
"Ada apa bibi? Apa ada sesuatu diwajahku? Bibi lama sekali memegangnya"kta Liu Beiyi, ia sangat risih karena wajahnya terlalu lama disentuh seperti itu.
"Ahh ya? Maafkan bibi, ahahaha.... berapa umurmu Yiyi"tanya Liu Wen karena membayangkan wajah adiknya ia sampai lupa kalau tangannya masih memegang pipi keponakannya itu.
"Lima belas. Ehmm? Yiyi?!"kata Liu Beiyi, ia menaikan satu alisnya karena heren dengan nama panggilan yang disebut Liu Wen.
"Nama panggilanmu dari mamiku"seru Jake membuat mereka menoleh kearahnya.
"Ma..mami? Apa itu?"tanya Liu Whojin dari tadi cucunya yang satu ini suka mengeluarkan kata kata yang kirang dimengertinya.
"Mami sama dengan Ibunda.... panggilan Ibunda itu terlalu sederhana untuk ibuku! Makanya kami memanggilnya mami"kata Jake setelah mengubah nama ia tak mau panggilan 'mami' untuk Liu Wen hilang juga.
"Bodoh"gumam Anna, ia tak mau ikut ikut ikuttan heboh.
"Oh ya siapa namamu pria kecil?"tanya Liu Wen kepada Qin Jianwe, ia dari tadi hanya melihat kebersamaan keluarga Liu Wen saja.
"Jianwe bibi Wen... hallo, kita bertemu lagi"kata Qin Jianwe ia menunduk karena malu.
"Oh Jianwe...."kata Liu Wen sesaat ia teringat nama itu. Ya Qin Jianwe. nama yang sama dengan nama anak tirinya.
*Dia Qin Jianwe-batin Aiden menoleh kearah saudaranya.
*Hmm! Sepertinya bukan orang yang sombong-batin Anna, ia menggeleng pelan.
*Meskipun begitu kita harus hati hati, siapa tahu hanya akting saja-batin Jake wajahnya sama sekali tak percaya dengan Qin Jianwe.
*Sudah, sudah tak baik menilai orang seperti itu dia anak papi juga bearti saudara kita juga-batin Keyzee, kelima kembaran ini berargumen melalui batin. Seperti yang banyak dikatakan orang, anak kembar sangatlah kuat ikatan batinnya.
*Yang dikatakan Key masuk akal tapi ibunya jahat bisa jadi nanti dia menghasut Qin Jianwe itu agar mencelakai mami-batin Jake, ia mengira Selir Tang masih hidup dan menilai pasti Selir Tang sama jahatnya dengan para Selir ayahnya yang lain.
"Mereka anak anakku, mereka berlima kembar. Umurnya saja seperti Jianwe, dua belas tahun"kata Liu Wen sambil tersenyum dan menunjuk kelima anaknya
"Hallo.."sapa Aiden dia menunduk hormat.
"Hai aku Qin Yibo"sapa Jake, ia melambaikan tangannya sambil tersenyum.
"Hai! aku Yifei"kata Keyzee dengan antusias ia melambaikan tangannya walaupun bersembunyi dibelakang kakeknya.
"Hallo, saya Jianwe"kata Qin Jianwe sambil membungkuk hormat.
*Apa artinya aku punya saudara? Tapi.... apa mereka mau menerimaku?-batin Qin Jianwe ia nampak gelisah karena takut kehadirannya akan menganggu keluarga Liu Wen.
"Mau begitu sampai pingsan? Angkat kepalamu!"kata Anna dengan dingin, ia tahu Qin Jianwe sama sepertinya yang lemah. Perbedaannya adalah Qin Jianwe lemah dibadan sedangkan dirinya lemah dikaki.
"Ahh... iya... baik!"kata Qin Jianwe, ia sangat gugup saat Anna mengatakan hal itu, wajah yang dingin tetapi kata kata yang hangat itu membuat hatinya merasa sedikit tenang.
"Ayo, ayo kita ke ruang makan. Kita rayakan kembalinya Wen'er dan anak anak"kata Liu Whojin, ia mengandeng tangan Keyzee dan tak hentinya mengajaknya bermain.
*Andai keluargaku sehangat ini-batin Qin Jianwe, ia tak bergerak sedikitpun dari tempatnya tadi padahal semua orang sudah masuk.
Saat hendak masuk Liu Wen menoleh kebelakang dan melihat Qin Jianwe sendiri disana sambil menunduk. "Ada apa? Ayo masuk"
"Ta..tapi... saya orang luar"kata Qin Jianwe, ia sangat ingat apa yang dikatakan Selir Chu pada saat ia ingin ikut makan bersama dengannya dan Qin Meili.
