I'M Chinese Princess

I'M Chinese Princess
12. Foto Keluarga



"Aa..akhhh??!!! Qin Xuan brengsekk!! Aku tak bisa menikah lagi"gumam Liu Wen menutup wajahnya mengunakan bantal, dadanya berdegub kencang baru pertama kali dia merasakan hal ini padahal saat di Era modren dia selalu gonta ganti pasangan.


"Ada apa Nona? Wajah anda merah apa anda sakit?"tanya pelayan yang sedang memakaikan Liu Wen baju.


"Tidak..tidakk! aku sedikit kepanasan saja"balas Liu Wen dengan gugup, ia menyisir rambutnya agar wajahnya tak terlihat.


"Ahh! Maaf Putri! Kalau air mandinya tidak pas! Hamba pantas dihukum"kata pelayan itu dia membenturkan kepalanya kelantai sambil meminta maaf ke Liu Wen.


"Apa yang kau lakukan! Apa kau ingin kepalamu pecah!"teriak Liu Wen, ia memapah pelayan itu, tampak darah segar mengalir dari kepalanya.


"Ha...hamba... Putri.... Hamba mengaku salah! Tolong jangan... Bunuh hamba"wajah pelayan itu pucat dia sangat takut berhadapan langsung dengan Liu Wen apalagi dia menyaksikan sendiri bagaimana Liu Wen menyiksa Liu Ruoxi dengan sadis ditaman.


"Tenanglahh! Aku tak akan membunuhmu hanya karena masalah air.... Siapa namamu?"tanya Liu Wen membawa pelayan itu keranjang dan mengambil beberapa obat kering.


"Meng... Putri... Hamba baru saja masuk Kekediaman Perdana Mentri Liu pagi tadi! Itu sebabnya saya ditugaskan untuk melayani Putri"kata Meng sambil menunduk.


*Sebabnya? apa pelayan dikediaman ini tidak mau melayaniku itu sebabnya menyuruh anak baru-batin Liu Wen tersenyum kikuk, karena takut pelayan rumah ini bahkan tak mau memandang wajahnya lagi.


"Baiklah Meng! Aku beritahu sesuatu, aku tak akan menyakiti orang jika dia tak mengangguku dan keluargaku"Liu Wen tersenyum, pelayan barunya ini sangat polos.


"Baik Putri! Ham.. Saya! mengerti"Meng mengangguk beberapa kali.


"Kau cepatlah tidur sana, besok akan menjadi hari yang sibuk"kata Liu Wen mendorong Meng keluar kamarnya, ia berpikir sejenak.


"Balas dendam sudah, kumpul keluarga sudah, jadi kaya juga sudah,


sekarang tinggal singkirkan Kaisar sialan itu! Agar aku bisa berkeliling 6 Kekaisaran besar dataran Tiong"senyum Liu Wen tujuannya yang baru itu harus dicapainya.


Kediaman Naga


"Hahahaha,,,"Kaisar Qin tertawa semenjak pulang dari kediaman Perdana Mentri Liu dia tak berhenti tertawa entah apa yang terjadi membuat para kasim binggung.


"Yang Mulia? Apa ada hal yang baik sehingga anda tak berhenti tertawa?"tanya kasim Mu, ia merasa binggung dengan sikap Kaisar hari ini.


"Tidak ada! Keluarlah, aku mau istirahat"jawab Kaisar Qin dengan dingin, ia berdiri dijendela menatap bulan mengingat saat saat bersama Liu Wen dan yang baru saja terjadi wajah mengemaskan Liu Wen saat marah.


"Kau membuatku gila! Setidaknya tanggung jawablahh.... Selalu ada kejutan yang kau berikan"kata Kaisar Qin tersenyum dia berharap agar Liu Wen bisa secepatnya menjadi Permaisuri.


Kediaman Perdana Mentri


"Hoamm, sudah pagi saja! Meng siapkan air untuk mandiku"Liu Wen merengangkan otot ototnya lalu mandi dan bersiap siap kepenjara.


"Apa dia sudah mati?"tanya Liu Wen kepada penjaga penjara.


"Belum Putri! Nyonya Ruoxi...."penjaga itu tidak meneruskan kata katanya karena Liu Wen menarik pakaiannya.


"Heii, sekali lagi kau menyebutnya Nyonya... kupotong lidahmu"Liu Wen menatap tajam kearah sampai membuat penjaga itu berkeringat.


"Ba...baik Putri!! Selir Ruoxi... ma.. masih hidup"kata penjaga itu dengan terbata bata, raut wajah Liu Wen menandakan ia tak main main sekarang.


"Banyak juga nyawanya..."Liu Wen langsung pergi kedalam penjara melihat Liu Ruoxi yang duduk dipenjara dengan darah dimana mana.


"Ada apa Putri menggunjungiku? Apa meminta doaku agar kehidupanmu bertahan lama"tanya Liu Ruoxi sambil tersenyum miring.


"Diam kau jalangg sialan!! Sudah sekarat banyak bicara!"Liu Wen mengambil pedang milik penjaga dan menebas kaki Liu Ruoxi, darah mengalir deras.


"Ambil kakinya dan beri makan ke anjing"kata Liu Wen yang langsung pergi meninggalkan penjara.


"Baik! Putri"tangan penjaga itu gemetar takut saat mengambil kaki yang terpisah oleh tubuh itu.


"Oh ya besok adalah hari kematianmu dan untuk putrimu.... Aku akan beri dia hadiah"Liu Wen berbalik dan mendekati Liu Ruoxi.


