
"Papi mandul!"kata Aiden seakan bisa membaca pikiran Anna, ia mengatakan hal itu sambil memperhatikan jalan sidang.
"Bagaimana bisa!? Apa kita bukan anaknya, bahkan wajahmu itu seperti kembarannya papi"kata Jake, sangat tak masuk akal jika ayahnya itu mandul. Dilihat dari wajah Aiden pun sudah terlihat kalau dia mirip sekali dengan ayahnya.
"Aku tahu, bearti kesimpulannya adalah papi meminum obat sebelum Qin Meili lahir, entah itu kapan"kata Aiden matanya masih fokus melihat jalannya sidang, ayahnya yang masih berbicara dengan lantangnya memarahi para pejabat Kekaisaran agar tak melakukan kesalahan yang sama seperti Selir Chu atau Song Yuyue.
"Kenapa begini? Aku memberi dia cinta kasihku layaknya seorang ibu! Dan Mei'er.... sudah kuberi semua yang dia mau! Kenapa jadi begini! Aku memberi cinta kepada cucu orang lain! Dia bukan anak Xuan"gumam Ibu suri hatinya sakit ditipu oleh menantu tersayangnya dan mencintai anak perempuan yang dianggapnya cucu kandungnya.
"Ckk! Sialan! Baguslah dia mati! Pengkhianatan itu"kata Ibu suri walaupun masih kecewa dengan semua yang terjadi, ia masih bisa mengangkat kepalanya dengan angkuh.
"Sekarang aku hanya memiliki We'er! Bagaimana pun caranya akan kujadikan dia Kaisar negeri ini. Anak pungut Liu Wen tak akan bisa menjadi Kaisar! Hanya putra Xuan yang akan menjadi Kaisar"kata Ibu suri tak terasa sidang berakhir saat ia selesai dengan pikirannya sendiri, semua orang sudah pergi menyisahkan anggota kerajaan saja.
"Haaa... aku harap Meili tidak meninggal secepat ini"kata Liu Wen, ia sangat sedih melihat wajah Qin Meili yang berlumuran darah.
"Bagaimana dengan penguburannya? Apa kau akan memakamkannya sebagai orang biasa?"tanya Liu Wen kepada Kaisar para pengawal membawa mayat Qin Meili untuk segera dibersihkan dan dikubur dengan layaknya.
"Tentu saja dia bukan anggota kerajaan kenapa harus dimakamkan di area makam Kerajaan!?"kata Ibu suri dengan ketus.
"Apa anda yakin? Bukankah dulu anda menyayanginya?"tanya Liu Wen, selama hampir dua minggu di istana, ia selalu melihat ibu suri bolak balik ke kediaman Qin Meili karena mengkhawatirkan kesehatannya.
"Hmph! Dia bukan cucuku untuk apa aku merasa ragu! Cari saja tanah didekat gunung helu dia anak haram tak layak dimakamkan di Ibu kota"kata Ibu suri, dia pergi meninggalkan aula istana setelah mengatakan hal itu.
"Tenanglah.... Meili akan dikuburkan dimakam istana, bagaimana pun juga aku sudah merawatnya selama beberapa tahun, aku meyayanginya meski hanya sedikit"kata Kaisar ia mengusap rambut Liu Wen.
"Ma... "seru Aiden yang baru saja akan memanggil ibunya untuk mendiskusikan apa yang dia pikirkan, Qin Jianwe memeluk Liu Wen dari samping.
"Mami... aku takut"seru Qin Jianwe meskipun sudah remaja, ia sangat suka jika Liu Wen memperlakukannya seperti anak kecil.
"Sudah sudah tidak apa, jangan katakan apapun kepada ayahanda"kata Liu Wen, ia menyembunyikan wajah Qin Jianwe didekapannya.
"Zhan'er! Mulai hari ini kau harus belajar tata krama seorang Kaisar dan sering membahas masalah politik dengan para Mentri atau minta kakek Liu mengajarimu"kata Kaisar dengan bahagianya memeluk Aiden dan memberinya saran agar bisa menjadi Kaisar yang baik.
"Kakakku sudah pintar, jangan ceramahi dia"kata Jake dengan sinis kepada ayahnya.
"Ayolah, papi hanya berbagi pengalaman"kata Keyzee kenapa kakak keduanya ini sangat sensi jika ayahnya mulai berbicara.
"Hmphh! Kalian diamlah"kata Anna meskipun kata katanya sangat kasar, ia tersenyum akhirnya merasakan hangatnya keluarga.
"Jika ada yang luka bisa silakan datang padaku, satu tael perak per lima cm luka"kata Ellson sambil tersenyum, ia mengeluarkan beberapa saleb ditangannya.
"Wahh, kau mau jadi kaya dengan cepat ternyata?! Membabi buta memberi harga"kata Jake membuat para ayah dan anak itu tertawa.
"Mereka sangat bahagia"gumam Qin Jianwe saat melihat Kaisar dan si kembar saling bergurau membuatnya sedih, dulu dia juga pernah melakukan hal hal seperti itu dengan Qin Yuanqu tetapi sekarang? Karena sudah salah paham selama bertahun tahun mungkin Qin Yuanqu tak akan memaafkannya.
