
"Siapa kau yang berani berkata begitu tentang istriku!"kata Presdir Mike dengan lantang, ia sangat tak suka dengan adik tirinya itu melihat wajahnya saja sudah membuatnya kesal apa lagi dengan tingkahnya.
"Mike... jika kau lebih suka yang tak perawan a-k-u, j-u-g-a, t-i-d-a-k, perawan lagi kok"bisik Dei sambil tersenyum nakal.
"Aku tak tertarik dengan bekasan ribuan orang"kata Presdir Mike membalas perkataan Dei dengan membisik hal itu ditelinganya.
"Dia juga bekasan orang, memiliki anak pula! Apa istimewanya janda itu!"bentak Dei membuat Nicholas menamparnya.
"Jaga sopan santunmu didepan kakakmu"kata Nicholas, ia tak terima jika ada seorang pun membentak putranya.
"D..dadd?"kata Dei, ia memegang pipinya yang masih terasa panas.
"Nic apa yang kau lakukan! Kau menampar putri kita"kata Rose, ia memapah putrinya yang terjatuh dilantai.
"Dia tak sopan kepada kakaknya! Bagaimana kau mendidiknya!"bentak Nicholas, baru pertama kali ia melihat sisi lain dari putrinya itu.
"Aiyaa.... sejak kapan rumahku menjadi lokasi syuting"kata Su Zheji, kepalanya masih mengeluarkan banyak darah akibat pukulan Dei tadi.
"Mama! Ayo pergi"kata Presdir Mike, ia menarik tangan ibunya pergi dari sana untuk menuju ke lantai atas luka ibunya perlu dirawat segera.
"M...mike? Mau kemana"tanya Nicholas, ia ingin mengapai tangan putranya tetapi dengan cepat Presdir Mike pergi dari sana.
"Pergilah dari sini! Aku sekarang berumur 26 tahun! Jangan temui aku lagi dengan alasan kau wali sahku.."kata Presdir Mike, ia menatap ayahnya dengan dingin, pria tua itu sudah lama tak dianggapnya sebagai ayah, tepatnya sejak ayahnya itu membawa selingkuhannya masuk kedalam rumah mereka.
"Sejak kau berselingkuh aku tak pernah memaafkanmu dan tak mau melihat wajahmu"kata Presdir Mike, ia hendak pergi terlebih dahulu tetapi ibunya mencegahnya.
*Hahaha... aku tidak sabar mengubah nama Perusahaan itu dari De Zure menjadi Rose Elaseve-batin Rose, tampak sekali diwajahnya itu rasa bahagia yang tak terkira.
Melihat hal itu membuat Su Zheji sedikit murung, ia masih mencintai mantan suaminya itu dan ia tahu kalau wanita tak tahu malu itu hanya menginginkan harta mantan suaminya saja. Itu sebabnya Su Zheji bersikeras agar De Zure harus dimiliki putranya setidaknya masa tua mantan suaminya akan terjamin.
"Haaahh..."Presdir Mike menghela nafasnya, melihat ekspresi ibunya membuatnya mengambil tindakan.
"Papa! Aku memaafkanmu tetapi jika De Zure dan seluruh harta papa menjadi milikku! Hanya Villa di Perot yang kusisakan untuk papa dan keluarga papa. Oh dan juga biaya sekolah Dena..."kata Presdir Mike, ia bukannya serakah tetapi ia ingin mengamankan harta ayahnya dari wanita haus harta yang dia sebut ibu tiri itu.
"A..apa?! Ni..Nic, kau takkan biarkan hal itu kan! Aku, Dei dan Dena, berhak atas harta mu juga! Tidak mungkin kau serahkan semuanya kepada putramu saja kan!"kata Rose, ia tersentak mendengar perkataan Presdir Mike.
*Dengan susah payah aku melemparkan diriku pada si tua ini untuk mendapatkan hartanya tidak! Tidak boleh sampai gagal-batin Rose karena Nicholas seorang pengusaha sukses di Paris, ia selalu menggodanya walau Nicholas sudah beristri dan mempunyai anak.
"D...dad! Aku dan Dena anakmu juga! Tidak mungkin kami tidak mendapatkan sepeser pun hartamu!"kata Dei, ia memegang erat tangan ayahnya, bagaimana mungkin ia bisa hidup tanpa uang, mobil, kemewahan dan tinggal di Villa yang berada didesa itu.
"Rose, kau mencintaiku kan?"tanya Nicholas tanpa melihat kearah istrinya itu.
"Ya... ya! Tentu aku sangat mencintaimu"kata Rose sambil memeluk Nicholas.
"Kau mencintaiku juga kan?"kata Rose meyakinkan suaminya.
"Ya aku mencintaimu, kalau begitu susah senang kau akan bersamaku kan"kata Nicholas memegang erat tangan istrinya.
"Sungguh drama"kata Su Zheji air matanya mengalir karena sangat terluka mendengar hal itu, ia memalingkan wajahnya.
"Te...tentu"kata Rose dengan ragu.
"Mom!"bentak Dei, ia tak bisa hidup sederhana bagaimana tanggapan teman temannya nanti.
"Baiklah Mike, kau anak papa semua harta papa akan menjadi milikmu. Papa juga tak akan ikut campur lagi. Asal kau bersedia memaafkanku dan sesekali mengunjungiku, papa akan merasa sangat bahagia"kata Nicholas, ia menghela nafasnya lagi pula De Zure berkembang sangat pesat ditangan putranya itu jika tiba tiba putranya itu membuang semuanya tentu saja perusahaannya akan terancam bangkrut.
