
"Apa yang kalian lihat?!!"teriak Ri Won pipinya memerah karena banyak meminum arak.
"Pangeran!! Anda sudah terlalu mabuk.... Hahahaha...."kata salah satu ketua kelompok penyamun.
"Terima kasih sudah membantuku!! Kalian ternyata orang yang baik!!"Kata Ri Won, ia menunduk hormat beberapa kali kepada beberapa orang disana.
"Pangeran!! Benar benar sudah mabuk.... jangan lakukan hal itu"
"Benar Pangeran kami merasa bersalah!"
"Kenapa?! Beri aku alasan!"
"Karena anda seorang Pangeran yang mulia tak baik menunduk dihadapan rakyat!"
"Aku ingin bertanya! Apakah kau manusia!"
"Hmmnn"kata mereka dengan serempak mereka juga mengangguk mengiyakan.
"Apakah aku manusia?"tanya Ri Won mereka pun memgangguk.
"Kalau begitu kita sama!!! Jangan terlalu kaku karena kita sama sama manusia"kata Ri Won walaupun sedang mabuk ia mengatakan yang sebenarnya. Ia tak minta dihormati, ia juga tak minta disegani, yang ia inginkan adalah perlakukan biasa dari orang orang disekitarnya.
"Astaga anda benar benar mabuk"gumam Yong, ia baru saja kembali dari patroli malam disekitar perkemahan, walaupun sekarang seluruh penyamun atau bandit gunung ada didalam perkemahan Yong masih saja memperkuat penjagaan karena siapa tahu Woo Rin mengirim pembunuh lagi. Yahh walaupun sejauh ini para pembunuh menjadi rekan mereka sih.
"Aku kita merayakannya malam ini!!"teriak Ri Won, ia mengambil botol arak dan memasukannya langsung ke mulut Yong. Satu botol penuh arak habis diminum Yong karena Ri Won tak melepaskan botol itu dari mulutnya.
"A...apa yang... anda lakukan"kata Yong kepalanya pusing seketika. Ia tak kuat minum, satu gelas saja sudah membuatnya pusing apa lagi satu botol arak.
"Hahahahahaa..... Yong kau kalah!!"ia tertawa saat melihat Yong terbaring ditanah.
"Sepertinya disini kau sangat bahagia?"tanya Anna, ia yang baru saja sampai terkejut melihat semua orang didalam perkemahan tertidur karena mabuk berat.
"Hemm? Kenapa aku seperti melihat Yiwei???"seru Ri Won ia berbalik dan berjalan gontai ke arah Anna.
"Apa ini mimpi?"serunya lagi ia memegang pipi Anna sambil tersenyum.
"Sepertinya benar mimpi"kata Ri Won dengan gembira, ia menarik Anna ke tendanya dan mendudukan Anna diranjang.
"Aku pernah mimpi seperti ini sampai basah!!"kata Ri Won dengan gembira membuat Anna tersipu.
"A..apa maksudnya? Mimpi basah? Itu..."gumam Anna, ia memalingkan wajahnya karena malu.
"Sayang sekali jika bersama Yiwei aku harus jadi pria sejati... padahal dia istriku. Yahh.....! Ada apa ini?!!"kata Ri Won, ia berlagak seperti sedang berpikir.
"Ini mimpi lakukan apapun yang kau suka"kata Anna, ia tersenyum dan menarik leher Ri Won.
"Sepertinya ini benar mimpi. Jika nyata Yiwei tak akan pernah mau melakukannya!"kata Ri Won dengan serius.
"Kamu terlalu lama"kata Anna, ia langsung mencium bibir Ri Won tak berlama lama Anna sudah menjelajahi tempat lainnya, leher, telinga sampai dada Ri Won pun dicium dan digigitnya.
"Ahmm! Apa kau shio anjing? Kenapa kau mengigitku sekeras itu?"ringis Ri Won, Anna mengigitnya dengan kuat sampai mengeluarkan darah.
"Itu tanda kepemilikan"kata Anna, ia melanjutkan aktivitasnya.
