
"Apa yang mau kau lakukan!"teriak Ellson, ia menepis tangan Anna yang penuh dengan obat.
"Bunuh diri tidak akan menyelesaikan masalah! Aku mohon jangan lakukan itu"kata Ellson, ia memeluk kembarannya itu beberapa kali Ellson mempergoki Anna yang ingin bunuh diri.
"Keluarga kita akan sedih! Kami juga sebagai kembaranmu! Bisakah kau cerita padaku jika ada masalah!"
"Aku tau, aku salah"kata Anna, ia membalas pelukan Ellson seharusnya dia tak berhak mengakhiri hidupnya. Hidupnya itu bukan miliknya seorang tapi juga milik keluarganya.
*Kak Anna yang paling rapuh walaupun terlihat tangguh diluar, ini selalu terjadi sejak dia masih kecil tatapan hina orang membuatnya jadi frustasi-batin Ellson. Ia teringat akan tatapan orang dewasa saat melihat Anna dulu, tatapan kasihan itu dan mereka memperlakukan Anna berbeda layaknya manusia tak berguna.
"Aku bermimpi aneh..."kata Anna, ia terus memeluk Ellson dan tak melepaskannya.
"Mimpi apa?"tanya Ellson, ia membakar dupa penenang agar Anna bisa tidur.
"Tadi aku bermimpi, aku mati karena overdosis obat lalu roh yang mirip mami memaksaku hidup"perlahan pelukannya melonggar karena kepalanya berat sepertinya dupa penenang itu sangat ampuh untuk membuat Anna tidur.
"Hmm... begitu. Mungkin saja itu bukan mimpi dan kau diberi kesempatan kedua"kata Ellson, ia menepuk punggung Anna agar cepat tertidur.
"Ya mungkin saja... Ak..aku ngantuk"kata Anna tak berapa lama dia tertidur.
"Kau tidak pantas mati diusia muda kak..."kata Ellson, ia membaringkan Anna diranjang.
"Tuan Putri Yiwei yang sangat cantik dan pintar. Hiduplah lebih lama demi kami"Ellson mencium dahi Anna dan pergi dari sana, sebelum pergi dia mengambil benda benda tajam dan obat obatan sebagai pencegahan jika Anna ingin bunuh diri lagi.
"Salam Yang Mulia, bagaimana keadaan Putri Yiwei. Pangeran Yiwu?"tanya Ri Won, ia menunggu lama didepan pintu kamar Anna karena masih khawatir dengan keadaan sang Putri itu.
"Siapa kau?"tanya Ellson dengan ramah dia juga tersenyum, melihat Ri Won dari atas sampai kebawah membuatnya menarik kesimpulan kalau Ri Won seorang prajurit.
"Saya Ri Won Kepala Pengawal anggota kerajaan baru. Maaf saya lupa memperkenalkan diri"kata Ri Won, ia menunduk hormat kepada Ellson.
"Ahh... Kepala Pengawal rupanya, terima kasih telah menyelamatkan Putri Yiwei"Ellson menundukan kepalanya dengan tangan kiri yang dikepal dan tangan kanan yang terbuka lebar, simbol rasa terima kasih ala eropa.
"Tidak perlu berterima kasih Yang Mulia. Ini sudah tugas saya"kata Ri Won, ia tak enak hati mendapat penghormatan itu dari seorang Pangeran tempat ia ditawan.
"Jangan sungkan, anda juga Pangeran kan? Putri baik baik saja anda bisa kembali lagi nanti karena sekarang dia sedang tidur"Kata Ellson, ia mendadak bicara formal karena menyebut gelar Ri Won yang seorang Pangeran.
"Saya hanya tawanan perang sekarang"
"kalau boleh saya tahu, apa yang terjadi kepada Putri? Dia bahkan menusuk pahanya sendiri karena sangat benci kakinya"kata Ri Won dengan berani entah dari mana munculnya keberaniannya itu. Rasa penasaran karena mengingat ekspresi Anna yang sangat mengerikan dan kadang terlihat putus asa membuatnya geram karena tak bisa berbuat apa apa.
