
"Apa..... aku benar? "tanya Liu Wen sambil terkekeh geli.
"Tidak!!! Kau salah...."bentak Rong Tian, ia berkali kali mendengus kesal.
"Tuann.... i...ini..."seru Kaisar menyodorkan botol air dan tak sengaja menoleh keatas.
"Kakak!!! Abang!! Mas!!! Tolong lepaskan Aku!!! Orang disebelahmu itu tidak waras cepat pakaikan juga celanaku!"teriak Rong Tian, ia mengeliat diatas saat mendengar suara pria datang mendekat.
"Hahhh..." Kaisar menghela nafasnya saat melihat Liu Wen terkikik saja disana, ia mengambil belatinya dan melemparnya kearah tali yang mengikat Rong Tian.
"Tuan!! Anda tak boleh melakukan hal seperti ini lagi!!"kata Kaisar dengan penuh penekaan, ia cemburu apa lagi pemandangan yang barusan sangat tak pantas, ia berpikir yang macam macam tentang istrinya dengan pria ini.
"Aku hanya bersenang senang"kata Liu Wen tanpa berdosa, ia mengedikan bahunya dan memasang wajah polos.
"Huh!! Kau bersenang senang katamu!! Hei.... Tuan... ka....u"Rong Tian yang baru saja ingin marah setelah memakai celananya tertegun melihat kearah Liu Wen dan Kaisar.
*Kakak Xuan? Putri Pertama?-batin Rong Tian, ia terdiam dan melihat kearah Kaisar, hanya sekali lihat ia bisa mengenali kakak seperguruannya itu dengan wanita yang ia sukai.
*Tian?-batin Kaisar, ia membulatkan matanya dan membuat isyarat kepada Rong Tian untuk berpura pura tak mengenalinya.
*Apa yang terjadi apa mereka saling menyamar-batin Rong Tiang yang penasaran.
"Heii!! Bocah...."sapaa Liu Wen melambaikan tangannya kearah Rong Tian.
"Hoo.... hallo Tuan atau harus ku panggil Si Watiwa"kata Rong Tian memainkan alisnya.
"Huhh? Watiwa?"gumam Liu Wen, ia tak pernah tahu nama singkatan apa itu.
"Shi.... kau pergi dulu aku ingin berbicara dengannya"kata Liu Wen, ia menyuruh Kaisar pergi agar Kaisar tak tahu bahwa ia adalah Permaisuri yang sedang berbicara dengan Pangeran Ketiga Kekaisaran Rong.
"Baiklahh"kata Kaisar yang langsung pergi, lebih tepatnya bersembunyi dipohon dan berusaha menguping dari sana.
"Apa maksudmu Watiwa?"tanya Liu Wen mengerutkan alisnya, ia sangat penasaran dengan arti kata kata itu.
"Wanita tidak waras... hahahaha"kata Rong Tian, ia tertawa melihat ekspresi wajah Liu Wen yang kesal.
"Hoo.... kau?? Apa harus kupanggil mantan gigoloo tersayangku?"tanya Liu Wen, ia kesal karena ucapan Rong Tian dan akhirnya keduanya saling adu mulut.
"Hahh!!! Sudah diam!! Aku capek meladeni omong kosongmu"kata Liu Wen nafasnya memburu karena membalas setiap kata Rong Tian.
"Aku juga tak tertarik tahu!!"
"Oh ya Putri Pertama, bukannya kau sudah menikah. Kenapa kau tak dirumah suamimu?"tanya Rong Tian yang pura pura tak tahu kalau Liu Wen sudah menikah dengan Kaisar.
"Suamiku itu main gila dengan wanita lain makannya aku pergi dari sana"bisik Liu Wen membuat Rong Tian terkekeh dan melirik kearah Kaisar yang berada dibelakangnya.
"Apa maksudmu banyak Selirnya? Memangnya siapa suamimu"tanya Rong Tian, ia sedikit memancing Liu Wen untuk mengatakan siapa nama suaminya.
"Hanya orang tololl yang selalu tak ada waktu untukku dan selalu melirik wanita lain! Intinya dia pria brengsekk"kata Liu Wen dengan polos, itu memang benar kejadian terakhir kali membuatnya sakit hati.
"Uhuk.... uhuk.... Wen'er kau memfitnahku"kata Kaisar yang berada diatas pohon, kata kata Liu Wen bagai panah yang menusuk dihatinya. Padahal setiap hari didalam pikirannya hanya ada Liu Wen seorang.
"Hahahaha...."Rong Tian tertawa bisa bisanya Liu Wen menghina Kaisar Kekaisaran Qin dengan mudahnya apalagi yang dihina itu suaminya sendiri membuat Rong Tian hampir tersedak karena terlalu lama tertawa.
"Baiklah aku pergi duluan, ada acara yang harusku hadiri"seru Rong Tian, ia mengelus kepala Liu Wen dan tersenyum manis kepada Liu Wen.
*Tunggu! Jika kakak Xuan disini, Permaisuri juga disini? Lalu siapa yang sedang mengandung Pangeran Pertama Kekaisaran Qin? Apa Selirnya? Apa benar Permaisuri kabur karena cemburu?-batinnya bertanya tanya, ia mendengar rumor yang menghebohkan itu beberapa hari yang lalu dari bawahannya.
"Ya pergi saja sana, aku juga sedang ada urusan"kata Liu Wen, ia menuju kearah kudanya.
"Aku akan pergi Kekaisaran Qin untuk menyambut Pangeran Pertama"kata Rong Tian membuat Liu Wen menghentikan langkahnya.
