I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
Extra Part Menempel



"Yahh aku hampir lupa istriku adalah Putri Qin Yiwei yang itu"kata Ri Won dengan lembut.


"Apa kau tak mau berdiri? Tanganku sakit karena menahan tubuhmu dengan posisi begini"kata Ri Won, tangannya terlihat gemetar karena menangkap Anna yang tadi sengaja berpura pura terpeleset.


"Kakiku sedikit sakit. Bisakah kau membawaku keranjang?"tanya Anna, ia memalingkan wajahnya. Sepertinya memakai cara licik dengan beberapa trik kotor tidak masalah selama Ri Won tak menyadarinya.


"Haaaa... Bisa gila aku"gumam Ri Won, ia menghela nafasnya saat salag tanggap dengan perkataan Anna yang membuatnya salah paham.


*****


Tiga Bulan kemudian


"Apakah anda menikmati tehnya Yang Mulia?"tanya Kepala Dayang Dan, sejak tiga bulan yang lalu ia resmi diangkat menjadi Kepala Dayang untuk Anna.


"Hmm... Bagaimana kabar diluar sana?"tanya Anna kepada Kepala Dayang Dan, selama tiga bulan ini ia tak mendapat kesulitan apapun. Eunyeon berhenti menganggunya dan terlihat bersama Woo Rin setiap harinya dan Ri Won? Dia sibuk belajar dan membantu ayahnya mengurus negara.


"Hari ini Pangeran akan pergi ke lokasi banjir. Putri Kedua Jang dikabarkan sedang mengandung. Yang Mulia akan mengumumkan siapa yang akan menjadi Putra Mahkota sekitar 8 bulan lagi karena pada bulan itu salju akan turun, sesuai dengan jadwal pengangkatan pejabat baru disini. Putra Mahkota juga akan diangkat pada hari yang sama"kata Kepala Dayang Dan, ia berkerja sebagai Dayang sekaligus informan bagi Anna.


*Dia akan pergi?-batin Anna ia sedikit kecewa. Jika Ri Won pergi ia tak bisa memakai cara licik untuk mendekati Ri Won.


"Jadi Putri Jang sedang mengandung? Apa akan ada perayaan untuk itu?"tanya Anna, jika di Kekaisaran Qin saat para wanita anggota kerajaan sedang mengandung maka akan ada perayaan. Itu sebabnya ia bertanya apakah disini sama atau tidak.


"Tidak Yang Mulia.... hanya Putri Mahkota dan Ratu yang akan dirayakan tetapi saya dengar Penasehat Lim meminta Yang Mulia mengadakan perayaan jadi kemungkinan pesta perayaan untuk Putri Kedua Jang akan dilakukan"kata Kepala Dayang Dan, menyuap Dayang yang bekerja dengan Penasehat Lim tak sulit baginya karena orang orang itu tak berpihak pada siapa pun, siapa yang memiliki uang itu lah yang akan mereka dukung.


"Sepertinya ambisi Pangeran Woo Rin semakin menjadi jadi. Suamiku yang bodoh itu bahkan tak tahu dengan hal itu"kata Anna ia menyenderkan kepalanya di dinding. Woo Rin menyerahkan tugas yang berbahaya untuk Ri Won sedangkan dirinya hanya menerima laporan dan melaporkannya kepada Raja Nam Wok.


"Apa kau sedang membicarakanku?"tanya Ri Won, ia masuk ke kamar Anna dengan pakaian yang sangat rapi.


"Hmm... Kudengar kau akan pergi keluar Istana?"tanya Anna, ia berdiri dan memberi hormat kepada suaminya.


"Salam Yang Mulia"kata Anna, ia tersenyum tipis melihat wajah Ri Won seperti ini membuatnya sangat bahagia. Apalagi tiga bulan yang mereka lewati ini membuat mereka menjadi lebih dekat.