"Apa?! Dia melukai pahanya!"Ellson yang tak tahu hal itu pun terkejut, ia memegang kepalanya sambil menghela nafas berkali kali.
"Dari kecil dia selalu dipandang rendah oleh orang orang, sebelum kami pindah ke istana tepatnya saat kami masih tinggal diluar(zaman modren) Yiwei selalu disebut tak berguna, keluarga kami yang terpandang (keluarga Liu) membuat anggotanya dituntun untuk serba bisa dalam segala bidang. Itu sebabnya para orang yang punya kedudukan (Presdir Grup lain) sering menghina Yiwei saat sedang sendiri dan dia tak pernah bercerita apa pun kepada kami kembarannya"kata Ellson, ia tak bisa berkata terus terang karena akan dianggap gila oleh Ri Won.
"Dipandang rendah ya"gumam Ri Won, dia juga pernah merasakannya, saat pertama kali datang kemari tatapan jijik dan rendah dilayangkan kepadanya. Ia tak tahu apa yang membuat orang orang itu menatapnya begitu apa karena topengnya yang mencolok atau karena dirinya yang seorang tawanan perang.
"Pangeran buruk rupa... Monster Joseon si negara lemah, Dibawah kaki Qin, Qin kami yang paling hebat. Joseon hanya negara dengan kumpulan orang bodoh"para anak pejabat Qin menyanyikan lagu yang mereka ciptakan sendiri untuk mengolok Ri Won.
"Bicara apa kau!"teriak Ri Won saat itu tempramennya masih kurang stabil dia langsung memukuli anak pejabat itu.
"Ayah!! Dia memukulku!"teriak salah seorang anak ia mengadu kepada ayahnya.
"Ckk! Ayo pulang! Walaupun aku ingin membunuhnya untukmu!cAku tidak bisa melakukannya"kata ayahnya membuat anak itu menangis sepanjang jalan.
"Pangeran... jika Putri sudah sadar tolong katakan padanya kalau bukan hanya dirinya yang cacat tapi Ri Won si buruk rupa juga orang yang cacat!"
*Jadi ini wajah Pangeran Ri Won yang sebenarnya-batin Ellson hal pertama yang dia cium saat Ri Won melepaskan topengnya adalah obat yang menyengat.
*Demi Kak Anna dia bahkan memperlihatkan kelemahannya bahkan para pelayan yang menyukainya sampai teriakan histeris karena melihat wajah aslinya-saat Ri Won melepas topengnya para pelayan yang tak sengaja melihat wajah Ri Won langsung berteriak atau pingsan tak banyak juga yang muntah dan menatapnya dengan jijik.
"Sebaiknya pakai lagi topeng itu Kepala Pengawal Ri Won. Aku dengar banyak pelayan yang menyukaimu, jika kau mengungkap kelemahanmu begini mereka akan membencimu"
"Tidak masalah.... Saya tidak peduli dengan orang lain, Putri harus memilik orang yang mendukung mentalnya sekarang. Setidaknya saya bisa mengobati mentalnya itu"kata Ri Won sambil tersenyum melihat Ellson dengan senyum diwajahnya membuatnya berkeringat.
*Apa dia tahu sesuatu?-hanya kata kata itu yang ada dipikirannya.
"Aku terharu mendengarnya.... baiklah! Semoga sukses"Ellson mengacungkan jempolnya tanda memberi semangat kepada Ri Won.
********
Joseon
"Yang Mulia Ratu akan memasuki ruang sidang!"teriak Kasim para pelayan memegang tangannya menuntunnya naik keatas singgasana Raja.
"Saya mohon maaf.... hari ini Yang Mulia Raja sedang sakit. Saya ditunjuk untuk mengantikannya lagi"kata Lim Hari, ia tersenyum bibir merahnya membuat banyak para pejabat tergoda melihatnya.
