I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
Extra Part Senja,



"Kepala Dayang Dan.... Aku menemui ingin Yiwei sebentar. Tenang saja aku hanya ingin melihatnya dari jauh. Bo...boleh ya...?" kata Ri Won, ia menyatukan tangannya dan memohon didepan kepala Dayang Dan padahal dia adalah tuan rumah Kediaman Pangeran ini, kenapa ia harus memohon secara berlebihan begini kepada seorang Kepala Dayang untuk menemui istrinya? Setidaknya itu yang dipikirkan para Dayang yang lewat didepan kamarnya.


"Pa...Pangerann tolong jangan lakukan hal ini. Si...silakan masuk" kata Kepala Dayang Dan, ia merasa tak enak jika Ri Won meminta dengan cara seperti ini.


"Terima kasih" seru Ri Won dengan bahagia, ia tahu kalau Kepala Dayang Dan melarangnya menemui Anna sekarang karena Anna perlu istirahat tetapi ia ingin berterima kasih kepada Anna yang sudah memberinya kebahagiaan menjadi seorang ayah.


Ri Won membuka pintu kamarnya dengan hati hati. Ia juga menutup pintu dengan perlahan karena takut membangunkan Anna. Wanita yang pernah mengalami depresi itu memang sulit tidur jika tak diberi obat penenang.


Cupp


"Terima kasih sudah memberiku seorang bayi" kata Ri Won ia mencium dahi Anna dan berlutut disamping ranjang memperhatikan wajah polos Anna saat sedang tidur.


"Pasti merepotkan harus menjaganya didalam perut kecilmu" gumam Ri Won, ia menyentuh perut Anna beberapa kali dengan lembut.


"Maaf gara gara kau mengkhawatirkan ku bayi kita dalam bahaya"


"Ahh... Aku hampir lupa. Apa kau menginginkannya juga?"


"Gara gara aku menyentuhmu 4 bulan yang lalu kau jadi mengandung, padahal pernikahan kita akan berakhir besok"


"Yiwei... Saat kau bangun aku harap kau mau menerima bayi kita dan diriku. Aku sangat mencintaimu" Ri Won berdiri, ia menatap senduh Anna kenyataan bahwa kehamilan yang mungkin tak diinginkan Anna itu hampir ia lupakan, mungkin saja Anna memang tak mau mengandung atau jika dia mau pun apakah ia masih mau bertemu dengannya yang sudah menyentuh istri sahnya itu tanpa izin.


"Bodoh! Seharusnya aku bisa bicara baik baik dengannya jauh jauh hari karena mungkin selama setahun ini perasaanku terbalaskan" kata Ri Won karena sibuk melakukan tugasnya sebagai Pangeran ia hampir lupa tentang pernikahan kontraknya. Selama ini Anna bersikap layaknya istri yang sesungguhnya membuatnya tak merasa kalau pernikahan itu hanya sebatas pernikahan kontrak.


"Kalau tidak bagaimana?" ia jadi pesimis karena memikirkan hal negatif.


"Yahh sudahlah kenyataan pahit masih harus kuhadapi" kata Ri Won dengan serius ia menganti bajunya dengan baju duka untuk menghadiri pemakaman ayahnya.


"Ha..hahhh! Yang Mulia! Saya dengar Putri sedang mengandung!?" tanya Yong dengan antusias ia langsung muncul dihadapan Ri Won yang baru saja keluar kamarnya.


"Kau membuatku terkejut Yong " kata Ri Won ia tersentak dan menghela nafasnya.


"Ya itu benar, sudah 5 bulan. Sebentar lagi aku akan jadi ayah" kata Ri Won sambil tersenyum lebar. Ia senang sekali walaupun dalam keadaan duka begini, bisa bisa senyuman dan rasa senang ini disalah artikan oleh pejabat yang melihatnya.


"Se...selamat Yang Mulia!" kata Yong, ia bersujud karena ikut bahagia untuk Ri Won.


"Andai Raja Nam Wok masih hidup. Mungkin beliau akan sangat bahagia menyambut cucunya" gumam Yong walaupun Raja Nam Wok terkenal akan kebodohannya tetapi ia selalu ingin terlihat berguna dimata Ri Won dan tulus menyayangi putranya itu.


"Iya andai Ayahanda masih hidup" gumam Ri Won ia merasa bersalah karena tak sempat meminta maaf karena sudah lancang dengan ayahnya itu.


*******


Istana Raja


"Yang Mulia.... Huhuhu... Jangan tinggalkan saya" isak Lim Hari, ia sudah menempelkan bawang dibawah matanya sebelum masuk istana Raja Nam Wok.


"Yang Mulia Ratu... Tolong jangan terlalu sedih itu tak baik untuk kesehatan anda" kata Tuan Myung Suk yang sedang berpura pura menjadi Kasim untuk mendekati Lim Hari dengan leluasa.