"Iya.... Aku pasti akan merindukanmu"kata Ri Won, ia memeluk Anna duluan entah dari mana keberaniannya biasanya dia bisa menahan diri.


"Ahh.... ternyata kau akan merindukanku ya"gumam Anna, ia senang mendengar hal itu tetapi ia menahan ekspresi bahagia itu keluar dari wajahnya. Jika Ri Won melihatnya dan tahu bahwa selama ini dia sengaja melakukan berbagai hal yang aneh demi menyentuhnya bagaimana tanggapan Ri Won nanti? Dia juga sangat keras kepala tak ingin memberitahukan perasaannya kepada Ri Won.


"Hmm... Berbeda dengan Ibunda dan Eunyeon rasa rindunya lebih meluap luap dihatiku, bahkan saat kau mandi saja aku sudah merindukanmu"kata Ri Won, ia mengatakan yang sesungguhnya setiap menunggu Anna kemana pun entah Anna sedang pergi menyapa Lim Hari atau ada perjamuan atau saat mandi pun ia sudah sangat rindu padanya.


"Jika di pikir pikir sepertinya kau tak pernah membiarkanku sendirian saat kau punya waktu luang"gumam Anna, ia jadi ingat kejadian beberapa waktu lalu, saat Ri Won selalu memanggilnya setiap 5 detik sekali padahal Anna hanya mengambil minum di ruang tamunya.


"Ahhahahaha.... maafkan aku"Ia tertawa karena apa yang dikatakan Anna benar.


*Aku masih tak percaya kita menikah itulah kenapa aku tak pernah ingin melepaskanmu. Yiwei... Apa ini yang namanya cinta, sepertinya dulu saat aku bersama ibunda perilakuanku sangat berbeda-batin Ri Won, ia mengelus rambut Anna dan melepaskan pelukannya.


*Aku menyukaimu tapi apa kau menyukaiku juga? Sepertinya kau tak pernah merespon dengan benar semua kodeku-lanjutnya ia memejamkan matanya sebentar dan melihat wajah Anna yang datar.


"Aku pergi dulu..."kata Ri Won, ia tersenyum dan mencium kening Anna.


*Dia menciumku-batin Anna, ia memegang dahinya matanya membulat wajahnya juga merah karena pertama kalinya Ri Won menciumnya.


Kediaman Pangeran Kedua


"Berapa banyak yang menentangku?"tanya Woo Rin kepada Putra Mentri Kim yang kini menjadi temannya.


"Sekitar 55 orang Pangeran, para pengungsi itu melawan perintahmu untuk pindah dari lereng gunung"kata Tuan Muda Kim, ia memperlihatan peta dan gulungan nama orang orang yang melawan perintah Woo Rin.


"Ck!! Apa mau mereka hah?! Aku hanya ingin menolong mereka agar tak kena tanah longsor lagi!!"kata Woo Rin, ia membuang gulungan itu karena kesal.


"Bunuh saja mereka yang melawanku..."katanya ia mulai terbiasa dengan hal itu, berkat kakeknya tentu saja.


"Ta...tapi Pangeran. Mereka adalah rakyat Joseon. jika orang tahu...."Tuan Muda Kim terkejut pikiran Woo Rin berlebihan menurutnya jika mereka dibunuh itu sangat tak baik apa lagi mereka adalah rakyat Joseon. Rakyatnya sendiri sebagai Pangeran seharusnya ia memikirkan kesejahteraan rakyat.


"Apa kau mau melawanku juga Kim Jongsuk!"teriak Woo Rin membuat Tuan Muda Kim itu menghela nafasnya.


"Pangeran anda sedikit berubah sekarang"kata Tuan Muda Kim, ia berteman lama dengan Woo Rin. Woo Ri yang ia kenal bukan orang bisa membunuh orang dengan mudah dan terlalu ambisius seperti ini.


