
Aula Istana
"Psttt! Kudengar Permaisuri menghilang?"
"Ada apa ini apa dia tak cukup bangga akan posisi Permaisuri"
"Katanya juga Selir Agung Chu akan diangkat menjadi Permaisuri"
"Wahh sepertinya akan menarik"
"Bagaimana ini bisa terjadi! Apa Wen'er selama ini tersiksa sampai kabur atau ada yang menculiknya, ini salahku memaksanya menjadi Permaisuri"gumam Liu Whojin, ia sangat marah mengetahui bahwa Liu Wen menghilang.
"Percayalah ayah!! Kakak baik baik saja"kata Liu Yichen, ia sedikit lega karena sudah ada Meng yang menemani kakaknya. Pagi ini Meng mengirim surat bahwa ia ada di Kediaman Giok.
"Ibu suri dan Selir Agung tiba...."teriak kasim membuat semua pejabat berdiri dan memberi salam padanya.
"Hari ini aku ingin mengangkat Selir Agung Chu Nuan sebagai Permaisuri karena Permaisuri Liu Wen sudah tak ada lagi"teriak Ibu suri dengan bangga, ia tak mendiskusikan hal ini lagi dengan Kaisar karena yakin anaknya akan setuju dengannya.
"Mohon maaf Ibu suri, anakku belum meninggal kenapa anda sudah main geser posisi saja?"tanya Liu Whojin, ia menyingitkan alisnya, tidak terima Liu Wen turun tahta dengan cara seperti ini seakan akan memang inilah yang Ibu suri inginkan atau ini rencana mereka.
"Anakmu yang kabur dari istana seharusnya aku menghukummu dan seluruh keluargamu"kata Ibu suri sambil melotot.
"Anakku? Dia tak mungkin melakukannya! Yah! Tapi tak masalah saya mau dia bercerai dengan Kaisar! Saya rasa mereka memang tidak cocok"kata Liu Whojin menahan amarahnya.
"Hmphh!! Tak perlu kau katakan lagi itu akan terjadi! Jangan terlalu bangga akan pencapaianmu disini bagaimanapun Kaisarnya adalah anakku! Anakmu tidak pantas mendampinginya"kata Ibu suri dengan nada meremehkan, ia bahkan tak tahu kalau tahta itu adalah pemberian lawan bicaranya.
"Ibunda benar aku Kaisarnya tetapi kenapa Ibunda masih ikut campur? Semua hakmu untuk bicara sudah dicabut saat itu! Apa anda lupa?"kata Kaisar memasuki aula dari raut wajahnya, ia terlihat sangat marah.
"Kaisar tibaa"teriak kasim membuat semua orang bersujud tiga kali untuk menghormatinya.
"Xuan'er..."lirih Ibu suri apa anaknya tak menghormatinya sama sekali sampai mempermalukannya didepan semua orang.
"Tidak ada Permaisuri baru!! Aku tak mengakuinya!!"kata Kaisar dengan dingin.
"Permaisuri Liu atas perintahku mengunjungi kuil!! Sesuai tradisi Permaisuri harus berdoa kepada sang buddha setiap akan masuk musim dingin awalnya ia akan berangkat lusa tetapi dia meninggalkan surat agar perjalanannya dipercepat dan tak tahu kapan kembali!! Dia ingin mengabdi kepada sang buddha dan berdoa agar mendapatkan seorang penerus untuk Dinasti Qin"kata Kaisar sekarang rasanya hawa Kaisar sangat dingin sangat buruk dari hari hari yang lain wajahnya juga mengerikan, ia terpaksa bohong agar Liu Wen bisa kembali kemari tanpa ada masalah.
"Ternyata begitu"
"Oh ya aku lupa tradisi itu"
"Ya itu memang harus dilakukan ini kan mau masuk musim dingin"
"Permaisuri mau berdoa untuk buddha sungguh taat"
"Yang Mulia... saya"kata Selir Chu, ia sudah memakai jubah Phoenix dan mahkota milik Permaisuri membuat Kaisar marah.
"Kenapa kau memakainya singkirkan itu"kata Kaisar, ia mendorong Selir Chu.
"Maafkan saya, Yang Mulia"kata Selir Chu menahan tangisnya.