"Pangeran?"tanya Liu Wen, ia berbalik dan memiringkan kepalanya.
*Tidak mungkinkan, Qin Junxi memberitahukan kalau aku hamil kan-batin Liu Wen, ia khawatir jika sampai semua orang tahu akan lebih sulit lagi baginya kabur.
"Yahh... mungkin Kaisar yang terlalu payah"kata Liu Wen mengedikkan bahunya dan pergi dari sana.
*Ini sudah kuperkirakan tapi kenapa aku merasa sakit hati? Apa ini bawaan hamil-batin Liu Wen, ia jadi gelisah entah kenapa hatinya terasa sakit.
"Huh? Diluar dugaan. Kukira dia akan mengamuk"kata Rong Tian menaikan satu alisnya melihat dari reaksi Liu Wen yang selama ini dikeluarkannya biasanya ia akan berteriak atau memasang wajah marah.
"Tian. Kenapa kau mengatakan hal itu?"tanya Kaisar mengerutkan alisnya, apa adik seperguruannya ini sengaja membuat hubungan Liu Wen dan dirinya semakin renggang.
"Yo... kakak Xuan. Walau aku tak mengatakannya dia juga akan tahu, ini menjadi pembicaraan hangat dan seluruh Kekaisaran dataran Tiong. Aku diundang untuk menyambut bayimu"kata Rong Tian, ia menepuk bahu Kaisar sambil tersenyum licik.
"Jika kau menyakitinya begini lebih baik aku yang menikah dengannya"kata Rong Tian, ia menaiki kudanya dan pergi dari sana.
"Aku tahu aku memang tak pantas untuknya"gumam Kaisar, ia menatap senduh kebawah. Ini semua bukan kemauannya tetapi keadaan yang memaksa.
*Tolong jangan salahkan aku terus menerus batinnya.
****
Taman Istana Utama
"Salam Putri Ketiga"kata Mentri Fu membungkuk hormat kepada Selir Tang.
"Heii!! Aku sudah jadi Selir Kehormatan disini tahu!"kata Selir Tang, ia mengembungkan pipinya kesal, Mentri Fu menyebutnya sebagai Putri disini.
"Maafkan saya, bagi saya anda tetapi Putri Ketiga"kata Mentri Fu menatap wajah Selir Tang sambil tersenyum.
"Jangan katakan itu lagi! Aku juga akan jadi Ibu dari Pangeran Pertama Kekaisaran ini dan akan menjadi Ibu suri!"kata Selir Tang, ia melipat tangannya didada. Membayangkan hal itu saja sudah membuatnya besar kepala.
"Ya saya yakin itu"gumam Mentri Fu, ia melihat perut datar Selir Tang.
"Kaisar pasti mencintaiku! Bayi ini yang akan menyatukan kami berdua"kata Selir Tang, wajahnya berseri seri saat membicarakan Kaisar Qin.
"Yang Mulia! Jangan senang dulu Kaisar Qin memiliki banyak Selir, anda...."kata kata Mentri Fu terputus karena Selir Tang memotongnya, ia merasa geram Selir Tang mengungkit bahwa bayi itu milik Kaisar bukan miliknya.
"Jangan katakan itu lagi! Buktinya aku hamil kan!"kata Selir Tang, ia pergi meninggalkan Mentri Fu.
"Kau tahu suamimu itu tak pernah menyentuhmu"gumam Mentri Fu, ia tahu betul bagaimana Kaisar melakukan trik trik agar ia tak berhubungan intim dengan para Selirnya.
*****
Sebulan yang Lalu
"Yang Mulia... anda datang?"kata Selir Tang dengan bahagia, ia sendiri di Istana Dingin tak disangka Kaisar datang menemuinya.
"Emm..."tanpa berkata lagi Mentri Fu langsung mencium Selir Tang dan melakukan hubungan intim.
"Jangan tinggalkan aku"kata Selir Tang memeluk erat Mentri Fu.
"Aku takkan meninggalkanmu Sui'er"kata Mentri Fu, ia membelai lembut wajah Selir Tang.
"Aku mencintaimu. Kenapa kau lebih memilih pria yang bahkan tak mau melihatmu"kata Mentri Fu, ia mendekap Selir Tang didalam pelukannya.
"Harus menggunakan cara ini? Tak masalah yang penting kau menerimaku"kata Mentri Fu, ia harus menyelinap masuk, memakai baju Kaisar dan memberi Selir Tang obat perangsang agar dia mau menerima Mentri Fu.
Beberapa kali Mentri Fu datang karena di istana Dingin tak ada penjagaan, membuat Mentri Fu leluasa datang kesana sampai Ibu suri menyuruh Kaisar bermalam dengan para Selir, ia berhenti melakukannya awalnya ia ingin membunuh Kaisar karena ingin menyentuh Selir Tang tetapi tak disangka saat berciuman, Selir Tang langsung pingsan tanpa diketahui sebabnya.
"Aku tak mau menyentuh wanita lain selain Wen'er"kata Kaisar mengosok bibirnya yang sudah diberi obat bius agar Selir Tang tak bangun sampai pagi, ia juga melakukan hal itu ke semua para Selir.
"Hah? Dia tak mau menyentuhnya? Baguslah! Lagi pula Sui'er sedang hamil"gumam Mentri Fu yang tahu hal ini dari tabib Wu saat memeriksa keadaan Selir Tang.
*****
"Jika aku tak bisa jadi Kaisar setidaknya bayiku yang jadi Kaisarnya!!"kata Mentri Fu, ia mengepalkan tangannya sepertinya rencananya ini berjalan dengan lancar.