"Jangan sakiti anakku"Liu Ruoxi menatap tajam kearah Liu Wen, walaupun kehilangan banyak darah, ia masih bisa bertahan hidup sampai sekarang.


"Em! Tentu tentu! Aku malah akan memberinya hadiah kepalamu"Liu Wen pergi meninggalkan penjara untung saja hanya sedikit bajunya yang terkena darah jadi tak perlu ganti baju. Ia langsung menuju ketaman.


"Eh? Apa yang kalian bicarakan?"tanya Liu Wen dari jauh ia bisa mendengar ibu dan ayahnya ini menyebut namanya, ia duduk disamping ibunya, sekarang Liu Yiren, Liu Whojin dan Liu Yichen sedang duduk bersama ditaman sambil menikmati teh dan kue.


"Emm? tadi kami sedang membicarakan soal perayaan saja Wen'er"Liu Yiren tersenyum dia memainkan gelang gioknya.


"Ibu... Kau sedang berbohong"Liu Wen menunjuk tangan ibunya.


"Kakak! Tadi mereka sedang membicarakan tentang cucu. Ibu ingin cucu laki laki sedangkan ayah cucu perempuan"kata Liu Yichen ibu dan ayahnya menepuk dahi mereka kenapa anak laki lakinya sangat tidak bisa menjaga rahasia.


Prfoffff


Air teh menyembur dari mulut Liu Wen dia tersedak mendengar kata kata adiknya.


"Uhukk! Uhukk..."


"Wen'er? Kau tidak apapa?"tanya Liu Yiren dengan cemas.


"Chen'er ini tak akan jadi rahasia lagi"Liu Whojin menatap anaknya dengan malas.


"Tapi Ren'er! Aku yakin Kaisar sangat kuat dia pasti bisa membuatkan dua cucu sekaligus"Kata Liu Whojin tiba tiba aura mencekam dari depannya.


"Ayahh!"wajah Liu Wen berubah seketika menjadi menyeramkan.


"Ehh? Wen'er... Ayahh hanya bercanda"Liu Whojin menelan savilanya anak perempuannya sangat menakutkan jika sedang marah.


"Bisakah kita tidak menerima pernikahan ini aku tak mau menikah"kata Liu Wen, ia tak ingin menjadi ibu negara yang hanya berdiam di istana dan melakukan pertengkaran diharem memperebutkan laki laki yang tidak dikenalnya.


"Ini adalah dekrit Kaisar menolak sama dengan berkhianat"kata Liu Whojin


dengan nada yang serius. Sebenarnya dia bisa saja memakai plakat yang diberikan Kaisar terdahulu untuk menghentikan perjodohan ini tetapi mendapat menantu Kaisar sepertinya akan menarik.


"Huhh"Liu Wen mendengus kasar walaupun begitu dia tetap tidak mau menikah sekarang.


"Kakak?! Ayo kita tangkap bayangan lagi!Kali ini bersama ayah!"kata Liu Yichen bersemangat entah kenapa barang barang aneh milik Liu Wen sangat menarik dimatanya.


"Ya! Wen'err kita lukis instan lagi"senyum Liu Yiren, ia sangat antusias sekali.


"Ibu.. Yichenn.... foto! Ini namanya foto"Liu Wen menepuk dahinya sangat sulit mengajari adik dan ibunya agar terbiasa dengan kata 'foto'


"Ya ya itu! ayo cepat lakukan kakak"Liu Yichen menarik lengan baju kakaknya.


"Baiklahh! Agar kelihatan semua harus dari jauh dan pakai kamera belakang, ini agak gelap juga pakai flash"gumam Liu Wen.


"Hei kauu kemarii, tekan ini jika dihitungan ketiga"kata Liu Wen menyuruh pelayan yang lewat.


"Satu, dua, tiga, cekrekk"pelayan itu terkejut dan melempar ponsel milik Liu Wen mereka semua panik dan berusaha menangkap ponsel Liu Wen.


"Dapat"kata Liu Yichenn, ia melompat dan mendapatkan ponsel itu terlebih dahulu.


"Kemarikan"kata Liu Wen merampas ponsel miliknya.


"Bagaimana hasilnya?"tanya Liu Yichen penasaran.


"Jeng! Jeng! Jeng!"kata Liu Wen seluruh keluarga Liu tertawa karena foto yang ditangkap memperlihatkan wajah cemas mereka.


"Kakak tadi ada cahaya. cahaya apa itu? Apa cahaya surga bisa ditangkap benda kotak ini?"tanya Liu Yichen dengan serius.


"Apa kau bilang? Bhahahaha, cahaya surga? Ayo lah ini namanya flash"Liu Wen tertawa.


"Mmm? Benda apa? Kenapa ada cahaya dan lagi dari mana kau mendapatkan ini Wen'er"tanya Whojin yang penasaran.


"I..ituu.... Ayahh! aku belajar membuatnya dari guruku! Waktu umurku 13 tahun! Dia berasal dari tempat yang jauh dan aku selalu merahasiakannya dari ayah makanya ayah tidak tahu"jelas Liu Wen dibalas anggukan dari ayahnya.


*Fyuhhh... untung aku pintar berbohong-batin Liu Wen


"Apa kakak bisa membuat cahaya lain selain dari kotak ini?"tanya Liu Yichen, pikirannya jadi dipenuhi benda bercahaya.


"Tentu saja bisa! Apa kau mau membuatnya bersama? Kita akan kejutkan Ibukota dengan cahaya itu saat pesta perayaan"senyum Liu Wen menarik adiknya untuk mempersiapkan proyek barunya membuat lampu yang mengkilap.