"Walaupun begitu aku mau kau dan Wen'er tak ada hubungan apa pun! Jika ingin mengangkat Permaisuri baru silakan! Cepat ceraikan putriku, kau bisa membohongi orang lain dengan cerita karanganmu tapi tidak denganku! Kukira kau bisa menjaganya dengan baik, ternyata aku salah sudah percaya padamu"kata Liu Whojin dengan sedikit berbisik, ia mengeluarkan plakat pemberian Kaisar terdahulu.
"Wah tak disangka Perdana Mentri Liu menggunakannya"
"Itu Plakat Zen Kaisar terdahulu bisa meminta apapun kecuali tahta dengan jaminan Perdana Mentri tak akan pernah berkhianat"
"Dia menggunakan itu demi menceraikan Permaisuri dan Kaisar?"
"Jika aku yang diberi Plakat itu aku pasti meminta kekayaan"
"Padahal Permaisuri dan Kaisar baru menikah beberapa bulan"
"Wow, ini rekor pernikahan tercepat didataran Tiong"
"Semua ayah anak perempuan di kekaisaraan ini menginginkan anaknya menjadi Permaisuri. Bahkan ada yang tak peduli walau anaknya mati dibunuh oleh para Selir dan Perdana Mentri Liu?? Dia malah ingin anaknya bercerai dengan seorang Kaisar dan melepas stastus Permaisuri?"
"Aku... tidak bisa menceraikannya"kata Kaisar membuang mukanya.
"Tidak ada hak bagi anda untuk menolak hamba menggunakan Plakat ini jadi anda harus menceraikannya, walau anda tak menganggapnya seluruh orang di aula sudah mengakuinya"kata Perdana Mentri Liu, ia pergi dari sana diikuti Liu Yichen.
"Jangan khawatir ayahku hanya emosi sesaat, anggap itu sebuah kata kata orang yang sedang marah"kata Liu Yichen menatap kakak iparnya dengan datar.
"Kau percaya padaku?"kata Kaisar kepada Liu Yichen.
"Tidak. Yang kupercaya adalah kakakku orang yang tak mudah ditindas dan sedikit nakal"kata Liu Yichen, ia menyusul ayahnya yang sudah pergi jauh.
****
Kediaman Naga
"Ada perkembangan apa?"tanya Kaisar, ia sangat bahagia saat melihat Chen masuk kekamarnya.
"Permaisuri masih belum ditemukan Yang Mulia"kata Chen, ia menghela nafasnya seluruh Ibu kota sudah ditelusurinya tetapi jejak Liu Wen tak ditemukan.
"Aku akan mencarinya malam ini"kata Kaisar, ia merapikan dokumennya yang bertebaran dimana mana.
"Akanku lakukan apapun demi menemukannya walau taruhannya nyawaku"seru Kaisar ia memijit pelipisnya, dari pagi ia belum memakan apapun karena sibuk mencari Liu Wen didalam istana yang sangat besar itu.
"Jaga kesehatan anda, Permaisuri akan sedih jika anda sakit"kata Chen, ia pergi begitu saja.
"Apa kau tak menyukaiku sampai harus pergi dari sini"gumam Kaisar, ia frustasi padahal baru beberapa jam diketahuinya Liu Wen menghilang tetapi ia sudah khawatir Liu Wen tidak akan kembali lagi untuk selamanya.
"Ibu suri tibaa"teriak kasim.
"Xuan! Apa kau puas mempermalukan Ibunda? Aku Ibumu Xuan"kata Ibu suri dia menangis dan terduduk karena sedih.
"Ibunda aku tak bermaksud begitu"kata Kaisar memapah ibunya untuk berdiri.
"Sebelum jadi suami kau adalah anakku dan kau sangat lancang! Aku benar benar sedih"lirih Ibu suri dia menangis didekapan Kaisar.
"Maafkan aku. Aku mohon Ibunda juga jangan memaksaku"kata Kaisar dengan datar.
"Ini demi kebaikanmu! Jangankan memiliki anak! Kau bahkan tak memdekati satupun istrimu"bentak Ibu suri bagaimana jika garis keturunannya berakhir disini, membayangkannya saja membuat bulu kuduknya berdiri.
"Ibunda jangan bicarakan hal ini"kata Kaisar memegang kepalanya sangat pusing lagi lagi ibunya menuntut sesuatu.
"Tidak! Kau tadi mempermalukanku didepan semua orang dengan tidak mengangkat Chu Nuan menjadi Permaisuri!! Sekarang tidak mau menyentuh istri istrimu!! Kau ingin aku mati saja Xuan?"tanya Ibu suri, ia menarik baju putranya dengan tatapan yang mengerikan.
