
"Shsss...."Liu Wen berdesis karena merasa sakit pada bagian punggungnya. Ia membuka matanya samar samar dan mendengar suara orang yang sedang berbicara.
"Bagaimana kondisinya tabib Wu?"tanya Kaisar Qin kepada tabib Wu seorang tabib kepala istana Kekaisaran Qin.
"Kondisi Yang Mulia Permaisuri sangat mengkhawatirkan! Belum lagi penanganan yang lambat membuat..."kata tabib Wu terhenti ada rasa cemas diwajahnya, entah dia harus melakukan apa yang dikatakan Ibu suri atau tidak.
*****
Kediaman Ibu suri
"Hamba memberi salam kepada Ibu suri. Jika boleh hamba tahu, ada apa anda memanggil hamba?"tanya tabib Wu, ia sedikit kebinggungan kinerja kerjanya akhir akhir ini membaik dan tak membuat masalah, lantas apa alasannya Ibu suri memanggilnya.
"Aku dengar Permaisuri pingsan kehabisan darah dan pelayannya sedang mencari tabib?"bukan menjawab Ibu suri bertanya balik.
"Ya! Yang Mulia! Pelayan itu menemui hamba. Dia meminta hamba segera ke kediaman Phoenix tetapi ditengah jalan anda memanggil hamba"kata tabib Wu tanpa melirik dengan posisi berlutut.
"Mmm..... aku butuh bantuanmu sama seperti kau membuat racun untuk Kaisar terdahulu...."
"Aku mau kau katakan kepada Kaisar kalau Permaisuri tidak bisa mengandung"kata Ibu suri sambil menikmati tehnya walaupun Kaisar berkata tidak peduli kepada Liu Wen, ia masih tidak tenang jika tak melakukan sesuatu.
"Tapi! Ibu suri! Bagaimana jika Yang Mulia Kaisar mengetahui bahwa ini hanya kebohongan?"tanya tabib Wu, ia tersentak mendengar perkataan Ibu suri. Hatinya mulai cemas tidak seperti Kaisar terdahulu, Kaisar yang sekarang adalah orang yang pintar dan berhati hati tidak mungkin Kaisar tak menyadarinya apa lagi hal itu hanya kebohongan.
"Tenanglah.... setelah kau pensiun anakmu akan langsung menjadi ketua tabib istana dan jika sudah diketahui oleh Yang Mulia Kaisar aku yang akan melindungimu"kata Ibu suri menatap tajam kearah tabib Wu.
"Agar tak menjadi kebohongan bagaimana jika kau beri obat mandul ke kue yang akan kuberikan kepada Permaisuri?! Hmm! Aku akan datang menjengguk Permaisuri besok dan melihat apakah pekerjaanmu selesai dengan baik atau tidak"kata Ibu suri dibalas anggukan tabib Wu sepertinya itu lebih baik untuk dilakukan, jika Permaisuri benar benar mandul ia tak akan dapat masalah. Ia pergi menuju ke kediaman Phoenix.
"Aku ingin lihat bagaimana kau bisa bertahan tanpa memiliki seorang anak! Hmphh bermimipilah!! Posisi Permaisuri itu tidak akan bertahan lama ditanganmu, hahahaha"Ibu suri merasa tertawa puas. Ia bisa menyingkirkan Liu Wen tanpa mengotori tangannya secara langsung.
****
"Katakan saja aku akan menerima semuanya"kata Kaisar, ia mulai cemas saat melihat ekspresi Tabib Wu yang sedikit enggan mengatakannya.
"Selain dari luka luar Permaisuri tidak bisa mengandung karena mendapat pukulan berkali kali dibagian pinggang dan pinggul"kata tabib Wu dengan gugup bukan takut akan kemarahan Kaisar melainkan takut ketahuan bohong sekarang.
"Apa!"Kaisar terkejut, ia tak menyangka hal ini akan terjadi, apa impiannya memiliki anak dengan Liu Wen akan berakhir. Ia menyesal sangat menyesal menghukum Liu Wen sebegitu kerasnya.
*Apa??! Aku tak bisa memiliki anak-batin Liu Wen dia menoleh kearah samping tak mau air matanya terlihat oleh orang lain. Walaupun ia tak mau memiliki anak sekarang tetapi ia juga ingin menikmati masa masa menjadi seorang ibu.
"Maaf karena hamba terlambat menolong Permaisuri Yang Mulia Kaisar"kata tabib Wu bersujud, wajahnya pucat mungkin saja sekarang Kaisar akan menghukumnya karena tak kompeten sebagai seorang tabib.
"Kau tidak salah... berikan obatnya aku akan mengolesnya sendiri! Pergilah"kata Kaisar, ia mengambil obat untuk luka luar Liu Wen dari tabib Wu.