"Aku wanita normal jadi wajar aku menginginkannya. Apa lagi kau suamiku"kata Anna dia memegang pipi Ri Won dan mengatakan hal itu agar Ri Won tak mengingat kejadian ini dan tetap menganggapnya sebagai mimpi.
*******
Istana
"Eunyeon kau dari mana saja?!"bentak Lim Hari dia menyambut menantunya itu dengan wajah masam digerbang istana
"Salam Yang Mulia Ratu... Apakah anda menunggu saya?"tanya Eunyeon dengan datar, ia sangat marah sekarang tetapi jika ia meledak sekarang itu akan menghancurkan rencananya.
"Tentu saja.... Kau sedang mengandung penerus Kekaisaran ini"kata Lim Hari dimenunjuk perut rata Eunyeon jelas sekali hanya bayi yang sudah meninggal itu yang dipedulikannya.
"Maafkan saya Yang Mulia Ratu.... Selir Sun mengajak saya jalan jalan lalu kami berpisah dijalan dan tersesat itu sebabnya saya pulang terlambat"kata Eunyeon, ia memberi salam dan langsung pergi dari sana.
"Kenapa semua barangku dikeluarkan begini"kata Eunyeon, ia baru saja ingin masuk ke kediamannya dan melihat banyak Dayang serta Woo Rin dan Selir Sun berada dihalaman kediamannya.
"Ka...kau? Ma..maksudku Kakak.... Ka..kau dari mana saja?"
Selir Sun terkejut melihat Eunyeon yang masih hidup dan terlihat baik baik saja. Bukankah kemarin ia sedang kesakitan didalam hutan.
"Ka..kau... Eunyeon! Aku ingin... aku menyuruh Selir Sun menganti barang barang dikediamanmu"kata Woo Rin, ia juga terkejut saat melihat Eunyeon yang terlihat baik baik saja padahal sudah dua hari ini ia tak kembali. Ia mengira bahwa Eunyeon sudah tiada dan menyuruh Selir Sun pindah kekediaman Putri Kedua.
"Begitu ya..... Terima kasih Pangeran tetapi itu tak perlu"kata Eunyeon, ia mencengkam bajunya karena merasa sakit hati. Mengatakan hal itu kepada Woo Rin dan untuk pertama kalinya ia memanggil Woo Rin secara formal.
"Ka...kau... Kenapa kau berbicara begitu?"tanya Woo Rin, ia terkejut saat melihat Eunyeon yang tak cemburu saat ia sedang bersama Selir Sun. Bicaranya yang formal dan tak manja juga membuatnya terkejut.
"Ini waktunya..."kata Eunyeon, ia melihat matahari yang mulai naik, sidang istana sebentar lagi akan dimulai. Ia pergi dari sana dan menunju keruang sidang.
*****
"Salam Yang Mulia....! Saya Putri Kedua Jang meminta waktu anda sebentar"kata Eunyeon dia melirik ayahnya. Ayahnya itu mengangguk tanda bahwa ia mendukung semua keputusan putrinya. Selama dua hari ia tak kembali ke istana itu karena ia kembali ke rumah ayahnya untuk membicarakan masalah ini. Ayahnya pun sangat marah tetapi saat Eunyeon memberitahu rencana Anna dan dirinya membuat Mentri Jang mengerti dan mendukung putrinya.
"Ada masalah apa Putri kedua?"tanya Raja Nam Wok. Ia binggung karena tiba tiba Eunyeon menghadap padanya disidang istana.
"Saya ingin bercerai..."kata Eunyeon membuat semua orang disidang istana terkejut.
"Ti...tidak mungkin! Apa alasanmu ingin bercerai"tanya Raja Nam Wok, ia tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Saya tak suka Pangeran memiliki Selir baru. Pangeran juga bilang membenci saya"kata Eunyeon, ia gemetar saat mengatakan hal itu untuk pertama kalinya ia menentang sang penguasa Joseon.
"Itu bukan alasan yang tepat! Kau juga sedang mengandung! Tidak bisa!"kata Raja Nam Wok dia bersikeras menolak permintaan Eunyeon.