"Masih ada mami...."
"Ayahmu tak mungkin membencimu jika kau bilang meminta maaf dengan tulus! Percayalah ayahmu orang baik!"kata Liu Wen kegelisahan Qin Jianwe sangat jelas sehingga Liu Wen tahu apa yang sedang dipikirkannya.
"Aku tahu tapi kita tak memiliki hubungan apapun sekarang. Apa boleh aku memanggilmu mami dan Kaisar ayahanda?"kata Qin Jianwe, rasanya sangat canggung jika masih memanggil Liu Wen dengan panggilan itu karena mereka tak ada hubungan apapun.
"Aku bibimu! Kita memiliki hubungan darah! Tapi kau juga bisa memanggilku mami dan Kaisar ayahanda! Kita kan keluarga! Paman itu sama seperti ayah, jadi kau anggap saja Kaisar Ayahanda keduamu"kata Liu Wen membuat Qin Jianwe sedikit percaya diri.
"Baiklah mami, heheheh.... aku pergi dulu ke kamar"kata Qin Jianwe, ia mengecup kedua pipi Liu Wen atas permintaan Liu Wen sendiri.
"Mami... apa putramu yang paling tampan ini sudah tidak ada artinya lagi buatmu?"tanya Jake sudah lama sekali dia menunggu ibunya itu berbincang dengan Qin Jianwe.
"Owhh... anakku yang paling tampan! Sini sini"kata Liu Wen, ia membuka lebar tangannya bukan hanya Jake yang berlarian kearah Liu Wen tetapi keempat anaknya juga berlari kesana bahkan mendahulu si narsis Jake.
"Semuanya sudah berakhir"kata Liu Wen dia menghela nafas panjang, ada rasa lega didadanya.
"Belum. Masih ada satu masalah kita masih harus berhati hati"gumam Aiden didalam pelukan ibunya itu.
"Apa?"tanya Liu Wen kepada Aiden, ia mengusap rambut Aiden yang sudah mulai memanjang.
"Tidak. Bukan apa apa"kata Aiden, kali ini dia tak mau merepotkan ibunya untuk mencari satu kebenaran.
**********
Kediaman Ibu suri
"Hmphh! Tak disangka Mei'er bukan cucuku! Bahkan dia meracuni We'er ku!Sialan! Sialan!"kata Ibu suri, ia masih kesal karena berhasil ditipu oleh Selir Chu.
"Bagaimana cara kerjamu! Kau bahkan tak tahu We'er diracuni! Tabib Wu!"teriak Ibu suri, ia melempar cangkir keramik itu kearah tabib Wu sampai keningnya berdarah.
"Ampun Yang Mulia! Selama ini Selir sendiri yang meracik obat Pangeran! Anda juga yang bilang bahwa saya harus bekerja sama dengan Selir Chu"kata tabib Wu alasan ini pasti akan membuat Ibu suri tak memarahinya.
"Pergi!"teriak Ibu suri, ia terus melempari tabib Wu untuk melampiaskan kemarahannya.
*Hmphh! Uang yang kau beri lebih sedikit tentu saja aku berubah haluan!-batin tabib Wu, ia tak pernah memihak siapapun entah itu Ibu suri, Qin Yuanqu atau Selir Chu yang dia tahu hanya uang siapa yang paling banyak memberinya uang disitulah ia mulai berkerja, sesulit dan sebahaya apapun pasti akan dilakukannya.
"Hei! kemari"kata Ibu suri, ia memanggil tabib Wu untuk kembali menghadapnya.
"Kau masih ingat racikan obat mandul beberapa tahun yang lalu? Obat yang pernah kuberikan dengan Permaisuri itu!"tanya Ibu suri dengan ketus, ia memikirkan cara baru agar bisa menyingkirkan Aiden.
"I...ingat! Saya masih ingat"kata Tabib Wu dengan gugup apa lagi yang ingin dilakukan Ibu suri pikirnya.
"Buatkan obat itu lagi! Dan berikan dimakanan Putra Mahkota! Jika Putra Mahkota mandul, secara otomatis tahta akan menjadi milik We'er"kata Ibu suri, Tabib Wu mengangguk paham dan akan mulai melakukan pekerjaan kotornya.
*Tidak sekarang We'er diurutan nomer 4 sebagai pewaris dua anak pungut Liu Wen itu juga hambatannya! Tidak... tidak masalah aku bisa membunuh mereka kapan saja nanti! Yang terpenting aku harus membuat Putra Mahkota Zhan mandul dulu!-batin Ibu suri, ia hampir lupa dengan kedua putra Liu Wen yang lain.
"Awalnya aku merencanakan hal ini untuk Liu Wen tetapi sekarang lebih baik pembunuh bayaran itu kugunakan untuk membunuh anak pungutnya yang pertama itu! Dia harus disingkirkan karena wajahnya terlalu mirip dengan Xuan!"kata Ibu suri, ia sudah menyiapkan para pembunuh bayaran dari gunung helu untuk menghabisi Liu Wen tetapi ia mengubah rencananya itu dan ingin membunuh Aiden terlebih dahulu.