"Sangat tidak sopan mengikuti kegiatan keluarga orang lain! Walaupun aku Ibundamu tetapi kau bukan anak kandungku. Jika kau tidak ada keluarga kecilku ini akan sempurna"kata Selir Chu dengan ketus itu adalah kata kata pertama dari Selir Chu saat pertama kali mereka bertemu di umurnya yang keempat tahun (saat masih bayi sampai umur tiga tahun Qin Jianwe diasuh pelayan tanpa diketahui Ibu suri).
"Orang luar? Kau sudah masuk kediaman Perdana Mentri Liu bearti bukan orang luar lagi! Ayo masuk"kata Liu Wen sambil terkekeh, ia memberi isyarat dengan matanya agar Qin Jianwe mengandeng tangannya.
"Kamu lama"seru Liu Wen, ia menarik tangan Qin Jianwe dan mengajaknya masuk ke ruang makan.
*Aku harap Ibunda Permaisuri tidak membenciku saat dia tahu kalau aku anak dari salah satu Selir Ayahanda-batin Qin Jianwe tak ada yang ia inginkan lagi sekarang yang ia tahu saat ini ia sangat bahagia.
**********
Istana
"Hahh!! Aku ingin mencari kedua pengkhianat itu dan ingin bertanya kenapa mereka tak memberitahuku kebenaran tentang Wen!"kata Kaisar sambil mengerucutkan bibirnya, ia bergegas ke kediaman Pangeran Keempat, saat menuju kesana ia melihat Selir Chu yang ingin melompat ke kolam.
"Apa yang kau lakukan!"kata Kaisar dengan lantang, ia menarik tangan Selir Chu yang hendak melangkah ke dalam kolam.
"Hiks.... hiks... Yang Mulia... hikss... izinkan saya untuk mati! Saya tak pantas hidup lagi! Hikss"isak Selir Chu, ia bersujud didepan Kaisar tangisannya sangat kuat hingga menarik perhatian orang disekitarnya.
"Apa yang kau katakan! Tenangkan dirimu! Apa sesuatu terjadi?!"tanya Kaisar, kepalanya sudah sangat pusing ditambah Selirnya menangis dan ingin bunuh diri, ia tak peduli jika Selir Chu hidup atau mati tetapi anak anaknya masih perlu dirinya.
"Apa maksudmu! Apa yang terjadi kepada Jianwe!"tanya Kaisar yang panik ia mencengkam tangan Selir Chu.
"Jianwe telah meninggal Yang Mulia.... mayatnya tak utuh lagi karena dimakan harimau saat dihutan"kata Selir Chu ia menangis tersedu sedu, wajahnya pun memerah karena menangis.
"Bagaimana dengan prajurit yang bersamanya! Akan kuhukum mereka"teriak Kaisar, ia benar benar marah sekarang. Baginya sangat Qin Jianwe adalah putranya, ia benar benar menyayanginya.
"Me...mereka telah mati Yang Mulia. Harimau memakan mereka tanpa sisa demi menyelamatkan Jianwe"isak Selir Chu ia memeluk Kaisar yang terlihat hancur.
"Kasihan sekali Selir Agung"
"Sepertinya beliau sangat menyayangi Pangeran"
"Ya menjaga anak orang lain itu perlu hati yang besar dan lapang"
"Hmm! Kau benar..."
Para pelayan disana sangat menyanjung Selir Chu yang menurut mereka sangat terpukul atas kematian Pangeran mereka satu satunya.
"Bagaimana nantinya Kekaisaran ini?"
"Tak ada penerus laki laki"
"Apa Kaisar akan menikah lagi untuk mencari seorang Pangeran?"
"Hmphh! Bermimpilah! Sebanyak apapun Yang Mulia melakukan hubungan intim, ia tak akan pernah mendapatkan anak karena dia mandul pada saat itu cuma Mei'er yang akan menjadi penguasa Kekaisaran ini-batin Selir Chu, ia menyeka air mata palsunya dan melakukan aksinya yang ingin bunuh diri.
"We'er... maafkan ayahanda"kata Kaisar, ia sangat terpukul atas kematian Qin Jianwe, saat prajurit membawa mayat yang tak utuh dan banyak cakaran diwajahnya membuat wajah itu tak bisa dikenali lagi.