"Baik Yang Mulia"kata tabib Wu, ia langsung pergi dari sana dengan perasaan lega.
"Wen'er maafkan aku.... aku membuat kesalahan yang fatal"Kaisar menangis disamping Liu Wen.
"Diamlah!! Yang mandul itu aku! Kau masih punya kesempatan untuk memiliki anak dengan Selirmu yang lain"kata Liu Wen ia tak menoleh ke arah Kaisar.
"Kau mendengarnya?"tanya Kaisar, ia terkejut saat Liu Wen menjawab perkataannya.
"Tentu saja jika mendapat luka separah ini apa aku bisa tidur?"Liu Wen menatap tajam kearah Kaisar.
"Maafkan aku"lirih Kaisar, ia menatap mata Liu Wen dengan lembut.
"Huhhhh!! Sudahlah! Mau bagaimana pun kau Kaisar!"
"Aku tak menyalahkanmu. Aku mulai mengerti menjadi seorang Kaisar memang bukan hal yang mudah, harus adil kepada Selirnya, mengurus negara, terkait peraturan, walaupun aku hanya pionmu. Kurasa aku mengerti..."Liu Wen menghela nafasnya, ia beranjak duduk dan mengambil obat oles dari tangan Kaisar. Ia tak marah hanya saja ada rasa kecewa sedikit kenapa Qin Xuan harus menjadi Kaisar.
"Biarkan aku saja yang mengolesnya, berbaringlah"Kaisar terharu mendengar kata kata Liu Wen, entah kenapa rasa bersalahnya makin bertambah padahal ia tidak pernah menganggap Liu Wen pion. Baginya Liu Wen adalah wanita yang sangat cintainya.
"Shhsss.... pelan pelan!lirih Liu Wen, ia meringin menahan sakit.
"Maaf... aku akan lebih hati hati"kata Kaisar, ia mengobati Liu Wen dengan hati hati.
"Hei... Qin Xuan! Sejujurnya aku tak pernah membencimu, aku cuma tak suka hidup dikekang makannya aku sering membantahmu"kata Liu Wen dengan tatapan sayu.
"Benarkah?"tanya Kaisar, ia menatap Liu Wen dengan serius.
"Mmm"Liu Wen mengangguk.
"Ak...aku juga tak pernah menganggapmu pion. Aku hanya terbawa emosi saat mengatakan hal hal yang menyakitimu"kata Kaisar, ia memainkan jarinya dan berlagak seperti anak kecil.
"Oh ya?"Liu Wen tersenyum, tiba tiba Kaisar Qin memeluknya.
"Maaf aku tak bisa sedikit jujur kepada diriku aku.. "Liu Wen langsung mencium Kaisar.
*Orang yang kusukai ada didepanku dan dia suamiku tak perlu menahan diri lagi-batin Liu Wen.
"Tenanglah ini hanya luka luar! Sekarang! Aku menginginkannya sekarang!"kata Liu Wen, ia mencium Kaisar dan mulai membuka baju Kaisar.
"Hmm"hanya deheman yang dibalas Kaisar, ia juga menginginkannya selama ini hanya takut jika meminta langsung.
"Ahh! Sakit! pelannn pelan luka ku"teriak Liu Wen, sepanjang malam mereka melakukannya sampai fajar tiba.
****
"Eghhh"Kaisar Qin memegang kepalanya yang sedikit sakit karena kurang tidur semalam tak disangka Liu Wen menginginkannya, ja tersenyum mengingatnya.
Bunyi perut Liu Wen terdengar membuat Kaisar terkekeh.
"Wen'er kau sudah bangun? Apa kau lapar?"tanya Kaisar, ia mengelus pucuk kepala Liu Wen.
"Iya.... malunya"gumam Liu Wen, ia menutup wajahnya menggunakan selimut.
"Untuk apa malu? Aku suamimu"kata Kaisar membuatnya semakin malu.
"Ahh... iya! Aku mau makan! Huh! Ada kue aku akan memakannya saja"kata Liu Wen bicaranya jadi gagap, entah karena kejadian semalam atau perutnya yang keroncongan membuatnya salah tingkah dari tadi.
"Tunggu Wen'er! Jangan makan itu! Perutmu belum kuat makan yang keras keras! Aku akan suruh pelayan membuatkanmu bubur persik"cegat Kaisar ia memegang tangan Liu Wen yang hampir memakan kue itu.
"Tapi ini Ibu suri yang memberikannya nanti aku kena masalah"dengus Liu Wen saat tabib Wu membawanya atas perintah Ibu suri mau tak mau ia harus menurutinya atau masalah baru akan timbul kembali.
