
"Apa yang kau lakukan disini?"tanya Qin Jianwe kepada orang yang pernah ia panggil paman Fu itu.
"We'er..."seru Qin Yuanqu, ia tak bisa menjadi paman Fu yang dulu karena ini lah jati dirinya yang sebenarnya.
"Jangan panggil aku seperti itu!"kata Qin Jianwe, ia bahkan tak mau melihat wajah Qin Yuanqu lagi.
"Huhh! Baiklah Pangeran pertama. Aku hanya penasaran dengan apa yang terjadi didalam jadi aku kemari untuk melihatnya"kata Qin Yuanqu, ia menghela nafasnya dan pergi meninggalkan Qin Jianwe sendiri.
"Kenapa harus kau yang membunuh ibuku! Jika kau ingin membunuhku saja aku pasti akan memaafkanmu"gumam Qin Jianwe ia sangat kecewa didalam hatinya rasa sayang kepada Qin Yuanqu sangat besar bahkan sering mengalahkan rasa bencinya.
"Jianwe? Kenapa kemari?"tanya Liu Wen, ia baru saja keluar kamar Qin Meili melihat Qin Jianwe terduduk disudut jalan.
"Mami? Tidak apa. Bagaimana dengan Mei'er? Katanya dia keracunan"tanya Qin Jianwe, ia menatap wajah wanita yang telah dianggapnya sebagai ibunya sendiri.
"Kondisinya kurang baik, doakan saja dia cepat sembuh"kata Liu Wen ia ikut duduk disamping Qin Meili.
"Ada apa? Jangan suka menyimpan rahasia nanti bisa membuat tubuh menjadi bengkak lho!"kata Liu Wen, ia menarik kepala Qin Jianwe untuk bersender dibahunya.
"Huh? Apa benar?"tanya Qin Jianwe, ia jadi membayangkan bagaimana jika tubuhnya itu besar membengkak.
*Tidak tidak itu hanya dongeng-jawab Liu Wen dalam batin.
"Emm..."jawab singkat Liu Wen sambil mengangguk.
"Mami..."
"Hmm... "
"Aku sangat benci kepada paman pertama, dia dulunya selalu memperhatikanku tetapi ternyata dia yang membunuh ibuku...."
"Aku sangat sedih tapi aku tak bisa berbohong terus kepada hatiku kalau aku menyayanginya"kata Qin Jianwe ada luka mendalam di hatinya yang tersimpan dalam, tak pernah ia bagi kepada siapapun dan kini akhirnya ia punya sandaran kembali.
"Hmmmm!"
"Jika sayang kenapa harus dipendam? Kita sebagai manusia harus bisa melihat dengan jelas mana yang baik dan mana yang buruk menggunakan insting"kata Liu Wen, ia tahu semua masalah yang terjadi. Dinasti ini dibangun dari kesalahpahaman yang berkelanjutan dan lama lama diterima menjadi sebuah kebenaran.
"Jika paman pertama ingin membunuhmu kenapa dia harus merawatmu dan memperlakukanmu dengan baik? Kalau alasannya balas dendam kepada ibumu. Kenapa tidak membunuhmu dari awal? Saat kamu sakit dan lemah? Pikirkan itu baik baik... "kata Liu Wen ia mengelus kepala Qin Jianwe dan kembali masuk ke kediaman Qin Meili.
"Oh ya bagaimana kesehatan tubuhmu? Mami lupa menanyakannya"kata Liu Wen ia meneggok ke belakang.
"Baik. Ini pertama kalinya aku merasa lebih bertenaga"kata Qin Jianwe sambil tersenyum awalnya ia tertegun dan tak berminat berbicara.
"Minum obatmu dengan teratur, maaf mami banyak urusan dan tak bisa menemanimu"kata Liu Wen, ia melambaikan tangannya dan kembali melihat kondisi Qin Meili.
"Tak masalah! Permaisuri bukan milikku seorang"kata Qin Jianwe ia sedikit kecewa karena sekarang Liu Wen lebih memperhatikan Qin Meili tetapi ia menyingkirkan perasaan itu dan terus berpikir optimis.
*********
Pasar
"Sudah dengar? Baru saja Permaisuri kembali ada kejadian mengemparkan"kata para pedagang.
"Memangnya ada apa?"
"Putri Qin sakit, katanya sekarat"
"Lalu apa hubungannya dengan Permaisuri apa?"
"Pasti dia yang meracuninya! Permaisuri pasti iri karena tak memiliki anak!"
"Tidak mungkin"
Kata pedagang lainnya mendengar hal itu pedagang yang lain berkumpul.
*Baguss, rencana Selir Chu untuk merusak nama Permaisuri dikalangan rakyat berhasil-batin Pelayan Selir Chu mereka diperintahkan oleh Selir Chu untuk menyebarkan rumor tentang Permaisuri.
"Aku berkata benar! Dia kan kejam bisa melakukan apa saja, mungkin saat itu dialah yang ingin membunuh Pangeran!"
"Ahh ada benarnya?"
"Iya!"
"Tapi Permaisuri sangat baik dan hanya kejam kepada orang yang jahat"
"Ingat waktu itu ia memberi kita ribuaan keping Tael emas?"
"Dia juga pernah membantu pengobatan anakku!"
"Ya! Bahkan Permaisuri membasuh kaki kotor pengemis ini!"