"N..nic..."lirih Rose, ia berharap suaminya itu mengubah keputusannya.
*Apa aku harus hidup miskin!-batin Rose ia tak mau hidup susah.
"Dei dan Dena seorang perempuan suaminya yang akan menafkahinya"sambung Nicholas membenarkan keputusan Presdir Mike.
"Kau tak usah bekerja di De Zure lagi, cari pekerjaan diperusahaan lain! Kita harus memulai semua dari nol. Benar kan papa"kata Presdir Mike, ia tersenyum manis.
"Be..benar!"kata Nicholas demi putranya, ia bisa melakukan apa saja.
"Silakan pergi dari sini"kata Presdir Mike dengan sopan membuat Nicholas tersentak.
"Jaga dirimu baik baik, jangan lupa kunjungi papa"kata Nicholas saat ingin mendekati dan ingin memeluk putranya, putranya itu malah menghindar, memang sudah biasa kalau putranya itu selalu menghindar dan cuek kepadanya tetapi untuk perpisahan ini sangat menyakitkan baginya.
"Xuan..."kata Su Zheji yang berada disamping Presdir Mike tanpa menoleh.
"Hah...!"Presdir Mike menghela nafasnya, ia memeluk ayahnya yang nampak murung itu.
"Jaga diri papa juga, jika ada sesuatu, kabari aku"kata Presdir Mike walupun tak suka pelukan ini hanya karena ibunya menyuruhnya saja.
"Jangan kau racuni pikiran Mike untuk membenciku!"bisik Nicholas kepada mantan istrinya.
"Heh?! Aku tak sepertimu yang selalu meracuni Mike dengan kata kata 'mama mu tak pernah menyayangimu!' " balas Su Zheji berani beraninya, ia mengatakan hal ini padanya padahal dari tadi, dia lah orang yang mendorong putranya untuk dekat dengan ayahnya.
"Ayo Rose, Dei kita pulang"kata Nicholas mereka pergi keluar dari kediaman Su.
"Hah! Bikin pusing saja"kata Su Zheji, ia terduduk dilantai karena tak mampu lagi menopang tubuhnya.
"Mama masih mencintai pria tak bertanggung jawab itu kan?!"kata Presdir Mike tanpa menoleh ibunya.
"Dia papamu sayang"kata Su Zheji, kasar sekali kata kata putranya ini.
"Aku tak pernah memiliki papa seperti itu.... dia bajingann, aku mohon mama lupakan saja dia"kata Presdir Mike, ia pergi keluar Villa Keluarga Su karena masih kesal dengan kejadian barusan.
"Aku juga ingin menghapusnya Xuan. Te..tetapi... rasa cinta ini sudah terlalu dalam"lirih Su Zheji air matanya mengalir dari sudut matanya, ia bersender di meja dan memejamkan matanya.
*******
Villa Keluarga Liu
Drett Drett
Ponsel Liu Wen berbunyi, terterah disitu Presdir Mike mengirim pesan dengan nama kontak yang sangat pas untuk penganggu dalam hidupnya.
*Orang Gila : Kau ada waktu?
*Liu Wen : Ada? kenapa? Mau melamarku lagi?
*Orang gila : Tidak, bisa kita bertemu di cafe dekat rumahmu?
"Ada apa dengannya, tumben sekali"kata Liu Wen, ia baru saja menidurkan anak anaknya selarut ini Presdir Mike ingin bertemu dan bukan untuk melamarnya.
Liu Wen : Oke, tunggu aku
Balas Liu Wen, ia segera menuju cafe yang tak jauh dari Villa Keluarga Liu, sekitar 300 meter dan 10 menit jika berjalan kaki.
"Ada apa?"tanya Liu Wen, ia melihat raut wajah Presdir Mike yang tak bersahabat.
"Apa kau mencintai seseorang?"tanya Presdir Mike yang berada dikursi paling pojok di cafe itu, ia menatap Liu Wen dengan serius.
"Hah?"Liu Wen mengerutkan keningnya ada apa dengan pria didepannya ini.
"Jawab saja"kata Presdir Mike, ia sedikit murung dari biasanya.
"Aku bukannya ingin mengintrogasimu tetapi aku ingin mengetahui isi hati seorang wanita saja"sambung Presdir Mike, sepertinya Liu Wen enggan bicara karena memikirkan hal itu pikir Presdir Mike.
"O...okee hmm... cinta ya? Aku tak terlalu yakin tetapi sepertinya aku mencintai seseorang"kata Liu Wen sambil berpikir.
"Apa kau akan menyakiti dirimu sendiri demi orang yang kau cintai?"tanya Presdir Mike, ia ingin tahu pikiran wanita lain mengenai hal ini mungkin saja hanya ibunya yang berpikir begitu.
"Ahmm... jika tidak ada pilihan lain sepertinya begitu"jawab Liu Wen dengan ragu, ia mulai merasa aneh.
"Memangnya kenapa? Menyakiti diri sendiri demi orang lain? Sungguh bodoh!"kata Presdir Mike, ia meneguk sekaleng minuman soda.
"Saat kau benar benar jatuh cinta kau akan tahu, bagaimana cara berkorban demi mereka yang kau cintai atau bagaimana usahamu untuk melihat orang yang kau sayangi itu tetap tersenyum"gumam Liu Wen untuk sementara waktu mereka melupakan semua yang terjadi dan mengobrol layaknya teman biasa.