"Panjang umur Yang Mulia Ratu"kata para pejabat dengan serempak mereka juga bersujud atas tanda kehormatan.
"Silakan berdiri"kata Lim Hari, ia menyilangkan kakinya dan tersenyum picik memandangi para pejabat muda yang terlihat tampan baginya.
"Yang Mulia... menurut data yang dibawa Pangeran Ri Won. Kami mengetahui bahwa saat ini Kekaisaran Qin mengalami peningkatan yang tinggi, para prajurit mempelajari ilmu bela diri zaman kuno! Untung saja Pangeran kita yang berbudi luhur mengirim kitab ilmu bela diri itu sehingga Joseon juga bisa mempelajarinya"Kata Mentri Choi, ia berada dipihak Ri Won tepatnya di pihak keluarga Ratu Hyunseo, Jendral tua Min.
*Hmph! Lagi lagi dia membanggakan Pangeran buangan itu-batin Lim Hari dia kesal karena perkataan Mentri Choi, walaupun marah tapi ia tak bisa melampiaskannya karena ayahnya berkata jika lebih sering marah maka para pejabat itu akan mudah menekannya dengan berbagai alasan.
"Hmm... kau benar Mentri Choi, Pangeran Ri Won memang sudah banyak berkorban banyak, sangat disayangkan kita tak bisa lagi menemuinya entah sampai kapan dia dibebaskan"kata Lim Hari raut wajahnya dibuat seolah olah dirinya ibu yang kehilangan anaknya.
Sepanjang rapat istana hari ini tak ada yang istimewa semua pejabat yang memihak Ri Won memujinya membuatnya sampai ingin mati karena jengkel.
"Ck! Bajingann kecil itu membuat jengkel saja!"gumam Lim Hari para pejabat sudah bubar menyisahkan dirinya dan ayahnya.
"Pelayan kemari"panggil Lim Hari kepada pelayan yang dibawanya.
"Panggilkan pejabat muda Ji suruh dia datang kekamarku malam ini"bisik Lim Hari pelayan itu mengangguk tanda bahwa ia mengerti. Ia pun pergi dari sana.
"Hari.... aku harap kau tidak membuat masalah untuk Woo Rin"kata Penasehat Lim.
"Tenanglah ayah. Aku adalah ibunya aku tahu apa yang terbaik untuknya!"kata Lim Hari dengan ketus dia bahkan tak melihat wajah ayahnya.
"Karena mendiang Ratu Hyunseo yang mendidik Woo Rin dari kecil, dia bisa menjadi seorang jenius. Aku tak tahu apa saja yang ibu kandungnya lakukan"kata Penasehat Lim dia menatap tajam putrinya yang sering membuat onar itu.
"Apa sekarang Penasehat Lim sedang memberi nasehat kepadaku?! Sang Ratu?!"kata Lim Hari dengan angkuh, ia bahkan tak menurut dengan ayahnya
"Kau!! Jangan lupa aku yang menjadikanmu Ratu!"
"Tentu saja aku tahu, itu sebabnya aku mengamankan posisi ayah dan menyetujui apa pun yang ayah katakan saat rapat! Bukankah itu sama saja ayah seperti Raja? Apa kebaikanku ini masih kurang?"kata kata Lim Hari membuat Penasehat Lim hampir menampar putrinya.
Dia hampir lupa kalau putrinya sekarang seorang Ratu. Lim Hari adalah Putri ketiganya, Putri pertama meninggal di usia muda dan Putri kedua sakit sakitan sehingga tak bisa menjadi Ratu. Terpaksa Penasehat Lim menyuruh Lim Hari, Putri yang tidak dia pedulikan dulu untuk menjadi seorang Ratu.
"Sekarang aku Ratu sang penguasa!! Kau Penasehat Lim!!! Ada dibawah kaki ku"kata Lim Hari sikap tak sopan itu kadang membuat Penasehat Lim sangat jengkel kepada Putrinya sendiri.