"Mengandung? Saya tidak sedang mengandung! Selir Sun membayar tabib istana agar saya ditangkap atas tuduhan membohongi keluarga kerajaan! Awalnya saya ingin membiarkan masalah ini tapi sepertinya Raja sangat ingin saya menghukum Selir Sun"kata Eunyeon, berkat rencana Anna, ia bisa melewati masalah ini dengan lancar.
"Yang Mulia itu fitnah!"teriak Woo Rin, ia memeluk Selir Sun yang sedang menangis didepan ruang sidang.
"Selir Sun tak akan melakukan hal itu! Justru Putri Kedua Jang lah yang tak menjaga kandungannya dengan benar sehingga bayi kami mati"kata Woo Rin dengan tegas ia menunjuk Eunyeon yang sedang menghadap Raja Nam Wok itu. Tatapan Eunyeon yang dingin membuat Woo Rin hampir kehilangan kata katanya.
"Panggil tabib kerajaan!"teriak Raja Nam Wok mereka menunggu dengan tegang diruang sidang saat tabib kerajaan datang semua orang terpaku melihatnya.
"Katakan yang sebenarnya! Jika kau berbohong lidahmu akan kupotong"kata Woo Rin dengan wajah yang mengerikan. Tabib itu pun menelan savilanya dan mulai angkat bicara.
"Yang Mulia.... maafkan hamba!!! Selir Sun memaksa saya melakulan hal itu. Saya tidak bersalah"teriak tabib kerajaan itu.
"Bohong! Saya tidak pernah melakukannya! Putri Eunyeon memang sedang mengandung!! Saya melihat sendiri darah yang mengalir saat saya mendorongnya dihutan!!"kata Selir Sun itu memang benar dia tak pernah menyuap tabib kerajaan melakukan hal itu! Justru sebaliknya ia yang membunuh janin yang baru hidup itu dengan cara mendorong kuat Eunyeon.
"Akh..."tanpa sadar ia mengatakan yang sebenarnya Selir Sun menutup mulutnya dan melihat Woo Rin dengan memelas.
"Aku akan melindungimu"kata Woo Rin dia tak merasa sedih karena bayinya sudah meninggal justru ia lebih terlihat khawatir Selir Sun akan dihukum karena sudah membunuh bayi itu.
"Hmphh....! Yiwei benar. Semuanya benar. Akulah yang bodoh disini"gumam Eunyeon melihat Woo Rin yang biasa saja itu membuatnya tersenyum masam dan mengeluarkan Plakat milik Anna.
"Saya sudah berkonsultasi dengan Putri Pertama 'dia bilang bercerailah.. keluargaku mendukungmu' "kata Eunyeon membuat Raja Nam Wok terkejut. Itu milik Anna, plakat itu memiliki banyak fungsi sebagai tanda mengenal itu juga bisa menekan seseorang.
"Ba...baiklah! Selir Sun akan dihukum karena sudah mencelakai anggota kerajaan! Masukan dia kepenjara!"kata Raja Nam Wok,, Eunyeon berterima kasih dan pergi dari sana.
"Akan kubalas perbuatanmu ini"kata Woo Rin disaat mereka berpaspasan.
"Bajinggan sialann terserah kau saja"kata Eunyeon, ia mengumpat karena tak tahan lagi.
*Aku benar benar bebas.... Yiwei terima kasih.... Semoga rasa terima kasih ini tersampaikan padamu yang ada disana-batin Eunyeon, ia menghirup udara segar dalam dalam dan menghembuskannya, walaupun awalnya cukup menyakitkan ia yakin lambat laun ia bisa melupakan Woo Rin.
******
"Jangan katakan pada siapapun kalau aku kemari"kata Anna kepada penjaga perkemahan.
"Aa...anu... Apa saya boleh tahu siapa anda?"tanya penjaga itu saat Anna memperlihatkan plakat kerajaan penjaga itu langsung membukakannya tanpa tahu siapa Anna sebenarnya.
"Saya istrinya Pangeran Ri Won"kata Anna dia menenggok kebelakang. Ri Won sudah memakai baju yang sama seperti sedia kala. Anna tak ingin Ri Won tahu apa yang mereka lakukan semalam karena hal itu akan membuatnya merasa bersalah.