*Beruntung Tuan sudah menyiapkan mayat remaja seusia bajinggan kecil itu! Hahaha... aku sangat senang tadinya aku sangat khawatir karena mayat Jianwe tidak ada-batin Selir Chu ia tertawa puas didalam hatinya.
"Ibunda! Ayahanda... hikssss"teriak Qin Meili, ia berlari kearah ibunya dan ayahnya.
"Mei'er... Mei'er! Ada apa?"tanya Selir Chu ia sangat khawatir melihat putrinya itu menangis.
"Mei'er kenapa kamu menangis?"tanya Kaisar, ia juga khawatir dengan putri satu satunya ini.
"Ayahanda... hikss... seseorang mencubitku"kata Qin Meili, ia menangis sejadi jadinya.
"Siapa yang berani! Siapa yang berani menyakitimu!"teriak Kaisar, ia sangat marah sekarang, pertama putranya meninggal dan sekarang putrinya menangis.
"Ayahanda! Dia...dia... mengaku sebagai Permaisuri! Aku mohon hukum dia! Dia juga mengambil identitasku sebagai Putri!"isak Qin Meili bukannya kesakitan karena dicubit Liu Wen tetapi ia sedih karena status Putri Kekaisaran Qin nya diambil.
*Heh! Mati kau! Ayahanda akan membunuhmu-batin Qin Meili, ia tersenyum puas membayangkan bagaimana Liu Wen nanti mati dihukum ayahnya.
"Siapa dia! Beraninya mengaku sebagai Permaisuri! Permaisuri berada dikuil tak mungkin disini"teriak Selir Chu ada ketakutan dihatinya.
*Tidak mungkin jalangg Liu itu kembali!Hah! Pasti ada yang menirunya ya! Aku yakin-batin Selir Chu keringatnya bercucuran jika Liu Wen kembali akan sulit baginya berkuasa disini.
"Permaisuri?"gumam Kaisar, matanya membulat, pikirannya makin kalut sekarang ada rasa sedih, marah dan bahagia bercampur menjadi satu didalam hatinya.
"Siapkan pemakaman Jianwe secara terhormat"kata Kaisar dengan dingin, ia pergi dari sana dan ingin segera memakamkan mayat putranya itu.
*Jianwe yang paling utama sedangkan Permaisuri? Aku belum tahu apakah dia Wen atau seseorang menggunakan nama Permaisuri saja, menurut yang dikatakan Liu Yichen, kakaknya belum kembali-batin Kaisar, ia tak tega membiarkan sisa tubuh anaknya itu terlalu lama.
"Ibunda ada apa ini?"tanya Qin Meili, ia berhenti menangis saat Kaisar sudah pergi dari sana.
"Jianwe sudah mati"kata Selir Chu, ia menyeka air matanya.
"Ohh... Kak We'er sudah mati. Kukira ada apa. Yaaa.... dia juga Pangeran yang tak berguna untuk apa hidup di istana"kata Qin Meili, ia tak menyukai Qin Jianwe karena ayahnya lebih memperhatikannya.
"Tapi siapa yang akan menjadi Kaisar masa depan? Aku tak rela kalau Paman ketujuh mengambil alih"seru Qin Meili, ia benci Pangeran Ketujuh jika pamannya itu jadi Kaisar mungkin dirinya tak akan menjadi Putri lagi dan anak anaknya yang akan jadi Putri dan Kaisarnya.
"Apa yang kamu katakan! Tentu saja kamu!"kata Selir Chu membuat Qin Meili terheran.
"Aku? Aku bukan anak laki laki"kata Qin Meili ia menunjuk dirinya sendiri.
"Lalu kenapa? Kamu bisa menjadi Maharani! Apa kamu tak pernah dengar seorang Permaisuri yang berasal dari Dinasti Xia memimpin seluruh Kekaisaran, namanya melegenda karena membawa kemakmuran bagi rakyatnya!"kata Selir Chu dengan bangga saat membaca kisah itu, ia sangat memimpikan menjadi seorang penguasa tetapi karena tidak dilahirkan dikeluarga kerajaan membuat mimpinya sempat pupus.
"Tapi... itu sangat merepotkan"kata Qin Meili, ia hanya tahu bermain dan bersenang senang saja.
"Mei'er! Apa kamu tidak mau menjadi penguasa. Tak ada yang mengaturmu. Segala yang kamu inginkan akan kamu dapatkan! Kamu juga bisa menghukum orang sesukamu! Itu sangat menyenangkan"kata Selir Chu, ia menghasut anaknya agar mau menjadi Maharani.