"Iya tidak mungkin! Pasti Selir licik itu yang membuat ulah!"
"Kau benar! Saat keluar istana ia membunuh orang hanya karena menyentuh hanfunya"
"Sangat besar peluang bagi dirinya untuk menjatuhkan nama Permaisuri sekarang!"
"Mami! Ada insiden separah ini apakah kau tahu?!"gumam Aiden, ia segera kembali kekediaman Perdana mentri.
"Kakek... aku... de...."nafas Aiden tak beraturan ia baru saja ingin memberitahu kakeknya tetapi dengan cepat Liu Whojin menutup mulut cucunya.
"Mamimu akan baik baik saja! Putriku itu sangat bisa diandalkan"kata Liu Whojin membuat Aiden mengangguk.
"Ayah, apa anda tak mau datang ke istana?"tanya Liu Yichen biasanya ayahnya yang paling cemas dengan keselamatan Liu Wen.
"Aku cuma mau main dengan cucuku"kata Liu Whojin mendekap Aiden dengan kuatnya.
*Kuat sekali... se..desakk-batin Aiden wajahnya membiru karena kehabisan oksigen.
*******
Kediaman Phoenix
"Kakak ipar ayo pergi! Ingat janjimu! Kau sudah mengingkarinya 4 kali"kata Pangeran Keempat, ia mengembungkan pipinya Liu Wen selalu mengingkari janjinya.
"Hahaha... maaf...maaf! Aku terbawa suasana"kata Liu Wen, saat itu ia berjanji akan bertemu Pangeran Keempat dipintu belakang tetapi sudah 4 kali Liu Wen tak pergi kerena asik begadang membaca novel kesukaannya dan tertidur karena lelah.
"Tapi Meili?"tanya Liu Wen, ia menenggok kebelakang wajah polos Qin Meili yang sedang tertidur membuatnya sedikit cemas.
"Tabib Wu ada untuk memantaunya! Aku akan bilang padanya ingin istirahat sebentar"kata Pangeran Keempat rasa penasaran sangat besar, ia ingin melihat wajah keponakan.
"Oke! Ikuti cara mainku nanti langsung saja ke kediamanku"kata Liu Wen sambil mengedipkan satu matanya.
*Rasa ini semakin besar-batin Pangeran Keempat tengguknya sangat dingin firasat buruk menghantuinya.
******
Malam hari
"Sudah sudah jangan menekuk wajahmu seperti itu kau pusat perhatian orang disini"goda Liu Wen, ia memainkan kipasnya.
"Hei cantik"
"Ayo kita ke penginapan"
"Orang Paviliun Keindahan ya?"
"Kakak ipar! Kenapa kau menyuruhku memakai baju wanita"protes Pangeran Keempat nampak tiga guratan didahinya sangat jelas karena pakaian yang dipakainya ini membuatnya seperti waria.
"Hahaha..."
"Kau cantik adik iparku!"kata Liu Wen menepuk bahu Pangeran Keempat ia juga menyamar dengan make up tebal dan memakai cadar.
"Aku benci ini"gumam Pangeran Keempat, wajahnya tertekuk masam. Liu Wen memaksanya memakai baju wanita.
"Mantan Kaisar pengganti pasti banyak yang mengenalinya! Ini demi keponakanmu lakukan saja! Jika kau tak mau ayo kita kembali"kata Liu Wen, ia memasang wajah sedih tak lupa dengan sapu tangan membuatnya semakin dramatis.
"Tidak! Ayo jalan!"kata Pangeran Keempat sudah sejauh ini jika ia kembali ke istana ia tak akan dapat apa apa.
"Hehehehe...."
"Aku sengaja tahu! Hanya ingin lihat bagaimana si muka es menjadi waria dalam semalam"kata Liu Wen, ia terkekeh geli dia bersenandung ria hatinya puas melihat wajah tampan itu berubah menjadi wanita jadi jadian.
"Sayang!! Mami kembali"kata Liu Wen nampak anak anaknya menunggu di kooridor.
"Mami..."seru Keyzee ia melompat kepelukan ibunya.
"Aku khawatir dengan keadaanmu mami"kata Aiden ia benar benar mengkhawatirkan ibunya.
"Apa mami baik baik saja? Kalau mami tak enak badan lihat wajahku! mami pasti akan cepat sembuh"kata Jake sambil memegang wajah Liu Wen.
"Diam!"kata Anna dengan santai, ia memukul kepala Jake.
"Kuharap mami sehat"kata Ellson saat memegang tangan ibunya ia memeriksa denyut nadi ibunya.
"Ohhh..."
"Mereka sangat berbeda ya"kata Pangeran Keempat membuat mereka semua menoleh kearahnya.
"Siapa?"tanya Jake ia tak begitu melihat wajah Pangeran Keempat karena sangat gelap.
"Paman kalian! Dia Pangeran Keempat sekaligus tabib berbakat"kata Liu Wen membuat mereka berbinar membayangkan wajah tampan seorang Pangeran dengan wibawa dan sikap yang tegas, perlahan Pangeran Keempat berjalan mendekat ke obor memperlihatkan sosoknya dengan jelas.
"Haaaah?! Paman kita seorang waria"kata Jake, ia menaikan satu alisnya dan memajukan bibirnya, ia kecewa karena pamannya tak sesuai dengan apa yang ada dikepalanya.
"Wa..waria..."gumam Pangeran Keempat dadanya terasa sakit.