"Liu Wen masih hidup walaupun dia mati aku tidak akan mengangkat Permaisuri lain!"bentak Kaisar, ia mencekam tangan ibunya dengan kuat karena emosi.
"Kalau begitu lanjutkan garis keturuanmu dengan para Selir aku tak akan memaksamu mengangkat Permaisuri lain"kata Ibu suri memegang pipi anaknya dengan lembut berharap anaknya menurutinya.
"Tidak akan!"kata Kaisar bersikeras.
"Baik! Hari ini adalah hari kematian ibumu"kata Ibu suri dia mengores lehernya menggunakan belati.
"Ibundaa! Apa yang kau lakukan! Bangun! bangunlah!"teriak Kaisar, ia tak mau kehilangan orang yang ia sayang untuk kesekian kalinya.
"Berjanjilah padaku kau akan memiliki seorang putra"kata Ibu suri, ia pingsan karena kehilangan banyak darah Kaisar langsung memapah Ibu suri ranjang dan memanggil tabib Wu.
"Aku janji! Bangunlah sekarang!"kata Kaisar memegang tangan Ibunya.
"Ibu suri baik baik saja sebentar lagi akan siuman"kata tabib Wu, ia memeriksa nadi Ibu suri memang banyak darah yang keluar tetapi hal itu belum cukup untuk membunuh Ibu suri.
"Xuan'er?"lirih Ibu suri, lehernya terasa nyeri, tidak disangka ia mengores lehernya sendiri untuk mengancam putranya.
"Aku janji Ibunda janji! Jadi jangan lukai dirimu lagi"kata Kaisar mencium tangan Ibu suri.
"Syukurlah Xuan'er kau memang anak yang baik"senyum Ibu suri, ia terkesan sangat memaksa putranya karena sangat frustasi tetapi ini semua demi kebaikan putranya itu sendiri.
*Maafkan Ibunda... kau memaksa
Ibunda melakukan hal ini-batin Ibu suri.
*****
"Liansu?"panggil Liu Wen melihat Meng sedang duduk dikamarnya.
"Ayah?"kata Meng, ia langsung menghampiri Liu Wen.
"Kau kenapa?"tanya Liu Wen melihat wajah Meng yang sedikit sedih membuatnya berpikir ada yang tak beres.
"Aku baik baik saja hanya saja... apa aku bisa melakukan peran ini dengan baik?"tanya Meng dengan raut wajah senduh.
"Tenanglah kau sudah menjadi anak yang baik semua orang dikediaman ini terkejut melihatmu yang pagi pagi masak dan cuci baju, aku harus mengarang cerita kalau kau anak yang mandiri"kata Liu Wen tertawa ringan.
"Maaf Yang Mulia! Saya sudah terbiasa selama ini"kata Meng itu memang benar Meng pagi pagi sudah bangun hanya untuk mencuci baju.
"Hei! kata katamu.."kata Liu Wen melirik beberapa orang yang lewat.
"Hehehe... maaf ayah. Liansu memang bodoh"kata Meng menjulurkan lidahnya, semua orang dikediaman Giok memperhatikan mereka berdua terutama Meng yang sangat menawan.
"Kita akan pergi Kekaisaran Rong disana ada sumber daya yang bagus aku ingin membuat alat"kata Liu Wen dengan serius akhirnya impiannya akan tercapai.
"Kapan kita pergi ayah?"
" Lusa! Waktunya kita menjelajahi dataran Tiong!"kata Liu Wen mengedipkan matanya.
"Mau kepasar? Sepertinya disini orang tak berhenti menatap putriku?"kata Liu Wen dengan sedikit menggoda dan melirik para pegawainya yang malu karena ketahuan oleh tuannya.
"Hmm... aku mau makan Ayam Panggang direstoran ayah"kata Meng sambil merangkul Liu Wen.
"Baiklah! Kau akan jalan jalan melihat kota denganku hari ini sebelum kita pergi"kata Liu Wen, ia dan Meng langsung naik kereta kuda dan menuju beberapa restoran yang baru beberapa bulan dibangunnya tetapi sangat ramai dan terkenal.
"Ayah sangat terkenal ya"kata Meng melanjutkan sandiwaranya.
"Ehmm, ya begitulah aku pengusaha sukses yang jarang muncul dimuka umum"kata Liu Wen, ia berdehem karena kata kata Meng seperti sindiran untuknya.