"Aku yang akan makan kuenya lagi pula. Aku juga lapar"kata Kaisar dengan sengaja mengoda Liu Wen, ia memakan kue itu dengan sangat nikmat membuat perut Liu Wen semakin keroncongan.
"Huh?! Kau sengaja mau makan kueku!Meng! Cepat buatkan bubur!"teriak Liu Wen dari dalam kamar.
"Baik Permaisuri"kata Meng dari luar kamar.
"Ini enak Wen"kata Kaisar menghabiskan kue yang diberikan ibunya.
"Ibu suri tiba"teriak seorang kasim, Ibu suri masuk dan mendekat kearah Liu Wen.
"Kau baik baik saja? Kemarin salahku karena menyuruh anakku menghukummu sampai terluka parah"kata Ibu suri, ia melirik kearah piring kue yang kemarin ia berikan.
*Baguss! Kuenya habis! Aku tidak sudi punya cucu darimu-batin Ibu suri didalam hatinta ia tertawa puas.
"Tidak apa Ibu suri! Saya juga salah karena tidak menghormati anda"kata Liu Wen sambil menundukkan kepalanya.
*Ada apa dengan nenek sihir ini, tiba tiba jadi baik! Pasti ada maunya-batin Liu Wen, ia sedikit binggung dengan perlakukan Ibu suri pada dirinya.
"Panggil aku Ibunda! Aku juga dengar dari tabib Wu kau tidak bisa mengandung. Aku turut berduka karena hal itu"kata Ibu suri air matanya berlinang dan langsung memeluk Liu Wen.
"Hmm.... tidak masalah saya tidak apa"kata Liu Wen, ia curiga kenapa cepat sekali Ibu suri tahu, berita bahwa dirinya mandul.
"Bagaimana tidak apa?! Putra Mahkota tidak berasal dari Permaisuri lalu dari siapa?"kata Ibu suri, ia masih memeluk erat Liu Wen dengan raut wajah sedih.
"Selir Agung masih ada! Saya akan mengurus jadwal bermalam mereka dengan Kaisar"kata Liu Wen ada rasa gelisah dihatinya tetapi ia tak ambil pusing toh dia juga tak lama disini.
"Tidak!! Aku tidak mau! Aku hanya akan menyentuh Wen!! Walau dia tak bisa mengandung aku tetap tak mau bermalam dengan wanita manapun! "kata Kaisar dengan tegas, ia tak mau ada kesalahpahaman antara dirinya dan Liu Wen padahal hubungan mereka baru saja membaik.
"Apa yang kau katakan Xuan! Apa kau mau garis keturuan Qin berakhir!"teriak Ibu suri, ia marah mendengar kata kata dari anaknya.
"Aku Kaisarnya, Ibunda hanya Ibu suri tak ada hak mencampuri kehidupanku"kata Kaisar dengan tegas, ia menatap datar ibunya itu.
"Yang Mulia.... anda tidak boleh seperti itu, Ibu suri benar, pikirkan garis keturuan anda, saya baik baik saja"kata Liu Wen dengan lembut sambil menundukkan kepalanya.
*Hehh!? Untuk apa kau begitu? Aku semalam hanya hilaf!! Lagian aku mau kabur dari sini masa bodo denganmu-batin Liu Wen, ia merasa melakukan hal itu semalam adalah sebuah kesalahan dan dia juga tahu Qin Xuan berkata begitu pasti karena menyesal.
"Keputusanku sudah bulat! Walau Ibunda yang meminta aku tak mau menyentuh wanita lain selain Wen'er. Suruh saja adik keempat yang mengantikanku"kata Kaisar, ia sangat keras kepala.
Plakkk
"Apa kau sadar apa yang kau katakan!Kau Kaisarnya tidak akan ada anak Selir rendahan itu yang boleh mengantikan posisimu, lancang sekali kau"Ibu suri menampar Kaisar dan langsung pergi meninggalkan kediaman Phoenix.
"Apa yang kau katakan?! Kenapa kau bersikeras begini"Liu Wen menghampiri Kaisar ia memeriksa pipi Kaisar.
"Karena aku...."
"Yang Mulia Permaisuri! Meng! Dihukum Selir Bai karena dituduh mencuri di kediaman Selir"teriak pelayan yang langsung masuk menghadap Liu Wen.
"Apa?! Bawa aku kesana!"kata Liu Wen, ia langsung berlari keluar melihat keadaan Meng.
"Menyukaimu.... Huhh! Apa kau tak bisa menunggu sampai aku menyelesaikan kata kataku?"Kaisar menghela nafasnya sulit sekali menyatakan perasaannya.