"apa Maksudmu hah?!"Woo Rin menarik bajunya ia hendak memukul wajah Tuan Muda Kim tetapi tertahankan saat Tuan Muda Kim menyinggung Ratu Hyunseo.


"Saat Ratu Hyunseo masih hidup kau bahkan tak bisa berpikir sejahat itu. Aku berkata begini karena kau adalah temanku. Kau juga sangat menyayangi kakakmu walaupun dia tak pernah ada untukmu lalu kenapa saat dia sudah berada disini kau ingin membunuhnya?"kata Tuan Muda Kim, ia mengerutkan alisnya, Woo Rin yang dikenalnya bukan Woo Rin yang berdiri didepannya.


"Aku mengatakan hal ini agar kau tak menyesal dikemudian hari. Selain Ratu Hyunseo aku yang paling mengenalmu Woo Rin"kata Tuan Muda Kim, ia melepaskan tangan Woo Rin dari bajunya dengan kasar. Ia tak takut sedikitpun dengan Woo Rin itu karena didalam hatinya Woo Rin tetap temannya meski perbedaan status mereka yang cukup lebar. Woo Rin yang dulu tak pernah membeda bedakan status.


"Apa yang terjadi padaku?"kata Woo Rin, ia meremas rambutnya matanya membulat ia berpikir keras apa yang salah padanya.


"Ibunda Hyunseo? Apa aku benar anakmu? Atau aku hanya penganti Ri Won"gumamnya memikirkan hal itu mrmbuatnya pusing. Apa yang diajarkan kakeknya sudah mendarah daging menjadi sebuah prinsip hidupnya.


"Yang Mulia Pangeran. Perayaan untuk bayimu akan dilakukan. Kenapa kau merasa tak senang begini"kata Anna. Baru saja ingin memberikan surat yang ditinggalkan Ri Won dikamarnya. Sebenarnya ia malas memberikannya tetapi sepertinya hal ini penting menyangkut hidup rakyat Joseon itu sebabnya ia dengan berat hati memberikannya kepada Woo Rin sekalian memberi hadiah kepada Eunyeon untuk bayinya.


"Putri? Maksudku salam kakak Ipar"kata Woo Rin, ia menengok kedepan. Lagi lagi tatapan tak bersahabat dari Anna yang dingin menyambutnya.


"Ini dari kakakmu dia lupa memberikannya kepadamu... "kata Anna, ia menyerahkan gulungan itu kepada Woo Rin.


"Hadiah untuk bayimu"kata Anna lagi, ia menyerahkan kotak berisi patung naga dari giok untuk bayi adik iparnya itu dan pergi dari sana.


"Kenapa kakak ipar menyukai kakakku?"tanya Woo Rin, ia gemetar saat menanyakan hal itu. Ia takut mendengar alasan Anna yang suka asal asalan itu, menyukai istri kakaknya membuatnya sangat tersiksa.


"Karena aku menyukainya. Orang menikah karena saling mencintai bukan karena dendam dan orang yang menikah tanpa cinta it.... Entah apa dia memiliki maksud terselubung atau benar benar tulus?"


Anna melirik Woo Rin yang gemetar, ia sengaja mengatakan hal itu karena tahu bahwa Woo Rin masih mengejarnya.


*Aku tak tertarik dengan bocah ingusan-batin Anna ia pergi dari sana baru beberapa meter dari sana ia terjatuh karena kakinya tiba tiba tak bisa digerakan.


"Haaaa.... Aku tak akan mengeluhkanmu lagi. Ini karena Ri Won. Hanya demi Ri Won"kata Anna ia menghela nafasnya dan tersenyum biasanya dia akan marah marah saat kakinya tak berfungsi tetapi kali ini ia hanya tersenyum.


"Tolong bawa tandunya aku lelah"kata Anna para Dayang pun dengan cepat membawa tandu dan mengendong Anna naik keatas sana.


"Ada apa dengannya"gumam Woo Rin yang melihat hal itu dari kejauhan.