liu Wen wajahnya ditekuk masam.


Kediaman Perdana Mentri


"Chen'er dan Wen'er lama sekali. Whojin sebentar lagi acara inti akan dimulai. Kaisar juga mau datangkan? Tidak baik jika mereka tidak ada terutama Wen'er"Liu Yiren mondar mandir, ia khawatir terjadi sesuatu pada anak anaknya.


"Tenanglah Ren'er anak anak kita pasti datang tepat waktu!"Liu Whojin tersenyum menenangkan istrinya yang sangat mudah khawatir.


"Ayahh.... Ibuu"seru Liu Wen yang sudah berpakaian rapi dengan hanfu biru membuatnya lebih segar.


"Ayahh, tamu sudah datang dan memasuki taman"kata Liu Yichen, ia masuk kekamar orang tuanya. Hari ini ia tak kalah tampan dari ayahnya.


"Baiklah ayo ketaman!"kata Whojin sambil memeluk istrinya.


"Ada apa ini?"tanya seorang pejabat.


"Apa Perdana Mentri jadi bangkrut sampai sampai tidak bisa membeli lilin dan lampion"


"Hahahaha"


"Yang mulia Kaisar dan Ibu suri tibaa"teriak kasim Ma. Ia kesulitan berjalan karena tak membawa penerangan, karena ia pikir kediaman Perdana Mentri akan sangat terang karena ada acara malam ini.


"Ada apa ini kenapa sangat gelap disini?"tanya Ibu suri dengan suara lantang.


"Ibunda yakin tidak mengetahui sesuatu? Bukankah ibunda punya mata mata disini?"kata Kaisar Qin tanpa menatap ibunya.


"Entahlah.... hanya kesibukan perayaan kembali Permaisuri Liu dan anaknya saja! Apa kau mengetahui sesuatu"kata Ibu suri dia berdehem saat Kaisar mengatakannya dengan lantang hal itu tak baik untuk citranya.


"Mmm? Entahlah?! Aku juga tidak tahu ibunda"Kaisar Qin duduk ditempat yang telah disediakan. Sebenarnya dia melihat Liu Wen pergi bersama seorang pria kegunung dan bertemu para pedagang manusia dijalan, jika soal taman gelap dia juga tidak tahu dan penasaran.


"Ehhh? Kenapa gelap begini"kata Liu Whojin yang terkejut melihat taman kediamannya gelap.


"Kakak bilang jangan nyalakan lilin atau semacamnya dia akan memperlihatkan lampu"jawab Liu Yichen dengan singkat.


"Apa? Ehh kemana Liu Wen"Liu Whojin melihat kekanan dan kiri tak melihat sosok putrinya.


"Para tamu yang terhormat, mungkin anda penasaran kenapa taman kediaman perdana mentri sangatlah gelap Saya ingin menunjukan sesuatu, tak perlu lilin dan lampion untuk mendapat cahaya"kata Liu Wen tak tahu dari mana asal sumber suara karena sangatlah gelap. Meraka semua berbisik dan tak yakin, tiba tiba dibawah kaki mereka muncul cahaya penuh warna secara bertahap dari depan taman sampai ke taman dalam kediaman.


"Whoaa?! Apa ini"


"Apii kah?"


"Whoaa"


"Hmphh, sentuhan terakhir"Liu Wen menyalakan lampu bagian atas sehingga keadaan yang gelap menjadi terang tak lupa dengan lampu bulat putih yang bisa berputar juga dihidupkannya.


"Wahh! Menarikk"


"Bintang"


"Kediaman Perdana Mentri sungguh menarik"


"Apa itu? Bisa berputar seperti gasing?"


"Cantik seperti bulan!"


"Tapi ada kelap kelipnya"


"Hehehe... "Liu Wen tersenyum puas dan pergi mendekat ke ayahnya.


*Pria itu!? siapa-batin Kaisar Qin wajahnya seketika suram, melihat kedekatan Liu Wen dan Liu Yichen.


"Saudara semua ini adalah hasil kerja Liu Wen putriku! Aku akan meluruskan rangkaian peristiwa ini! Putri Pertama dan Permaisuri Liu tidak pernah meninggal mereka beberapa tahun ini tinggal digunung dan belum ingin kembali kekediaman, sedangkan dia adalah putraku yang tinggal bersama istriku digunung"kata Liu Whojin memeluk pinggang istrinya, semua orang tertegun mendengar penjelasn Perdana Mentri Liu.


*Sungguh banyak misteri-batin mereka.


*Adik Liu Wen ternyata-batin Kaisar Qin nampak wajahnya tersenyum kembali.


"Wen! Selamat datang"kata seorang pria yang tiba tiba merangkul Liu Wen, ia terkejut karena tak mengenal pria yang sok akrab di sampingnya.


"Ya ya?"Liu Wen tersenyum kikuk.


"Wen kau sangat berani menolak Kaisar! Sungguh!"bisik pria itu dia tertawa kecil sambil melihat Kaisar yang duduk dikursinya.


"Siapa kau?"Liu Wen menanyakan hal itu seketika suasana jadi hening.


"Wen jangan bercanda! aku feng Li... Sahabatmu! Jangan bilang kau lupa"kata Feng Li, ia adalah anak Jendral Feng teman baik Liu Wen.


"Hahahaha.... Li aku memang bercanda"Liu Wen tertawa sambil memukul dada Feng Li. Tiba tiba ingatan tentang masa lalu Liu Wen muncul dikepalanya membuatnya cepat berubah dan mencairkan suasana.


"Candaanmu tidak lucu Wen"kata Feng Li sambil melipat tangannya menaruhnya didada.


"Maaf!"Liu Wen tersenyum, ia menyatukan tangannya dan meminta maaf, ia juga berbicara informal pada Feng Li membuat temannya itu terkejut.


"Kau tahu aku sangat sedih saat mereka bilang kau tiada walaupun kau kejam dan suka bermain drama saat ada orang lain! Tapi saat denganku kau tidak pernah bermuka dua"kata Feng Li dengan antusias. Liu Wen yang dulu suka bermuka dua jika ada orang lain, hanya dengan Feng Li dia menunjukan sifat aslinya.


"Terima kasih telah membantuku"Liu Wen tersenyum, ia tak tahu harus menunjukan ekspresi seperti apa karena orang ini baru dikenalnya rasanya canggung jika tiba tiba sok akrab. Senyumannya itu membuat Feng Li tersipu.


"Ahhh... Kau bilang apa terima kasih? Sungguh berbeda dari yang dulu!"teriak heboh Feng Li.


"Mulai sekarang aku akan bersikap sedikit lunak dan tak bermuka dua lagi"kata Liu Wen menutup mulut Feng Li mereka kini sangat dekat.


"Putri pertama sepertinya suka bersama banyak pria ya?"Kata Kaisar Qin dari belakang, tampak tiga guratan didahinya itu dan aura mencekam darinya.


"Tuan Muda Feng sebaiknya jauh jauh dari Permaisuriku"Kaisar Qin menarik lengan Liu Wen.


"Hei! Heii! Sejak kapan aku jadi Permaisurimu!"kata Liu Wen menatap datar Kaisar Qin.


"Sejak aku mengumumkan di Istana bahwa kau akan jadi Permaisuri"Kaisar Qin menatap tajam kearah Liu Wen.