"Apa anda masih tidak mempunyai tenaga karena baru saja berhubungan intim dengan sayaa?" bisik Tuan Myung Suk ditelinga Lim Hari, ia memapah Lim Hari yang terduduk lemas dilantai.


"Hmm....! Kau hebat Myung Suk. Aku akan berpura pura pingsan bawa aku ke kamar kita lanjutkan lagi permainan kita yang belum selesai" bisik Lim Hari, ia sangat malas menghadiri pemakaman Raja Nam Wok karena sibuk bercinta dengan Tuan Myung Suk. Tuan Rumah Kedai Teh yang sangat terkenal di Ibu kota, ia seumuran dengan Lim Hari tetapi belum menikah sampai sekarang dan saat ini sedang menyamar sebagai Kasim baru yang melayani ratu.


"Biar saya yang bawa Yang Mulia kembali ke kediamannya" kata Tuan Myung Suk karena ia adalah seorang Kasim yang bertugas melayani Ratu semua orang tak merasa ada yang janggal.


"Yang Mulia Pangeran Woo Rin memasuki istana" teriak Dayang Istana mereka membukakan pintu untuk Woo Rin.


"...." Woo Rin tak berbicara ekspresi wajahnya pun tak bisa dikendalikannya seperti dulu raut wajahnya dingin. Ia hanya memberi hormat dan berdiam sebentar memandangi wajah Raja Nam Wok untuk terakhir kalinya.


"Kasihan Pangeran Woo Rin!"


"Lihat dia jadi pendiam karena kematian Raja Nam Wok!"


"Sepertinya dia sangat terpukul"


"Pangeran Ri Won benar benar kejam!"


"Pangeran Ri Won memasuki ruangan" kata dayang penjaga pintu, saat Ri Won masuk seluruh Pejabat terdiam, mereka takut melihat raut wajah Ri Won Yang nampak sedikit murung itu.


"Maafkan aku karena kemarin berkata kasar" kata Ri Won, ia memberi satu tangkai bunga didepan peti mati Raja Nam Wok.


Semua orang berisik mendengar perkataan Ri Won mereka mengira kalau Ri Won meminta maaf karena sudah berkata kasar sebelum membunuh Raja Nam Wok.


"Apa kakak sangat kehilangan ayahanda?" tanya Woo Rin, ia tak menatap Ri Won.


"Iya.... Seburuk apapun dia. Dia tetap ayahku"jawab Ri Won, ia juga tak melihat wajah adiknya itu dan pergi dari sana terlebih dahulu.


*Seburuk apapun dia. Dia tetap ayahku?? Sepertinya kata kata itu cuma pantas untukmu bukan aku! Aku tak pernah menyesal membunuh ayah sialan ini-batin Woo Rin ia menyusul Ri Won dan memegang lengan Ri Won.


"Berhenti!" kata Woo Rin, ia berhasil mengejar Ri Won dan langsung memegang tangannya.


"Ada apa? Aku sibuk" kata Ri Won dengan dingin ia menepis tangan adiknya. Saat ini ia harus mencari jalan lain agar bisa membuktikan keluarga Hwang tidak bersalah.


"Dengarkan aku! Ayo kita bertarung satu lawan satu sampai salah satu diantara kita mati!" seru Woo Rin ia tersenyum miring karena Ri Won menghentikan langkahnya.


"Aku tidak punya waktu untuk bermain denganmu" balas Ri Won ia sudah melihat latihan Woo Rin walaupun ilmu bela dirinya meningkat tetapi saat ia masih jauh berada dibawah Ri Won.


"Jika kau yang mati aku akan berikan bukti bukti yang menyatakan Keluarga Hwang tidak bersalah! Dan jika aku yang mati! Setidaknya satu satunya sainganmu sebagai penerus tahta akan lenyap! Aku juga akan membuat surat pernyataan kalau aku mati dibunuh Kekaisaran Bae Ji"


"Bagaimana apakah syarat ini menguntungkan bagimu?" tanya Woo Rin, ia sangat percaya diri akan kemampuannya serta dorongan dendam yang selama ini menumpuk didalam hatinya.


"Apakah kau sangat membenciku adik?"


"Kemana sosok adik lugu yang kulihat saat pertama kali datang kemari?"


"Baiklah ayo kita pergi ke hutan timur. Jika kita melakukan pertarungan disana tak akan ada orang yang menganggu kita" jawab Ri Won dengan angkuh sepertinya hanya ini satu satunya cara agar Woo Rin bisa berubah seperti dahulu.


"Aku akan mengganti pakaian. Kita bertemu saat matahari sudah terbenam" lanjut Ri Won melihat adiknya yang sangat antusias itu membuat tersenyum tipis.


"Jika kematianku bisa membuatnya sadar dan kembali kejalan yang benar..."


"Maka sebaiknya aku mengorbankan nyawaku ini" gumamnya matahari yang menyengat karena telah berada tepat diatas kepala itu tak membuatnya merasa kepanasan, justru lawan bicaranya lah yang sangat terbakar oleh keinginan balas dendam.